
Seminggu setelah bertemu kedua orang tuanya, Alvino dan Tamara pun melangsungkan acara pernikahan. Tidak mewah, hanya di hadiri oleh orang-orang terdekat mereka. Papa dan Mama, para karyawan, serta pasangan William dan Regina.
Seperti janjinya, pak Mahendra pun datang menghadiri pernikahan sang putra. Yang membuat sang istri mau tidak mau harus ikut, agar tak menimbulkan kecurigaan orang, jika ia tak menyukai calon menantunya.
Alvino tidak mengundang banyak orang. Karena perut Tamara yang sudah menonjol, ia tak mau terjadi pembicaraan buruk diluar sana nantinya.
Pria berusia tiga puluh tahun itu tak menyangka takdir hidupnya akan seperti ini. Ia yang dulunya mencintai Regina, hari ini harus menikah dengan Tamara.
Jujur, Alvino belum siap untuk hidup berumah tangga. Namun, kesalahan yang ia perbuat, mau tak mau mengharuskan dirinya bertanggung jawab.
“Hei, kenapa melamun? Jangan katakan kamu ingin kabur dari disini?” Suara William membuat Alvino tersadar dari lamunannya. Ia yang tak mempunyai saudara, meminta suami dari mantan kekasihnya untuk menjadi pendamping pengantin pria. Sementara, Regina menjadi pendamping mempelai wanita.
“Sudah, jangan berpikir macam-macam, apalagi mencoba kabur. Ingat kamu memiliki tanggung jawab.” William kembali bersuara sembari menepuk bahu mantan kekasih istrinya itu.
“Siapa yang ingin kabur?” Tukas Alvino. Pria itu kemudian merapikan jas pengantin yang ia gunakan.
“Baguslah. Ayo, sudah saatnya kamu keluar. Jangan sampai pengantin wanita lebih dulu berada di pelaminan.” Tanpa menunggu jawaban dari Alvino, William mendahului keluar dari kamar tempat pengantin pria itu mematut diri.
Pesta pernikahan itu dilaksanakan di sebuah taman, hotel berbintang lima. Dengan mengusung tema pesta kebun, para undangan yang hadir diminta menggunakan pakaian berwarna hijau muda. Sementara, kedua pengantin menggunakan setelan berwarna putih.
Meski hanya acara sederhana, namun Alvino ingin memberikan kesan indah pada hari pernikahan mereka. Ia benar-benar ingin menebus kesalahannya pada Tamara. Dan tak ingin mengecewakan wanita itu untuk kesekian kalinya.
Alvino yang di temani William pun tiba di lokasi. Dan para tamu telah menempati meja masing-masing. Menunggu kurang lebih sepuluh menit, mempelai wanita pun terlihat memasuki tempat acara.
Jantung Alvino tiba-tiba berdetak kencang, ia pun di hinggapi perasaan gugup. Pria itu bahkan merasakan udara di sekitarnya memanas, terlihat dari buliran keringat yang mulai keluar dari keningnya.
“Santai, bro. Jangan gugup.” William mencoba memberi semangat. Mereka terlihat seperti teman yang begitu akrab. Padahal sebelumnya musuh bebuyutan.
“Apa saat menikahi Regina kamu juga gugup?” Tanya calon pengantin itu.
“Tentu. Itu karena untuk pertama, dan terakhir kalinya. Rasa gugup itu datang karena aku tidak ingin membuat kesalahan. Apalagi, saat mengucapkan janji suci. Salah sebut, tamat riwayatmu.” William berbicara sok bijaksana.
Tamara semakin mendekat. Di dampingi oleh Regina di sisi kanannya.
Tangan Alvino terulur menyambut kedatangan calon istrinya. Para pengiring pengantin pun mundur, kemudian mengambil tempat.
“Jangan coba-coba dekat dengan orang tua si Rahwana. Aku tidak mau ada drama papa mama lagi.” William memperingati sang istri, saat wanita itu melambaikan tangan ke arah nyonya Mahendra.
