
“Mama kenapa belum tidur?” Tanya William kepada sang mama yang sedang duduk di atas sofa, di lantai dua rumah mereka.
“Mama belum bisa tidur, perasaan mama tiba-tiba tidak enak, ya.” Jawab sang mama.
William kemudian menghampiri sang mama, lalu duduk di samping wanita paruh baya itu.
“Ada apa?”
“Entahlah, ini adik kamu mama hubungi tidak di angkat. Mama telpon Kinar, katanya dia lagi cuti ke luar kota.”
William menganga mendengar ucapan sang mama.
“Aku kira ada apa. Willona mungkin sedang ada pekerjaan, ma. Kalau ada apa-apa, dia pasti menghubungi kita.”
Nyonya Aurel menghela nafas pelan.
“Iya juga, sih. Tetapi, akhir-akhir ini, adik kamu sering sekali jarang pulang. Mama takut, dia salah pergaulan.”
William tersenyum mendengar ucapan sang mama. Pria itu pun merangkul bahu wanita yang telah melahirkannya itu.
“Willona sudah dewasa, percaya padaku. Dia pasti bisa menjaga dirinya.”
“Ya, semoga saja. Lalu, kamu kenapa keluar kamar? Apa di usir istrimu?” Tanya nyonya Aurel sembari memindai sang putra.
William tergelak mendengar ucapan sang mama. “Amit-amit, ma. Jangan sampai aku di usir menantu mama itu. Aku mau membuatkan dia susu. Tadi lupa.”
Istri pak Antony itu pun menganggukkan kepalanya.
“Ya sudah. Sekarang mama kembali ke kamar. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Willona pasti baik-baik, saja.”
Nyonya Aurel kembali mengangguk, ia pun beranjak menuju kamar, sementara sang putra turun ke dapur untuk membuatkan istrinya segelas susu.
“Kenapa lama, dad?” Tanya Regina ketika sang suami kembali ke dalam kamar.
“Tadi ngobrol sebentar sama mama di depan.” Jawab William sebari menyodorkan segelas susu rasa almond kepada sang istri.
“Mama ada di depan? Kenapa belum tidur?”
William memutari tempat tidur, kemudian mengambil tempat di sisi kiri sang istri.
“Katanya belum bisa tidur, kepikiran Willona yang tidak pulang.” Jawabnya sembari menarik selimut sampai sebatas pinggang. Pria itu kemudian melepas baju kaos yang ia gunakan. Sudah menjadi kebiasaan bagi William tidur tanpa menggunakan baju.
Regina meletakan gelas kosong di atas nakas. “Willona belum pulang? Apa sudah di hubungi?” Tanyanya khawatir.
“Sudah, tetapi tidak di angkat. Mungkin dia sedang bekerja. Atau menginap di rumah temannya.”
William merentangkan tangan, meminta sang istri untuk tidur di pelukannya.
“Sudah, jangan khawatir. Kalau terjadi sesuatu, Willona pasti sudah menghubungi kita. Kalau tidak, berarti dia baik-baik saja.”
Regina menganggukkan kepala, ia menurut merebahkan diri dalam dekapan sang suami.
***
“Sayang, hentikan.” Reka berusaha lepas dari jerat Willona. Gadis itu tiada henti menjajah tubuhnya.
Namun Willona tak menghiraukan, ia bahkan mendorong tubuh Reka hingga terlentang di atas tempat tidur. Gadis itu kemudian duduk di atasnya.
Reka menelan ludahnya susah payah, saat melihat gadis di atasnya melepas dress basah yang ia gunakan, kemudian melempar ke sembarang arah.
“S-sa-sayang. Hentikan.” Reka setengah bangkit, berusaha menghentikan tangan Willona yang hendak melepas penutup terakhir pada tubuh gadis itu.
“Lihat aku, Reka.” Willona menangkup kedua pipi pria itu. Pandangan mereka pun saling beradu.
“Bantu aku.” Ucap Willona dengan suara yang sangat mendayu, dan tatapan mata yang sangat sayu.
