BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 37. Apa Kalian Sudah Pu-as?!



Sementara itu, di waktu yang sama saat William dan Regina keluar dari gedung Sanjaya, Alvino dan Tamara juga keluar dari gedung Mahendra.


Alvino sedari tadi pagi tidak berkonsentrasi dalam mengerjakan pekerjaannya, karena masih memikirkan masalah yang ia buat sendiri.


Bagaimana ia tidak mengetahui tentang adik Regina? Hal itu terus saja terlintas di benaknya. Hingga jam pulang kantor tiba.


“Kita makan malam dulu.” Ucapnya kepada Tamara. Wanita itu tengah menyetir mobil, karena Alvino merasa sedikit pusing karena memikirkan kebodohannya. Ia juga memikirkan nasib hubungannya dengan Regina yang terancam bubar.


“Mau makan dimana, Al?” Tanya Tamara.


Alvino menyebutkan nama salah satu restoran bintang lima, dimana disana juga menjual minuman beralkohol. Ia ingin sedikit meredakan sakit kepalanya dengan meminum minuman beralkohol.


Tamara menuruti. Ia kemudian membawa mobil sedan milik atasannya itu ke tempat yang pria itu sebutkan.


Alvino hanya memakan sedikit makanannya, pria itu lebih banyak menghabiskan minuman. Hampir dua jam berada di tempat makan mewah itu, mereka pun memutuskan untuk pulang.


“Pulang kemana?” Tanya Tamara sembari menyalakan mesin mobilnya. Ia menoleh sedikit ke samping, melihat sang atasan yang sedang menyandarkan tubuh pada sandaran kursi. Pria itu nampak memijat pangkal hidungnya.


“Ke apartemen ku saja.” Dan Tamara menganggukkan kepalanya.


Wanita itu melajukan mobil mewah itu dengan kecepatan sedang. Dan hampir 30 menit, mereka pun tiba di parkir bawah tanah gedung apartemen yang di tempati oleh Alvino.


Tanpa di sadari, sedari keluar dari kantor Mahendra, mereka telah di ikuti oleh orang suruhan William. Dan melihat target menuju gedung apartemen sang pria, orang suruhan William bersorak gembira. Setelah sekian lama melakukan pengintaian, akhirnya hari yang di nantikan tiba. Bonus besar telah menantinya. Karena William menjanjikan upah dua kali lipat.


Tamara menekan beberapa nomor pada gagang pintu, kemudian pintu apartemen itu pun bisa di buka. Alvino mengekor di belakangnya, kemudian mengunci pintu itu kembali. Tanpa banyak bicara, pria itu mendekap tubuh sang sekretaris, kemudian mendorongnya ke arah sofa ruang tamu.


Alvino begitu saja membungkam bibir Tamara dengan kasar. Membuat wanita itu kewalahan untuk meladeninya.


“Al, ada apa?” Tamara tau, jika Alvino bersikap seperti ini, pria itu pasti sedang memiliki masalah.


“Bertengkar dengan nona Regina lagi?” Tamara kembali bertanya, saat pagutan mereka terlepas. Alvino menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Membuat Tamara ikut duduk dengan benar.


“Aku membuat kesalahan. Kemarin aku melihat Regina bersama seorang pria, aku marah kemudian memukulnya. Dan tadi pagi, aku juga mendapati mereka bersama di rumah Regina. Dan saat aku ingin menghajar pria itu, Regina mengatakan jika pria itu adalah adiknya.”


“Jadi itu yang membuatmu tidak berkonsentrasi dari tadi pagi?” Tamara mengusap lengan atasannya.


“Ya, adiknya meminta ku menjauhi Regina.” Pria itu meremat rambutnya frustrasi. Sementara Tamara hanya mampu mencebikan bibirnya.


Wanita itu menyeringai, ia kemudian membuat Alvino menghadap ke arahnya. Saat pria itu menoleh, Tamara langsung menyatukan bibir mereka berdua. Memberi sentuhan lembut, hingga menjadi semakin panas.


Tangan wanita itu pun tak tinggal diam, ia melepas satu persatu kain yang menutupi tubuh kekar sang atasan. Alvino yang memang lemah akan sentuhan Tamara, mengikuti apa yang sekretarisnya lakukan. Tangannya juga ikut menanggalkan satu persatu kain yang menempel pada tubuh wanita itu.


Pergulatan pun tak dapat di hindari. Alvino begitu dominan, menguasai tubuh sekretarisnya.


****


“Will, kenapa kita kemari?” Tanya Regina saat mobil yang mereka tumpangi terparkir di basemen gedung apartemen yang di tempati oleh Alvino.


“Hadiahku ada disini.” Pria itu melepas sabuk pengaman yang membelit tubuhnya, ia menatap sang sekretaris yang masih tak bergeming. “Mau aku yang membukakan?” Tunjuknya pada sabuk pengaman yang membelit tubuh Regina.


“Aku bisa sendiri.”


Mereka kemudian turun. Regina semakin heran, saat lift yang mereka naiki, menuju lantai dimana unit Alvino berada.


“Will, jangan katakan jika—.”


“Ya, kamu akan melihatnya nanti.”


Dan benar saja, kini dua orang itu berdiri di depan pintu unit apartemen milik Alvino. Regina sekali lagi mencari jawaban atas rasa penasarannya. Ia menatap sang atasan dengan penuh tanya.


