BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 60. Putri Om Regan?



Teriakan menggema di lantai dua rumah mewah keluarga Sanjaya. Nyonya Aurel yang masih berdiri di ambang pintu, membuat suaranya masih terdengar hingga ke lantai bawah.


Namun, tak mengusik kedua insan yang tengah terlelap di dalam kamar.


Pak Antony yang sedang menyesap jus buah, langsung tersedak mendengar sang istri berteriak. Sementara kedua sahabatnya hanya terdiam dan saling tatap.


“Tunggu sebentar, Gan, Kar. Aku lihat dulu. Ada apa di atas.”


Pak Antony bergegas. Ia menapaki tangga dengan terburu-buru.


“Ma, ada apa?” Tanyanya setelah sampai di dekat sang istri.


“Papa jangan mendekat.”


“Ada apa?” Pria paruh baya itu penasaran. Ia pun tak mengindahkan ucapan sang istri.


“Astaga.” Pak Antony terlonjak. Ia bahkan sampai mengusap dada. Dengan langkah lebar, pak Antony memasuki kamar sang putra.


“Pa..” nyonya Aurel mengejar sang suami. Ia sedikit bernafas lega, karena kedua anak muda itu menutup tubuh mereka hingga bahu.


“WILLIAM SANJAYA!!! BANGUN!!!”


Dada pak Antony naik turun. Untung saja dia tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Jika iya, mungkin saat ini ia sudah di larikan ke rumah sakit.


“Ma, bangunkan putramu.” Pak Antony membuang muka. Ia memilih berdiri menatap ke arah jendela kamar.


“William, Regina. Bangun kalian.” Nyonya Aurel mengguncang lengan kedua muda-mudi itu.


William menggeliat. Namun, semakin mengeratkan pelukannya pada Regina.


“Kita tidur lagi, sayang.” Gumam pria itu.


Mata nyonya Aurel pun membulat.


“WILLIAM ANTONY. BANGUN!!!” Nyonya Aurel memutuskan menarik lengan sang putra, melepaskan belitan pada tubuh Regina.


“Apa sih, ma.” Ucap William dengan malas. Matanya pun masih setengah terbuka.


“MAMA??” Mata William terbuka sempurna.


“Ma-ma?”


William melihat sang mama menatapnya penuh amarah.


‘Honey’


Dengan cepat pria itu menutup tubuh Regina.


“Se-sejak kapan mama disini?”


“Hampir 10 menit.” Dan yang menjawab itu bukan sang mama. Namun, sang papa yang sedang berdiri membelakangi mereka.


‘Inilah yang aku inginkan.’


“Pa-papa?” William kembali tergagap. Tentu hanya akting belaka. Karena inilah yang ia inginkan.


“Apa yang kalian lakukan?”


“Ma, ini—.”


Regina menggeliat. Ia meregangkan kedua tangan, membuat selimut hampir melorot, namun dengan sigap William menaikan kembali.


“Regina bangun!!”


“Ma!”


Deg..


Regina yang setengah sadar, akhirnya sadar. Jantung wanita muda itu berdetak kencang.


“Nyo-nyonya?”


“Katakan padaku apa yang telah kalian berdua lakukan?”


“Ma.. ini salahku. Bukan salah Gina. Aku yang memaksanya ma. Aku salah minum tadi di klub. Dan sampai di rumah, aku melihat Regina dan aku tak sanggup menahan diri.” Tentu William tidak akan membuka hubungan mereka. Ia juga tidak mau wanitanya di salahkan. Biarkan kedua orang tuanya menyalahkan dirinya.


“Berulang kali sudah papa peringatkan, berhenti ke klub. Jual atau ratakan dengan tanah. Kamu masih saja membantah. Lihat hasilnya pergaulan mu sekarang.” Meski dalam hati pak Antony senang, karena William memilih Regina, namun di sudut hati yang lain, ia merasa kecewa. Karena William memperdaya gadis itu.


Regina hanya mampu menundukkan kepalanya. Ia tak tau harus berbicara apa.


