
“Apa panas mu sudah turun?”
Willona memeriksa suhu tubuh Reka dengan menempelkan punggung tangannya pada kening pria itu.
“Sepertinya sudah turun.” Ucapnya lagi, saat merasakan kening Reka tak sepanas kemarin.
“Terimakasih, Bu dokter.” Ucap Reka bergurau.
Ia yang baru bangun tidur pun menegakan posisi badan, kemudian duduk bersandar pada kepala ranjang.
Willona tak menanggapi. Ia kemudian merapikan barang-barangnya. Semalam, gadis itu terpaksa menginap karena suhu badan Reka yang tak kunjung turun, meski sudah meminum obat.
“Aku sudah menyiapkan makan siang. Mau aku ambilkan, atau kamu mau makan di luar?” Tanya Willona sembari kembali mendekat ke samping dokter muda itu.
Tak menjawab, Reka justru menarik lengan model cantik itu. Membuat Willona jatuh di atas dadanya.
“Reka..” Gadis itu memberontak. Dan hendak bangun. Namun, tangan kekar Reka menahannnya.
“Kamu mau kemana? Buru-buru sekali?” Tanya pria itu sembari menatap lekat wajah cantik tanpa riasan di hadapannya kini.
“Aku ada pemotretan.”
“Jam berapa?” Tanya pria itu lagi sembari menyelipkan anak rambut yang menutupi kening gadis pujaan hatinya.
“Jam tiga.”
“Ini masih jam dua belas, sayang.”
Kepala Willona menggeleng. “Aku harus di lokasi dua jam sebelumnya.”
Reka menghela nafas pelan. “Berikan aku obat dulu. Setelah itu, kamu baru boleh pergi.” Ucapnya kemudian.
“Iya, tetapi kamu makan dulu, baru minum obat.” Tukas gadis itu, kemudian kembali mencoba bangkit dari atas tubuh Reka.
Pria itu kembali menahan, kemudian menggulingkan tubuh mereka, sehingga kini Willona berada di bawahnya.
“Reka, kamu mau apa?” Wajah Willona tiba-tiba memanas. Ia bukan anak kemarin sore. Meski sebelumnya ia berpacaran tak sedekat ini, namun gadis itu tau posisi apa yang sedang mereka lakukan saat ini.
Jantung Willona berdegup kencang. Meski semalam tidur satu ranjang dengan pria itu, namun mereka hanya tidur karena suhu badan Reka yang belum turun. Dan saat ini, pria itu dalam keadaan lebih sehat dari kemarin sehingga membuat gadis itu waspada.
“Mau obatku, sayang.”
“Obatmu ada di atas nakas.” Tukas gadis itu dengan cepat.
Senyum licik tersungging di bibir dokter tampan itu. Tanpa aba-aba, ia kemudian menyatukan bibir mereka berdua, memanggut dengan lembut bibir Willona.
“Ini obatku.” Reka menjeda sebentar, menatap penuh cinta sang pujaan hati. Mata sayu pria itu pun berhasil meluluhkan iman dari adik William itu. Tanpa sadar, kepalanya mengangguk kecil. Yang membuat Reka kembali menyatukan bibir mereka.
Kedua anak manusia itu terbuai dengan apa yang mereka lakukan. Saling berebut menyesap, dan memberi rasa.
Tangan Willona melingkar indah pada leher dokter tampan itu.
“Aku mencintaimu, Willona.” Ucap Reka di sela pagutan yang terjadi. Willona yang terbuai, hanya mampu mengangguk. Ia kembali meraih kepala pria itu, agar kembali menciumnya.
Seperti mendapat undangan, Reka pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Namun kali ini tak hanya bibir, pria itu bahkan berani mencumbu turun.
“Reka..hhh jangan meninggalkan jejak. Aku pemotretan dengan gaun terbuka.” Ucap Willona terbata, kala menyadari bibir pria itu menyapu lekuk lehernya.
Reka menurut. Apapun ia lakukan supaya gadis itu nyanan dengannya.
Willona kembali mengeluarkan suara keramatnya, ketika wajah pria itu kini berada di atas daadaanya. Entah kapan, yang pasti tiga kancing kemeja yang ia gunakan, telah terbuka. Dan menampilkan aset berharganya.
“Reka..sshh..”
“Iya, sayang..”
