BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 41. Regina Jodoh William.



Nyonya Aurel meninggalkan kantor Sanjaya sebelum makan siang, ia beralasan akan makan siang dengan sang suami. Namun sebenarnya, ia ingin cepat-cepat memberitahu pak Antony kabar putusnya hubungan Regina dan kekasihnya.


Tadi William sudah menceritakan jika hubungan Regina dan kekasihnya sudah berakhir. Karena gadis itu tidak suka dikhianati.


Pak Antony pasti akan sangat senang, karena pria itu begitu ingin menjadikan gadis itu sebagai menantunya.


“Pa!!” Seru wanita paruh baya itu, kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami yang sedang duduk di kursi taman belakang rumah keluarga Sanjaya.


“Ada apa? Sepertinya mama sangat senang setelah bertemu putra mama.” Pak Antony mengusap tangan sang istri yang ada di lehernya.


“Mama punya berita bagus untuk papa.” Wanita itu melepas pelukannya, kemudian mengambil tempat duduk di samping sang suami.


“Berita apa?”


“Regina sudah putus dengan kekasihnya.”


“Benarkah?” Tanya pak Antony tak percaya.


Nyonya Aurel mengangguk. Ia kemudian menceritakan apa yang William ceritakan padanya di kantor tadi.


“Astaga. Kasihan sekali gadis itu. Mereka sudah berpacaran selama 3 tahun loh, ma.”


Nyonya Aurel mencebik.


“Bukannya ini yang papa inginkan?”


“Ya, tetapi kasihan juga Regina. Bayangkan, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Pacar bodohnya itu bergulat dengan wanita lain.” Ucap Pak Antony sembari bergidik.


“Iya juga ya, pa. Kasihan sekali gadis itu. Sungguh pemuda itu tidak tau diri. Sudah dapat pacar cantik dan baik, malah dikhianati.”


“Itu artinya mereka tidak berjodoh. Papa yakin, Regina itu jodohnya William.” Ucap pria itu jemawa.


“Jangan terlalu percaya diri, pa. Siapa tau jodoh William anaknya Regan.”


“Mama mau punya menantu yang ingusan itu?” Tanya pak Antony tak percaya.


“Loh, memangnya kenapa? Bukannya sekarang dia sudah dewasa? Pasti sudah tidak ingusan lagi, kan?”


“Dia itu pilek menahun, ma. Setiap kita pulang kampung selalu saja ingusan. Papa yakin sekarang pun masih sama. Papa tidak mau, nanti yang ada cucu papa semuanya ingusan.”


Nyonya Aurel gemas. Ia pun mencubit lengan sang suami. Membuat pria itu terlonjak.


“Kenapa mencubit papa?”


“Mama gemas, belum apa-apa papa sudah berbicara soal cucu. Ketemu anaknya saja belum.” Wanita itu pun bangkit, kemudian kembali ke dalam rumah untuk mengecek makan siang yang di buat asisten rumahnya.


“Memangnya kenapa? Wajar kan, jika aku memikirkan masa depan anak dan cucuku.” Pak Antony bermonolog setelah sang istri menghilang.


“Aku akan melakukan segala cara agar gadis itu menjadi menantu keluarga Sanjaya. Bila perlu, aku akan menjebak mereka berdua, kemudian menikahkan secara paksa.”


Pak Antony menyeringai, ia sudah tidak sabar melihat putranya menikah dengan Regina.


******


Setelah kejadian semalam, Alvino hanya menghabiskan waktunya dengan meminum minuman keras. Hal hasil, pria itu tidak bisa pergi ke kantor.


Entah sudah berapa botol yang pria itu habiskan. Ruang tamu apartemen yang kemarin malam berantakan, karena amukan pria itu, sudah di bersihkan oleh Tamara. Namun, tempat itu kini kembali di penuhi oleh botol-botol kosong bekas minuman Alvino.


“Regina, maafkan aku.” Pria itu merancau. Ia kini tengah tergeletak tak berdaya di atas karpet lantai ruang tamu.


Tamara yang melihat itu tak mampu berbuat apapun. Alvino tidak mau mendengarkan ucapannya. Tadi pagi setelah membereskan apartemen, Tamara memutuskan untuk pergi ke kantor. Dan di jam makan siang, ia sengaja kembali untuk mengecek keadaan sang atasan.


Wanita itu hanya mampu mengeleng kan kepalanya. Sebegitu besarkah cinta Alvino kepada Regina, hingga ia tergeletak seperti orang tidak waras begini?


“Al, bangun. Jangan begini.” Tamara berusaha membangunkan tubuh sang atasan. Dan membawanya ke atas sofa.


“Maafkan aku Re.” Alvino meraih tubuh Tamara, kemudian mendekapnya.


