BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 36. Aku Memiliki Hadiah Untukmu.



Siang kini telah berganti sore, saatnya para pencari nafkah untuk kembali ke rumah untuk melepas lelah, setelah seharian bekerja.


Begitu juga dengan William dan Regina, kedua orang yang berkantor di lantai paling atas gedung Sanjaya, juga ikut meninggalkan gedung berlantai 20 itu. Banyak pekerjaan yang telah mereka selesaikan hari ini. Dan kini waktunya untuk mengistirahatkan badan dan pikiran.


“Honey, aku ingin makan sate kambing deh untuk makan malam. Kamu mau tidak?” Tanya William dari balik kemudi. Mereka sedang terjebak kemacetan, di jalan yang tak begitu jauh dari gedung Sanjaya.


“Kita makan dimana? Aku tidak mau jika makan di restoran.” Ucap Regina yang fokus menatap ke depan.


“Aku punya langganan sate kambing, di dekat kampus ku dulu. Kita kesana, ya. Bukan restoran, dulu cuma warung tenda. Tetapi sekarang sudah warung lesehan gitu.”


“Boleh. Sudah lama juga tidak makan sate kambing.” Regina menyetujui.


William menyeringai. Ia kemudian melajukan mobil sedan mewah milik Regina ke arah warung sate yang ia inginkan.


‘Boy, isi tenaga dulu kita. Malam ini kita akan bekerja keras hingga subuh.’


Sesampai di tempat yang di maksud William, pria itu langsung memesan dua porsi sate kambing, lengkap dengan lontong dan juga gulai.


Ia mengajak Regina duduk di pojokan. Tempat biasa ia menghabiskan waktu saat masih kuliah dulu.


“Aku sering mojok disini, kalau sedang malas mengikuti kelas.” Ucap William menjelaskan. Membuat Regina menaikan satu alisnya. Ternyata pria itu memang nakal. Pikirnya.


Seorang pelayan datang membawa dua gelas es jeruk. Dan meletakkan di atas meja.


“Minumlah, es jeruk disini enak sekali menurutku. Mereka menggunakan jeruk asli.” Pria itu menyedot sedikit es jeruknya. Dan Regina menganggukkan kepala tanda setuju, kala minuman dingin itu melintas di kerongkongannya.


“William?” Seorang terdengar memanggil namanya. Dan itu adalah Alisha. William dan Regina menoleh bersamaan.


“Hai, Al?” Sapa William. Regina juga ikut menyapa dengan senyuman, namun Alisha terlihat acuh.


“Kamu masih sering mampir kesini?” Tanya wanita itu, ia bahkan tidak menyapa Regina yang duduk di samping William.


“Tumben. Kamu sendirian?” Tanya William.


“Aku sama mama.” Dan William pun menganggukkan kepalanya.


“Kalau begitu, aku permisi. Mama duduk di sana.” Ucap Alisha lagi, sembari menunjuk tempat duduk yang tak jauh dari tempat duduk William.


“Sepertinya dia tidak menyukaiku?” Ucap Regina setelah Alisha menjauh dari mereka. Sontak membuat William menoleh pada wanita itu.


“Apa maksudmu, Hon?” Tanya William bingung.


“Ya, dia bahkan tidak menyapaku. Apa aku tidak terlihat?”


“Jangan di pikirkan. Bukan hal penting juga.”


Tak lama, pemilik warung pun datang membawa pesanan William bersama salah satu pekerjanya.


“Wah, mas William datang sama siapa ini? Tumben.” Ucap ibu pemilik warung dengan suara riangnya, sembari menata makanan di atas meja.


“Cantik kan Bu?” Bukannya menjawab, William justru bertanya.


“Cantik, pacarnya ya mas?”


“Bukan, Bu. Tetapi calon istri.” Ucap pria itu sambil terkekeh. Regina yang mendengar itu, hanya mampu memalingkan wajahnya. Pipinya kini terasa panas.


“Wah.. selamat kalau begitu, mas.”


“Terima kasih, Bu.”


Pemilik warung dan pekerjanya pun meninggalkan William dan Regina.


“Ayo kita makan, Hon.” William menggeser satu porsi sate kehadapan sang sekretaris.


“Sudah, jangan malu. Mereka mengenalku dengan baik. Aku memang tidak pernah mengajak wanita kesini.” Ucap William yang melihat pipi Regina memerah. Wanita itu mengangguk kecil, kemudian meraih piring yang William berikan.


