
William masih saja menggerutu, bahkan saat mereka telah berjalan menuju parkiran. Tangan pria itu penuh dengan barang belanjaan, sementara bibirnya tiada henti komat kamit seperti seorang dukun yang sedang membaca mantra.
“Sudahlah daddy, jangan menggerutu terus. Nanti kualat, siapa tau dia menjadi besan mu.” Regina terkekeh. Ia mengambil satu persatu kantong belanjaan dari tangan sang suami. Dan menyusun di kursi mobil paling belakang.
“Amit-amit jabang bayi.” William mengelus perut istrinya, meski tangan pria itu masih berisi beberapa kantong belanjaan.
“Memang kenapa, dad? Bukannya bagus, anak kita menjadi menantu orang kaya. Pria tadi punya rumah sakit, gedung ini, hotel, kampus—
“Lebih baik anakku berjodoh dengan orang biasa yang bekerja menjadi pengajar atau abdi negara, daripada menjadi menantu pria sombong tadi.” William memotong ucapan sang istri. Ia kemudian menutup pintu mobil bagian belakang.
“Kenapa harus pengajar dan abdi negara?”
“Karena, mereka tidak akan sesombong pria tadi.”
Regina terkekeh. Ia merasa lucu melihat tingkah sang suami. Bukannya pria itu juga terkadang menyombongkan dirinya sendiri? Tidakkah ia ingat?
“Kita makan di luar saja. Ini sudah waktunya makan siang. Jangan sampai anakku kelaparan.” William berucap sembari memasang sabuk pengaman. Nada suaranya terdengar tegas dan tak terbantahkan.
“Lalu bahan makanan itu?” Tanya Regina sembari melirik ke kursi belakang.
“Kita masak untuk makan malam saja. Dan ya, hubungi mama mertuamu, katakan jika kita menginap di apartemen dua hari ini.”
Regina mengangguk. Ia kemudian mengirim pesan kepada mama mertuanya sesuai perintah sang suami.
Setelah dua puluh menit berkendara, William menemukan restoran yang menjual hidangan nusantara.
Mereka pun memilih beberapa menu, dari beberapa daerah. Tentunya, hidangan yang di pesan oleh William, baik untuk wanita hamil.
Hampir satu jam, akhirnya semua menu yang di pesan, telah habis berpindah kedalam perut. Setelah itu, Regina pun meminta ijin kepada sang suami untuk ke toilet sebentar.
“Re?” Seorang memanggil wanita itu, saat dia telah keluar dari dalam toilet. Bilik yang terletak di belakang, dan berlorong, sehingga tempat itu terlihat lengang.
Deg.. Regina tersentak. Ia tidak asing dengan suara yang memanggilnya.
Dengan ragu, istri William itu menoleh ke belakang.
“Alvino?” Gumamnya, dan ia pun perlahan mundur.
“Re, tunggu.” Alvino mendekat, dan mencegah Regina untuk pergi.
Ya, pria itu sengaja mengikuti mantan kekasihnya ke toilet. Ia yang lebih dulu berada di restoran itu, mengurungkan niatnya untuk kembali ke kantor, saat melihat kedatangan William dan Regina.
Dari kejauhan, Alvino terus mengamati interaksi pasangan pengantin baru itu. Hatinya bagai teriris sembilu. Mendapati sang mantan kekasih begitu bahagia bersama pasangan barunya. Regina terlihat begitu dekat dengan William, tak seperti pasangan yang di jodohkan pada umumnya, yang terlihat canggung di awal kebersamaan mereka.
Dan saat wanita itu pergi meninggalkan suaminya sendiri, ia pun bangkit dan mengikuti.
“Re.. bisa kita bicara sebentar?” Alvino menghadang langkah Regina. Sehingga wanita itu kembali mundur mendekati bilik toilet.
“Re. Aku minta maaf. Tolong maafkan aku, Re.” Ucap pria itu. Ia menatap penuh harap kepada wanita di hadapannya. Berharap wanita itu memaafkannya.
“Maafkan semua kesalahan ku, Re. Kamu boleh membenciku. Tetapi, aku mohon. Tolong maafkan aku.” Suara Pria itu terdengar berat dan bergetar.
“Aku dengan sengaja telah mengkhianati mu. Maafkan aku. Aku tau, permintaan maaf ku, tidak akan mampu menghapus rasa sakit hati yang kamu rasakan. Tetapi, aku tetap harus meminta maaf padamu.”