Wanita itu hanya mampu menghela nafasnya. Setiap pria itu mabuk, Alvino akan selalu menganggap dirinya sebagai Regina.


“Lepaskan aku, Al. Aku bukan Regina.” Tamara memberontak. Toh, atasannya dalam keadaan tidak sadar.


“Maafkan aku sayang.” Pria itu kembali berucap. Membuat Tamara semakin muak.


Dengan sekuat tenaga, ia mendorong tubuh sang atasan. Membuat pria itu terhempas di sandaran sofa.


“Cukup, Alvino Mahendra!!”


Tamara kemudian pergi ke dapur untuk mengambil air. Kemudian ia mengguyur kepala Alvino dengan air itu.


“Ta, apa-apaan ini?”


“Kamu sudah sadar? Mau aku guyur lagi?”


Alvino hendak bangun, namun kepalanya berdenyut dengan keras, membuat ia kembali terhempas di atas sofa.


“Pusing? Tidak bisa bangun?” Tamara kembali bersuara dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.


“Apa dengan mabuk, semua masalahmu akan selesai? Apa Regina akan memaafkan mu dengan keadaan mu yang seperti ini?”


Alvino diam. Ia tak mampu menjawab. Kepalanya sangat pusing. Ia pun menyadarkan punggungnya pada sandaran sofa.


Tamara mendekat, ia kemudian duduk di samping pria itu.


“Sudah cukup, Al. Jangan seperti ini. Kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri.” Wanita itu mulai terisak, ia tidak sanggup melihat keadaan pria yang ia cintai berantakan seperti ini, hanya karena seorang wanita.


“Lalu aku harus apa, Ta?” Tanya Alvino dengan lirih. Pandangan pria itu menerawang.


“Setidaknya, berusaha temui dia. Minta maaf, setidaknya kamu sudah berusaha minta maaf. Meski dia tidak memaafkan mu,”


“Tetapi aku tidak bisa kehilangan dia, Ta.”


Mendengar ucapan Alvino, membuat Tamara kesal. Ia kemudian menarik tubuh pria itu agar menghadap ke arahnya.


“Cukup Alvino Mahendra!! Kamu bisa tanpa dia. Ingat dua tahun ini kamu sudah mengkhianatinya.”


“Aku tidak mengkhianatinya, Ta.”


“Kamu mengkhianatinya. Meski kamu tidak mencintai aku. Tetapi kamu memberikan tubuhmu kepada wanita lain. Dan itu sudah termasuk pengkhianatan.”


“Ingat batasan mu Tamara. Hubungan kita hanya sebatas saling menguntungkan!!” Suara Alvino terdengar meninggi.


Diingatkan seperti itu, wanita itu mencebikan bibirnya. Ia kemudian bangkit dan bersiap pergi.


“Ya.. aku ingat. Aku selalu ingat Alvino. Dan perlu kamu ingat. Kamu yang datang padaku lebih dulu. Bukan aku yang mendatangimu.” Wanita itu berbicara dengan menunjuk ke arah Alvino. Ia pun merotasikan tubuhnya untuk pergi dari tempat itu.


Melihat Tamara menjauh, Alvino teringat sesuatu, ia sudah kehilangan Regina. Jangan sampai kehilangan Tamara lagi.


Pria itu kemudian bangkit meski dengan sempoyongan. Ia mengejar sekretarisnya,


“Ta.. tunggu.” Alvino meraih lengan Tamara yang hendak membuka pintu. Kemudian mendekap tubuh wanita itu dari belakang.


“Maafkan aku. Jangan tinggalkan aku.” Ucapnya sembari membenamkan wajahnya pada cerukan leher Tamara.


“Lepaskan aku, Al. Aku harus pergi.” Wanita itu memberontak. Berusaha melepaskan diri dari atasannya.


“Tidak. Jangan pergi.”


Alvino takut jika wanita itu akan meninggalkannya.


“Al. Aku harus bertemu dengan klien. Kamu sudah tidak ke kantor. Jadi aku harus mengurus semuanya.”


Alvino mengerutkan alisnya.


“Jadi kamu pergi untuk bertemu klien? Bukan untuk meninggalkan aku?”


“Ya.. sebentar lagi klien akan tiba di kantor.”


Alvino kemudian melepas belitan tangannya. Dan membuat wanita itu menghadap ke arahnya.


“Janji jangan pernah tinggalkan aku?”


“Iya. Aku janji. Sekarang aku harus pergi dulu. Jangan sampai klien tiba lebih dulu.”


Alvino mengangguk. Ia kemudian mengecup kening sekretarisnya.


“Pulang kerja nanti, datang kemari. Aku akan membuatkan makan malam untuk kita.”


Tamara mengangguk. Ia kemudian meninggalkan apartemen itu.


.


.


.


Bersambung