
Setelah pulang kantor, dan makan malam di rumah bersama keluarga, William memutuskan pergi ke klub. Ia perlu mengalihkan pikirannya sebentar, agar semua amarah benar-benar pergi. Selain itu, sudah lama pula, suami Regina itu tidak mengunjungi tempat yang sudah memberikan penghasilan milyaran padanya.
“Jangan pulang terlalu larut, dad.” Pesan sang istri saat pria itu berpamitan untuk pergi ke klub.
Sejujurnya, Regina enggan membiarkan sang suami pergi. Ia takut, pria itu akan banyak minum dan lepas kendali. Karena wanita itu tau, suaminya masih diliputi amarah, walau tak sebesar tadi siang.
“Tidurlah terlebih dulu. Jangan bergadang.” William mengecup kening sang istri. Kemudian memakai jaket kulit yang wanita itu siapkan.
“Aku tidak akan tidur, sebelum daddy kembali.” Ucap sang istri yang membuat langkah William terhenti. Pria itu membuang nafasnya kasar.
“Iya, aku tidak akan lama.” Putus William, kemudian melangkah keluar kamarnya.
Regina menatap nanar pintu kamar yang telah tertutup rapat. Ia merasa kehilangan kehangatan yang selalu William berikan padanya. Wanita itu takut, kejadian tempo hari ketika pria itu tau Regina adalah putri pak Regan, akan terulang kembali.
“Hanya karena aku belum pernah mengucapkan kata cinta padamu, kamu jadi begini, Will. Apa aku harus setiap detik mengucapkan kata cinta itu, agar kamu percaya aku mencintaimu? Aku sudah menjadi milikmu. Aku mengandung anakmu. Apa masih kurang pembuktian cinta yang aku berikan?”
Regina bermonolog. Ia kemudian berbalik hendak menaiki ranjang. Namun, bingkai foto berukuran besar yang menempel di atas tempat tidur, menyita perhatiannya. Gambar yang di ambil di hari pernikahannya dengan William.
Senyum pria itu nampak begitu menawan. Rona kebahagiaan pun sangat jelas terlihat. Begitu pula dengan Regina yang berdiri di samping sang suami.
“Apa kamu sudah lupa dengan sumpah pernikahan yang aku ucapkan?” Setetes air mata turun mengilir di pipi wanita hamil itu. Perasaan yang sangat sensitif, membuatnya mudah sekali menitikan air mata.
Menarik dan membuang nafas berulang kali, agar perasaannya lebih tenang, Regina pun memutuskan untuk merebahkan diri di atas tempat tidur.
Sementara itu, William yang baru saja tiba di klub, langsung meminta bartender membuatkan minuman untuknya.
“Tumben minum dari gelas, bos? Biasanya juga langsung dari botolnya.” Ucap sang peracik minuman sembari menyerahkan segelas cocktail pada sang atasan. Pria muda itu sedikit heran, karena William meminta minuman berkadar alkohol rendah.
“Takut di amuk nyonya.” Ucap William sembari menyesap gelas kaca berbentuk bulat itu.
“Jadi sekarang gelarnya nambah nih, bos. Jadi William Sanjaya, S.T.I ?” Tanya pria muda itu terkekeh.
Alis William berkerut, ia menatap penuh tanya pada bartender itu.
“Apa maksudmu S.T.I ?”
“Suami Takut Istri.” Ucap pria muda itu tergelak.
“Kurang ajar kamu.” William ikut terbahak. Ia akui, dirinya memang telah menjadi budak cinta sang istri, bahkan sejak malam pertama mereka bertemu. Dan sekarang, mungkin benar yang di ucapkan oleh bawahannya itu, jika dia memang seorang suami yang takut istri. Lebih tepatnya, suami yang sangat mencintai istrinya, dan takut di tinggalkan. Karena itu, ia akan melakukan apapun, agar wanita itu tetap berada di sisinya.
Setelah puas menikmati minuman, William kemudian menemui menejer klub, untuk sekedar menanyakan perkembangan usahanya.
