BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 95. Kamu Memang Pria Baik.



“Honey, kamu baik-baik saja?” William menghampiri sang istri kedalam kamar mandi setelah mendengar wanita itu kembali muntah.


“Apa aku menyakiti kalian?” Tanyanya lagi sembari mengusap tengkuk hingga leher Regina.


Wanita itu kemudian berkumur, dan mencuci wajahnya. William dengan sigap mengambilkan sebuah handuk kecil untuk sang istri menyeka air pada wajah wanita itu.


“Tidak apa-apa, dad.” Ucap Regina dengan tersenyum. Mereka kemudian kembali ke dalam kamar.


“Oh ya, Hon. Tadi ibu menelponmu.” Ucap William saat mereka telah kembali ke atas ranjang. Waktu menunjukkan pukul 10 pagi, sepasang suami istri itu benar-benar menghabiskan waktunya untuk berduaan di dalam kamar.


“Ada apa? Apa ada masalah?” Tanya Regina.


“Tidak, ibu hanya teringat dengan mu. Katanya, ada wanita muda yang sedang hamil datang mencari pekerjaan ke toko. Wanita itu pingsan, dan ibu teringat kepadamu.” William menjelaskan, apa yang ia dengar dari ibu mertuanya tadi.


“Wanita muda?”


“Hmm, kata ibu dia dari ibukota. Dan tanpa suami.”


Regina menatap tak percaya ke arah sang suami.


“Kenapa?” Tanya William dengan alis terangkat.


“Tidak. Hanya saja, aku terkejut mendengar kata tanpa suami itu, apa maksudnya?”


William kemudian merangkul bahu sang istri.


“Jangan memikirkan yang tidak-tidak. Fokus dengan diri dan kehamilanmu. Ini cucu pertama keluarga Sanjaya dan Prayoga. Aku bisa di gantung oleh mereka, jika terjadi sesuatu dengan cucu mereka.”


Regina mencebikan bibirnya.


“Kamu tak percaya? Bahkan ibu tadi mewanti-wanti, agar aku bisa menahan diri.”


“Apa iya?”


“Hmm.”


Mereka pun tertawa bersama. Hingga keduanya saling pandang, saat teringat sesuatu.


“Reka dan Willona?” Ucap sepasang suami istri itu bersamaan.


“Tunggu, hon. Aku akan turun untuk mengecek, apa mereka sudah selesai bergulat.”


William melepaskan rangkulannya pada bahu sang istri kemudian ia keluar kamar untuk melihat keberadaan adik dan adik iparnya.


Tak berapa lama, pria itu kembali datang.


“Sepi, Hon. Tak ada siapa-siapa di bawah.” Jelasnya sembari kembali mengambil tempat di samping sang istri.


Dahi Regina berkerut. Ia kemudian mengambil ponselnya di atas nakas, untuk menghubungi sang adik. Dokter muda itu mengatakan jika ia meminta bantuan Willona untuk mencari mobil, untuk di belinya.


“Apa uang mu cukup?” Tanya Regina kepada sang adik melalui sambungan telepon.


“Aku akan membeli mobil yang bekas saja.” Jawab Reka dari seberang.


“Jangan, beli yang baru saja. Biar aku transfer sisanya.” Yang berbicara bukan Regina, melainkan sang suami. Karena panggilan telepon itu di lakukan dengan menyalakan pengeras suara.


“Tidak perlu. Uangku cukup untuk membeli mobil baru, tetapi, aku rasa mobil bekas juga tidak masalah.” Reka menolak pemberian kakak iparnya secara halus.


“Jangan membantahku, atau kamu tidak akan pernah bertemu dengan kakakmu lagi.”


Mata Regina membulat sempurna. Sang suami sedang melayangkan ancaman kepada sang adik, tepat di hadapan dirinya.


William mengedipkan salah satu matanya kepada sang istri.


“Kamu mengancamku?”


“Ia, dan aku tidak pernah main-main dengan ucapkan ku. Pokoknya, aku akan mentransfer, dan kamu harus membeli mobil baru. Jangan sampai kamu kalah dengan beberapa pria yang mengejar-ngejar adikku.”


“Kamu—


Panggilan dengan cepat William matikan. Ia terbahak karena telah mampu menekan adik iparnya itu.


