
Tamara memutuskan kembali ke kantor. Ia berpikir, mungkin Alvino kembali ke rumah orang tuanya. Dan tak mungkin juga Tamara mencari atasannya ke sana. Mengingat kedua orang tau pria itu tau tentang hubungan mereka. Dan menentangnya.
Namun, saat di parkiran kantor, dahi wanita hamil itu berkerut. Ia mendapati mobil Alvino telah terparkir disana. Dengan langkah cepat, Tamara memasuki bangunan berlantai lima itu.
“Al?” Ucapnya memasuki ruangan Alvino. Pria itu tengah duduk di kursi kerjanya pun geram.
“Dimana sopan santun mu, Tamara?”
Deg..
Tamara merasakan ada yang berbeda dari nada bicara Alvino.
“Al..?”
“Aku sedang sibuk. Jangan menggangguku.”
“Tapi…”
“KELUAR!!!”
Tamara menutup telinga dengan kedua tangan karena suara Alvino menggelegar di ruangan itu. Perlahan kakinya mundur, air matanya pun kembali menetes.
“Mungkin Al butuh waktu sendiri. Biarkan dia sendiri dulu, Ta.” Tamara bermonolog. Ia pun mengusap air mata uang membasahi pipinya.
Wanita itu pun melanjutkan pekerjaannya. Ia akan memberi waktu untuk Alvino sendiri dulu. Sama halnya dengan Alvino, Tamara pun belum siap menerima kenyataan yang terjadi.
Bukan tidak ingin mengandung anak dari Alvino, tetapi Tamara ingin anak itu hadir saat cinta di antara mereka telah tumbuh. Bukan di saat seperti ini.
Membuang nafasnya kasar, Tamara pun melanjutkan pekerjaannya.
****
“Kita makan siang dimana, Na?” Tanya Kinar sang asisten yang sedang memegang kemudi. Sementara, Willona duduk di samping kirinya. Mereka tengah berada di jalan raya. Setelah melakukan pemotretan di pagi hari, kini saatnya untuk mengisi perut.
“Kedai pak Rahmat saja, Kin. Sudah lama aku tidak kesana.” Willona menyebut tempat makan yang sering ia kunjungi saat kuliah dulu.
Meski gadis itu berprofesi sebagai seorang model, dan terlahir dari keluarga berada, ia tak pernah memilih dalam mencari tempat makan. Bahkan menurut Willona, lebih baik berbelanja di tempat pengusaha kecil. Hitung-hitung membantu perekonomian mereka.
Kinar menganggukkan kepalanya, tanda menurut. Ia merupakan sahabat Willona sejak kuliah. Namun, takdir berkata lain. Orang tua Kinar hanyalah buruh serabutan. Beruntung ia bertemu Willona kembali setelah dirinya di PHK dua tahun lalu.
Mobil sedan hitam yang mereka tumpangi, sampai di tempat tujuan. Willona kemudian turun, sebelum memasuki tempat makan itu, ia tak lupa memakai kaca mata hitamnya.
Willona memesan makanan kesukaannya. Kemudian mengambil tempat duduk. Namun, langkah gadis itu melambat, kala melihat seorang yang ia kenali duduk di salah satu meja.
“Ada apa, Na?” Tanya Kinar bingung.
“Kenapa dunia sesempit ini, Kin. Lihatlah, dia pria menyebalkan itu?” Willona menunjuk dengan dagunya, tempat dimana pria yang sudah tiga kali ia temui.
“Sepertinya dia memang jodohmu, Na.” Kinar justru menanggapi lain.
“Kamu mau aku pecat? Kenapa bicara sembarangan?”
Kinar mencebik. “Aku siap mengundurkan diri jika kalian berjodoh.”
“Kinar!! Kenapa berbicara sembarangan.”
Suara Willona sedikit meninggi. Sehingga membuat beberapa pengunjung kedai menoleh ke arahnya. Tak terkecuali pria itu.
Pria yang sedang asyik menikmati makan siangnya itu pub mencebikan bibirnya. Ia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan gadis tinggi itu.
“I Got you, babe.”
Ia pun melanjutkan makan, tanpa menghiraukan kedua gadis itu. Pria itu yakin, setelah ini, mereka akan sering bertemu.
“Eh,, apa-apaan ini?” Willona mencoba merebut tas itu. Namun tenaga pemuda itu lebih kuat darinya.
“Tolong, copet!!” Teriaknya.
“Na!!” Kinar panik, ia meninggalkan beberapa lembar uang di meja kasir, kemudian menyusul kedepan.
“Na, ada apa?”
“Kinar tas ku kecopetan.”
Pria yang sedari tadi memperhatikan Willona pun bergerak, ia mengejar pemuda yang telah merebut paksa milik orang lain.
Baku hantam pun terjadi, hingga sang pemuda menyerah. Dan lari ketakutan.
“Ini tas mu. Lain kali lebih berhati-hati lah.” Ucap pria itu menyerahkan tas milik Willona.
Willona membuang nafasnya kasar. “Terima kasih banyak atas bantuannya.” Ucap gadis itu dengan tulus.
Pria itu hanya mencebikan bibirnya. Kemudian memutar badan, untuk pergi.
“Hei, tunggu.” Willona mengejar pria itu.
“Kita sudah bertemu beberapa kali, aku akui kesan pertama pertemuan kita memang buruk, tetapi bagaimana jika kita berkenalan? Supaya kedepannya, tidak ada lagi ketegangan di antara kita.”
Pria itu kembali mencebik. Ia pun melanjutkan langkahnya.
“Heh? Sombong sekali dia.” Gerutu Willona. Jika bukan karena sudah di tolong, mungkin gadis itu akan melempar kepala pria itu dengan tasnya.
“Hei, aku serius. Anggap sebagai ungkapan rasa terima kasih ku kepadamu.”
Pria itu berhenti. Dan Willona pun mendekat kepadanya.
“Perkenalkan, nama ku Willona.” Gadis itu menjulurkan tangannya.
“Aku Reka.” Pria itu menyebutkan namanya, namun tak menyambut tangan Willona. Ia kemudian berlalu begitu saja.
“Hei.. dasar pria sombong. Awas saja jika kita bertemu lagi.” Adik William itu berteriak di parkiran kedai itu. Ia pandangi pria yang telah masuk kedalam sebuah taxi.
“Siapa tadi namanya? Reka? Apa itu nama orang? Kuno sekali.” Ucapnya lagi.
“Bagaimana? Apa kamu sudah puas sekarang? Kamu sudah tau nama pria tampan itu kan?” Kinar datang mendekat.
“Pria paling sombong yang pernah aku temui.”
Willona pun berjalan menuju mobilnya.
Sementara itu, di dalam sebuah taxi, Reka tersenyum sendiri mengingat tingkah Willona. Gadis yang beberapa kali tanpa sengaja ia temui. Gadis yang telah mencuri hatinya saat pertama kali bertabrakan di bandara.
Selain untuk menjaga Regina, tujuan lain Reka menerima tawaran pemindahan tugas adalah agar bisa bertemu kembali dengan gadis yang ia tabrak di bandara waktu itu. Dan, sepertinya takdir memang berpihak kepadanya.
Ya. Pria yang menabrak Willona dua kali di bandara, dan yang menjadi pasangan dadakan Willona saat pemotretan adalah Reka, adik dari Regina.
.
.
.
Bersambung.