“Apa yang akan mama katakan pada sahabat mama? Kenapa kamu tega melakukan hal ini, William?”


“Cukup!! Bersihkan diri kalian. Kami tunggu kalian di bawah.”


Pak Antony berlalu tanpa menatap siapa pun.


“William, apa ini yang kamu pelajari selama di luar rumah? Jadi perkataan papamu selama ini benar? Kamu nakal di luar sana?”


Nyonya Aurel merasa gagal menjadi seorang ibu. Selama ini sang suami selalu saja menyebut putra mereka nakal di luar sana. Namun, wanita itu selalu mengelak. Ia tetap menganggap putranya yang terbaik.


Namun hari ini, William seolah membenarkan ucapan sang papa. Dia memang anak nakal.


“Mama kecewa dengan mu, Will.”


Nyonya Aurel pun mengikuti sang suami. Meninggalkan kamar sang putra dengan membanting pintu dengan keras.


“Will, bagaimana ini?”


Suara Regina terdengar bergetar. Ia mencengkeram selimut dengan kuat di depan dada.


“Maafkan aku, Honey. Andai aku mendengar ucapan mu.” Pria itu kembali melontarkan sebuah dusta. Karena, tentu hal ini yang ia inginkan. Di pergoki oleh orang tuanya. Sehingga mereka membatalkan niat perjodohan dengan putri pak Regan.


“Aku takut, Will.”


William merengkuh tubuh Regina. “Jangan takut, Honey. Ada aku. Kamu cukup diam. Biarkan mereka menyalahkan aku.”


William dan Regina pun memutuskan membersihkan diri. Mereka harus siap menerima amarah orang tua William.


***


“Au, ada apa?” Nyonya Karin mendekat, seketika nyonya Aurel menghambur memeluk sahabatnya.


“Maafkan aku, Kar. Aku gagal menjaga putraku.”


“Ada apa, Au?” Kini pak Regan yang bertanya. Ia juga ikut penasaran dengan apa yang terjadi di lantai dua rumah sahabatnya itu.


Pak Antony menghela nafasnya pelan.


“Maafkan aku, Gan. Sepertinya rencana perbesanan kita harus di pikirkan ulang. Putra ku nakal, dia telah meniduri seorang gadis.”


“Papa!!” Nyonya Aurel menatap nyalang sang suami.


“Apa yang harus di tutupi, ma? Regan dan Karin harus tau sekarang. Apa jadinya jika gadis yang telah di perdaya oleh putra mu itu hamil? Dan William telah menikah dengan putrinya Regan? Itu akan menjadi masalah besar.”


“Apa? Au, apa yang di katakan Antony itu benar? Apa putramu sekarang sedang bersama seorang wanita di kamarnya?”


Nyonya Aurel hanya mampu mengangguk. Semua di luar rencananya. Ia berencana mengerjai sang suami, tetapi justru dirinya lah yang di kerjai oleh putranya.


Hening seketika melingkupi ruang keluarga itu, hingga terdengar langkah kaki mendekat.


William datang dengan menggenggam tangan Regina. Sementara, wanita itu hanya menunduk, ia tak berani mengangkat wajahnya. Ingin rasanya ia menghilang saat itu juga.


‘Itu pasti Om Regan dan istrinya. Maafkan aku, Om.’


Keempat orang paruh baya itu menoleh ke arah sumber suara.


“Putri?” Ucap pak Regan dan Nyonya Karin bersamaan.


Ucapan pasangan suami istri itu, membuat pak Antony, William dan Regina tersentak.


“Putri?” Pak Antony mengulang ucapan sang sahabat.


Sementara William menganga penuh tanya.


”Ayah? Ibu?” Regina tersentak kala mengangkat pandangannya. Ia mendapati kedua orang tuanya ada di depan mata.


“Tunggu. Apa maksud semua ini?” William menatap bergantian Regina dan Pak Regan.


“Gi, apa kamu putri om Regan?”


Kepala Regina mengangguk. Seketika membuat genggaman tangan William pada tangan Regina terlepas.


.


.


.


Bersambung.