
Willona terbuai dengan apa yang ia lakukan dengan Reka. Begitu juga sebaliknya. Reka begitu menikmati apa yang mereka lakukan, dan tanpa sadar, ia mendekap erat pinggang gadis itu.
Ketika tubuh mereka menempel, barulah adik William itu tersadar. Ia kemudian menyudahi aksinya.
‘Apa yang telah aku lakukan? Pria ini pasti semakin besar kepala.’
Pandangan Willona dan Reka sejenak beradu. Canggung meliputi keduanya. Dengan cepat gadis itu memutar badan. Namun masih menempel pada dada dokter muda itu.
“Apa kamu sudah yakin?” Tanya Willona kepada mantan kekasihnya.
Pria itu menggeleng tak percaya. Dia melihat gadis itu seperti bukan Willona.
Melihat reaksi mantan kekasih Willona, Reka yang masih berdiri di belakang gadis itu, dengan sengaja melingkarkan tangannya pada pinggang Willona.
Gadis itu sedikit tersentak, namun ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya, agar sandiwara mereka tidak ketahuan.
“Jadi dia mantan kekasih mu, sayang?” Tanya Reka sembari menumpangkan dagu pada bahu terbuka gadis itu.
Jantung Willona berdegup kencang. Ia sering beradegan seperti ini dengan lawan jenisnya saat melakukan pemotretan. Namun, baru kali ini ia merasa gugup.
‘Pria menyebalkan ini. Apa dia mencuri kesempatan?’
“Ya.” Jawabnya singkat. Ia masih belum bisa menetralkan detak jantungnya. Tangan Reka semakin mengerat di pinggangnya.
“Aku tidak percaya ini.” Ucap mantan kekasih Willona. Pria yang pernah menjalin kasih dengan anak kedua pak Antony itu merasa jengah. Ia saja tidak pernah seperti itu dengan Willona. Hubungan mereka sebatas menggenggam tangan, dan mencium pipi. Karena itu, dia mencari pelampiasan dengan mengencani wanita lain di belakang kekasihnya.
“Tidak ada yang meminta mu percaya. Setelah ini, aku harap kamu tidak menganggu kekasih ku lagi.” Reka bersuara. Ia tutup kalimatnya dengan mengecup singkat pundak Willona.
‘Dasar Pria menyebalkan. Dia benar-benar mengambil kesempatan.’
Reka tiba-tiba melepaskan belitan tangannya pada pinggang Willona. Pria itu kemudian mendekat ke arah mantan kekasih gadis itu.
“Jangan pernah menganggunya lagi. Atau kamu akan berurusan denganku.” Ucapnya sembari menepuk pundak pria itu.
Mantan kekasih Willona itu mengeram. Tangannya terkepal sempurna. Ingin melepaskan tinjuan, namun ia urungkan. Melihat beberapa pasang mata yang kini tengah meperhatikan mereka.
“Sayang, ayo kita pulang.” Willona mendekat, kemudian meraih jemari Reka. Pria itu pun mengangguk.
Mereka berlalu meninggalkan mantan kekasih Willona yang terpaku di tempatnya.
“Ga, tunggu.” Sang pemilik acara menghentikan langkah Reka dan Willona.
“Ar, sorry, aku pamit dulu.” Reka berucap sembari menunjukan pertautan tangannya dengan tangan Willona.
Pria bernama Arka itu berdecak, ia pun memukul lengan Reka.
“Pantas saja waktu itu kalian terlihat sangat serasi, ternyata ada udang di balik tepung.” Gurau pria yang berprofesi sebagai fotografer itu sembari terkekeh.
Reka mencebik, ia dan Willona kemudian pamit untuk pulang.
“Lepaskan, jangan coba-coba mengambil kesempatan dalam kesempitan.” Willona menghempaskan tangan Reka. Mereka kini tengah berada di parkiran, tepat di samping mobil gadis itu.
Reka mencebik. Ia kemudian menarik tangan gadis itu, kemudian menghimpit tubuh Willona pada pintu mobil.
“Kamu yang memulai lebih dulu. Bukan aku.” Ucap Reka dengan jarak wajah yang begitu dekat.
Willona menelan ludahnya kasar. Paras Reka begitu dekat dengannya. Tak di pungkiri, Willona terlena akan ketampanan pria itu.
