BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 50. Sudah Berakhir.



Silau karena cahaya matahari yang masuk kedalam kamar, karena tirai jendela yang terbuka lebar, membuat tidur William terusik. Dengan kepala yang terasa masih berat, pria itu mencoba untuk bangun.


Pandangan William masih sayu, ia berusaha memindai sekitarnya. Kemudian bisa bernafas lega, kala ia mendapati dirinya berada di apartemen.


“Jadi aku tidak bermimpi?” Ia menegakkan posisi badannya. Kemudian menyingkap selimut yang menutupi bagian tubuh bawahnya.


“Astaga.. jadi semuanya nyata?” Pria itu tersentak. Ia mengumpulkan kembali kepingan ingatan yang tercecer. Merangkai menjadi satu ingatan utuh.


Terlintas kembali, saat ia mulai meminum minuman beralkohol, kemudian kembali pulang dengan keadaan setengah mabuk. Dan bertemu Regina di ruang tamu.


“Untung aku tidak bicara yang aneh-aneh. Regina bisa meninggalkan aku, jika dia tau mama ingin aku menikah dengan anak om Regan.”


Ia kemudian teringat kala ia dan Regina masuk ke dalam kamar. Hingga pergulatan panas mereka terjadi.


“Boy, semoga kamu memberikan hasil yang terbaik.” Ucapnya menunduk ke arah si boy bersemayam. Ia pria itu menggelengkan kepalanya, mengingat betapa liar dan ganasnya ia menumbangkan Regina semalam.


“Kamu sudah bangun?” Suara Regina menginterupsi lamunan William. Pria itu dengan cepat menutup kembali bagian tubuh bawahnya.


“Honey?”


“Minumlah dulu. Ini air lemon hangat. Siapa tau mampu meredakan mabuk mu.” Regina menyerahkan cangkir berisi air lemon hangat kepada William.


“Thanks. Honey.” Pria itu meraih cangkir. Kemudian menyeruput isinya.


“Apa yang terjadi?” Tanya Regina sembari mendaratkan bokongnya di sisi William. Ini adalah akhir pekan. Jadi mereka tidak bekerja.


“Maksudmu?” Tanya William sembari meletakan cangkir di atas nakas.


Regina membuang nafasnya pelan. Ia tau, ada hal yang sedang William sembunyikan darinya. Selama mengenal pria itu, Regina belajar banyak hal. William tak pernah menyembunyikan apapun darinya.


“Kenapa kamu sampai mabuk? Minum berapa botol?”


William mencebik. Alasan yang ia ucapkan semalam ternyata tak di percaya oleh sekretarisnya itu.


“Bukannya sudah aku katakan, ada minuman keluaran terbaru yang masuk ke dalam klub. Jadi aku mencobanya.”


“Tidak harus sampai mabuk, kan? Memangnya seberapa enak, sampai kamu keterusan?”


Pria itu menyeringai. Ia kemudian meraih jemari Regina, dan menggenggamnya lembut.


“Seenak dirimu, Honey. Karena itu, aku sampai ketagihan merasaimu setiap hari.”


Regina membuang pandangannya ke lain arah. Pipinya bersemu merah. William tetaplah William, pria paling me*sum yang pernah ia kenal.


“Maafkan aku, Honey. Semalam mungkin malam paling kasar yang pernah kita lalui.” Ucap William yang kemudian mengecup punggung tangan Regina.


Wanita itu kembali menatap sang atasan. Kepalanya menggeleng kecil.


“Asal kamu tidak memukulku. Bagiku yang semalam, tidaklah kasar.”


Mata mereka saling bertemu. Tatapan itu pun terkunci satu sama lain. Dan entah siapa yang memulai, bibir mereka telah saling menyesap secara bergantian.


“Aku mencintainmu.” Ucap William di sela pagutan mereka. Kepala Regina hanya mengangguk. William tau, wanita itu belum bisa membalas ungkapan hatinya. Namun, sampai kapan pun, William tidak akan lelah mengucapkan kata Cinta kepada sang sekretaris.


“Mau mandi? Atau sarapan dulu?” Tanya Regina kemudian, setelah pagutan mereka terlepas.


“Kamu sudah membuat sarapan?” Kepala Regina mengangguk.


“Tidak lelah?” Tanya William kembali. Ia ingat, mereka bergulat hingga tengah malam.


“Sedikit, lagi pula ini sudah jam 9 pagi.”


Mata William membulat. Pantas saja sinar matahari begitu terang memasuki kamarnya. Ternyata waktu sudah mendekati siang.


“Aku mandi dulu. Setelah itu kita sarapan. Apa kamu mau kita jalan-jalan setelah ini?”


“Tidak. Aku mau istirahat saja di rumah. Lagipula masih ada beberap berkas yang perlu di periksa.”


William mengangguk. Ia kemudian menyibak selimut, dan turun dari atas ranjang.


Regina memalingkan wajahnya. Pipi wanita itu memanas. Kala sang atasan tanpa tau malu, melenggang ke kamar mandi tanpa sehelai benang.


