
Hari ini, Willona kembali melakukan perjalanan ke luar kota untuk keperluan pekerjaannya. Namun bedanya, hari ini gadis itu tidak terburu-buru seperti waktu itu.
Sebelum pergi ke bandara, Willona menyempatkan diri sarapan bersama mama dan papanya. Kegiatan rutin yang mereka lakukan di pagi hari.
Biasanya, anggota keluarga mereka selalu lengkap. Namun, semenjak bekerja di kantor Sanjaya, William sudah jarang mengikuti sarapan bersama.
“Berapa hari kamu di luar kota, Na?” Tanya sang papa yang tengah menikmati nasi goreng buatan sang istri.
“Dua hari, pa. Lusa sore sudah pulang.” Jawab Willona yang kemudian menyuapkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya sendiri.
“Apa kamu buru-buru?”
“Flight ku jam 10 ma.”
Nyonya Aurel melihat arloji mahal yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
“Apa kamu bisa mampir ke apartemen Abang kamu? Sudah lama sekali dia tidak pulang.” Wanita paruh baya itu berucap sendu. Ia yang yang hendak menyendok sarapannya, tiba-tiba kembali meletakkan alat makannya. Kemudian, menumpu dagu dengan kedua tangan di atas meja makan. Pandangannya pun berubah sendu.
“Makan dulu, ma.” Ucap pak Antony menatap sekilas ke arah sang istri.
“Mama kangen sama William, pa. Mama takut, dia semakin nakal di luar sana.” Ucap nyonya Aurel semakin sendu.
“Maaf ma, tapi aku tidak sempat mampir. Kalau sempat pun, Abang pasti sudah ke kantor. Kenapa mama tidak ke kantor saja. Jam segini, dia pasti sudah dalam perjalanan ke kantor.” Ucap Willona sembari mengusap lengan sang mama.
Wanita paruh baya itu mengangguk. Ia kemudian melanjutkan acara sarapannya.
“Oh ya, Na. Sepulang kamu dari luar kota nanti, mama dan papa, mau pulang kampung selama tiga hari. Kamu tidak apa-apa kan, di rumah sendiri?” Tanya nyonya Aurel.
“Ada asisten rumah ini, ma. Lagi pula, kalau aku tidak ada pekerjaan, aku bisa tinggal di apartemennya abang.” Jawab Willona dengan sebuah senyuman, ia yang selama ini belum pernah menginjakkan kaki di apartemen kakaknya, sudah membayangkan akan mengacaukan tempat itu.
“Ya, itu lebih baik.” Pak Antony ikut bersuara.
Mereka kembali melanjutkan sarapannya. Hingga Willona harus pamit, untuk pergi ke bandara.
Dengan di antar sopir pribadinya, gadis berusia 25 tahun itu, kini sudah tiba di bandara. Sang sopir menyerahkan koper milik atasannya. Kemudian Willona meninggalkan pria berusia sekitar 40 tahunan itu.
Dengan langkah santai, adik dari William itu menggeret kopernya. Wajah cantiknya, ia bingkai dengan kacamata hitam merk ternama.
Namun, langkah santai gadis itu harus sedikit terganggu, kala seseorang menabraknya dari belakang. Membuat tubuhnya sedikit terhuyung. Dengan sigap, orang yang menabrak itu, menarik lengannya.
Willona buru-buru menegakkan tubuhnya, ia siap memaki orang yang telah menabraknya. Namun, mata gadis itu sekita membulat sempurna di balik kacamata hitamnya.
“Kamu?” Ucapnya sembari melepas kacamata itu, agar penglihatannya lebih jelas.
Pria yang menabraknya itu mengerutkan dahi. Ia merasa tidak mengenali wanita di hadapannya ini.
“Apa kita saling mengenal?” Tanyanya polos.
“Tidak!!” Jawab Willona dengan cepat. “Tetapi kita pernah bertemu, mm lebih tepatnya tanpa sengaja bertemu.”
Willona melipat kedua tangannya di depan dada, ia menatap lekat pria di hadapannya kini.
‘Cih.. si sombong ini berpura-pura lugu.’
“Apa kamu ingat ini?” Gadis itu berdehem, kemudian melanjutkan ucapannya. “Lain kali, kalau berjalan gunakan kakimu untuk melangkah, dan matamu untuk melihat.” Willona menirukan gaya bicara pria itu.
Ya, orang yang menabrak Willona adalah pria yang gadis itu tabrak di bandara beberapa waktu lalu.
“Apa kamu mengingatnya, tuan sombong?” Tanya gadis itu kembali.
Pria itu mencebik, ia kemudian berlalu meninggalkan Willona. Membuat gadis itu menganga.
“Hei, asal pergi saja. Kamu tidak meminta maaf setelah menabrakku, Hah?” Willona mengejar pria itu.
“Kita sudah impas, untuk apa aku minta maaf?” Ucap pria itu tanpa menoleh.
“Apa? Bagaimana bisa begitu. Waktu itu aku juga sudah meminta maaf.” Willona tak terima.
Pria itu tiba-tiba berhenti mendadak. Membuat Willona hampir saja kembali menabrak tubuhnya.
“Baiklah, maaf.”
Pria itu kemudian melanjutkan langkahnya.
