BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 101. Kasihan Sekali Dia.



Di Ibukota.


Regina dan William baru saja selesa bertemu dengan klien di luar kantor. Waktu menujukkan pukul 12 siang. Itu artinya, jam makan siang telah tiba.


William pun mengajak sang istri untuk makan siang terlebih dulu, sebelum kembali ke kantor.


Dan, ketika mendengar kata makan siang, tiba-tiba saja Regina ingin makan soto ayam, di restoran yang dulu sering ia kunjungi dengan Alvino.


“Dad, aku ingin makan soto ayam.” Ucapnya penuh harap. Wanita itu pun menyebut alamat dimana ia ingin membeli makanan berkuah itu.


“As you wish, mom.” Jawab William dengan penuh semangat. Ia pun menyalakan mesin mobil dan melajukan dengan kecepatan sedang.


“Tapi..” Regina menjeda ucapannya. Ia takut sang suami marah, dan tidak mau menuruti keinginannya.


“Tapi apa?”


“Tapi aku mau makan dua porsi.” Ucap Regina kemudian. Ia tak mungkin mengatakan jika tempat yang akan mereka kunjungi, adalah tempat yang dulu sering ia datangi bersama Alvino.


William pun melajukan mobil ke tempat yang di ucapkan oleh sang istri. Hanya sekitar dua puluh menit, mereka sudah sampai di tempat tujuan.


Mata Regina berbinar, ia sudah terbayang bagaimana lezatnya kuah soto ayam membasahi kerongkongan. Ia pun melangkah memasuki restoran tanpa menunggu sang suami.


“Lihatlah, wanita lain biasa senang di ajak berbelanja barang-barang bermerek. Dia, baru di ajak membeli soto saja, sudah senang begitu.” William berdecak sembari menggelengkan kepala. Ia pun mengikuti langkah kaki sang istri.


Tidak menunggu terlalu lama, tiga porsi soto ayam, dan tiga piring nasi, serta dua botol air mineral pun datang di bawa oleh seorang pramusaji.


Saat meletakan piring terakhir, alis pramusaji berkerut. Hanya ada dua orang di meja itu. Lalu satu porsi untuk siapa?


“Mbak? Itu juga.” Ucap Regina, karena melihat tangan pramusaji mengandung di udara.


“Ah, iya Bu.” Pelayan wanita itu pun meletakan di atas meja. Kemudian undur diri.


“Kamu lihat? Pelayan tadi saja sampai heran. Dia pasti bertanya-tanya dalam hati. Siapa yang makan dua porsi.” Ujar William terkekeh sembari membuka tutup botol air mineral.


Regina mencebikan bibirnya. Ia raih botol yang sudah terbuka itu. Kemudian meneguk setengah isinya.


“Jangan banyak bicara, dad. Makan saja. Atau aku yang akan menghabiskan semuanya.”


“Wah, anak daddy makannya banyak, ya.” Canda William sembari meraih semangkok soto dan sepiring nasi. Mereka kemudian makan dengan tenang. Sesekali berbicara mengomentari rasa makanan.


Hampir satu jam pasangan suami istri itu berada di restoran. Mereka pun memutuskan kembali ke kantor.


Saat hendak berjalan menuju pintu keluar, tanpa sengaja mereka bertemu dengan Alvino.


Seketika alis Regina berkerut, kala melihat penampilan mantan pacarnya yang berantakan. Rambut yang memanjang, hampir menutupi telinga, hingga bulu halus yang tumbuh di sekitar dagunya.


“Amit-amit jabang bayi.” Ucap William sembari mengusap perut sang istri dari samping.


“Daddy.” Regina membulatkan matanya. Ia pun menepis tangan suaminya.


“Hon. Apa di kota sebesar ini tidak ada tukang cukur?” Bisik William.


Alvino berjalan semakin mendekat. Hingga mereka bertiga saling berpapasan.


“Re?”


William memicingkan matanya. Dengan serta merta, pria itu menggeser posisi, membuat Regina berada di belakangnya.


“Cih, posesif sekali.” Decak Alvino.


“Apa kamu baru datang dari pedalaman?” Tanya William dengan mata memicing. Ia yang biasa dengan tampilan rapi, merasa geli melihat penampilan mantan pacar dari istrinya itu.