Regina hanya diam. Ia tak menjawab ucapan panjang lebar mantan kekasihnya itu. Jantung wanita itu berdetak lebih kencang.
Alvino tiba-tiba bersimpuh di hadapan wanita itu. Membuat mata Regina membulat sempurna.
“Apa yang kamu lakukan, Vin?”
“Maafkan aku, Re.” Pria itu mengatupkan tangan di depan dada.
“Bangun Vin, nanti ada yang datang.”
“Bangunlah, Vin.” Ulang Regina. Ia tidak mau jika sampai ada yang melihat apa yang di lakukan oleh mantan kekasihnya itu.
“Aku tidak akan bangun, sebelum kamu memaafkan aku, Re.”
Regina membuang nafasnya kasar. Ia pun membuang pandangannya ke arah lain.
“Aku memaafkan mu, Vin.” Ucapnya kemudian, agar pria itu cepat berdiri.
Alvino mengangkat kepala, dan menatap lekat wanita di hadapannya. Wanita yang dulu sang ia cintai, namun perlahan ia lupakan, seiring kebersamaan yang ia lalui dengan sang sekretaris.
“Tatap aku, Re. Dan katakan jika kamu benar-benar telah memaafkan aku.”
Sungguh Regina merasa kesal. Batinnya menjerit, memanggil nama sang suami, berharap pria itu datang menghampirinya.
Dengan malas, dan terpaksa, ia pun menatap pria yang pernah mengisi hari-harinya.
“Vin, aku sudah memaafkan mu. Sungguh. Sekarang, mari kita jalani hidup kita masing-masing. Aku berterima kasih padamu, untuk semua yang pernah kamu berikan dan kamu lakukan padaku.” Wanita itu menghela nafasnya sebentar, kemudian melanjutkan ucapannya.
“Aku juga meminta maaf padamu, Vin. Kesalahan itu, tidak hanya padamu. Aku juga melakukannya. Sekarang bangunlah, Vin.”
Pria itu kemudian bangkit, dan berdiri di hadapan Regina.
“Selamat atas pernikahan mu, Re. Aku ingat, Kamu dulu pernah mengatakan, ingin menggelar pernikahan dengan pesta kebun, dan aku melihat di media sosial, kamu sudah mendapatkannya.”
Kepala Regina mengangguk kecil.
“Aku harap kamu bahagia dengan pasanganmu, Re. Semoga, dia tidak melakukan, apa yang aku lakukan.”
“Tentu dia bahagia bersamaku.”
Deg… Regina tersentak.
“William?”
Suaminya tiba-tiba muncul di belakang Alvino. Pria itu kemudian mendekat, dengan sengaja menyenggol bahu mantan kekasih istrinya. Ia pun berdiri di samping Regina.
“Dan perlu kamu ingat, aku tidak mungkin melakukan apa yang kamu lakukan. Karena hati, jiwa dan ragaku, hanya untuk dan milik Regina seorang.” William menatap dengan tatapan membunuh. Ia yang khawatir terjadi sesuatu dengan sang istri, sengaja menyusul wanita itu ke toilet. Dan alangkah marahnya pria itu, kala mendapati Alvino mencegat langkah Regina.
“Kenapa lama sekali di toiletnya? Apa terjadi sesuatu? Kamu mual?” Tanya William kepada sang istri. Dan wanita itu hanya menggeleng kecil.
William kemudian meraih pinggang sang istri. Membuat wanita itu menempel padanya.
“Ayo kita pulang, bukannya kamu ingin menghabiskan waktu cuti kita dengan bersantai di apartemen?”
Regina pun menjawab dengan anggukan kepala. William kemudian menuntun sang istri keluar dari lorong itu. Dan melewati Alvino begitu saja.
“Sebentar, Honey.”
William menghentikan langkahnya, ia sedikit memutar badan, menatap Alvino yang masih terpaku di tempatnya.
“Oh ya, bung. Aku ucapkan Terimakasih padamu, atas pengkhianatan yang kamu lakukan. Karena hal itu, sekarang Regina menjadi milikku.”
Setelah mengucapkan hal itu, mereka pun benar-benar menghilang, dan hanya tersisa Alvino sendiri.
.
.
.
Bersambung.