BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 122. Menikahlah Denganku, Tamara.



Dalam perjalanan pulang, Tamara hanya diam. Baik itu saat pesawat, maupun kini setelah tiba di ibukota. Wanita itu benar-benar membatasi diri dengan Alvino.


Ia mengingat ucapan Regina.


“Lakukan semuanya untuk anakmu.”


Ya, Tamara melakukan semuanya untuk bayi yang ada di dalam perutnya. Anak itu membutuhkan kehadiran sosok ayah dalam hidupnya. Karena itu, ia memutuskan untuk ikut dengan Alvino.


“Apa kamu mau makan sesuatu, Ta?”


Pertanyaan dari Alvino menyadarkan Tamara dari lamunannya. Kini mereka tengah berada di dalam mobil. Waktu menunjukkan pukul 6 sore ketika mereka tiba di ibukota.


“Hmm, apa saja untuk makan malam.” Jawab wanita itu tanpa menatap lawan bicaranya.


Alvino hanya mampu menghela nafas menghadapi sikap Tamara padanya. Pria itu menyadari, ia lah yang salah disini. Penolakan yang ia lakukan beberapa waktu lalu pasti membuat wanita itu sakit hati.


Ia pun mengajak wanita hamil itu makan malam di restoran yang sering mereka kunjungi.


Hening kembali tercipta saat mereka menikmati makan malam. Tamara hanya bicara seperlunya. Setelah itu akan kembali diam. Alvino berusaha keras meluaskan rasa sabarnya.


Setelah makan malam, Alvino membawa Tamara ke apartemen pria itu.


“Kenapa kemari?”


Alvino mencebik. Benar dugaannya, wanita itu pasti akan bersuara jika ia membawa ke apartemen miliknya.


“Mulai sekarang kamu akan tinggal disini.” Pria itu membuka sabuk pengamanan yang membelenggu tubuhnya. Ia juga melakukan hal yang sama pada Tamara. Alvino kemudian keluar dari dalam mobil, lalu membukakan pintu untuk wanita itu. Pria itu lantas mengeluarkan koper milik Tamara.


“Ayo.” Tangan Alvino terulur ke arah wanita itu, karena Tamara masih setia duduk di dalam mobil.


Menghela nafas pelan, wanita itu pun menurut dan keluar dari dalam mobil.


“Kenapa tidak membawa ku ke apartemenku?” Tamara belum terima jika dirinya tinggal di tempat Alvino.


“Sudah aku jual.” Jawab Alvino dengan enteng.


Alis Tamara bertaut, namun ia tidak menanggapi lebih jauh. Lagi pula, tempat itu memang milik Alvino. Terserah pria itu ingin menjual atau tidak.


“Ayo masuk.” Ucap Alvino sembari membuka daun pintu.


Dengan malas, Tamara memasuki hunian itu. Ia memindai segala penjuru ruangan. Masih tetap sama, seperti terakhir kali ia kesini. Tetapi, kapan terakhir kali wanita itu datang ke tempat ini? Entahlah. Ia pun lupa hal itu.


Alvino terus mengamati pergerakan wanita itu. Mulai dari masuk ke dalam kamar, kemudian membersihkan diri, lalu berganti pakaian. Tentu saja Tamara berganti pakaian di dalam kamar mandi, ia hanya keluar untuk mengambil baju ganti.


Melihat Tamara telah kembali ke dalam kamar, kesabaran Alvino pun menipis. Ia tidak bisa lebih lama saling diam seperti ini. Yang ada masalah di antara mereka tidak akan terselesaikan.


“Sudah cukup.”


Tamara tersentak karena tiba-tiba lengannya di tarik oleh Alvino. Ia yang tengah berdiri menghadap pada cermin meja rias, kini menjadi saling berhadapan dengan pria itu.


“Sudah cukup, Ta. Kita harus bicara. Masalah tidak akan selesai jika kita hanya diam.”


Tamara menatap Alvino dengan nyalang.


“Bicara tentang apalagi, Al? Bukannya aku sudah mau ikut denganmu? Sekarang apalagi?”


Alvino menghela nafas frustrasi. Ia kemudian menangkup kedua pipi wanita itu.


