BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 112. Manis Sekali.



Keesokan harinya, sepulang kerja William tak lantas membawa sang istri pulang kerumah. Ia menagajak wanita itu pergi ke rumah sakit.


“Siapa yang sakit, dad?” Tanya Regina, ketika mobil sedan yang ia dan suami tumpangi terparkir di parkiran rumah sakit Hugo.


“Tidak ada.” Jawab William singkat. Kemudian membuka sabuk pengamannya.


Masih dengan rasa penasaran yang belum terjawab, Regina pun mengekori langkah sang suami.


Alis wanita hamil itu bertaut, saat menyadari mereka melangkah menuju poli kandungan.


“Dad, hari ini bukan jadwal periksa ku.” Ucapnya saat William hendak melakukan pendaftaran.


“Aku tau. Tetapi, aku ingin memastikan sesuatu. Duduklah dulu.” William menuntun sang istri untuk duduk, sementara dirinya melakukan pendaftaran ulang.


Kemarin, setelah mendengar pembicaraan sang istri dan adik iparnya, William langsung menghubungi pihak rumah sakit, untuk melakukan pemeriksaan kandungan. Ia tak tega melihat kesedihan di wajah sang istri, yang katanya sangat merindukan sang ibu. Selain itu, William ingin membuat hubungannya dengan Regina kembali harmonis, setelah sedikit merenggang karena pertengkaran kecil beberapa waktu lalu.


“Masih ada dua pasien. Tunggu sebentar, ya.” Ucap William sembari menghempaskan bokongnya di atas kursi tunggu rumah sakit, di samping sang istri.


“Ya.”


Hampir setengah jam menunggu, akhirnya nama Regina di panggil oleh suster. William menuntun sang istri memasuki ruangan dokter kandungan.


“Bagaimana, dok?” Tanya William setelah dokter menempelkan alat USG di perut sang istri.


“Kandungannya sehat, pak, bu. Perkembangannya juga baik. Mommy nya pasti selalu di manja nih, sama daddy nya.” Jelas sang dokter sembari terkekeh kecil.


“Tentu, dok.” Bangga William.


Setelah melakukan pemeriksaan, William dan Regina kini duduk berhadapan dengan dokter kandungan itu.


“Dok, ada yang ingin aku tanyakan.” Ucap William setelah dokter usai menulis beberapa catatan pada buku yang di bawa oleh wanita hamil saat melakukan pemeriksaan.


“Iya, pak. Ada yang bisa di bantu?” Tanya dokter wanita itu dengan ramah.


“Apa istriku sudah boleh naik pesawat? Tidak lama, hanya satu setengah jam.”


Alis Regina bertaut mendengar pertanyaan sang suami. Tanya pun muncul di benaknya. Apa pria itu mendengar pembicaraannya dengan sang adik tempo hari?


Regina akan menanyakan hal itu nanti.


Terlihat dokter wanita itu menghela nafasnya pelan. Membuat William was-was. Ia ingin sekali mendengar dokter berkata ‘boleh’.


“Melihat kondisi kandungan ibu Regina yang baik-baik saja, tentu boleh melakukan penerbangan.”


“Benarkah, dok?” Tanya William meyakinkan.


“Benar, pak. Asal jangan terlalu lama duduk. Dan tidak mengalami goncangan keras.”


Senyum terbit di bibir William. Ia kemudian menyalami dokter kandungan itu.


“Dokter tenang saja, aku meminjam jet pribadi temanku.”


Baik sang dokter maupun Regina hanya mampu menganga mendengar ucapan pria itu.


“Honey, Kamu ke mobil saja dulu. Aku akan menebus vitamin mu.”


“Tidak, aku mau ikut mengantri.” Regina semakin mengeratkan pelukannya pada lengan sang suami. Membuat pria itu mengiyakan keinginan istrinya.


William menuntun Regina duduk di salah satu kursi. Ia kemudian meninggalkan wanita itu untuk menebus obat.


“Boleh tante ikut duduk disini?” Tanya Regina kepada anak laki-laki yang telah duduk terlebih dulu di kursi sebelahnya.


“Boleh, tante.” Ucap bocah itu.


“Kamu sedang apa?” Tanya Regina berbasa-basi. Ia perhatikan, anak kecil itu sangat tampan dan bersih. Regina yakin, pasti bocah itu anak orang kaya.


