BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 76. Ada Syaratnya.



Di siang hari.


Seperti janjinya tadi pagi, William pun pulang ke rumah Sanjaya untuk melakukan makan siang bersama calon istrinya.


Namun malang tak dapat di hidari. Pria itu terjebak macet di beberapa titik. Yang membuat dirinya sedikit terlambat sampai di rumah.


“William kemana? Ini sudah lewat sepuluh menit. Kenapa belum datang?”


Regina menunggu pria itu di meja makan sendirian, karena Willona sedang ada pekerjaan.


“Nona, makan siang dulu.” Ucap salah satu asisten rumah, kala melihat calon menantu keluarga majikannya bangkit, dan menuju pintu utama.


“Sebentar, Bu. Aku menunggu William.”


Wanita hamil itu berdiri di teras rumah. Sesekali ia melihat jam yang melingakar di pergelangan tangan kirinya.


“Dia kemana?” Hendak kembali ke dalam untuk menghubungi William, deru suara mobil menghentikan langkahnya.


Regina berbalik. Baru juga hatinya sedikit lega, namun kembali kecewa, karena yang datang bukan William, melainkan rombongan para orang tua.


“Kenapa mereka yang datang?” Ucapnya lirih.


“Sayang, kenapa berdiri disini?” Tanya nyonya Aurel saat melihat calon menantunya di teras rumah.


“Aku menunggu William, ma. Dia katanya akan pulanb untuk makan siang.” Jelas Regina.


“Kamu tidak bekerja?” Tanya pak Regan pada sang putri.


Hal itu membuat Regina menganga. Padahal William melarangnya bekerja karena takut kena marah para orang tua, tetapi ini justru sebaliknya.


“William melarangku bekerja, Yah. Dia tidak mau aku kelelahan.” Dusta Regina, ia ingin membuat kesan baik William di mata sang ayah.


“Itu benar, Gan. Aku setuju dengan putra ku.” Jawab nyonya Aurel.


“Ayo masuk, kita mengobrol di dalam.” Ajak pak Antony.


“Kalian duluan saja, aku mau menunggu William di sini.”


“Astaga. Kenapa putriku jadi begini?” Gerutu pak Regan.


“Ya sudah, kami ke dalam duluan. Kamu jangan berdiri terus. Nanti lelah.” Peringat nyonya Karin kepada sang putri.


“Iya, Bu.”


Para orang tua memasuki rumah, sementara Regina masih menunggu kedatangan William.


Dan setelah waktu menunjukan pukul 12.30, mobil sedan milik Regina, yang di kendarai william ke kantor, kini telah kembali ke halaman rumah keluarga Sanjaya.


Mata Regina berbinar, ia pun berlari ke halaman, karena sudah tidak sabar bertemu William.


“Astaga, wanita itu kenapa berlari?” William pun mengambil langkah seribu, agar Regina tak berlari terlalu jauh.


“Kenapa berlari? Bagaimana jika kamu jatuh?” Cerocos William saat ia telah berhasil menangkap tubuh wanitanya. Mereka pun saling memeluk di halaman rumah.


Tak menjawab, Regina justru menangis dalam dekapan William.


‘Astaga, apa aku salah bicara? Tuhan, apa ini karma dari ingus?’


“Hey, mommy, kenapa menangis?” William berusaha meluaskan rasa sabarnya. Ia usap dengan lembut punggung Regina.


“Kenapa pulang terlambat?” Ucap wanita itu terisak.


‘Astaga, jadi karena aku pulang terlambat? sepertinya anakku memang benar perempuan.’


“Aku terjebak macet mommy, maafkan aku. Besok-besok aku akan pulang lebih awal.”


Dan Regina mengangguk mendengar ucapan William. Pelukan terurai, dan wanita itu tersenyum.


‘Astaga, cepat sekali wanita ini berubah?’


“Ayo masuk, mama, papa, ayah dan ibu sudah menunggu.”


“Hmm.”


Berjalan memasuki rumah mewah itu, batin William menjadi siaga tiga, siap-siap mendapat omongan pedas dari calon mertuanya.


Dan benar saja, tatapan tak bersahabat William dapatkan dari calon ayah mertuanya. Hal itu membuat pria 32 tahun itu mengelus dada.


