
Waktu menunjukkan pukul 8 malam, ketika pasangan Regina dan William kembali ke rumah orang tua mereka.
Sementara itu, Alvino menginap di salah satu hotel terdekat. Dan Tamara kembali ke rumah kontraknya. Wanita itu tidak mengijinkan Alvino menginap di rumahnya. Ia beralasan, ingin menghabiskan waktu sendiri dulu.
“Akhirnya kalian pulang juga.” Nyonya Karin menyambut kedatangan putri dan menantunya.
“Letakkan dulu kopernya disini. Kita makan dulu.” Istri pak Regan itu kembali berucap.
“Nanti saja, Bu. Aku mau membersihkan diri dulu. Lagi pula. Tadi kami sudah makan baso di depan toko.” Jawab William.
“Apa urusan dua orang itu sudah selesai?” Kini giliran pak Regan yang berbicara. Pria paruh baya itu tengah duduk di ruang tamu.
“Sudah, Yah. Katanya, besok sebelum kembali ke ibukota, Tamara ingin bertemu dengan kalian.” Regina pun menjawab pertanyaan sang ayah.
Pria paruh baya itu hanya mengedikan bahu, tanda tak perduli. Sejak awal, dia memang tidak menyukai kehadiran Tamara.
“Biar ibu mu saja.” Ucapnya kemudian.
Alis Regina bertaut, ia menatap ke arah sang ibu, untuk meminta jawaban atas sikap ayahnya. Namun, nyonya Karin pun ikut mengedikan bahu.
“Bu, ini kunci tokonya.” William menyela, menyerahkan kunci toko kepada ibu mertuanya.
Tak lama kemudian mereka pun pamit ke kamar untuk membersihkan diri.
“Hon, apa di rumah ini tidak ada asisten rumah tangga?” Tanya William sembari berjalan menuju kamar sang istri.
Ia mengamati rumah mertuanya. Memang hanya satu lantai, namun bisa di katakan cukup luas.
“Tidak, biasanya ibu meminta bantuan tetangga untuk bersih-bersih.”
“Meminta bantuan tetangga?”
“Hmm. Tetangga di sini ada yang bekerja panggilan. Jadi, meski ibu mengatakan meminta bantuan, tetap di beri imbalan kok, dad. Semacam pekerja harian.” Jelas Regina kemudian.
William pun mengangguk tanda paham. Sang istri membuka pintu kamar. Pria itu kembali meneliti ruangan tidur itu. Ukurannya bisa di bilang dua kali lebih kecil dari ukuran kamar yang mereka tempati di rumah Sanjaya.
Ranjangnya pun hanya berukuran 160x200 meter. Ada sebuah lemari kayu jati di sisi kanan. William pun menggeret koper ke dekat lemari itu.
“Daddy mau mandi duluan?” Tanya Regina sembari membuka koper, mencari pakaian ganti untuk mereka berdua.
“Bersama saja.” Ucap William sembari menaik turunkan alisnya.
“Maunya.” Jawab Regina mencebik.
William tergelak. Namun, sesaat kemudian, ia terdengar mual. Seperti akan muntah.
“Hon, kamar mandi dimana?” Tanyanya sembari menutup mulut. Perutnya kini benar-benar bergejolak.
“Astaga, daddy kenapa?”
Regina bangkit, kemudian membuka pintu di sebalah kanan ruangan.
Tanpa menjawab, William segera menerobos, dan menumpahkan isi perutnya di dalam wastafel.
Merasa iba, Regina pun mengurut tengkuk sang suami.
“Sudah selesai?” Tanyanya ketika William telah membasuh wajah.
“Hmm.” Jawab sang suami dengan anggukan kepala.
“Ada apa? Apa karena makan baso?”
Kepala William menggeleng. Ia mengelap wajah dengan handuk kecil yang tersedia di samping wastafel.
“Hon, bisa kamu singkirkan foto di atas nakas? Aku mohon.” Pintanya dengan memelas.
Alis Regina bertaut mendengar permintaan sang suami. Wanita itu kemudian kembali ke dalam kamar, dan melihat benda yang di maksud sang suami.
Mata wanita hamil itu membulat, dengan mulutnya yang menganga. Di atas nakas itu, berdiri indah bingkai foto dirinya saat masih kecil. Tersenyum manis menampakkan gigi ompongnya, dengan rambut kepang dua.
“Hon, please.” William kembali memohon.
Suara William memelas dari dalam kamar mandi, Membuat Regina tersadar. Menghela nafas pelan, Wanita itu pun mengambil bingkai itu, kemudian menyimpan di laci nakas paling bawah.
“Sudah, dad.”
“Benarkah?” Hanya kepala pria itu yang terlihat muncul di pintu kamar mandi.
“Lihatlah.” Tunjuk Regina ke arah nakas.
