
William mengambil cuti selama tiga hari untuk dirinya dan sang istri. Ia menyerahkan kembali kepemimpinan Sanjaya Group ke tangan sang papa untuk sementara waktu.
Pak Antony hendak melarang, namun William tak kehabisan akal. Ia mengatakan jika sang istri menangis setiap malam karena ingin pulang kampung.
“Mungkin itu bawaan bayi, pa. Cucu papa ingin tau kampung halaman nenek moyangnya.”
Begitulah kalimat yang William ucapkan kepada sang papa. Yang pada akhirnya membuat pak Antony memberi ijin cuti kepada anak dan menantunya.
“Honey, kamu tidak mengabari ayah dan ibu, kan?” Tanya William meyakinkan. Mereka sudah sepakat akan memberi kejutan pada pak Regan dan nyonya Karin. William bahkan melarang orang tuanya menghubungi sang mertua. Jika sampai bocor, William mengancam akan tinggal di apartemen setelah pulang dari kampung.
Dengan terpaksa, nyonya Aurel dan pak Antony menyanggupi, meski mereka ingin sekali mengabari besan, jika anak dan menantu mereka akan pulang.
“Iya, dad. Bahkan tadi ibu menelpon dan aku mengatakan akan bertemu klien.”
“Anak pintar.” Ucap William sembari menepuk lembut puncak kepala sang istri.
“Apa barang-barang sudah lengkap?” Tanya pria itu lagi. Mereka hanya akan membawa satu koper berukuran sedang. Karena disana hanya dua hari. Dan di hari ketiga sudah kembali ke ibukota.
“Sudah lengkap.” Jawab Regina tersenyum simpul.
“Ayo.”
William pun menggeret koper, dan mereka keluar dari dalam kamar.
Dengan di antar sopir, pasangan suami istri itu pergi ke bandara. Dan benar saja apa yang di katakan William saat memeriksakan kehamilan kemarin, pria itu meminjam jet pribadi milik salah satu temannya. Jadi ia dan sang istri tidak perlu repot mengantri.
“Apa iya teman daddy sebaik itu meminjamkan jet pribadinya?” Tanya Regina yang kini sudah duduk di dalam pesawat. Penumpang pesawat itu hanya mereka berdua, di temani dua orang pramugari dan dua orang pilot.
“Tidak sepenuhnya meminjam, aku membayar setengah harga.” Jawab William terkekeh.
Regina pun menganggukkan kepalanya.
“Istirahat lah dulu. Nanti aku bangunkan jika sudah sampai.”
Namun Regina menolak, ia ingin melihat pemandangan di atas awan.
Satu setengah jam pun berlalu. Jet pribadi yang membawa pasangan William dan Regina pun mendarat di tempat tujuan tanpa hambatan.
William telah memasan mobil jemputan secara online. Sehingga, saat mereka sampai, tidak perlu terlalu lama menunggu.
“Apa mau makan siang dulu?” Tanya William kepada sang istri. Waktu menunjukkan pukul sebelas siang, sebentar lagi jam makan siang tiba.
“Boleh. Aku juga sudah lapar.”
William menggangguk kemudian meminta sopir mencari tempat makan siang. Setelah makan siang, perjalanan pun di lanjutkan kembali.
Menempuh perjalanan darat kurang lebih satu setengah, akhirnya mereka sampai di kota yang menjadi kampung halaman orang tua Regina, dan mamanya William.
“Sepertinya, ayah dan ibu jam segini ada di toko. Kita ke sana saja, dad.” Ucap Regina kepada sang suami. Mereka masih berada di dalam mobil.
“Beritahu sopir, dimana alamatnya.” William memang tau dimana alamat toko sang mertua. Terakhir kali ia datang kesini mencari Regina, hanya sampai di rumah keluarga Prayoga.
Regina kemudian menyebutkan alamat toko orang tuanya. Lima belas menit kemudian, mereka pun tiba di depan toko mebel itu.
Sepasang suami istri itu pun turun dari dalam mobil. Sementara, sang sopir membantu menurunkan koper mereka.
“Wah, toko ayah besar juga, ya.” Ucap William terkagum-kagum melihat usaha milik mertuanya.
“Ya, berkat toko ini aku bisa sampai di ibukota, dan Reka menjadi seorang dokter.” Jelas Regina.
“Ayo kita masuk.” Regina menarik lengan sang suami. Ia sudah tidak sabar bertemu ayah dan ibunya. Pria itu pun mengikuti langkah sang istri sembari menggeret koper.
“Mbak Putri?” Seorang pegawai wanita yang bertugas di pintu masuk toko terkejut. Tidak ada pemberitahuan jika anak atasannya akan datang, biasanya nyonya Karin akan heboh jika Regina pulang.
“Kok tidak ada pemberitahuan kedatangan mbak putri?” Tanyanya terheran.
“Apa ibu ada di dalam?”
“Ya, ibu ada di dalam mbak.” Ucap gadis itu ramah. Pandangannya teralihkan dengan sosok pria tampan di belakang Regina.
“Mbak, apa itu suaminya?” Tanya gadis itu kepada Regina sembari berbisik.
“Iya, dia suamiku.”
Pegawai wanita itu mengangguk. Dengan cepat mengalihkan pandangan dari kekagumannya atas ketampanan suami Regina. “Mari mbak, mas, Silahkan masuk.” Ia kemudian membukakan pintu toko yang terbuat dari kaca itu.
****
“Bu?” Ucap Regina di ambang pintu ruang kerja sang ibu. Membuat wanita paruh baya yang sedang sibuk dengan buku catatannya mengalihkan pandangan.
Nyonya Karin menganga sempurna. Sedetik kemudian ia mengeleng-gelengkan kepala, kemudian mengucek mata.
“Putri? William?” Wanita paruh baya itu kemudian bangkit.
Regina tersenyum, dan berjalan mendekati ibunya.
“Kenapa datang tidak memberi kabar?”
Pasangan ibu dan anak itu saling memeluk satu sama lain.
“Kejutan, Bu. Apa ibu sudah terkejut?” Ucap Regina terkekeh.
“Sangat terkejut.” Ucap sang ibu.
“Ayo duduk. William kamu apa kabar, nak?”
“Aku baik, Bu.” William menyalami tangan ibu mertuanya kemudian menciumnya.
“Tunggu sebentar, ibu akan panggil ayah. Sepertinya dia masih ada disini. Kalin ini, lain kali beritahu kalau mau datang. Setidaknya ibu bisa menyiapkan sesuatu untuk kalian.” Nyonya Karin menggerutu panjang lebar.
“Aku sengaja meminta Gina tak mengabari, Bu. Aku ingin membuat kejutan untuk kalian.” William menjawab. Ia tidak mau ibu mertuanya menyalahi sang istri.
“Ya sudah.” Wanita paruh baya itu kemudian keluar dari ruangannya, untuk memanggil sang suami.
“Ini ruangan kerja ayah, Hon?” Tanya William sembari mengamati setiap sudut ruangan itu.
“Ya, tetapi lebih banyak di gunakan oleh ibu. Kan ibu general menejernya.” Ucap Regina terkekeh.
“Lihat, itu foto pernikahan kita.” William menunjuk bingkai foto di atas meja di sudut ruangan.
“Ah benar. Ternyata ibu manis juga.”
Saat tengah asyik berdua. Terdengar ketukan dari pintu ruangan itu.
“Bu, boleh aku masuk?”
Suara seorang wanita muda terdengar. Membuat sepasang suami istri itu menoleh secara bersamaan.
Deg..!!
“Kamu?”
.
.
.
Bersambung