BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 105. Dia Menyindir Ku?



Regina kembali teringat dengan wanita yang mengaku sebagai mantan ‘jasa mulut’ sang suami. Tiba-tiba saja, terlintas bayangan bagaimana boy di sentuh oleh wanita lain.


“Ada apa, Hon?” Tanya William karena langkah sang istri memelan. Mereka sedang mencari toko pakaian tidur yang lain.


“Boleh aku bertanya?” Ucap Regina sendu.


Melihat perubahan air muka sang istri, William pun menuntun wanita hamil itu untuk duduk di sebuah kursi panjang. Ia tau, pasti ada sesuatu yang mengusik hati Regina.


“Katakan, Hon.”


Regina menghela nafas panjang, sebelum ia mulai bertanya. Ia berusaha menegarkan hati, saat mendengar jawaban sang suami nantinya.


“Apa wanita tadi salah satu dari sekian jasa mulut yang pernah kamu sewa, dad?” Tanya Regina, suaranya terdengar sedikit berat.


William meraih jemari sang istri, kemudian menggenggam dengan lembut. Ia diam sejenak, sebelum akhirnya berbicara.


“Iya, Hon. Waktu itu, kamu pernah bertanya, kapan pertama kali aku melakukan itu, kan?”


Regina menganggukkan kepalanya.


“Aku melakukannya di malam kelulusan kuliahku. Dan itu,— William menjeda ucapannya, kemudian menghela nafas pelan. “Dan itu bersama wanita tadi. Dia teman kuliah ku, dia sudah terbiasa dengan teman-teman prianya. Karena itu, aku juga ingin mencoba.”


Regina memejamkan mata, ia menggigit bibir bawahnya, kala bayangan William dan Stella melakukan ‘jasa mulut’ terlintas di benaknya.


“Honey, percayalah. Kami tidak melakukan lebih. Kamu sudah tau tentang itu, kan? Dan wanita tadi juga sudah mengatakan padamu. Aku tidak pernah membohongi mu, Honey.” William panik melihat sang istri memejamkan matanya.


Wanita hamil itu menarik nafasnya dalam, kemudian menghembuskan dengan panjang. Ia mengulangi beberapa kali, hingga gemuruh di dadanya sedikit mereda.


“Honey?” William meremat tangan sang istri. Ia tidak mau wanitanya marah. Sungguh, pria itu akan membuat perhitungan dengan wanita tadi jika sampai Regina marah kepadanya.


‘Dasar si pengharum ruangan. Aku akan membuat perhitungan dengan mu, jika sampai istriku marah.’


“Aku tidak apa-apa, dad.” Jawab Regina kemudian.


“Tatap aku, Honey. Dan katakan sekali lagi.” Pinta William.


“Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.” Ulang wanita itu sembari menatap lekat manik mata sang suami.


“Maafkan aku, Honey. Jika bisa, aku mengulang waktu, aku tidak akan melakukan kenakalan itu.” Ucap William sembari menundukan kepalanya.


Kini berbalik Regina yang menggenggam jemari tangan sang suami.


“Jika kamu tidak nakal, mungkin kita tidak akan bertemu. Aku mungkin akan bertemu pria lain di klub.” Ucap Regina.


“Tidak, kamu tidak boleh bersama pria lain.” Tukas William dengan menggelengkan kepalanya.


“Meski aku tidak nakal, kita pasti tetap akan bertemu. Ingat Honey, jodoh kita sudah ada yang mengatur. Meski kamu keluar kota sekalipun, kita pasti akan bertemu.” Lanjutnya kemudian.


“Kita mungkin tidak bertemu di klub, tapi kita akan bertemu di kantor. Ingat, orang mengatakan, jika banyak jalan menuju Roma. Begitu pula kita, karena telah di takdirkan untuk bersama.”


“Iya, jadi jangan sesali masa lalumu, dad. Karena, tanpa masa lalu, kita tidak akan bisa berada di masa depan.” Imbuh Regina. Dan William pun mengangguk tanda setuju.


Mereka kemudian bangkit dari kursi, dan melanjutkan kegiatan berbelanja.


Saat hendak memasuki sebuah toko merk ternama, langkah Regina terhenti kala tanpa sengaja, indera penglihatannya melihat dua orang yang ia kenali, sedang berjalan bergandengan tangan.


“Ada apa?” Tanya William kala merasa langkah sang istri memelan.


“Dad, lihat itu.” Regina menunjuk ke arah toko sebuah merk terkenal lainnya.


