BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 68. Kamu Pilihan Papa.



Menjelang sore, Regina duduk termenung di bangku taman villa mewah keluarga Sanjaya. Tadi siang, setelah kondisinya membaik, nyonya Aurel dan nyonya Karin mengajak Regina pergi periksa ke dokter kandungan. Dan benar saja, wanita itu kini tengah hamil 4 minggu.


“William junior.” Ucap Regina pelan, sembari memandang foto hitam putih, yang di berikan oleh dokter kandungan.


“Kenapa aku bisa tidak sadar jika William melakukannya tanpa pengaman?” Sampai saat ini, Regina pun belum percaya dengan apa yang alami. Entah kapan semua ini terjadi, ia dan William melakukan hubungan hampir setiap hari. Bahkan pernah dua kali dalam sehari.


“Apa kamu merindukan papamu? Aku juga. Aku sangat merindukan dia.” Wanita itu menghela nafasnya pelan. Ingin rasanya menghubungi William, meminta pria itu untuk datang dan memeluknya. Namun, tadi pak Regan, telah memberi peringatan, untuk memberi hukuman pada William lebih lama.


“Apa mau papa menghubungi William?” Pak Antony datang, dan mengambil tempat di samping kiri Regina. Seketika, wanita itu menoleh.


“Tidak, pa. Aku tidak mau ayah semakin marah. Biarkan dulu amarah ayah mereda.”


Regina menundukkan wajahnya. Ia menatap lekat foto USG itu.


“Boleh papa bertanya sesuatu?”


“Tentu.”


Pak Antony menghela nafasnya pelan, sebelum berbicara.


“Apa sebelum kedatangan William ke kantor, kalian sudah saling mengenal?”


Pertanyaan pak Antony membuat Regina mengangkat kepalanya. Pandangan keduanya saling bertemu. Dan Regina pun menjawab dengan anggukan kepala.


“Pantas saja, papa melihat gelagat mencurigakan diantara kalian berdua saat pertama kali bertemu di kantor.”


“Maafkan aku, pa.” Regina kembali menundukan kepalanya.


“Untuk apa?”


“Maafkan aku, padahal aku tau papa punya pilihan lain untuk William. Tetapi, aku justru-.” Regina tak sanggup melanjutkan kalimatnya.


“Pilihan papa itu kamu.” Mendengar itu, Regina mengangkat kepalanya dan menatap pak Antony dengan lekat.


“Iya, pilihan papa itu kamu. Papa tidak tau kamu putrinya Regan. Yang papa tau, kamu gadis baik, pekerja keras, dan papa merasa, tidak ada gadis lain yang lebih cocok untuk William selain kamu.”


“Pa?”


Pak Antony tersenyum sembari mengangguk. Ia kemudian meraih bahu Regina.


“Jangan terlalu banyak pikiran. Jangan banyak menangis. Ingat, ibu hamil tidak boleh stres. Papa juga tidak mau terjadi sesuatu dengan mu, dan cucu papa.” Ucap pak Antony sembari mendekap tubuh Regina.


“Papa sangat menanti kehadirannya. Jaga dirimu, dan cucu papa dengan baik.”


Regina menganggukkan kepalanya. Ia kemudian mengusap air mata yang mengalir di pipinya.


Sebuah kecupan penuh kasih sayang, pak Antony labuhkan di atas kening calon menantunya.


“Jangan menangis lagi.”


“Iya pa.”


Tak jauh dari mereka, pak Regan sedang mengamati interaksi sang putri dengan pak Antony.


“Kamu lihat? Sepertinya Regina sangat merindukan William. Biarkan mereka bertemu, Gan. Jangan sampai Regina stres, dan berakibat buruk bagi kandungannya.” Nyonya Aurel ikut memperhatikan interaksi sang suami dengan calon menantunya. Ia sendiri yang meminta pak Antony berbicara dengan Regina. Karena pak Regan marah dengan gadis itu.


“Biarkan saja dulu begitu, Au. Biarkan putra mu sadar dulu. Dia masih pingsan dan lupa ingatan.”


Alis nyonya Aurel berkerut mendengar ucapan sang sahabat. Dalam hal serius begini, pria itu masih saja sempat bergurau.


Menghela nafasnya pelan, istri pak Antony itu pun meninggalkan pak Regan disana. Ia kemudian masuk ke dalam kamar, mengambil ponsel, untuk menghubungi Willona. Ia ingin tau, bagaimana kabar William.


“Aku sedang pemotretan, ma.”


“Apa Abang mu ada datang ke rumah?” Tanya nyonya Aurel.


“Ya, seperti dugaan ku, Abang datang ke rumah, setelah itu ia pergi lagi untuk mencari Regina.” Willona terdengar terkekeh di seberang panggilan.


“Mencari kemana? Apa dia tau, Regina bersama kami?”