“Hei, dasar pria sombong. Baru bekerja di bandara saja sudah sombong.” Teriak Willona. Membuat pria itu kembali berhenti.
“Siapa yang kamu bilang bekerja di bandara?” Tanyanya dengan memutar sedikit tubuhnya.
“Kamu lah, siapa lagi? Dua kali kita bertemu, dan keduanya di tempat ini. Jika bukan pekerja bandara? Terus apa lagi?”
Pria itu mencebik. Ia kemudian melanjutkan langkah, meninggalkan gadis itu.
“Ish, dasar pria sombong. Awas saja jika kita bertemu lagi.” Tangan Willona mengepal di udara.
****
Petugas keamanan memberi hormat kepada istri pemilik gedung itu, di balas dengan senyum manis oleh nyonya Aurel.
Ibu dua anak itu juga menyapa petugas resepsionis, sebelum memasuki lift, menuju ruangan yang di tempati sang putra.
Alis nyonya Aurel hampir menyatu, ketika mendapati meja sekretaris yang berada di depan ruangan direktur, kosong tak berpenghuni.
“Ah, mungkin Regina di dalam.” Monolog wanita itu. Kemudian melanjutkan langkahnya.
Tanpa mengetuk pintu, nyonya Aurel masuk begitu saja. Dan senyuman langsung terbit di wajah cantiknya, kala mendapati sang putra yang tengah fokus dengan komputer lipatnya.
“Will?” Ucapnya seraya mendekat ke arah meja kerja sang putra. Sehingga membuat William mengalihkan pandangannya, menatap ke arah sumber suara.
“Mama?”
Pria itu kemudian bangkit, menyambut sang mama.
“Mama kangen sama kamu, nak. Kenapa jarang sekali pulang?” Ucap nyonya Aurel memeluk tubuh sang putra.
“Aku juga. Maaf aku sibuk akhir-akhir ini. Jadi tidak sempat pulang ke rumah.” Jawab William sembari mengusap lembut punggung sang mama. Pria itu kemudian melepas pelukan, dan menuntun sang mama duduk di atas sofa.
“Mama bawakan sarapan untuk mu.” Nyonya Aurel meletakan sebuah papper bag, yang berisi kotak makanan di dalamnya.
“Aku sudah sarapan, ma. Tadi sekalian bersama Regina.” Ucap pria itu tanpa sadar.
“Regina? Dimana dia? Mama tidak melihatnya di depan. Dia juga tidak ada disini?” Kepala nyonya Aurel berotasi memindai ruangan sang putra.
Seketika bibir William mengatup. Kini ia sadar telah keceplosan bicara.
“Itu Regina—.” William binggung, ia pun mengusap tengkuk sembari mencari alasan.
“Regina apa? Dimana dia?” Nyonya Aurel tau anaknya sedang mencari alasan.
“Ada di apartemen.” Ucap William dengan lirih. Namun masih di dengar oleh sang mama.
“Di apartemen?” Istri pak Antony itu mengerutkan dahinya.
William mengangguk kecil.
“Kenapa dia di apartemen? Kamu memintanya membersihkan tempat tinggal mu?” Kepala William menggeleng.
Pria itu kemudian menghela nafasnya pelan. Ia kemudian menceritakan apa yang terjadi.
“Kemarin dia memergoki kekasihnya sedang berbagi peluh dengan wanita lain. Aku mengajaknya ke apartemen karena dia ingin menghabiskan waktu di klub.”
“Tunggu, kenapa kamu bisa mengajak Regina ke apartemen? Apa kamu ikut bersama gadis itu?” Tanya nyonya Aurel yang belum paham duduk cerita.
William menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
“Ya, kemarin pulang kerja, kami makan malam bersama. Setelah itu, ada orang yang menghubunginya, dan mengatakan jika kekasihnya sedang bersama wanita lain di apartemennya.” William merubah sedikit cerita.
Dan nyonya Aurel mengangguk tanda paham.
“Kasihan sekali gadis itu. Pantas saja papa kamu ingin menjo—.” Seketika bibir wanita dewasa itu mengatup. Hampir saja ia membocorkan rahasia sang suami.
“Papa ingin apa, ma?” Selidik William penuh tanya.
“Ah tidak. Lupakan. Apa gadis itu baik-baik saja sekarang?”
“Dia sedang tidak enak badan. Semalam terlalu banyak minum.”
Nyonya Aurel kembali mengangguk.
“Oh ya, Will. Mama dan papa tiga hari lagi mau pulang kampung.” Nyonya Aurel memberitahu.
“Kenapa tumben sekali?”
“Ya, sekarang kan papamu sudah pensiun. Jadi punya banyak waktu untuk kami pergi jauh.”
William mengangguk paham. “Ya, hati-hati di jalan. Maaf aku tidak bisa mengantar kalian ke bandara.”
“Tidak masalah, melihat kamu mau menggantikan papamu saja, mama sudah sangat senang.”
“Ya, sudah waktunya aku memikirkan masa depan, ma.” Pria itu mencebikan bibirnya.
‘Dan sebentar lagi, aku akan memberikan hadiah untuk kalian.’ Lanjutnya dalam hati.
.
.
.
Bersambung