Pria itu hendak membuka penutup terakhir aset milik Willona. Namun, suara ponsel menjerit dari atas nakas, menghentikan kegiatannya.
Nafas keduanya memburu. Pandangan mereka pun beradu. Reka ingin kembali memagut bibir tipis sang pujaan hati, namun suara ponsel kembali terdengar.
“Si-al.” Umpat pria itu.
Dengan kesal, Reka berguling ke sisi kanan gadis itu, lalu mengambil ponsel kemudian memberikan pada Willona.
“Mama.” Mata gadis itu membulat sempurna. Ia pun menarik dan membuang nafas berulang kali untuk menetralkan denyut jantungnya.
“Nyalakan pengeras suara.” Ucap Reka yang kini tidur menyamping dengan menekuk satu tangan sebagai tumpuan kepala.
“H-Hallo, ma.”
“Sayang, kamu dimana? Apa keadaan Reka baik-baik saja?”
Suara wanita paruh baya itu terdengar khawatir. Ia tau jika Reka sedang sakit, karena semalam Willona meminta ijin menginap, untuk merawat dokter muda itu.
“Reka baik-baik saja, ma. Panasnya sudah turun. Aku juga akan pergi untuk bekerja.” Jelas Willona pada sang mama.
“Lho, kamu kerja? Terus yang menemani Reka siapa? Kirim alamatnya ke mama, biar mama datang kesana.”
Mendengar ucapan sang mama, Willona menatap ke arah Reka.
“Tidak perlu, tante. Aku sudah tidak apa-apa. Setelah ini aku akan minum obat, dan istirahat.” Reka ikut bersuara.
“Reka disana, Na? Benar kamu tidak apa-apa sendirian, nak?”
“Ya, tante. Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku.”
“Ya sudah, kalau terjadi sesuatu, hubungi tante, ya.”
“Iya, ma.” Willona pun memutuskan panggilan. Ia kemudian bangkit, namun belum sempat turun dari ranjang, tubuhnya kembali di dekap oleh dokter muda itu.
“Jangan lagi. Aku bisa terlambat.” Ucapnya sembari mengusap tangan Reka yang melingkar di pinggangnya.
“Maafkan, aku.” Ucap pria itu sembari menyerukan wajah pada lekukan leher Willona.
“Maaf untuk apa?”
“Kita hampir saja melakukan dosa. Maafkan aku, sayang. Harusnya aku menjagamu. Bukan merusakmu.” Terdengar nada penyesalan dari kalimat yang pria itu ucapkan.
Willona kemudian memutar tubuh, membalas dekapan pria itu.
“Tidak apa-apa, lagi pula aku juga yang harusnya bisa menjaga diri. Bukan malah meladeni. Jika kita sampai berbuat dosa, itu artinya salah berdua. Karena tak ada penolakan dari sebelah pihak.”
Mendengar ucapan Willona, Reka pun mengeratkan pelukannya. Ia semakin jatuh cinta pada gadis itu. Pemikirannya begitu dewasa.
“Jadi, apa itu artinya kita boleh melakukan dosa itu?” Pancing pria itu.
“Tentu saja, tidak.” Tukas Willona yang kemudian melepas pelukan begitu saja.
“Ayolah, sayang. Sedikit saja.” Reka juga ikut bangkit menyusul gadis itu.
“Tidak, jangan macam-macam. Atau aku tidak mau menikah denganmu.” Ucap gadis itu tanpa sadar.
Wajah pucat Reka tiba-tiba bersemu mendengar ucapan Willona. Selama ini, gadis itu memang belum menerima cintanya. Atau mengiyakan ajakan menikah darinya.
“Apa itu artinya kamu mau menikah denganku, sayang?” Tanyanya sembari mendekap tubuh Willona dari belakang. Karena gadis itu sedang mematut diri di depan cermin.
Tersadar telah keceplosan, gadis itu pun mengatupkan bibirnya.
“Tidak, siapa juga yang mau menikah denganmu.” Jawabnya kemudian. Tentu ia tak serius. Karena sejujurnya Willona sangat mau menikah dengan dokter muda itu, apalagi hubungan mereka sudah hampir jauh.
“Bibir cantikmu boleh saja berkata tidak, sayang. Tetapi, hati dan tubuhmu tidak bisa berbohong. Kamu juga menginginkan aku.”
.
.
.
Bersambung