“Tidak ma. Aku tidak mengatakan apapun. Coba mama hubungi dia. Aku harus take photo lagi sekarang.”


“Ya sudah. See you.”


Panggilan dengan Willona pun di akhiri. Nyonya Aurel kemudian menghubungi sang putra. Namun, panggilannya tak terjawab. Nomor William tidak aktif.


“Kemana dia mencari Regina? Astaga William. Semoga kamu baik-baik saja, nak.”


Hati nyonya Aurel mendadak cemas. Ia takut terjadi sesuatu dengan putra sulungnya.


*****


Setelah menempuh perjalanan udara selama dua jam, akhirnya William tiba di bandara. Tadi pagi Ia meninggalkan mobilnya di parkiran bandara, sehingga William tidak perlu menunggu jemputan lagi.


Dengan kecepatan penuh, William mengendarai mobilnya menuju klub malam miliknya.


Ia perlu pelampiasan, mungkin dengan meneguk sebotol minuman mampu membuatnya sedikit tenang.


“Ada apa, bos? Tumben masih sore sudah berkunjung.” Jimmy menghampiri sang atasan yang kini duduk di kursi meja bar.


“Aku pusing.” Ucapnya singkat. Ia kemudian meneguk isi botol yang ada di tangannya.


“Terjadi sesuatu?” Jimmy pun menggeser kursi, kemudian mendudukinya.


William membuang nafasnya kasar. Ia kemudian mengacak rambutnya sendiri.


“Regina meninggalkan aku, Jimm. Entah kemana wanita itu pergi?”


“Apa kalian bertengkar? Maaf, bos. Tetapi dua hari lalu, aku lihat kalian tidak baik-baik saja.”


William kembali meneguk minumannya. Ia kemudian menceritakan tentang dirinya dan Regina, juga tentang keluarga mereka dan rencana perjodohan yang sang mama buat.


William memang sudah percaya 100% dengan Jimmy, karena itu tak ada rahasia yang ia sembunyikan dari asistennya itu. Menyangkut hal pribadi sekalipun.


“Kenapa tidak melacak nomor ponselnya saja?”


“Aku sudah akan melakukan hal itu, tetapi ponsel wanita itu bahkan tudak aktif hingga sekarang.” Nada suara William terdengar frustrasi. Membuat Jimmy merasa kasihan.


“Aku bahkan sampai mencari ke kampung halaman mama, tetapi tidak menemukan dia disana.”


“Kenapa mencari ke kampung halaman nyonya? Kenapa tidak mencari ke kampung orang tuannya?” Tanya Jimmy dengan alis berkerut.


“Jimmy Morgan, bukannya sudah aku katakan, jika mama, papa ku bersahabat dengan orang tuanya?”


“Ya, tetapi bos tidak mengatakan jika mereka satu kampung.”


“Astaga.” William kembali mengacak rambutnya.


Jimmy terkekeh. Namun ia juga merasa sangat prihatin dengan keadaan William. Ini untuk pertama kalinya pria itu dekat dengan wanita.


“Kenapa tidak menanyakan pada orang tuanya?”


“Orang tuanya sedang berlibur bersama orang tuaku.”


“Sejak kapan?”


“Tadi pagi.”


“Lalu nona Regina? Sejak kapan dia menghilang?” Jimmy bertanya sudah seperti seorang detektif swasta.


“Sejak semalam. Aku bahkan mencari ke kontrakannya yang dulu, tetapi adiknya mengatakan jika dia tidak ada pulang. Hampir saja aku di bunuh oleh adiknya itu.”


“Apa bos yakin tuan dan nyonya hanya berlibur bersama orang tua nona Regina? Apa bos tidak curiga, jika mungkin nona Regina ikut bersama mereka?”


William yang tadinya hendak meneguk minumannya, seketika menoleh ke arah Jimmy. Asistennya itu kini tengah menatapnya dengan serius.


“Apa mungkin?”


“Mungkin saja, bukan? Bos meninggalkan nona begitu saja di hadapan orang tuanya. Bisa saja mereka kecewa dengan mu. Dan mengajak nona pergi.” Jimmy mengedikan bahu setelah berucap.


“Astaga. Kenapa aku tidak terpikir hingga kesana?”


William kemudian turun dari atas kursi.


“Mau kemana?” Tanya Jimmy yang melihat pergerakan sang atasan.


“Menyusul calon istriku. Terima kasih saran mu, Jimm. Kamu memang selalu bisa di andalkan. Hanoman yang sangat pintar.” William menepuk pundak asistennya.


“Hanoman—


“Nanti aku transfer ke rekening mu, jika Regina benar bersama orang tuaku.”


Pria itu kemudian meninggalkan Jimmy yang terpaku di tempatnya.


.


.


.


Bersambung