Terserah bila sang istri menganggapnya egois, William hanya ingin melindungi miliknya dari orang yang masih mengharapkan wanita itu menjadi menantu padahal sudah memiliki suami.
William pun mengajak sang istri duduk berjarak tiga meja dengan keluarga Mahendra.
Regina hanya mampu mengulum bibir, suaminya jika sedang merajuk, terlihat lebih manis di mata wanita hamil itu.
Acara pun di mulai, kedua pengantin saling bergantian mengucap janji suci pernikahan, saling menyematkan cincin, dan di akhiri dengan Alvino yang mencium kening Tamara, wanita yang kini telah sah menjadi istrinya.
“Terimakasih, karena telah bersedia menikah denganku, Tamara Pradipta.” Ucap Alvino secara tulus.
Tamara tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya. Jujur wanita itu terharu, namun hatinya masih tidak ingin terlalu larut dalam bahagia, bagaimana pun juga, mereka menikah bukan karena saling mencintai. Namun karena sebuah tanggung jawab.
Setelah mengucapkan janji suci, sepasang pengantin itu menandatangani beberapa berkas, untuk mengesahkan pernikahan mereka di mata hukum.
Dan tiba lah saatnya memberi ucapan selamat kepada para pengantin. Satu persatu tamu undangan berdiri kemudian menghampiri dua orang yang baru saja resmi menjadi suami istri itu.
Tangan wanita hamil itu terulur ke arah Alvino, namun dengan cepat di tepis oleh William, saat pengantin pria itu akan menyambutnya.
“Aku yang mewakilkan.” Ucap putra pak Antony itu, sembari menjabat tangan mantan kekasih istrinya.
Alvino pun berdecak melihat kelakuan pria itu.
“Posesif sekali. Lagipula, aku sudah memiliki istri.” Tukas pria itu kemudian. Sembari merangkul pinggang wanita di sampingnya
‘Ya, bahkan istrimu tau, kamu menikahinya hanya karena dia hamil.’
Tentu William tak menjawab seperti itu, demi menjaga perasaan Tamara.
“Ya, terserah padaku. Aku suaminya. Jadi, bersalaman denganku, atau dengannya, sama saja bukan?”
“Sudah.. ini hari berbahagia, jangan membuat keributan, dad.” Regina merasa jengah dengan tingkah sang suami.
“Ta, selamat ya. Ingat pesanku, lakukan semua untuk anakmu. Jangan memikirkan hal yang tidak penting.” Regina beralih kepada Tamara, ia bahkan memeluk pengantin wanita itu.
“Terimakasih, mbak. Sekali lagi, maafkan aku atas perbuatanku.”
“Sudah. Jangan di bahas lagi. Lupakan yang telah berlalu. Kita mulai semuanya dari awal.”
Tamara menganggukkan kepalanya.
“Honey. Sudah? Kita pamit sekarang.” Ucap William menginterupsi.
“Ya, dad.” Pelukan kedua wanita itu terlepas.
“Aku dan suamiku pamit dulu, ya.” Ucap Regina.
“Kenapa buru-buru?” Tanya Tamara yang seperti tak rela jika Regina pergi. Bagaimana tidak, hanya wanita itu yang bersikap baik padanya. Bahkan, nyonya Mahendra yang kini telah resmi menjadi ibu mertuanya pun acuh padanya.
“Kami harus ke bandara menjemput ayah dan ibu.”
“Bapak dan ibu datang?”
Kepala Regina mengangguk sebagai jawaban.
“Sampaikan salam ku pada mereka, mbak.”
“Tentu.”
William dan Regina pun meninggalkan tempat acara, untuk menjemput pak Regan dan nyonya Karin. Mereka datang hari ini, karena beberapa hari lagi akan di gelar acara pernikahan Reka dan Willona
.
.
.
Bersambung.