BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 129. Persiapan Pernikahan.



Setelah kepulangan Reka dari rumah keluarga Sanjaya malam itu, pria muda itu pun menghubungi orang tuanya.


Dengan hati-hati, dokter muda itu menjelaskan tentang dirinya dan Willona. Yang tentunya membuat kedua orang tuanya di kampung kaget bukan main. Untung saja, pak Regan tidak mempunyai riwayat penyakit jantung. Sehingga keadaannya masih baik-baik saja.


Namun, keterkejutan itu pasti ada. Karena yang mereka tau, Reka masih mempunyai banyak tunggakan dan cicilan. Tiba-tiba mengatakan akan menikah, entah bagaimana pria muda itu akan menghidupi istrinya nanti.


Ingin meminta sang putra menunda pernikahan, hingga pria itu memiliki cukup bekal, namun sesuatu di luar batas telah terjadi di antara Reka dan Willona. Pak Regan tidak ingin kejadian Regina terulang lagi pada Willona. Maka dari itu, mau tak mau, ia pun menyetujui keputusan putra keduanya itu.


Dan disini lah mereka saat ini berada. Di rumah keluarga Sanjaya. Calon Besan yang akan menjadi besan lagi. Setelah kemarin di jemput oleh anak dan menantu di bandara.


Sebenarnya, nyonya Karin ingin datang lebih awal, namun sang suami harus mengurus pesanan mebel yang harus di kirim kepada para pembeli. Sehingga baru kemarin mereka bisa terbang ke ibukota.


Dan pagi ini, kesibukan telah terlihat di rumah mewah keluarga Sanjaya. Sama halnya dengan William dan Regina, pernikahan Willona dan Reka juga di gelar di halaman rumah keluarga Sanjaya.


Sebenarnya, pak Antony ingin menyewakan gedung untuk pernikahan sang putri. Namun, gadis itu menolak. Willona ingin di buatkan pesta sederhana. Dan hanya di hadiri anggota keluarga. Ia tidak ingin terlalu mewah, yang penting dirinya dan Reka sah di mata hukum dan agama mereka.


“Kar..” nyonya Aurel mendekati sang sahabat yang tengah melihat para pekerja dekorasi menghias taman rumah keluarga Sanjaya.


“Au.”


Mereka kemudian duduk bersisian.


“Au, maafkan perbuatan putraku. Terus terang aku merasa malu padamu dan Antony. Dia bukan pria mapan. Entah bagaimana Reka akan menghidupi Willona nanti.” Ucap nyonya Karin sendu.


“Sudah, jangan bicara yang aneh-aneh. Aku yakin mereka berdua bisa mengatasinya.” Nyonya Aurel pun mengusap lengan sahabatnya itu.


“Tetapi tetap saja. Reka kan masih nyicil apartemen. Belum lagi perabotan di rumahnya masih terbatas.”


“Bukannya kamu yang ingin mereka berdua bersama?” Tukas nyonya Aurel mengingatkan.


Nyonya Karin menghela nafas pelan.


“Iya, tetapi tidak dalam keadaan seperti ini. Minimal ya, tunggakan apartemen masih seperempat lah, biar tidak pusing memikirkan biaya hidup.”


“Sudah. Kamu tenang saja. Semasih mereka belum mapan, aku tidak akan membiarkan mereka tinggal berdua. Biar mereka tinggal disini dulu.”


Jawaban nyonya Aurel tak serta merta membuat nyonya Karin tenang. Tetap saja ia khawatir dengan masa depan rumah tangga putranya.


Keesokan harinya.


Kesibukan yang sama masih terlihat di kediaman keluarga Sanjaya. Calon pengantin wanita sibuk merawat diri agar esok hari terlihat lebih segar.


“Kenapa melamun?” Tanya Regina kepada adik iparnya. Lebih tepatnya lagi, calon adik iparnya.


Kepala Willona menggeleng kecil. Mereka kini tengah melakukan perawatan kuku kaki dan tangan.


“Apa kamu berubah pikiran? Masih ada waktu jika ingin membatalkan pernikahan ini.” Sambung wanita hamil itu lagi.


Ucapan Regina membuat kepala Willona menggeleng semakin kencang.