“Maafkan aku.” Pria itu memeluk Regina. Ada rasa bersalah di dalam hatinya. Ia takut sang istri akan tersinggung dengan permintaannya. Namun bagaimana lagi, ia pun tidak ingin seperti itu. Rasa mual datang begitu saja, saat melihat foto masa kecil sang istri.
“Tidak apa-apa.” Regina membalas pelukan sang suami. Ia mengusap lembut punggung pria itu.
“Maafkan aku, sayang.” Ucapnya sekali lagi. Sembari mengeratkan pelukan.
“Aku tidak apa-apa, dad. Sudah. Ayo kita mandi. Ayah dan ibu menunggu kita untuk makan bersama.”
William mengangguk. Ia kemudian melepaskan pelukan. Mereka pun kembali ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
*****
“Kenapa wajah mu layu begitu? Apa tidak mendapat jatah?” Tanya pak Regan kepada sang menantu.
Mendengar pertanyaan sang mertua, wajah William pun berubah memerah. Jujur ia belum terbiasa membahas masalah perranjangan dengan orang tua istrinya, meski itu hanya bercanda.
“Ayah..” nyonya Karin memperingati.
“Bu, nanti tolong periksa, apa di ruang tamu ada foto masa kecilku? Kalau ada, tolong di simpan. William belum terbiasa dengan itu.” Regina kemudian menjelaskan.
Pak Regan memicingkan mata ke arah menantunya. Membuat pria muda itu mengalihkan pandangannya.
“Sudah, sudah. Kita makan malam dulu. Kalian tenang saja. Semua aman terkendali.”
Nyonya Karin menengahi, sebelum di minta sang putri, wanita paruh baya itu telah terlebih dulu menyimpan foto-foto masa kecil Regina. Ia ingin, menantunya merasa nyaman, mengingat ini untuk pertama kalinya pria itu berkunjung setelah puluhan tahun berlalu.
Selesai menikmati makan malam, William dan Regina tidak diijinkan untuk ke kamar. Para oranh tua, meminta untuk menjelaskan alasan mereka datang secara tiba-tiba, tanpa memberi kabar terlebih dulu.
“Aku ingin melihat burung milik ayah.”
Mata nyonya Karin membulat sempurna kala mendengar jawaban sang menantu. Sementara, pak Regan yang sedang menyeruput teh hangat, tiba-tiba terbatuk.
“Pelan-pelan, Yah.” Regina mengusap punggung ayahnya.
“Ada apa, Bu?” Tanya William terheran, melihat sang ibu mertua menatap aneh ke arahnya.
“Apa yang kamu katakan tadi? Melihat burung ayah?” Tanya ulang wanita paruh baya itu.
William mengangguk. Membuat pak Regan semakin tersedak.
“Bukannya kamu juga punya? Kenapa jauh-jauh datang ingin melihat punyaku? Apa milikmu tidak seperkasa milikku?” Tanya pria paruh baya itu ketika batuknya telah berhenti.
“Huhuk-Huhuk.” Kini giliran William yang tersedak teh hangat.
“Astaga, daddy.” Regina berpindah mengusap punggung sang suami.
“Ayah..maksud suami ku, dia ingin melihat pipit. Kata Reka dan papa Antony, pipit harganya belasan juta. Jadi, William penasaran dan ingin melihatnya.” Regina membantu menjelaskan. Karena sang suami yang masih saja terbatuk karena mendengar ucapan dari ayahnya.
“Oh, pipit. Ibu kira burung yang lain.” Nyonya Karin menganggukkan kepalanya.
“Lalu kenapa tidak memberi kabar?” Tuntut wanita paruh baya itu kemudian.
“Tadinya mau memberikan ayah dan ibu kejutan. Tetapi, tidak di sangka justru kami yang mendapat kejutan.” Jawab Regina, yang kembali teringat dengan Tamara.
“Hmm, ibu juga tidak menyangka. Padahal, dia gadis yang baik.”
“Baik di luar, belum tentu baik di dalam, kan?” Pak Regan kembali menunjukan ketidaksukaan terhadap Tamara.
“Ah, ini sudah malam. Sebaiknya kalian beristirahat. Melihat pipit nya besok saja. Dia juga sudah tidur.” Nyonya Karin mengusir anak dan menantunya, saat menyadari perubahan raut wajah sang suami.
Pasangan muda itu menurut, mereka kemudian pamit untuk beristirahat.
“Apa yang daddy lakukan?” Tanya Regina waspada saat sang suami mengunci pintu kamar. Kemudian melepas satu persatu kain yang menempel pada tubuh kekarnya.
Pria itu berjalan mendekat, membuat sang istri perlahan mundur.
“Tentu aku ingin mencoba empuknya ranjang di kamar istriku ini.”
“Dad-hhmmmpptt”
.
.
.
Bersambung.