
“Mbak Regina, tunggu.”
Tamara mencegah Regina yang hendak keluar dari toko. Jujur, wanita itu merasa canggung jika hanya berdua dengan Alvino. Bagaimana pun juga, hubungan mereka sudah tidak sedekat dulu. Perpisahan selama hampir tiga bulan, menciptakan kecanggungan diantara mereka berdua.
“Ada apa?” Tanya Regina terheran. William yang menggandeng tangan istrinya itu, ikut menatap penuh tanya ke arah Tamara.
“Temani aku disini, mbak.” Ucap Tamara memelas.
Permintaan wanita itu, membuat Regina dan William saling pandang.
“Tidak, kalian bicaralah berdua. Aku ingin mengajak istriku makan baso di depan.” William menjawab. Tangan pria itu menunjuk ke depan toko, dimana seorang penjual baso sedang menjajakan jualannya.
Regina pun mengangguk setuju. Tamara dan Alvino harus menyelesaikan masalahnya berdua.
“Suami ku benar, Ta. Aku juga sangat lapar. Kamu tau sendirikan bagaimana seorang wanita yang sedang hamil, bawaannya ingin makan terus.”
Jawaban Regina membuat bahu Tamara terkulai lemas.
Pasangan suami istri itu pun melanjutkan langkahnya, meninggalkan dua orang itu di dalam toko.
“Apa kita kunci saja pintu depannya, Hon?” Bisik William sembari berjalan ke arah pintu masuk toko yang terbuat dari kaca.
“Hush, nanti kalau ada barang-barang yang hilang bagaimana?” Regina ikut berbisik.
“Honey, sejak kapan kamu berburuk sangka kepada orang?” William terkekeh kecil.
“Mereka orang-orang yang tak bisa di percaya, dad.”
“Mereka tidak mungkin menggondol lemari, kan?” Pertanyaan William membuat Regina tergelak. Mereka benar-benar menghampiri pedagang makanan di depan toko itu. Dan membiarkan Alvino dan Tamara menyelesaikan masalah mereka berdua.
Selepas kepergian sepasang suami istri itu, keheningan tercipta di dalam toko. Tamara mengambil tempat duduk yang cukup jauh dari Alvino.
Pria itu menghela nafas panjang. Ia kemudian mendekat. Jika hanya saling diam, masalah mereka tak akan terselesaikan.
“Ta.”
Alvino mengambil tempat di samping wanita itu. Membuat Tamara sedikit bergeser. Menciptakan jarak di antara mereka.
“Ta, maafkan aku.”
“Aku sudah memaafkanmu.” Jawab Tamara dengan cepat, dan tanpa melihat lawan bicaranya.
“Lihat aku, Ta. Dan katakan jika kamu sudah memaafkan aku.”
Tamara menghembuskan nafas kasar. Ia kemudian menatap pria itu dengan lekat.
“Aku sudah memaafkan, mu. Jadi, sekarang pergilah.” Ucap wanita itu kemudian.
Kepala Alvino menggeleng. Ia menggeser posisi, agar lebih dekat dengan wanita yang kini tengah mengandung calon anaknya itu.
“Tidak, Ta. Aku tidak akan pergi, jika kamu tidak ikut pulang denganku.”
Pria itu meraih jemari Tamara yang bertaut di atas pangkuannya.
“Ayo kita pulang, dan mulai semuanya dari awal.”
Tamara menepis tangan Alvino. Ia menatap nyalang ke arah pria itu.
“Pulang? Untuk apa? Untuk kamu abaikan? Untuk kamu salahkan? Untuk apa aku ikut pulang, jika pada kenyataannya kehadiran ku tidak kamu inginkan, Al?” Suara wanita itu terdengar berat. Cairan bening mulai menggenang di pelupuk matanya.
Kepala Alvino menggeleng. Ia kembali meraih tangan wanita itu.
“Maafkan aku, Ta. Aku salah. Aku belum siap untuk ini. Maafkan aku.”
Tamara tertawa ironi. Ia menertawakan dirinya sendiri.