Gadis itu kemudian menyatukan bibir mereka berdua. Reka pun hanya bisa pasrah. Ia tak tega melihat keadaan Willona yang seperti itu. Selain itu, dia juga pria normal. Mendapat perlakuan seperti ini, tentu saja kelelakiannya bangkit.
Tanpa pria itu sadari, kaos yang ia gunakan sudah terlempar ke atas lantai kamar. Teronggok bersama dress yang gadis itu gunakan ke pesta tadi.
“Sayang, ingat perjanjian kita.” Reka masih berusaha menghentikan kegilaan Willona.
Gadis itu mendongak, menatap Reka dengan tatapan marah, dan mendamba dalam waktu bersamaan.
“Apa kamu mau melihat aku mati karena pengaruh obat ini?” Tanya gadis itu kemudian.
Seketika kepala Reka menggeleng dengan kencang. “Tidak sayang.”
“Maka dari itu, bantu aku.” Willona kembali menjajah tubuh Reka. Kini bibirnya bergerak turun. Tangannya pun telah berada di pinggang pria itu, siap menanggalkan penutup tubuh bawahnya.
“Sa-sayang. Iya, aku akan membantumu. Kita ke kamar mandi.” Reka bangkit, mencekal tangan gadis itu.
“Kamu mau membunuhku dengan merendam tubuhku?” Mata Willona berkilat marah.
“Tidak, sayang. Aku mencintaimu. Aku tidak ingin merusakmu. Kamu ingat berjanjian kita? No s*x before married.” Reka berusaha mengingatkan kembali, prinsip yang di junjung Willona selama ini. Berharap gadis itu tersadar, tetapi sepertinya ia memang mengonsumsi obat dosis tinggi.
“Aku tak perduli, perse*tan dengan perjanjian itu.” Willona kembali mendorong tubuh Reka, ke atas ranjang.
Air mata Reka tak dapat di bendung lagi. Ia baru saja merenggut apa yang selama ini di jaga Willona dengan baik.
Harusnya ia bahagia karena menjadi yang pertama untuk gadis itu. Namun, bukan dengan cara seperti ini yang ia inginkan. Pria itu ingin, mereka melakukan dengan saling menginginkan, dan saling mencintai bukan dalam pengaruh obat seperti ini.
Umumnya, sang gadis lah yang menangis karena kehormatannya terenggut, namun ini justru sebaliknya. Justru Sang pria yang tak henti mengeluarkan air mata.
“Sayang, maafkan aku.” Tak hentinya pria itu mengucap kata maaf. Namun, gadis di bawah kukungannya tak menanggapi, Willona sibuk menyerukan nama Reka dengan nada yang sangat mendayu.
“Reka..hhh le-bihh cepat.”
Kepala Reka menggeleng, namun tubuh bawahnya melakukan apa yang gadisnya perintahkan.
“Rekaaa..mmhhh.”
Tubuh Willona bergetar untuk ke sekian kalinya. Nafas gadis itu tersengal. Dahinya di basahi buliran keringat.
Dalam lelahnya, Willona tersenyum puas. Ia merasakan tubuhnya remuk, namun sudah tak segila sebelumnya.
Melihat gadis itu sudah tak berdaya, Reka pun memisahkan diri. Ia memilih menumpahkan semua benihnya di dalam kamar mandi.
Setengah jam berlalu, pria itu keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan selembar handuk yang menutupi tubuh bawahnya.
Rasa bersalah kembali datang, kala melihat wanita yang di cintainya tergolek tak berdaya. Melepas handuk yang melingkar di pinggangnya, pria itu pun bergabung dengan Willona. Ia tarik tubuh tak berdaya itu, kemudian membawa ke dalam dekapannya.
“Maafkan aku, sayang. Aku berjanji, besok akan melamarmu, dan kita akan segera menikah.” Sebuah kecupan hangat ia labuhkan pada kening gadis itu, sebelum akhirnya ikut memejamkan mata.
.
.
Bersambung.
Authir : Monmaaf kurang panas. Kalau mau lebih panas, sok bacanya di depan api 😅😅🤭🤭