
Hampir tiga puluh menit, wanita itu belum juga sadarkan diri. Nyonya Karin meminta salah seorang karyawannya untuk menghubungi dokter.
Tak lama, seorang dokter wanita pun datang. Ia kemudian memeriksa keadaan wanita yang pingsan itu.
“Sepertinya dia sedang hamil, kelelahan dan belum makan.” Ucap dokter setelah selesai memeriksa.
Nyonya Karin tersentak. Ia kembali teringat dengan sang putri. Dalam hatinya bertanya, apa wanita muda itu juga hamil di luar nikah?
Dokter tak berani memberikan sembarangan resep obat. Ia yakin jika wanita itu dalam keadaan hamil.
Tak lama setelah dokter itu pergi, wanita itu pun mulai sadarkan diri. Ia menggeliat, dan perlahan membuka mata.
Ia mengerejapkan mata beberapa kali, hingga penglihatannya terbuka dengan sempurna.
“Ada apa denganku?” Tanyanya bingung. Ia kemudian mendudukkan tubuhnya di atas sofa itu.
“Akhirnya kamu bangun juga. Tadi kamu tiba-tiba pingsan.” Ucap salah satu karyawan.
“Ini minumlah dulu.” Ia pun menyodorkan gelas berisi air putih kepada wanita itu.
Nyonya Karin kemudian mendekat dan mengambil tempat di samping wanita itu.
“Apa kamu baik-baik saja?” Tanya wanita paruh baya itu. Dan yang di tanya hanya mampu mengangguk lemah.
“Syukurlah. Kalau boleh tau, siapa nama mu? Sepertinya, kamu orang baru disini.” Lanjut ibu dari dua orang anak itu.
Wanita itu menghela nafasnya pelan. Ia merasa jika dirinya sekarang sedang bersama orang-orang baik. Tak ada salahnya jika dia memperkenalkan diri.
“Namaku Tamara, Bu. Aku baru dua hari disini.” Jawab wanita itu.
Ya, wanita muda yang datang menanyakan pekerjaan ke toko mebel milik orang tua Regina adalah Tamara. Setelah ia pergi dari rumah neneknya, wanita itu memutuskan meninggalkan ibukota melalui jalur darat, agar lebih menghemat biaya.
Dan, setelah hampir seminggu lebih, sempat singgah di beberapa kota, akhirnya Tamara sampai di kampung halaman orang tua Regina. Ia kembali ingin pergi, namun sisa uangnya telah menipis. Karena itu, ia memutuskan akan tinggal di kota itu.
“Kamu datang darimana, nak?” Tanya nyonya Karin, ia mengamati wanita muda itu, penampilannya terlihat bersih dan terawat.
“A-aku datang dari ibukota, Bu.” Jawab Tamara dengan kepala menunduk.
Nyonya Karin menganggukkan kepalanya.
“Katanya, kamu datang menanyakan pekerjaan. Apa itu benar?”
Seketika kepala wanita itu terangkat. Ia menatap penuh harap pada wanita paruh baya di sampingnya. Kepala Tamara mengangguk, menjawab pertanyaan nyonya Karin.
“Sebenarnya, tidak ada lowongan di tempat ini. Tetapi, jika kamu mau, kamu bisa membantu bersih-bersih. Jangan khawatir, aku akan memberikan upah kepadamu.”
Istri dari pak Regan itu merasa iba melihat keadaan Tamara. Sepertinya, wanita muda itu benar-benar membutuhkan pekerjaan.
“Aku mau bekerja apa saja, Bu. Asalkan, ada pemasukan untuk biaya makan sehari-hari.”
“Kamu tidak perlu khawatir soal itu.”
“Terimakasih, Bu— Tamara menjeda ucapannya, ia tidak tau siapa nama wanita paruh baya itu.
“Namaku Karin. Kamu boleh memanggil ku ibu, seperti anak-anak yang lain.” Ucap nyonya Karin yang melihat kebingungan di wajah Tamara.
“Terimakasih banyak, Bu.”
“Ya, Bu.”
“Apa benar kamu sedang hamil? Maaf, tetapi dokter tadi mengatakan begitu.”
Tamara menghela nafasnya pelan. Haruskah ia menceritakan aibnya kepada orang yang baru di kenalnya?
“I-iya, Bu.”
“Sudah berapa lama?”
“Mau dua bulan, Bu.” Jawab Tamara lirih.
‘Hampir seusia kandungan Putri.’ Nyonya Karin kembali teringat akan Regina.
“Lalu, dimana suami mu? Apa dia mengijinkan mu untuk bekerja?”
Tamara diam tak menjawab pertanyaan nyonya Karin.
“Maaf, bukannya apa-apa. Aku hanya takut, nanti terjadi sesuatu padamu. Dan suami mu—
“Tidak akan ada yang marah, Bu.” Potong Tamara dengan cepat. Namun, ada kegetiran yang terdengar dari ucapannya.
Nyonya Karin mengerti maksud ucapan Tamara, dan ia tidak akan mempertanyakan lagi.
‘Anak-anak jaman sekarang, kenapa tidak bisa menjaga diri mereka? Ya, jika si pria mau bertanggung jawab seperti William, jika tidak? Lihatlah, dia sendiri yang menanggung akibatnya.’ Nyonya Karin bermonolog dalam batinnya.
“Apa benar kamu belum makan?” Wanita paruh baya itu mengalihkan topik pembicaraan.
Dan Tamara hanya mampu menganggukkan kepalanya.
“Astaga. Kamu sedang hamil muda, kenapa melewatkan jam makan mu? Nana, tolong belikan makanan untuk Tamara.” Perintah nyonya Karin kepada salah satu karyawannya.
“Tidak usah, Bu.” Tamara menolak. Ia tidak enak hati. Sudah di berikan pekerjaan, sekarang di belikan makanan pula.
“Jangan menolak. Kamu mungkin tidak perlu makan, tetapi bayi dalam perutmu itu perlu nutrisi.”
Mata Tamara tiba-tiba memanas, sudah lama ia kehilangan kasih sayang ibunya. Kini ia merasa seperti di perhatikan oleh seorang ibu.
“Terimakasih banyak, bu. Padahal kita baru saja saling mengenal. Tetapi, ibu sudah begitu baik kepadaku.” Ucap Tamara sembari menahan tangis. Ia tidak menyangka, setelah begitu banyak kesalahan yang ia buat dalam hidupnya, kini ada orang yang begitu baik menolongnya. Menyelamatkan hidupnya dan mberikan pekerjaan.
Rasa bersalah kini kembali meliputi hatinya. Andai ia tak melakukan perbuatan dosa itu dengan Alvino, hidupnya mungkin tak akan sehancur saat ini.
“Jangan merasa sungkan. Aku juga memiliki putri yang mungkin seusia denganmu. Dia sekarang juga sedang hamil. Tetapi sayangnya di tinggal di ibukota bersama suaminya. Jadi, anggap saja, aku sedang memberi makan pada putriku, melalui kamu.” Nyonya Karin mengusap lembut pundak Tamara. Wanita paruh baya itu mengerti, jika wanita muda ini sedang dalam keterpurukan.
“Terimakasih, Bu.” Ucap Tamara dengan tulus. Ia berdoa dalam hati, semoga Tuhan membalas kebaikan nyonya Karin.
‘Terimakasih Tuhan, engkau mempertemukan aku dengan orang sebaik nyonya Karin. Semoga kebaikan selalu menyertai beliau dan keluarganya.’
.
.
.
Bersambung.