“Pulanglah, Al. Aku sudah menerima semua ini. Kita tidak di takdirkan untuk bersama.”
Tamara mencebik. “Tanpa aku? Lalu bagaimana dengan bayi ini? Aku tidak akan ikut dengan pria yang tidak mau menerima anaknya sendiri.”
“Kita pulang bersama. Aku, kamu, dan anak kita.”
Tamara menatap lekat pria di sampingnya. Benar apa yang di katakan oleh Regina. Alvino seperti tak terurus. Rambutnya bahkan sudah memanjang, dan bulu-bulu halus mulai tumbuh di sekitar dagunya.
“Kenapa tidak mencukur rambutmu?”
Alvino tersenyum tipis. Kepalanya menggeleng sebagai jawaban.
“Aku tidak sempat. Fokus ku, hanya bekerja dan mencarimu.” Pria itu menghela nafas. “Tetapi sangat sulit menemukanmu. Apa kamu memblokir nomor ku? Kenapa aku tidak bisa menghubungi mu?”
“Aku membuang nomor lama ku.”
“Apa sebegitu nya kamu ingin menjauh dari aku?”
Kepala Tamara mengangguk. “Ya, untuk apa aku tetap berada di dekatmu, jika kamu mengabaikan aku?”
Alvino kemudian bersimpuh di hadapan Tamara. Ia genggam erat kedua jemari wanita itu.
“Maafkan aku, Ta. Aku tau, berapa banyak pun aku mengucapkan kata maaf, tak akan menghilangkan rasa sakit hatimu. Tetapi, tolong ijinkan aku menebus semua kesalahan yang telah aku perbuat. Dalam hidupku, aku sudah melakukan kesalahan besar karena telah menyakiti Regina. Aku tidak mau mengulanginya lagi, dengan menyakitimu. Kamu tidak salah. Kamu hanya korban dari perbuatan ku. Maafkan aku, Ta. Beri aku kesempatan menebus dan memperbaiki kesalahanku.”
Tatapan mata Alvino dan Tamara saling beradu. Wanita itu dapat melihat kesungguhan dari sorot mata pria itu.
“Beri aku waktu untuk memikirkannya, Al.”
“Sampai kapan? Lihat, perut mu semakin membesar.” Satu tangannya mengusap perut Tamara yang sudah membuncit. Hati pria itu berdesir merasakan sebuah kenyamanan.
Tamara menunduk menatap perutnya sendiri.
‘Nak, apa kamu mau, kita ikut dengan papamu?’
Wanita itu seolah bertanya pada bayi di dalam sana. Hal yang sering ia lakukan saat sendiri dan perlu teman berbagi.
“Apa yang membuatmu ragu, Ta?”
‘Kamu tanya apa? Lalu bagaimana dengan keluarga mu? Ibumu bahkan tidak menyukai aku. Di mata ibumu, akulah yang salah. Aku yang telah membuat hubunganmu dan Regina berakhir. Apa keluargamu akan menerima anakku?’
“Jangan memikirkan apapun. Pikirkan saja tentang kita.” Pria itu bangkit, kemudian mengulurkan tangan pada Tamara.
“Mau kemana?” Tanya wanita itu.
“Kita pulang.”
Namun Tamara kembali menggeleng. Membuat Alvino frustrasi.
“Jangan keras kepala, Ta. Aku tau aku salah. Kamu boleh menghukum aku apapun, tetapi tolong. Ikut aku pulang. Aku serius ingin memperbaiki semuanya dan bertanggung jawab kepada mu dan anak kita.”
“Ya, tetapi tidak sekarang, Al. Ini sudah malam. Aku juga harus pamitan dengan orang tua mbak Regina. Bagaimana pun juga, selama ini mereka telah baik kepada ku. Tanpa mereka, mungkin aku sudah terlunta di jalanan.”
Mendengar ucapan Tamara, membuat senyum tersungging di bibir Alvino.
“Itu artinya kamu mau ikut dengan ku?”
“Apa aku boleh menolak?” Tamara berbalik melempar tanya.
“Tidak sama sekali.”
.
.
.
Bersambung.