“Aku sedang menunggu mami menebus obat.” Tunjuknya pada seorang wanita berperut buncit yang sedang mengantri bersama William.


“Mami mu sedang hamil?”


“Ya. Baru 5 bulan.” Ucap bocah itu lagi.


“Wah, selamat ya.”


Bocah kecil itu mengangguk. Ia menatap lekat ke arah Regina.


“Apa tante juga sedang hamil?”


Regina menganggukkan kepalanya.


“Apa kamu hanya datang dengan mami mu? Di mana papi mu?”


Regina kembali mengangguk. Jadi benar dugaannya jika bocah itu, pasti anak orang kaya.


“Siapa namamu?” Tanya Regina kemudian.


“Aku—


“Dev.” Terdengar seruan seorang wanita, membuat pandangan bocah kecil itu teralihkan.


“Maaf, tante. Mami ku memanggil. Aku kesana dulu. Bye tante cantik.” Bocah itu turun dari kursi yang ia tempati, sembari melambaikan tangan pada Regina.


“Tampan sekali dia. Sepertinya sangat menyayangi maminya.” Istri William terus mengamati interaksi anak kecil itu dengan maminya. Ia terharu saat anak laki-laki itu mengandeng tangan sang ibu.


“Manis sekali anak itu.”


“Siapa yang manis?” Suara sang suami menginterupsi.


“Itu, coba daddy lihat.” Regina menunjuk pasangan ibu dan anak yang berjalan semakin menjauh.


“Memangnya kenapa?”


“Dia manis sekali.”


William mencebik. “Tidak ada pria yang lebih manis daripada aku.” Ucapnya sembari merangkul pinggang sang istri. Dan membawanya menuju parkiran.


“Hei William Sanjaya, jangan katakan jika kamu cemburu dengan anak kecil.”


“Siapa yang cemburu?”


*****


“Dad, apa aku boleh bertanya sesuatu?” Tanya Regina kepada sang suami yang kini merebah di sampingnya. Mereka memutuskan untuk menginap di apartemen. Menghabiskan waktu berdua.


“Tanyakanlah, Honey.” Ia memutar badan, menghadap sang istri.


“Memangnya aku mau naik pesawat kemana?”


Regina tidak langsung menanyakan apa sang suami mendengar pembicaraannya dengan Reka kemarin atau tidak.


“Bukan kamu saja, tetapi kita.” Ucap William sembari menarik hidung sang istri.


“Aw.” Wanita hamil itu memekik, lantas mengusap indera penciumannya.


“Iya, maksudku, kita akan naik pesawat kemana? Apa ada janji bertemu klien di luar kota?”


“Pulang kampung.” Jawab William singkat pada dan jelas.


“Pulang kampung? Apa daddy mendengar pembicaraan ku dengan Reka kemarin?”


“Tidak. Aku penasaran dengan burung peliharaan ayah. Kata papa, ayah memelihara burung yang harganya belasan juta. Jadi aku ingin melihatnya langsung.” Tukas William panjang lebar.


“Benarkah?” Regina tak begitu saja percaya.


“Benar, Honey. Lagipula, untuk apa aku menguping pembicaraan kalian? Memangnya aku tidak punya pekerjaan lain?”


Regina mengedikan bahunya.


“Siapa tau saja daddy cemburu pada Reka. Dan tak mau aku berdua saja dengannya.”


“Hei, aku masih waras. Dia adik kandungmu. Mana mungkin aku cemburu.”


“Lalu? Kenapa kemarin cemburu dengan papa? Bukannya dia ayah kandungmu?”


William tak dapat menjawab pertanyaan sang istri. Wanita itu pun terbahak di buatnya.


“Ya, ya itu lain lagi kasusnya, Honey. Banyak di luar sana, menantu selingkuh dengan mertuanya.”


“Itu di luar, dad. Bukan aku. Aku hanya milik kamu. Selamanya pun akan menjadi milikmu.” Ucap Regina yang kemudian membelit tubuh sang suami, dan melabuhkan sebuah kecupan pada pipi pria itu.


Senyum pun terbit di wajah tampan William.


‘Aku percaya, kamu juga mencintaiku, Regina.”


.


.


.


Bersambung.