BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 96. Berhenti Mengharapkan Regina.



Beberapa hari berlalu..


Tamara telah bekerja di toko milik pak Regan. Ia yang awalnya canggung, kini sudah terbiasa. Bahkan ia sudah berteman dengan para karyawan wanita di tempat itu.


Nyonya Karin selalu bersikap baik padanya. Memberikan perhatian seperti seorang ibu kepada putrinya.


Namun, berbeda dengan pak Regan, meski sempat berkenalan, pria paruh baya itu seolah menjaga jarak dengan Tamara. Walau kecurigaan ayah dari dua anak itu tak terbukti, namun ia enggan terlalu dekat dengan wanita muda itu.


Selama bekerja, Tamara sangat jarang merasa mual. Mungkin jabang bayi dalam kandungannya mengerti, tidak ingin membuat sang ibu kerepotan.


“Nak Tamara, istirahat dulu.” Nyonya Karin menghampiri wanita muda yang tengah mengelap meja yang terpajang. Ia tidak pernah memaksa Tamara untuk bekerja keras. Namun, mungkin karena sungkan, wanita itu tidak mendengarkan ucapannya.


“Iya, Bu. Ini sedikit lagi.” Ucapnya dengan tersenyum. Ia tidak pernah mengeluh. Bahkan sekarang lebih banyak bersyukur, karena sudah ada yang menolong hidupnya.


Meski terkadang, saat ia sendirian, bayangan masalalu selalu menghantui. Tamara tak berusaha menepis, namun ia mencoba mengikhlaskan. Alvino bukanlah takdirnya.


Wanita itu merasa hidupnya lebih tenang, ia pun telah mengganti nomor ponselnya. Tamara benar-benar ingin memulai hidupnya dari awal. Hanya dia dan jabang bayi dalam perutnya.


“Kita makan siang dulu, ya.” Ucap Tamara mengelus perutnya. Ia memang sering berbicara sendiri. Mengobrol dengan jabang bayi yang bahkan belum mengerti apa-apa.


Ia ingin membangun kedekatan dengan jabang bayi itu. Perlahan Tamara mulai bisa menerima, ia sadar, bayi itu tak berdosa. Bukan inginnya ada, kesalahan wanita itulah yang membuat kehancuran hidupnya sendiri.


Sementara di ibukota, ayah bayi itu tengah berkutat dengan pekerjaannya. Sudah hampir sebulan Tamara menghilang, Alvino mulai merasa ada yang hilang dalam hidupnya. Tak ada lagi yang memperhatikan, mengingatkan untuk makan, dan menyiapkan segela hal untuknya.


Bukannya pria itu tak mencari, sampai saat ini pun ia masih meminta orang suruhannya untuk mencari wanita hamil itu. Namun, hasilnya masih nihil. Bahkan nomor ponsel Tamara sudah tidak aktif. Dan tak bisa lacak. Terakhir terlihat di area rumah sang nenek. Sepertinya, ia sengaja membuang nomor ponsel itu disana.


Menghembuskan nafasnya pelan, Alvino kemudian menghentikan pekerjaannya. Ia mengambil ponsel untuk menghubungi orang yang ia bayar untuk mencari Tamara.


“Belum ada titik terang bos.”


Entah sudah berapa kali pria itu menjawab dengan kalimat itu. Alvino pun di buat bertanya-tanya, kemana kiranya wanita itu pergi, hingga tak ada kabar begini?


Pikiran buruk mulai mengusik hati kecilnya. Sempat terlintas, apa mungkin terjadi sesuatu dengan Tamara? Sehingga wanita itu menghilang seperti di telan bumi?


“Al?” Suara sang mama tiba-tiba menggelegar di ruangan itu. Membuat lamunan Alvino menjadi buyar.


“Ma?”


“Apa kamu masih memikirkan perempuan itu?” Tanya sang mama sembari mengambil tempat di depan meja kerja sang putra.


“Tentu, ma.” Jawab Alvino yang tau maksud ucapan sang mama.


Nyonya Mahendra berdecak, ia hanya mampu menggelengkan kepalanya tak percaya.


“Apa kamu begitu kehilangannya? Harusnya kamu meratapi Regina. Bukan wanita penggoda itu.”


