
Di pagi yang sama, saat William mencari Regina ke rumah kontrakan.
Tamara sedang dalam perjalanan menunju perusahaan Mahendra. Ia telah memantapkan diri untuk berhenti bekerja di perusahaan itu. Sudah cukup baginya untuk meminta belas kasihan Alvino. Namun pria itu masih mendiaminya.
Sejak semalam, wanita itu telah berpikir dengan matang. Ia bahkan telah mengemasi barang-barangnya. Apartemen yang ia tempati adalah pemberian Alvino. Tidak ada hak lebih lama untuk tinggal disana, jika Alvino sendiri sudah tidak menginginkan keberadaannya.
Menarik dan menghembuskan nafasnya berulang kali, Tamara keluar dari dalam taxi yang ia tumpangi. Tak lupa ia berpesan kepada sang sopir taxi, untuk menunggunya. Karena ia hanya pergi sebentar untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya pada Alvino.
Sampai di lantai ruang kerja Alvino, pintu ruangan itu masih terkunci. Tamara pun membuang nafasnya kasar. Ia kemudian menitipkan surat itu pada bagian HRD.
Dengan air mata yang mulai menganak sungai, Tamara mengemasi barang-barang di atas meja kerjanya. Ia membawa apa yang menjadi miliknya, dan meninggalkan apa yang bukan miliknya.
Berat untuk wanita berusia 26 tahun itu meninggalkan meja yang telah di tempatinya selama lebih dari dua tahun ini.
“Kita kemana, mbak?” Tanya sang sopir taxi.
Tamara menyebutkan alamat rumah sang nenek. Ia ingin singgah sebentar ke rumah yang penuh dengan kenangan itu, sebelum nanti pergi ke luar kota untuk melanjutkan hidupnya bersama calon anak yang sedang tumbuh di rahimnya.
“Kita akan hidup berdua. Berjanjilah, tidak akan menyusahkan aku kedepannya.”
Tamara berujar pelan ke arah perutnya. Tak lupa ia mengusap perut yang masih rata itu.
Terlintas di benaknya, akan beratnya kehidupan kedepan. Hamil tanpa sosok seorang pria yang menjadi ayah bayi itu. Entah akan bagaimana hidup Tamara kedepannya. Ia sekarang hanya mampu berpasrah. Kesalahan yang sengaja ia lakukan, telah membuat hidupnya di ambang kehancuran.
Andai bisa mengulang waktu, Tamara hanya ingin kembali pada waktu saat iya lupa meminum obat pencegah kehamilannya. Sehingga hal seperti ini tidak pernah terjadi.
***
Entah sudah berapa lama Regina pingsan. Kini tubuhnya menggeliat, perlahan ia mencoba membuka matanya.
Pusing masih terasa menyerang kepalanya.
“Kamu sudah bangun, nak?” Suara sang ibu yang ia dengar terlebih dulu.
“Bu.” Regina mencoba untuk bangun, dan nyonya Karin membantunya.
“Aku kenapa, Bu?” Tanyanya setelah ia duduk bersandar pada kepala ranjang.
“Katakan, anak siapa yang kamu kandung, Putri?” Bukan sang ibu yang berbicara. Tetapi sang ayah. Pria paruh baya itu kini diliputi amarah, setelah tadi dokter yang memeriksa sang putri, mengatakan jika kemungkinan wanita itu tengah hamil 4 minggu.
Regina mengangkat wajah dan mengedarkan pandangannya. Di ruangan itu tak hanya ada orang tuanya, namun juga pak Antony dan nyonya Aurel.
“Katakan, Putri Regina. Anak siapa yang kamu kandung?” Sang ayah kembali mengulang pertanyaannya. Kini dengan suara yang lebih keras.
Deg..
Hamil? Regina Hamil?
Wanita itu tersentak. Ia kemudian teringat jika dirinya sudah terlambat datang bulan selama dua hari. Tetapi bisakah itu dinyatakan hamil?
“Sabar, Gan.” Pak Antony menenangkan sahabatnya.
“Apanya yang sabar? Andai Willona yang hamil tanpa suami apa yang kamu lakukan, An? Katakan padaku?”
“Ayah.” Nyonya Karin menggeleng ke arah sang suami.
“Sayang.” Nyonya Aurel mendekat, dan menaiki tempat tidur. Wanita paruh baya itu duduk di sisi Regina kemudian mendekap tubuh lemah itu.