Mata William mengikuti arah yang di tunjuk sang suami. Sedetik kemudian, indera penglihatan pria itu pun membulat sempurna.


“Reka, Willona?” William berucap tak percaya.


“Jadi ini pekerjaan penting yang Willona katakan?” Lanjut pria itu. Tadi sang istri sempat mengajak sang adik untuk jalan-jalan. Namun, gadis itu menolak dan mengatakan jika ada pekerjaan yang harus ia lakukan.


“Ayo, dad. Kita ikuti mereka.” Ajak Regina, kala sepasang muda-mudi itu melangkah menuju toko yang menjual bahan makanan.


“Tidak jadi. Ada hal yang lebih penting dari piyama berpasangan itu.” Sahut Regina.


“Apa?”


“Muda-mudi yang berpasangan itu.” Jawab Regina asal.


Sampai disana, Regina berpura-pura memilih beberapa bahan makanan, sembari sesekali melirik ke arah Reka dan Willona.


Wanita hamil itu menyeringai, saat melihat kedua adiknya itu sedang memilih bahan makanan segar.


“Dad, kamu mau makan malam gratis?” Tanya Regina berbisik.


Dahi William berkerut tipis. “Dapat darimana?” Tanyanya memastikan.


“Ayo. Kita makan malam gratis.” Wanita itu menarik tangan sang suami, untuk mendekat ke arah adik dan adik ipar mereka.


“Aku ingin makan sup ayam dengan banyak sayuran.” Ucap Regina menginterupsi. Seketika membuat Reka dan Willona tersentak.


Pasangan dokter dan model itu pun menoleh ke belakang. Karena Regina berada di belakang mereka.


“Re?”


“Abang?”


Ucap mereka bersamaan, saat melihat sepasang suami istri itu berdiri di belakang mereka, sedang bersedekap dada.


*****


“Jadi, apa ada hal yang ingin kalian jelaskan kepada kami?” Tanya William kepada adik iparnya. Kini mereka berada di unit apartemen milik Reka.


Tidak banyak drama yang terjadi di pusat perbelanjaan tadi. Setelah kedapatan bersama, mereka kemudian membeli beberapa bahan makanan, setelah itu membawa ke apartemen milik Reka, karena bersebelahan dengan gedung pusat perbelanjaan itu.


“Wah, uang adikku lumayan juga, ya. Bisa membeli apartemen dua kamar begini.” Celetuk Regina yang sedang melihat-lihat tempat tinggal sang adik.


William dan Reka sedang duduk di sofa ruang tamu. Sementara, Willona sedang memasak atas permintaan Regina yang mengatakan jika sang calon bayi yang menginginkan masakan sang tante.


Puas melihat-lihat, wanita hamil itu pun menghampiri adik iparnya yang sedang bergulat dengan peralatan dapur.


“Hei, apa kamu tuli? Kenapa tidak menjawab ku?” William kembali berucap.


“Kami hanya berteman.” Jawab Reka singkat.


“Cih. Berteman? Berteman apanya mesra begitu? Berbelanja saling berpegangan tangan.” William mencebikan bibirnya. Ia pun menyandarkan punggung pada sandaran sofa, lalu memejamkan mata sembari bersedekap dada.


Sementara itu, di balik meja dapur, Regina sedang mengamati adik iparnya yang tengah serius membuat sup ayam. Wanita itu mengulum bibir, ketika melihat Willona dengan mudahnya mengambil alat memasak. Istri William itu semakin yakin, jika adik dan adik iparnya memiliki hubungan. Dan, ia juga yakin jika Willona sudah sering ke tempat ini.


“Na, gelas untuk minum air dimana? Aku haus.” Wanita hamil itu mendekat ke arah adik iparnya.


“Sebentar aku ambilkan.” Willona mengecilkan sedikit api kompor, kemudian bergeser untuk mengambil gelas di dalam lemari dapur yang menempel di dinding.


Senyum Regina semakin merekah. Membuat sang adik ipar mengerutkan dahinya.


“Ada apa? Apa ada yang lucu?” Tanya Willona penasaran.


“Iya. Kamu tau, ada seorang gadis yang tidak mau mengaku jika memiliki hubungan dengan seorang pria. Tetapi, si gadis itu, begitu hafal semua tempat yang ada di rumah pria itu.” Ucap Regina terkekeh. Seketika mata Willona membola mendengar sindiran kakak iparnya.


‘Dia menyindir ku?’


.


.


.


Bersambung.