Membuang nafasnya kasar, William pun mendekat ke arah empat orang paruh baya yang sedang duduk di kursi meja makan. Ia menciumi satu persatu punggung tangan para orang tua itu.


“Maaf aku datang terlambat.” Ucapnya kemudian.


“Tidak apa-apa, kami juga baru datang, nak.” Nyonya Karin menjawab ucapan calon mantunya itu.


Mereka kemudian makan siang bersama. Dengan drama Regina yang minta di suapi oleh William. Bukannya senang, pria itu justru merasa canggung, bagaimana pun, ada empat pasang mata yang kini mengamati mereka berdua.


Jika tidak di turuti, Regina akan menangis. Dan sudah di pastikan, William akan kena amukan pak Regan, jika sampai putrinya menangis.


Setelah makan siang, William tak langsung berangkat ke kantor. Para orang tua mengajaknya berbicara sebentar, membahas pernikahan yang akan di langsungkan, kurang dari satu minggu kedepan.


“Aku serahkan semuanya pada kalian. Di kantor sedang banyak pekerjaan. Aku harus menyelesaikan minimal tiga hari sebelum acara pernikahanku.” Ucap William.


“Aku ikut ke kantor ya? Aku akan membantumu. Supaya semua cepat selesai.” Regina sedikit menggoncang lengan atasan sekaligus calon suaminya itu.


Belum sempat William menjawab, nyonya Aurel lebih dulu berpendapat.


“Sayang, kamu sementara istirahat di rumah ya. Sembari kita mempersiapkan segala sesuatu untuk hari pernikahan kalian. William kan tidak bisa ikut mengurusnya, jadi kamu yang harus ada di rumah untuk membantu mengurusnya.” Nyonya Aurel berucap dengan sangat hati-hati, ia tau bagaimana sensitifnya perasaan wanita hamil. Salah bicara sedikit saja, akan berakibat fatal.


“Ibu setuju dengan ucapan mama mu, nak. Masa iya, kedua calon pengantin bekerja sebelum hari H, setidaknya ada salah satu yang ikut serta mempersiapkan. Ya, meski kamu tidak melakukan hal berat, setidaknya kamu memberi pendapat. Ibu tidak mau loh, nanti di hari H, kamu merajuk karena konsepnya tidak sesuai dengan yang kamu inginkan.” Nyonya Karin ikut bersuara. Mendukung calon besan, ia tau maksud nyonya Aurel, agar putrinya tidak terlalu kelelahan.


“Papa setuju, lagi pula sudah ada Jimmy yang membantu William di kantor. Jadi kamu tidak perlu khawatir.”


Regina cemberut mendengar ucapan ketiga orang tua itu. Ia kemudian menatap sang ayah, berharap pria paruh baya itu mendukungnya.


“Yang mereka bertiga ucapkan itu benar, Putri. Kamu sedang hamil. Itu cucu pertama kami. Jangan sampai terjadi sesuatu dengan mu, yang bisa membahayakan kandunganmu.”


Mendengar ucapan ayah Regina, William hanya mampu menggelengkan kepala. Yang lainnya sudah susah payah mencari alasan. Pak Regan justru bicara langsung pada intinya.


“Baiklah.” Jawab Regina. Ia menjeda ucapannya, menghela nafasnya pelan.


“Tetapi ada syaratnya.” Lanjutnya kemudian.


“Syarat apa, nak?” Tanya nyonya Aurel.


“William harus pulang kemari di jam makan siang, dan pulang kantor. Dia boleh kembali ke apartemen, jika aku sudah tidur di malam hari.”


Hati William bersorak gembira mendengar syarat yang di ajukan sang pujaan hati.


‘Nak, daddy janji, akan menuruti apapun yang kamu inginkan. Baru sebesar biji kuaci saja kamu sudah pro dengan daddy. Daddy menyayangi mu, nak.’


“Apa tidak ada syarat lain?” Tanya pak Regan.


“Ada.” Jawab Regina.


“Apa?”


“Aku tinggal di apartemen bersama William.”


Pak Regan membuang nafasnya kasar. Sementara pak Antony terkekeh.


“Papa terima syarat pertama mu, nak.”


“Terima kasih, pa.” Jawab Regina dengan mata berbinar.


.


.


.


Bersambung.