****


Perasaan Tamara mendadak tak tenang, setelah mendapat kabar dari rumah sakit tempat neneknya dirawat. Pihak rumah sakit mengatakan jika keadaan sang nenek menurun.


Dengan terburu-buru, Tamara mengemasi tas tangan yang sering ia bawa. Kemudian keluar dari kamar.


“Mau kemana, Ta?” Tanya Alvino yang baru selesai menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


“Aku harus ke rumah sakit. Keadaan nenek menurun.” Dengan cepat wanita itu berjalan menuju ke arah pintu keluar.


“Nanti saja.”


Alvino mematung, ia nampak berpikir sejenak. Sedetik kemudian, ia mengikuti Tamara yang keluar dari apartemennya.


“Aku ikut.” Sela pria itu, ketika pintu lift hendak tertutup. Tamara pun menganggukkan kepalanya.


Hampir 15 menit berkendara, Tamara dan Alvino sampai di rumah sakit, dimana sang nenek dirawat. Selama ini, nenek Tamara mengalami koma, karena penyakit stroke yang di deritanya.


“Bagaimana keadaan nenek saya, sus?” Tamara bertanya pada suster yang baru saja keluar dari ruang UGD.


“Sedang di tangani oleh dokter, Bu.” Suster pergi berlalu karena sedang terburu-buru.


Hampir satu jam menunggu di depan ruang UGD, akhirnya dokter yang sering menangani sang nenek keluar.


“Dok. Bagaimana keadaan nenek saya?”


Kepala dokter pria itu menggeleng samar. Ia mengehela nafas pelan, sebelum memberitahukan kabar sang pasien.


“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi, Tuhan berkehendak lain. Nenek anda telah meninggal dunia.”


“Tidak, itu tidak mungkin.” Tamara histeris. Dengan sigap, Alvino mendekap tubuh sang sekretaris.


“Tenang, Ta. Ikhlaskan kepergian nenek.”


“Tidak, Al. Ini tidak mungkin. Nenek tidak mungkin pergi meninggalkan aku sendiri.” Ucap Tamara sembari terisak. Dunianya seakan runtuh. Satu-satunya keluarga yang ia miliki, kini telah pergi meninggalkan untuk selamanya.


“Tenangkan dirimu, Ta. Kamu masih punya aku.” Alvino mendekap tubuh Tamara dengan erat. Ia berusaha untuk menyalurkan ketenangan untuk wanita itu.


“Aku ingin melihat nenek, Al.” Alvino mengangguk. Ia meminta ijin kepada dokter untuk melihat nenek Tamara.


Sampai di dalam ruang UGD, tangis Tamara semakin pecah. Kala mendapati tubuh kaku sang nenek telah di selimuti, hingga ke ujung kepala. Wanita itu pun menghambur ke arah ranjang pasien.


“Nek.. bangun, nek. Kenapa nenek tega meninggalkan aku? Aku sendirian, nek.” Ucapannya sembari memeluk tubuh kaku sang nenek.


Alvino mendekat. Ia mengusap lembut punggung Tamara.


“Ikhlaskan nenek, Ta. Jika kamu begini, perjalanan nenek akan berat.”


Mendengar ucapan Alvino, Tamara pun menegakan tubuhnya. Ia mengusap air mata yang telah membasahi wajahnya.


“Al.” Wanita itu menghambur kedalam pelukan atasannya.


“Tenanglah. Masih ada aku. Kamu tidak sendirian.”


Setelah merasa lebih tenang, Tamara akhirnya keluar dari ruang UGD, untuk mengurus segala sesuatu, agar jenazah sang nenek bisa di bawa pulang.


Alvino dengan setia menemani sang sekretaris. Sesekali pria itu mendekap tubuh Tamara yang masih bergetar menahan tangis.


“Jangan menangis lagi. Nenek pasti sedih melihat mu begini.” Tak jarang Alvino juga melabuhkan kecupan di atas kepala Tamara.


“Ck, jadi begini kelakuan mu di belakang kakakku?” Suara seorang pria menginterupsi Alvino dan Tamara. Sontak mereka saling melepaskan diri.


“Reka?” Alvino ingat, Regina dulu pernah menyebut nama sang adik.


“Ternyata kamu tau siapa namaku.” Reka mencebik. Ia yang mendapat panggilan tugas di rumah sakit pusat tempatnya bekerja, ternyata mendapatkan sebuah kejutan.


“Apa yang akan kakakku lakukan, jika tau tentang kelakuan mu?”


“Aku dan kakakmu sudah berakhir.”


Reka kembali mencebik. Ternyata pria di hadapannya benar-benar seorang pecundang.


“Baguslah kalau begitu. Dan semoga kakakku tidak mau bertemu dengan mu lagi.”


.


.


.


Bersambung.


Teman Readers,, Aku mau kasih lebel END di cerita ini, karena levelnya sudah sangat melorot.


Tapi cerita ini belum END kok. Aku hanya menyelamatkan lapak William dan Regina dari kepunahan.


Terima Nasib 😪