“I-itu, itu karena aku tidak tau harus meminta bantuan kepada siapa.” Ucap gadis itu sembari membuang pandangan ke arah lain. Jujur ia tidak sanggup terlalu lama seperti ini. Imannya bisa runtuh.
“Kamu harus membayarku untuk semua yang telah aku lakukan. Karena kamu, orang-orang di dalam sana sekarang taunya, kita sepasang kekasih.” Pria itu semakin mendekatkan wajahnya.
Tangan Willona pun berusaha menahan dada bidang Reka agar tak semakin menempel padanya.
“I-iya, berikan a-aku nomor rekeningmu. Aku akan mentransfer upahmu.” Gadis itu semakin gugup, kala terpaan nafas Reka menyentuh pipi mulusnya.
“Lalu?”
“Ini.” Sedetik kemudian mata Willona membulat sempurna, kala Reka kembali menyatukan bibir mereka. Tangan gadis itu memberontak, namun dengan cepat pria itu mengunci kedua tangan gadis itu di atas kepala.
Adik William itu pasrah, ia pun mengikuti permainan Reka. Ikut terbuai akan manisnya decapan bibir.
Hampir lima menit, pertautan bibir mereka harus terlepas karena ada suara mobil yang datang. Keduanya pun terengah. Seperti orang yang baru saja selesai berlari.
“Ayo kita pulang.” Ucap Reka sembari merapikan helaian rambut Willona yang sedikit berantakan karena ulahnya.
Gadis itu menganggukkan kepala.
“Berikan kunci mobilmu padaku.” Tangan Reka menengadah ke arah Willona, membuat gadis mengerenyitkan dahinya.
“Kamu tau kan, aku tidak punya mobil.” Sambung pria itu lagi. Willona mengangguk. Kemudian merogoh tas tangannya dan memberikan kunci mobil pada pria itu.
****
“Kenapa belum tidur?” Tanya William kepada sang istri yang masih terjaga di atas tempat tidur. Pria itu baru saja selesai mengecek e-Mail yang di kirim menejer klub.
“Belum mengantuk.” Ucap Regina sembari memainkan ponselnya.
“Sedang apa?” William menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri yang sedang asyik berselancar di dunia maya.
“Tidak ada. Hanya sedang menunggu balasan pesan dari Reka. Entah kemana dia? Tidak membalas pesanku sejak sore.”
“Mungkin dia sedang bekerja.” Jawab William sembari merebahkan kepala di atas paha sang istri. Ia kemudian menyingkap piyama wanita itu, lalu mengecupi perut Regina yang masih rata.
“Ish, dia kerja pagi. Tadi pagi kan tidak ikut sarapan.”
“Memangnya ada apa? Kenapa tumben sekali kamu mencari Reka.” Tanya William sembari mendongak.
“Aku mau meminta dia membelikan bubur ayam besok pagi, di pertigaan depan kontrakan.”
William menganga, dia kira ada hal penting apa yang hendak sang istri sampaikan kepada adik iparnya. Ternyata hanya masalah bubur ayam.
“Kirim pesan saja. Nanti juga dia lihat.” Pria itu kembali membenamkan wajahnya pada perut sang istri.
“Takutnya dia tidak membuka ponselnya. Anak itu kan begitu. Tidak pernah perduli dengan ponselnya, kecuali berdering berkali-kali.”
Regina menggerutu, adiknya memang jarang menjawab pesan yang di terima oleh ponselnya. Pria itu hanya akan menjawab panggilan telepon.
“Sudah jangan menggerutu. Kasihan baby, kalau mommy nya marah-marah.”
Regina menghela nafas pelan. Ia kemudian meletakkan ponselnya di atas nakas. Tanga wanita itu kemudian mengusap lembut kepala sang suami.
“Kamu mau anak pertama kita laki atau perempuan?” Tanya wanita itu kemudian.
“Apa saja, Honey. Laki atau perempuan sama saja. Yang penting, kalian semua sehat.”
‘Tetapi, entah kenapa aku yakin jika baby di dalam perutmu ini berjenis perempuan.’ Lanjut William dalam hati. Ia belum mau mengatakan apa yang ia rasakan pada sang istri.
Regina mengangguk tanda paham.
.
.
.
Bersambung.