“Nak, katakan pada mama. Siapa ayah bayi yang sedang kamu kandung?”
“A-aku, ha-hamil, ma?” Tanya Regina dengan tergagap. Bagaimana ini bisa terjadi? Bukannya William selalu menggunakan pengaman?
“Sayang, kami tidak akan memarahimu. Katakan saja dengan jujur. Siapa ayah bayi itu? Dokter mengatakan jika kamu hamil empat minggu.”
Regina tersentak. Itu artinya, sudah lama ia dan William tidak menggunakan pengaman?
“PUTRI REGINA PRAYOGA!!”
Suara pak Regan menggelegar di dalam kamar itu. Membuat yang lainnya terlonjak.
“Ayah!!” Nyonya Karin menatap nyalang sang suami.
“Minta putrimu berbicara, sebelum kesabaran ku habis.”
“William.” Ucap Regina singkat.
“Apa?” Pak Antony, nyonya Karin tersentak bersama. Namun tidak dengan nyonya Aurel, karena ia sudah tau jika William dan Regina tinggal bersama. Kemungkinan hal di luar batas, pasti telah terjadi di antara mereka.
“Kamu kira aku bodoh? Kalian baru tidur bersama dua hari lalu. Bagaimana bisa kamu hamil secepat itu. Dokter mengatakan jika kemungkinan kamu hamil satu bulan. Jangan mencoba melindungi ayah bayi itu, dan melempar kesalahan pada William.”
“Gan, tenanglah.” Pak Antony mengusap bahu sang sahabat.
“Aku tidak bisa tenang. Jangan memintaku tenang, jika kamu berada di posisiku, pasti kamu akan lebih marah lagi.”
“Ayah, maafkan aku. Tetapi ini memang anak William.” Regina menundukan kepalanya. Jemari tangan bertaut saling meremat di atas pangkuan.
“Apa maksudmu?”
“A-ku, d-dan William. Ka-kami, kami tinggal bersama ayah.”
“APA?!!”
Pak Regan menatap nyalang sang putri. Sementara nyonya Karin menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Nak?”
“Maafkan aku, Bu.” Regina tak berani mengangkat wajahnya.
“Sudah, sayang.” Nyonya Aurel menarik kepala Regina, kemudian membenamkan dalam pelukannya.
“Maafkan aku, ma.” Ucap Regina mulai terisak.
“Ssstt.. tenanglah.” Nyonya Aurel mengusap lembut punggung Regina.
Pak Regan perlahan mundur. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Kemudian memijat keningnya yang mulai berdenyut.
Pak Antony ikut mengambil tempat di sisi sahabatnya itu.
“Katakan padaku, An. Dosa apa yang telah aku lakukan pada putramu? Sehingga dia melakukan ini pada putriku?”
“Maafkan aku, Gan. Aku yang telah lalai menjaga putraku. Sebelumnya, aku sudah melihat keteratarikan William pada Regina. Tetapi aku tidak menyangka jika hubungan mereka akan sejauh ini.”
Pak Antony menghela nafasnya pelan.
“Kita akan menikahkan mereka secepatnya. Mau tidak mau, William harus bertanggung jawab pada Regina.”
***
Sementara itu, William mencari Regina hingga ke kampung halaman wanita itu. Berbekal alamat rumah yang tertera pada kartu tanda penduduk yang William minta pada bagian HRD di kantornya.
“Mencari siapa ya, mas?” Tanya seorang wanita paruh baya kepada William yang sedang celingukan di depan pintu pagar rumah pak Regan.
“Saya mencari keluarga om Regan, Bu.” Jawab William dengan sopan.
“Regan dan istrinya belum kembali. Mereka sedang pergi ke ibukota untuk bertemu dengan anak-anaknya.”
“Ibu yakin? Apa tadi pagi mereka tidak kembali? Atau mungkin putri mereka?”
Ibu itu menggelengkan kepalanya.
“Aku yakin, mas. Regan itu menitipkan burung kesayangannya di rumahku. Dia akan mengambilnya nanti setelah kembali. Kalau tidak salah. Mereka disana selama satu minggu.”
William membuang nafasnya kasar. Ia kemudian pamit meninggalkan rumah itu.
“Kamu kemana, Honey?”
.
.
.
Bersambung.