
“Apa kamu memikirkan ucapan Reka tadi?” William bertanya kepada Regina yang tengah melamun di atas tempat tidur.
Sementara Reka telah kembali ke rumah kontrakan Regina. Mulai malam ini, pria itu akan menempati rumah yang telah di bayar oleh sang kakak. Pria muda itu sudah meminta ijin kepada pemilik rumah. Tentu dengan mudah ia mendapatkannya, karena Regina pernah mengajak Reka bertemu dengan pemilik rumah itu.
“Ucapan yang mana?” Tanya Regina.
William menghela nafas pelan. Ia kemudian merebahkan kepalanya di atas paha wanita itu.
“Tentang mantanmu, atau tentang kematian nenek selingkuhannya?”
Tangan Regina dengan refleks mengusap kepala William. Hal itu membuat senyum tersungging di wajah tampannya.
“Aku merasa, si rahwana memanfaatkan keadaan nenek wanita itu. Dia mungkin yang menanggung semua biaya pengobatan nenek itu, tetapi dengan syarat wanita itu harus mau menjadi selingkuhan.”
Tangan Regina tiba-tiba berhenti mengelus kepala pria itu. “Jadi kamu berpikiran begitu juga?”
“Apa kamu memikirkan hal yang sama, Honey?” Dan Regina pun mengangguk.
“Aku rasa kita memang berjodoh, Honey. Bahkan, hal yang kita pikirkan pun sama.” William terkekeh sendiri. Dan Regina pun menggelengkan kepalanya.
“Oh ya, apa yang di katakan Reka tadi benar?” Tanya William lagi.
“Tentang apa?”
“Kamu sudah jatuh cinta kepadaku.”
Pipi Regina bersemu merah. Ia sendiri masih bingung dengan perasaan yang dimilikinya saat ini.
“Aku belum tau..” wanita itu menundukkan wajahnya. Namun tak berani menatap William yang berada tepat di bawahnya.
Pria itu tersenyum. Ia kemudian mengangkat kepalanya. Dan otomatis bibir mereka bertemu.
“Tidak apa-apa, masih banyak waktu untuk kita bersama. Dan cinta itu akan tumbuh seiring kebersamaan yang kita lewati.” Ucap William setelah pagutan mereka terlepas. Ia kembali merebahkan kepalanya di atas pangkuan sang sekretaris.
Regina mengangguk, ia pun kembali mengusap kepala William.
William tiba-tiba teringat kembali dengan rencana perjodohannya dengan anak dari pak Regan. Hatinya kembali kalut, apalagi melihat senyum manis di wajah Regina, William tak ingin kehilangan itu.
“Honey, seandainya jika aku mengajakmu hidup susah, apa kamu mau?” William tiba-tiba melontarkan pertanyaan.
Dahi Regina berkerut mendengar pertanyaan sang atasan.
“Memangnya kamu bangkrut? aku bahkan tau semua aset yang di miliki keluarga mu. Mana mungkin kamu hidup susah.” Ucap wanita itu mencebik.
William menghela nafasnya pelan. Memang harta keluarganya tidak akan membuat dia hidup susah. Tetapi, jika ia menolak perjodohan dengan anak pak Regan, bisa jadi pria itu akan di usir dari keluarga Sanjaya.
“Ya, aku ingin memulai hidup baru. Aku berencana menjual klub.”
“Kenapa di jual?”
“Menurutmu? Apa kamu ingin aku menghidupimu dengan uang hasil dari klub?”
Kini, giliran Regina yang menghela nafasnya.
“Lalu kamu mau buat bisnis apa?”
“Bagaimana jika kita membuat hotel? Atau pusat perbelanjaan? Menurut mu apa yang bagus, Honey? Atau kamu ingin membuat bisnis yang lain? Katakan saja, pelan-pelan kita bangun bersama.”
Regina tersenyum. Ia belum juga menerima cinta pria itu, namun William sudah mengajaknya membuat bisnis berdua.
“Apa kamu yakin akan menikahiku?”
Kepala William mengangguk.
“Bagaimana jika orang tuamu punya pilihan lain?”
Deg…
“Kenapa kamu mengatakan hal seperti itu, Honey?”
Kepala Regina seketika mengeleng. Ia tidak boleh mengatakan pada William, jika ia tau, pak Antony punya pilihan sendiri untuk putranya.