Hal itu tak luput dari penglihatan Alisha. Hati wanita itu seketika panas. Apalagi melihat sikap William yang begitu hangat kepada Regina. Pria itu bahkan melayani sekretarisnya.


“Sudahlah. Ikhlaskan saja. Kalian itu berbeda arah. Dan papa mu tidak mungkin merestui.” Ucap sang mama mengingatkan. Dan Alisha hanya mampu membuang nafasnya kasar.


****


“Honey.. ayo lah.. aku merindukanmu.” William mendekap tubuh Regina dari belakang, saat mereka telah berada di dalam apartemen, namun masih di ruang tamu.


Setelah mengunci pintu, pria itu menempel pada sang sekretaris, layaknya lintah penghisap darah.


Tak ada niat Regina untuk meronta. Ia membiarkan saja pria itu mendekap erat tubuhnya.


“Mandi dulu ya?” Ucap wanita itu.


“Nanti saja, toh juga kita akan berkeringat lagi.” Hidung William mulai nakal. Dan Regina hanya mampu memejamkan matanya.


Kepala wanita itu pun mengangguk kecil. Ia memang tak pernah bisa menolak sentuhan yang di berikan William padanya.


William seketika membalik tubuh Regina, membuat wanita itu menghadap padanya. Seketika pula, tas di genggaman Regina terlepas, karena ia mengalungkan kedua tangannya di leher sang atasan.


Tak menunggu lebih lama, William pun menyatukan bibir mereka berdua. Memberikan sentuhan lembut, hingga berubah memanas.


Pria itu dengan sigap menggendong tubuh Regina di depan tubuhnya, dan karena takut jatuh, Regina pun melingkarkan kedua kakinya pada pinggang William.


Suasana semakin panas, membaut William sudah tidak mampu untuk menahan lagi, ia pun membawa tubuh Regina ke dalam kamar. Kemudian meletakan di atas ranjang dengan hati-hati, bahkan tanpa melepas pagutan mereka.


Saat hendak melepas jas yang ia gunakan, ponsel di saku jas itu, tiba-tiba berdering. Membuat William berdecak kesal. Namun, ia tak menghiraukan, ia buang begitu saja jas kerjanya ke sembarang tempat.


William sedikit bangkit, kemudian membuka kemeja yang ia gunakan, namun lagi-lagi, ponsel itu berteriak, menjerit menganggu aktivitas pemiliknya.


“Angkat saja dulu. Siapa tau penting.” Ucap Regina dengan nafasnya yang tersengal.


“Biarkan saja.” William kembali membungkam bibir sang sekretaris dengan bibirnya. Tangannya pun telah berhasil melepaskan kemejanya, dan melempar begitu saja. Namun, seketika Regina mendorong tubuh kekar itu, kala ponsel William kembali berdering.


“Sial.” Pria itu mengumpat. Dengan perasaan kesal ia meraih kembali jas yang telah teronggok di atas karpet. Kemudian merogoh ponsel di saku jas itu.


Alis pria itu hampir menyatu, kala mendapati orang yang ia bayar untuk mengikuti Alvino, menghubungi berkali-kali. Dengan cepat, William menghubungi kembali nomor orang itu.


“Katakan!!” Ucapnya saat panggilan telah di angkat oleh pria itu.


“Bos.. pria itu membawa sekretarisnya ke unit apartemen milik pria itu.”


“Benarkah? Sejak kapan?”


“Sudah 10 menit, sepertinya mereka sedang pemanasan.”


William mencebikan bibirnya. Akhirnya, saat yang ia nantikan akan tiba.


“Awasi terus. Aku akan segera kesana.”


Tanpa menunggu jawaban dari orang suruhannya itu, William memutuskan panggilan begitu saja.


Pria itu meraih kemeja yang juga teronggok di atas karpet. Kemudian kembali memakainya. Hal itu membuat Regina mengerutkan dahinya.


“Ada apa?” Tanya wanita itu bingung. Ia ikut merapikan kemeja yang ia gunakan, karena beberapa kancing telah terbuka.


“Ayo kita bersiap, aku memiliki hadiah untukmu.” William mengulurkan tangan kepada wanita itu. Membantunya bangkit dari tempat tidur.


.


.


.


Bersambung.