“Ma..” Alvino mulai geram.


“Tidak bisakah mama mengerti sedikit saja? Aku juga salah disini. Aku yang menawarkan banyak uang padanya. Dia memerlukan uang itu untuk pengobatan neneknya. Jadi, tolong. Mama berhenti merendahkan Tamara.”


“Apa secepat itu kamu melupakan Regina?”


“Ma, cukup!! Regina sudah menjadi istri orang. Apa mama mau, anakmu di cap buruk karena merusak rumah tangga orang?”


“Tentu saja tidak.” Jawab wanita itu dengan cepat.


“Maka dari itu, tolong berhenti mengharapkan Regina. Dia sudah memiliki kehidupannya sendiri. Dan sekarang, saatnya aku juga memulai hidupku sendiri.” Alvino pun menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia memijat pangkal hidung, kala merasakan pening tiba-tiba menyerang.


“Apa harus dengan Tamara?” Wanita paruh baya itu seperti belum bisa menerima.


“Apa itu?” Tanya sang mama yang penasaran.


“Bukan urusan mama.” Pria itu kemudian bangkit, dan mengenakan kembali jas yang ia gantung di dekat meja.


“Maaf, ma. Aku ada janji makan siang dengan klien.” Tanpa menunggu jawaban dari sang mama, pria itu pergi begitu saja.


*****


Di tempat lain, Regina sedang menyiapkan makan siang untuk sang suami di ruang kerja pria itu. Kini mereka telah kembali bekerja seperti biasa. Hanya saja, sekarang Jimmy ikut bertugas di kantor Sanjaya Group, membantu William. Mengingat, sekretaris pria itu, yang tak lain adalah istrinya, sedang dalam keadaan hamil.


Sebenarnya, William tidak mengijinkan Regina untuk kembali bekerja, namun wanita itu merajuk. Dan mengancam akan kembali kepada orang tuanya. Tentu sang suami tidak mau itu terjadi. Pria itu bahkan sudah menjadi budak cinta sejak pertama kali mereka bertemu. Ia rela mengalah, membiarkan sang istri tetap bekerja, namun dengan syarat tak boleh terlalu lelah.


Mereka juga sudah kembali tinggal di rumah keluarga Sanjaya, dan di akhir pekan akan di habiskan di apartemen.


“Dad, makanan siap.” Ucap Regina memanggil sang suami yang tengah fokus dengan komputer lipatnya. Sementara Regina menata makanan di balkon ruangan itu.


William bergegas, ia mencuci tangan di wastafel yang tersedia di mini pantry, kemudian menghampiri sang istri.


Sebelum mengambil tempat duduk, pria itu menyempatkan diri mengecup pipi sang istri.;


“Makanan pembuka.” Ucap William dengan cepat, kala sang istri menatapnya dengan mata membulat.


Mereka kemudian duduk berdampingan satu sama lain.


Setelah makanan habis, mereka tak serta merta kembali bekerja. Waktu istirahat yang tersisa, mereka gunakan untuk mengobrol.


Di sela obrolannya, Regina mengambil ponsel, mengambil beberapa gambar dirinya dan suami. Setelah itu mempostingnya di akun media sosial.


Saat hendak menutup laman jejaring sosial, mata wanita hamil itu membulat dan bibirnya menganga sempurna.


“Daddy..” ucapnya tertahan, membuat sang suami menoleh ke arah wanita itu.


“Ada apa?”


Regina tak sanggup bicara, ia menyodorkan ponsel itu pada sang suami.


“HOT NEWS!!” William mulai membaca judul berita.


“Model cantik Willona Sanjaya, beberapa waktu lalu terlihat memamerkan kemesraan bersama pacar baru.” William menatap tak percaya ke arah sang istri. Wanita itu kemudian mengusap layar, dan terlihatlah gambar sang adik ipar, tengah mencium seorang pria. Namun, wajah pria itu membelakangi kamera.


“Dad, aku merasa tak asing dengan postur tubuh pria itu.” Ucap Regina pelan.


“Hmm. Sepertinya aku juga, Hon.”


Mereka berdua saling pandang. Kemudian secara bersamaan menggelengkan kepalanya.


“Reka.”


.


.


.


Bersambung.