Mereka pun kembali mengobrol. Hingga waktu menunjukkan pukul 10 malam. Dan kedua manusia tanpa ikatan itu pun memutuskan untuk tidur dan saling memeluk.
*****
“Uwekk-uwekk.” Tamara buru-buru pergi ke kamar mandi di dekat dapur apartemen milik Alvino. Kemarin, setelah acara pemakaman sang nenek, Alvino mengajak wanita itu menginap di apartemennya karena kasihan melihat keadaan Tamara yang terus murung.
Dan pagi ini, saat Tamara akan membuat sarapan untuk mereka berdua, entah kenapa perutnya terasa bergejolak. Ia sudah berusaha untuk menahan, namun dorongan yang kuat dari dalam perutnya, tak bisa di tahan lagi.
“Ta? Kamu kenapa?” Alvino menghampiri wanita yang tengah membungkuk di atas closet. Tangan pria itu terulur mengurut tengkuk Tamara.
Tamara tak mampu menjawab. Ia terus saja muntah. Hingga air mata wanita itu juga ikut keluar.
“Kita ke dokter ya?” Ucap Alvino khawatir. Seharian kemarin, Tamara tidak memakan apapun kecuali sarapan. Ia takut, sang sekretaris mengalami penyakit asam lambung.
Kepala Tamara mengangguk. Dan Alvino pun memapah wanita itu.
“Kita sarapan dulu, setelah itu kita ke dokter.” Sekali lagi, Tamara hanya mengangguk. Tubuhnya terasa sangat lemas.
Alvino memberikan segelas susu hangat, dan dua lembar roti tawar yang telah di olesi selai coklat kepada Tamara.
Setelah mereka sarapan, Alvino mengajak Tamara pergi ke rumah sakit. Ia khawatir dengan keadaan Tamara. Meski Alvino tak mencintai wanita itu, namun ia masih memiliki rasa kemanusiaan. Bagaimana pun juga, ia sudah merusak Tamara meski semua itu tidak gratis. Namun, sebagai sesama manusia, Alvino tidak tega melihat keadaan Tamara. Wanita itu baru saja kehilangan neneknya, Alvino tak tega jika harus membiarkan Tamara sendirian.
Dokter mengatakan jika Tamara mengalami asam lambung, namun dokter tak berani memberikan sembarang obat kepada Tamara. Dokter itu pun meminta Tamara melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan.
Alis Tamara dan Alvino berkerut. Mereka mencoba mencerna maksud dokter pria itu.
“Maksud dokter apa? Bukannya tadi dokter katakan jika dia terkena asam lambung?” Tanya Alvino dengan jantung berdebar.
“Ini baru perkiraan saya. Sepetinya istri anda sedang hamil, pak. Untuk memastikan, Silahkan kalian menemui dokter kandungan.”
Deg…
Jantung Tamara dan Alvino berdetak semakin kencang.
“Ha-hamil.” Ucap mereka secara bersama. Alvino dan Tamara seketika saling tatap.
“Ya, coba saja periksakan ke dokter kandungan terlebih dulu. Untuk memastikan.”
Dan disini lah Alvino dan Tamara berada, di depan sebuah ruangan, yang bertuliskan Obgyn di depan pintunya.
Mereka sama-sama diam. Berkutat dengan pikiran masing-masing.
Setelah menunggu hampir 20 menit, kini giliran Tamara yang namanya di panggil. Wanita itu menarik nafasnya berulang kali sebelum memasuki ruangan itu. Alvino pun mengikuti Tamara masuk ke ruangan itu.
Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, suster meminta Tamara untuk tidur di atas ranjang periksa. Suster menyelimuti kaki hingga paha, kemudian mengangkat sedikit baju kaos yang Tamara gunakan. Lalu, suster itu mengolesi gel dingin di atas perut wanita itu.
Suster juga meminta Alvino untuk mendampingi Tamara, karena mengira mereka pasangan suami istri. Dan Alvino menurut, pria itu berdiri di sisi sebelah kiri ranjang.
Dokter kemudian mendekat dan menggerakkan sebuah alat di atas perut Tamara. Beberapa saat kemudian, dokter wanita itu berbicara.
“Selamat, bapak, ibu. Ibu Tamara sedang hamil, dan usianya kini sudah 6 minggu.”
Deg…
.
.
.
Bersambung