
Hari menjelang petang, para pekerja di toko mebel milik orang tua Regina telah kembali pulang ke rumahnya masing-masing.
Namun, ada lima orang yang masih tetap berada di dalam toko. Yaitu, Pak Regan, nyonya Karin, William, Regina dan Tamara. Mereka sedang menunggu kedatangan Alvino. Pria itu baru saja mengirim pesan pada William, jika sudah tiba di bandara dan akan langsung menuju alamat yang di kirim oleh suami Regina itu.
Sebenarnya, Regina sudah meminta orang tuanya untuk pulang. Ia dan sang suami akan menyusul setelah urusan Tamara dan Alvino selesai. Namun, pak Regan menolak. Pria paruh baya itu ingin tau wajah pria yang telah mengkhianati sang putri.
“Kamu mau makan sesuatu?” Bisik William pada sang istri yang duduk di sampingnya.
“Tidak, dad. Nanti saja.” Regina juga ikut berbisik.
Bagaimanapun juga, keheningan kini tercipta di dalam toko itu. Tak ada yang berani berbicara banyak, setelah kebenaran tentang Tamara terungkap.
Hampir satu jam menunggu. Akhirnya sebuah mobil berhenti di depan toko. Kelima orang di dalam toko pun melihat ke arah depan secara bersamaan.
Hati Tamara bergejolak. Ingin rasanya ia menghilang sekarang juga dari tempat itu. Wanita itu tidak ingin bertemu dengan Alvino, jika pada akhirnya akan di abaikan lagi.
William pun bangkit, kemudian menuju pintu depan, setelah melihat lampu mobil yang berhenti di depan toko mertuanya padam.
Ia melihat Alvino telah berdiri di samping mobil, namun tidak berani untuk masuk.
“Akhirnya datang juga. Hampir saja aku membiarkan sekretaris mu pergi.” Ucap William dengan bersedekap dada di depan pintu toko.
Alvino menghela nafas pelan, kemudian menghampiri pria yang dua tahun lebih tua darinya itu.
“Apa dia masih ada disini?” Tanyanya kemudian.
William mencebik. “Dia ada di dalam. Temui lah, sebelum wanita itu berubah pikiran. Lalu pergi lagi. Kamu tau, dia sangat cerdas. Tentu kamu tidak menemukannya di bandara. Sekretaris mu itu pergi melalui jalur darat.” Jelas William tanpa diminta. Ia tau tentang hal itu dari Tamara sendiri. Pria itu memutuskan masuk dan mengobrol bersama sang istri dan Tamara.
Alvino tersentak. Bagaimana dia lupa memerintah orang suruhannya untuk mencari wanita itu ke stasiun kereta, atau pelabuhan?
“Percayalah padaku, cinta memang membuat kita menjadi bodoh. Lupa akan segala hal.” Ucap William kembali sembari menepuk bahu mantan kekasih istrinya itu.
“Ayo.”
Mereka kemudian memasuki toko. Langkah Alvino memelan, kala mendapati ada empat orang di dalam toko itu.
Manik mata pria itu meneliti satu persatu. Ia mengenali dua orang wanita muda itu. Regina dan Tamara. Namun, ia tak tau siapa dua orang paruh baya itu. Apa mereka yang selama ini menampung Tamara?
Perlahan, Alvino berjalan mendekat. Diikuti oleh William di belakangnya.
“Ta—
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya. Sebuah tinjuan melayang dan menghantam rahangnya. Membuat tubuh Alvino limbung.
“Ayah!!”
Teriak Regina dan nyonya Karin. Semua orang di ruangan itu tersentak.
“Jadi kamu pria yang telah menyakiti putriku, ha?” Pak Regan mencengkeram kerah kemeja yang di gunakan oleh Alvino.
Deg..
Alvino tersentak. Jadi pasangan paruh baya itu orang tua Regina?
Pak Regan kembali melayangkan kepalan tangannya.
“Ayah, jangan.”
“Lepaskan, William. Aku ingin menghajar pria kurang ajar ini. Beraninya dia menyakiti putri kesayangan ku.” Pak Regan menepis tangan sang menantu.
“Ayah, jangan.”
Regina mendekat, ia juga berusaha meraih tangan sang ayah.
“Kenapa kalian membela orang seperti dia? Putri, dia sudah menyakitimu. Harusnya kamu beri pelajaran padanya.”
“Ayah, aku sudah pernah menghajarnya. Jadi, ayah tidak perlu repot-repot lagi.” William bersuara. Ia tidak ingin terjadi perkelahian antara Ayah mertuanya dengan Alvino.
“Jangan ikut melindunginya, William.” Hardik pak Regan.
“Aku tidak melindunginya, ayah. Kenyataannya memang aku telah menghajarnya. Bahkan, jauh sebelum Gina menjadi milikku.” William tak mungkin mengatakan jika ia menghajar Alvino saat setelah memergoki pria itu berbagi peluh dengan Tamara. Hal itu bisa memancing kembali emosi ayah mertuanya.
Pak Regan menghela nafas pelan. Ia menatap tak suka ke arah Alvino.
“Maafkan aku, pak. Aku akui, aku salah. Dengan sengaja telah menyakiti Regina.” Alvino membuka suara. Mungkin ini kesempatan untuknya meminta maaf kepada orang tau mantan kekasihnya itu.
“Jika bapak ingin menghajar ku, maka lakukanlah.” Pria itu menyerahkan dirinya.
“Tetapi tolong jangan habisi aku. Aku masih punya kesalahan lain, yang harus aku perbaiki.” Ucapnya kemudian.
Tanpa bicara, pria paruh baya itu meninggalkan tokonya. Nyonya Karin yang melihat sang suami pergi, pun menyusul pria itu. Namun, sebelum pergi, ia berpesan pada sang putri dan menantunya agar pulang kerumah setelah masalah ini selesai.
“Ini kunci pintu depan.” Wanita paruh baya itu menyerahkan kunci tokonya pada sang menantu.
Hendak melangkah, nyonya Karin menatap sejenak pria yang katanya adalah mantan kekasih sang putri.
“Aku berharap, kamu tidak melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya, anak muda.” Ucapnya ke arah Alvino. Kemudian berlalu tanpa menunggu jawaban dari pria itu.
“Kamu tidak apa-apa?” Tanya William kepada mantan kekasih istrinya itu. Meski ia tidak menyukai Alvino, namun ia merasa kasihan pada pria itu. Baru datang sudah di hadiahi sebuah bogeman mentah dari pak Regan.
“Aku tidak apa-apa. Lagipula, aku memang pantas mendapatkannya.” Jawab Alvino pasrah. Pandangan pria itu tertuju pada wanita yang sedari hanya diam.
Regina dan William ikut melihat ke arah pandangan Alvino. Sepasang suami istri itu mengerti.
“Kalian bicaralah berdua. Selesaikan masalah kalian. Ingat, diantara kalian sekarang ada calon bayi yang sedang bertumbuh di dalam perut Tamara. Jadi, aku berharap kalian tidak egois.” Ucap Regina memecah keheninngan yang terjadi.
“Ya, yang di katakan istriku benar. Kami akan menunggu di luar. Kalian berbicara lah dulu.” William ikut berpendapat.
Alvino dan Tamara saling tatap. Mereka pun menyetujui ucapan suami istri itu.
.
.
.
Bersambung.