“Aku tidak ingin membatalkan.” Model cantik itu menghela nafas pelan. “Hanya saja, aku tak menyangka semuanya akan terjadi seperti ini. Aku dan Reka, bahkan baru mengenal beberapa bulan ini.”


Regina terkekeh kecil. Jangankan kedua muda-mudi itu, dirinya dan sang suami pun mengenal hanya dalam hitung bulan.


“Aku mendukungmu jika ingin kabur, Na.” Gurau istri William itu. Ia hanya ingin menghibur Willona saja.


“Jika aku kabur, adikmu bisa mengamuk. Kamu tau, di sangat posesif.”


Willona kembali menghela nafas. Ia meminta para terapis yang sedang merawat kaki mereka, untuk meninggalkan mereka berdua.


“Aku hanya takut, suatu hari kami bertengkar karena tidak bisa menerima sifat masing-masing.” Ucap Willona ketika mereka telah berdua.


Regina mengerti ketakutan yang melanda hati adik iparnya. Ia juga sempat memiliki keraguan yang sama, karena belum lama mengenal William.


“Kuncinya ada pada diri kita sendiri, Na. Jika kita mementingkan ego, dan tak mau mengalah, pertengkaran itu pasti akan selalu terjadi. Salah satu dari kita harus bisa mengalah. Jika sama-sama keras kepala, aku yakin setiap hari pasti akan terjadi tarik urat.”


“Ya, aku harap aku bisa seperti itu, Re.”


“Sudah, jangan berpikir yang tidak-tidak. Kamu belum menjalaninya. Belum tentu, yang terjadi seperti yang kamu pikirkan.”


“Iya, Re.” Willona tersenyum. Mereka kemudian saling memeluk.


Sementara itu, ditempat lain.


Pak Antony menghampiri besannya nyonya Karin yang sedang memilih bunga untuk dekorasi taman. Sementara, nyonya Aurel sedang sibuk mengurusi bagian catering.


“Kar.. kata Aurel kamu khawatir dengan pernikahan Reka dan Willona. Apa benar?” Tanya pak Antony yang ikut duduk di samping istri pak Regan itu.


Nyonya Karin menghela nafas pelan. “Siapa yang tidak khawatir, An. Reka memang mempunyai pekerjaan tetap. Tetapi, dia masih punya banyak cicilan. Aku takut, dia tidak sanggup menghidupi Willona nanti.”


Pak Antony terkekeh. Ia pun ikut memilih bunga, dan menyerahkan pada besannya itu.


“Jangan khawatir. Aku tidak mungkin membiarkan anak-anak menderita.”


“Iya, tetapi tetap saja, Reka yang harus bertanggung jawab pada Willona.”


“Lalu apa kamu mau, jika sampai Willona hamil, mereka baru menikah?”


Kepala nyonya Karin menggeleng dengan kencang. “Jangan sampai An.”


“Maka dari itu, sebelum cucu kedua kita hadir, kita nikahkan orang tuanya dulu. Mereka memang baru berbuat sekali. Tetapi, siapa yang tau kalau kecebongnya tumbuh.” Ucap pak Antony tergelak.


Nyonya Karin pun mencebik.


“Entah apa dosaku, An. Sampai kedua anakku menjadi menantumu.” Ucapnya kemudian.


“Mungkin karena dulu kamu menolakku, dan lebih memilih si bulat itu. Makanya sekarang kedua anakmu menjadi menantuku.” Ucap pak Antony santai.


Ya, memang benar, dulu nyonya Karin lah yang menarik perhatian pak Antony saat melakukan praktek kerja lapangan di kampung itu. Pria itu bahkan sempat menyatakan perasaan pada nyonya Karin, namun di tolak karena wanita itu lebih memilih pak Regan, pria yang telah menjadi kekasihnya dari jaman sekolah menengah.


Mata nyonya Karin membulat mendengar ucapan besannya. “An, apa sih? Jangan di ungkit lagi. Nanti jika ada yang mendengar bagaimana?” Pandangan wanita paruh baya itu menyapu sekitar, untung saja mereka hanya berdua.


Ibu dua anak itu takut ada yang mendengar, apalagi para pasangan mereka. Karena, baik pak Regan dan nyonya Aurel tidak tau tentang hal itu.


Pak Antony tak menanggapi. Pria paruh baya itu hanya mengedikan bahunya.


.


.


.


Bersambung