“Hon, kirim nomor rekening Reka padaku. Aku akan mentransfer sejumlah uang.” Perintahnya pada sang istri.


“Will, itu tidak perlu. Biarkan saja Reka membeli mobil bekas. Dia juga mempunyai uang.” Regina merasa tidak enak kepada suaminya


Alis Regina kembali berkerut, ia tak mengerti maksud ucapan sang suami.


“Apa kamu tak bisa melihat, jika adikmu menyukai adikku? Aku rasa, pria itu tengah berusaha menaklukan Willona. Jadi, aku ingin adik iparku terlihat keren, supaya tidak kalah dengan pria-pria yang mengejar adikku.”


Mulut Regina menganga mendengar penjelasan sang suami.


“Apa daddy merestui mereka?” Tanya wanita itu, karena kemarin, saat pernikahan mereka, William menolak mendekatkan keduanya.


Pria itu menghela nafasnya pelan. Pandangannya jatuh pada dinding kamar.


“Setelah aku pikir-pikir, tak ada yang lebih pantas untuk Willona selain Reka. Dia adikmu, keluarga kita sudah saling mengenal satu sama lain. Dia tidak akan berani menyakiti adikku.”


“Apa kamu sudah yakin?” Tanya Regina sekali lagi.


“Hmm, tetapi, biarkan mereka melakukan pendekatan dulu. Biarkan hubungan mereka terjalin dengan sendirinya.”


Regina mengangguk paham. Ia kemudian memeluk pinggang sang suami dari samping.


“Terimakasih, Kak Iam.. kamu memang pria yang sangat baik.” Wanita itu melabuhkan sebuah kecupan di pipi sang suami.


William mencebik. Ia kembali teringat masa kecil mereka, karena di panggil kak Iam.


“Boleh aku bertanya sesuatu?” Tanya pria itu kemudian.


Dan Regina menganggukkan kepalanya.


“Kenapa setiap aku pulang kampung, kamu selalu saja ingusan? Apa kamu memiliki penyakit sinus?”


Regina terkekeh geli mendengar pertanyaan sang suami.


“Mungkin saja, aku tidak tau. Tetapi, saat aku mulai remaja, aku sudah jarang ingusan.” Jawabnya kemudian.


Mereka pun tergelak bersama, ketika kembali teringat akan masa kecil.


****


Reka menghembuskan nafasnya kasar. Baru saja ia mendapat notifikasi, jika seseorang telah mentransfer sejumlah uang ke rekening miliknya.


Ia pun mengirim pesan kepada sang kakak, meminta wanita itu mengatakan pada suaminya, jika suatu hari nanti Reka akan mengembalikan uang itu.


“Kenapa? Apa tidak jadi mencari mobil? Jika tidak, sebaiknya kita pulang. Lebih baik aku beristirahat di rumah, sambil menunggu jam kerja.” Willona yang duduk di samping Reka bersuara. Mereka sedang berada di pinggir jalan, karena tadi pria itu menepikan mobilnya, saat ada panggilan telepon masuk.


“Apa kamu tau showroom mobil baru? Aku di ancam oleh kakakmu, jika membeli mobil bekas, aku tidak akan diijinkan bertemu Regina lagi.”


Willona menatap tak percaya pria disampingnya itu.


“Apa kamu begitu menyayangi kakakmu?”


“Hmm, kami saudara. Tentu harus saling menyayangi.”


Willona menganggapinya dengan anggukan kepala. Ia kemudian mengarahkan Reka untuk mengunjungi showroom mobil milik Romi, teman dari William.


Tiba di tempat tujuan, mereka di sambut oleh pemilik showroom. Tentu Romi tau siapa Willona. Karena mereka sudah sering bertemu.


“Dia adik iparnya William, bang.” Jelas Willona ketika kedua pria itu saling berkenalan.


“Kekasihmu, Na?” Tanya Romi, karena ucapan Willona terdengar ambigu.


Willona memutar matanya malas.


“Dia adiknya Regina.” Jawab gadis itu sedikit ketus. Dan Romi pun mengangguk paham.


‘Sekarang, kamu boleh ketus sayang, tetapi suatu hari nanti, kamulah yang akan mengatakan pada orang-orang, jika aku kekasihmu.’


.


.


.


Bersambung.