“Dengarkan aku, Tamara Pradipta. Aku membawamu kemari, bukan hanya sekedar untuk tinggal. Tetapi— pria itu kembali menghela nafasnya. Ia kemudian merogoh saku celana yang ia gunakan.


“Tetapi aku ingin kita menikah. Hidup bersama dalam ikatan pernikahan.” Ucapnya kemudian. Sebuah kotak beludru berwarna merah, benda yang ia simpan sejak kemarin.


“Menikahlah denganku, Tamara.” Alvino membuka kotak itu, sebuah cincin emas putih tersemat di dalamnya.


Tamara hanya diam. Ia masih berusaha mencerna semua ini.


“Lalu bagaimana dengan orang tuamu?” Wanita itu akhirnya berani mempertanyakan hal yang membelenggu hatinya.


“Aku tidak perduli. Aku sudah dewasa, aku berhak menentukan jalan hidupku. Aku mungkin berdosa menentang orang tuaku. Tetapi, aku akan lebih berdosa jika menelantarkan darah dagingku.”


Tamara menatap dengan lekat pria di hadapannya. Ia mencoba menyelami, mencari jawaban dari kedua mata pria itu. Tidak ada keraguan, mungkin pria itu kini telah berubah.


“Kita hadapi semuanya berdua, Ta. Aku sudah banyak melakukan dosa. Aku tidak ingin menambah dosa lagi. Aku tidak ingin di benci oleh anakku.”


Kepala Tamara mengangguk. Tidak ada gunanya berkeras hati, karena akan menyakiti diri sendiri.


****


“Apa kamu merasa senang, Honey?” Tanya William kepada sang istri. Mereka kini sedang berdiri di teras belakang rumah, menikmati indahnya malam. Sembari menatap hamparan bintang di langit.


“Senang sekali, dad. Terimakasih telah mengajak aku pulang. Walau hanya sebentar, setidaknya bisa mengobati rinduku pada ayah dan ibu.”


William tersenyum bangga. Ia kemudian memindai keadaan sekitar. Dirasa aman, pria itu kemudian mendekap sang istri dari belakang.


“Apapun yang membuatmu senang, akan aku lakukan.” Ucapnya sembari mengeratkan pelukan. Regina pun membalas dengan menyandarkan punggungnya pada dada bidang sang suami.


“Apa itu artinya daddy benar menguping pembicaraan ku dengan Reka?” Selidiki sang istri, setelah mendengar ucapan William.


“Tidak.” Pria itu masih saja tidak mau mengaku.


“Jangan bohong. Aku mengenalmu dengan baik, William Antony. Jujur saja. Aku tidak akan marah.”


William tak menjawab, ia justru menyerukan wajahnya pada leher sang istri. Mengendus aroma yang menguar dari kulit wanita hamil itu.


“Astaga. Apa yang kalian lakukan disini?”


Suara bariton tiba-tiba mengagetkan sepasang suami istri itu. Yang membuat pelukan mereka terurai.


“Ayah.” Ucap William dan Regina bersamaan.


Pak Regan yang hendak mengambil sangkar pipit, dan akan memasukkan ke dalam rumah, justru mendapatkan tontonan gratis dari anak dan menantunya.


“Kalian? Apa tidak cukup di kamar? Jika ada tetangga yang melihat bagaimana? Astaga, apa salahku sehingga memiliki anak dan menantu yang tak tau tempat begini.”


“Ayah, ini tidak seperti yang ayah pikirkan.” Regina mendekat pada sang ayah, kemudian meraih tangan pria paruh baya itu.


“Apa yang tidak seperti yang aku pikirkan? Mataku belum buta. Masih melihat dengan jelas.” Pak Regan menepis tangan sang putri.


“Jelas-jelas aku melihat menantu mes*umku itu mengendus mu.” Ucapnya sembari menujuk sang menantu.


Mata William membulat mendengar ucapan sang mertua.


“Ayah aku bukan pria mes*m.” Tukasnya tak terima. Ia pun mendekat ke arah sang istri dan mertuanya.


“Perut Regina bukti nyata. Jika kamu bukan pria mes*um, dia tidak mungkin hamil di luar nikah.”


Ucapan pak Regan seketika membungkam William. Ia tidak bisa menjawab lagi. Karena pada kenyataannya, yang pria paruh baya itu katakan, benar adanya.


“Ayah.”


.


.


.


Bersambung.