Alvino tak menjawab, ia hanya menyeringai kecil. Memang beberapa hari belakangan ini dia tidak sempat merawat diri. Pulang kerja, ia manfaatkan untuk mencari Tamara.


“Apa kabar kamu, Re?” Ia justru menanyakan kabar mantan kekasihnya.


“Cih, sok berbasa-basi. Bukannya kamu sudah melihat sendiri? Regina baik-baik saja. Dan pastinya dia lebih bahagia sekarang.” William menjawab, tak memberikan kesempatan pada sang istri untuk berbicara.


“Aku baik, Vin. Dan aku harap kamu juga begitu.” Jawab Regina ke arah mantan kekasihnya.


“Syukurlah. Sepertinya dia memang pria yang tepat untuk kamu.”


“Tentu saja. Tidak ada yang lebih baik dari aku.” Jawab William menyombongkan diri.


“Daddy?”


Regina kembali memperingati sang suami. Bukan tanpa alasan, wanita itu hanya tidak ingin suatu saat nanti, anak mereka mewariskan sifat sombong sang ayah.


“Sayangnya aku tidak sebaik kamu, Re.” Ucap Alvino sembari menghela nafas panjang.


“Ada apa? Apa Tamara tidak mengurusmu dengan baik?” Tanya Regina sembari memindai penampilan sang mantan kekasih.


Kepala Alvino menggeleng.


“Tamara meninggalkan aku.”


Jawaban pria itu membuat Regina dan William saling pandang. Mereka kemudian duduk di salah satu meja. Karena salah seorang pramusaji meminta mereka untuk tidak menghalangi jalan.


“Apa maksudmu, Vin?” Tanya Regina kemudian.


William mengenggam tangan sang istri di bawah meja. Hatinya kini terasa sedikit panas, karena sang istri berbicara dengan mantan kekasihnya.


Regina yang mengerti, pun mengusap tangan sang suami. Ia menatap sejenak pria itu sembari tersenyum.


Alvino menghela nafas pelan.


“Tamara hamil anakku.” Ucapnya. Membuat pasangan suami istri itu kembali saling pandang. Keterkejutan itu ada, namun mereka bisa mengerti. Karena hal yang sama juga terjadi pada pasangan itu.


“Lalu?” Tanya Regina karena sang mantan menjeda ucapannya.


“A-aku, aku belum siap untuk itu. Aku marah, mendiami Tamara. Dia sudah berusaha untuk bicara denganku, tetapi aku selalu menghindar. Aku belum siap, Re. Kamu tau itu, kan?”


Tentu Regina tau, itulah alasan kenapa mereka berhubungan hingga tiga tahun tanpa kejelasan.


“Dia pergi, Re. Dia membawa anakku.”


“Setelah pergi, baru di akui anak. Saat masih ada, di hindari.” Celetuk William. Ia merasa geram sendiri mendengar cerita mantan kekasih dari istrinya itu.


“Apa kamu tidak mencarinya?” Tanya Regina yang mulai merasa iba. Penampilan berantakan Alvino menegaskan jika pria itu tak baik-baik saja.


“Aku selalu mencarinya, Re. Bahkan aku membayar seseorang. Tetapi, Tamara seperti di telan bumi.” Ucapan Alvino terdengar frustrasi.


“Aku terlambat, dia sudah pergi sehari sebelumnya. Dan aku baru tau. Aku bahkan meminta bantuan temanku yang bekerja di bandara. Tetapi, tidak ada nama Tamara di daftar penumpang yang meninggalkan kota ini.” Jelas pria berusia 30 tahun itu lagi sembari meraup wajahnya sendiri.


“Kasihan sekali dia.” Gumam William dan di dengar oleh Regina.


“Semoga Tamara segera di temukan. Dan setelah itu, aku harap kamu bisa menjaga dia dengan baik. Belajar menghargai seseorang yang selalu ada di samping kamu. Jangan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya.” Ucap Regina kemudian.


“Maafkan aku, Re. Ini semua pasti karma untukku, karena telah menyakiti kamu.” Sesal Alvino.


“Lupakan masa lalu, Vin. Sekarang, berfokuslah pada masa depan. Aku yakin, Tamara dan anakmu pasti baik-baik saja.”


Alvino menjawab dengan anggukkan kepala. Ada penyesalan teramat dalam hatinya, karena telah menyakiti Regina. Dan sekarang, wanita itu bahagia dengan pria lain.


.


.


.


Bersambung.