“Semuanya baik-baik saja, bos.” Ucap sang menejer. Dan William pun mengangguk sebagai jawaban.
Pria itu kemudian melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Tak terasa dua jam sudah ia meninggalkan sang istri. William ingat, wanita itu mengatakan akan menunggunya. Ia pun memutuskan untuk pulang.
Namun, belum jauh ia melangkah, pandangannya tanpa sengaja melihat mantan kekasih sang istri yang tengah duduk di atas salah satu sofa, nampak seorang wanita berpenampilan se*si berusaha merayu pria itu, namun sepertinya Alvino tak tertarik dan mengusir wanita itu.
William mencebikkan bibirnya, ia kemudian menghampiri mantan kekasih sang istri.
“Ternyata imanmu kuat juga ya, bung.” Ucapnya dan begitu saja duduk di samping Alvino tanpa permisi.
“Siapa yang mempersilahkan mu untuk duduk disini?” Tanyanya ketus.
“Santai, bung. Ini tempatku. Aku bisa duduk di manapun yang aku mau.” Jawab William jumawa.
Alvino tak menanggapi, ia kembali menikmati minumannya.
“Mabuk tidak akan menyelesaikan masalah, bung. Yang ada, justru menambah masalah baru jika sampai ada wanita yang memanfaatkan keadaanmu.”
“Aku tidak mabuk.” Jawab Alvino singkat.
“Ya, saat ini memang tidak, baru setengah botol, tapi nanti setelah satu habis, kamu pasti akan meminta kembali.”
“Bukannya itu bagus? Semakin banyak aku minum, semakin banyak pula pemasukan mu?” Serang Alvino tak mau kalah.
“Ya, tetapi tidak untuk saat ini.” William menghela nafasnya kasar, kemudian kembali melanjutkan ucapannya.
“Kamu tau, masalah tidak akan selesai hanya dengan kita mabuk? Masalah itu ada untuk di hadapi. Bukan menyerah begitu saja.”
Alvino mencebik. “Tau apa kamu tentang masalahku? Siapa yang menyerah?”
“Aku tau. Kamu pasti sudah menyerah mencari sekretaris mu itu, kan? Karena itu, kamu berada disini. Jika kamu belum menyerah, aku yakin kamu tidak akan sempat datang ke tempat seperti ini. Kamu akan fokus mencari keberadaannya. Tak perduli siang, malam, panas, ataupun hujan.”
Alvino menatap tak percaya ke arah suami dari Regina itu. Bagaimana pria itu bisa tau, jika dirinya memang telah menyerah mencari keberadaan Tamara? Apa dia seorang cenayang?
“Apa kamu seorang cenayang?” Pertanyaan bodoh terlontar dari bibir pria itu. Membuat William menganga seketika.
“Wah, bicara mu sembarangan. Jika aku cenayang, aku akan memberitahumu dimana keberadaan sekretaris mu itu. Seenaknya saja mengatakan aku cenayang.” William berdecak kesal.
“Aku berkata begitu, karena aku pernah ada di posisimu meski dalam kasus yang berbeda.”
Alvino pun menanggapi dengan anggukan kepala.
“Sudah, sekarang lebih baik kamu pulang. Jika kamu benar-benar menginginkan wanita itu kembali, maka berjuanglah lebih keras lagi.”
“Apa kamu sedang menggurui ku, karena telah berhasil memiliki Regina?”
“Tidak, untuk apa aku menggurui orang yang lebih berpengalaman? Aku beritahu kamu, aku bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya. Tetapi, sekalinya aku bertemu Gina, aku langsung jatuh cinta padanya. Dan, aku selalu berusaha menjaga apa yang sudah menjadi milikku.”
Tanpa menunggu jawaban dari Alvino, William kemudian bangkit. Dan meninggalkan mantan kekasih dari istrinya itu. Ia harus cepat pulang. Tak ingin wanita itu menunggu lebih lama lagi.
.
.
.
Bersambung.