“Buka lah, bukannya kamu tau sandi pintu ini?”


Regina mengangguk. Ia kemudian menekan beberapa nomor, dan pintu itu pun bisa di bukanya.


Berjalan perlahan, mata Regina membulat sempurna, kala ia mendapati pemandangan yang sama, seperti saat terakhir ia mendatangi tempat ini. Dan seperti saat itu pula, Alvino dan Tamara tidak menyadari kehadirannya di sana, karena sedang asyik berbagi peluh.


Wanita itu pun membalikkan tubuhnya, kemudian menutupi mata William.


“Kamu tidak boleh lihat.” Bisik wanita itu. Namun, bukan William namanya jika ia menurut. Pria itu menurunkan tangan Regina, dari matanya.


“Kamu yang tidak boleh lihat. Hanya boleh melihat tubuhku saja.” Pria itu mendekap tubuh sekretarisnya itu. Kemudian secara perlahan, berjalan mendekati sofa tempat pergumulan Alvino dan Tamara.


“Ayo labrak. Jambak rambut si rahwana.” Bisik pria itu lagi. Namun Regina menggeleng. Membuat William mengerutkan dahinya.


“Tidak lagi?”


Dan beberapa saat kemudian, Alvino pun meneriakkan nama Regina saat ia mencapai puncaknya.


“Reginaaa…hhh….”


‘Cih.. jadi si rahwana membayangkan Regina? Enak saja. Cukup dalam bayanganmu saja, karena pada kenyataannya, akulah pemilik Regina.’


“Apa?!!” Wanita pemilik nama itu menyahut. Membuat Alvino dan Tamara saling tatap. Jantung keduanya berdetak dua kali lebih cepat. Mereka sontak menoleh ke sumber suara.


Deg!!


“Sa-sa- yang.” Alvino terbata.


“Apa kalian sudah pu-as?”


Pria itu sontak melompat dari atas tubuh sekretarisnya. Ia dengan cepat memungut pakaiannya dari atas lantai. Dan juga memberikan pakaian milik Tamara.


“Sayang, aku bisa jelaskan.” Alvino mendekat, saat pria itu sudah mengenakan celananya.


Namun, Regina menghindar, dan bersembunyi di balik tubuh William.


“Stop!!” William menjulurkan tangan di depan dada. Ia tidak mau pria itu mendekatinya. Mendadak William merasa mual.


‘Cih, bau ini?’


“Tidak perlu menjelaskan apapun, Alvino. Semuanya sudah jelas.” Regina berbicara dari balik punggung William. Wanita itu bahkan enggan menatap lawan bicaranya.


“Dan, mulai saat ini, mari kita akhiri hubungan ini.” Imbuh Regina lagi.


“Sayang, jangan. Dengarkan aku dulu.”


“Cukup!! Kamu mau menjelaskan apalagi? Apa kamu mau mengatakan jika sekretarismu yang merayu terlebih dulu?”


Alvino seketika diam.


“Kamu pikir, aku tidak tau tentang kalian selama ini?” Regina menggeser tubuhnya ke samping William, pandangan wanita itu jatuh pada sosok wanita yang tengah duduk dan menundukkan wajahnya di atas sofa.


Tak ada air mata yang keluar dari mata wanita itu. Ia tidak mau menangisi perbuatan Alvino.


“Aku tau, di hari jadi kita, kamu bukannya sibuk bekerja, tetapi kamu sibuk bermain dengan sekretaris mu di tempat ini!!” Suara Regina meninggi. Ia bahkan menunjuk Alvino dan Tamara secara bergantian.


Deg!!


Alvino tersentak, ia teringat saat itu merasa seperti mendengar suara pintu yang di banting. Namun ia tidak menghiraukannya, karena terlalu larut dalam kenikma*tan.


“Sayang”


“Cukup!! Berhenti memanggilku seperti itu, Alvino Mahendra. Mulai detik ini, aku bukan kekasih mu lagi.” Setelah mengatakan hal itu, Regina pergi meninggalkan tempat itu.


“Sayang…” Alvino hendak mengejar Regina, namun William mencekal lengan pria itu.


“Tidak perlu mengejarnya. Kamu tidak dengar, dia sudah memutuskan hubungan kalian. Jadi, setelah ini, aku bebas mendekatinya.” William menghempas tangan Alvino begitu saja. Ia kemudian berbalik hendak pergi, namun Alvino menarik lengan pria itu, kemudian melayangkan pukulan pada wajah tampan William.


“Ck!! Ternyata kamu berani juga ya?” William menyeka sudut bibirnya. Ia kemudian membalas pukulan itu, dengan melayangkan pukulan bertubi-tubi pada perut Alvino. Membuat tubuh pria itu terhuyung, melihat hal itu, Tamara bangun untuk melerai mereka berdua.


“Hentikan, pak. Aku mohon.” Ucapnya dengan berurai air mata.


William pun menghentikan pukulannya. Ia kemudian berbalik untuk pergi, namun pria itu kembali berhenti di ambang pintu.


“Itu balasan kecil karena kamu telah menyakiti Regina. Aku pastikan kamu akan mendapatkan balasan yang lebih buruk lagi, jika kamu berani mendekati Regina.”


Setelah mengatakan hal itu, William pun benar-benar pergi dari tempat itu.


.


.


.


Bersambung.


Adakah yang ikhlas memberi William dan Regina hadiah ?? 🥹🥹


(Author ngemis)