
“Makanlah, dad.” Regina menyodorkan sepiring steak daging kehadapan sang suami. Kini mereka tengah berada di sebuah restoran untuk menikmati makan siang.
William mengangguk, ia pun meraih piring itu, kemudian mulai menyantap hidangannya.
Regina mengulum bibirnya dalam, melihat tingkah laku sang suami. Hanya karena ia belum pernah mengucapkan kata cinta secara langsung pada pria itu, sang suami merajuk bagaikan anak kecil yang tidak di belikan permen.
Bukannya tak mencintai pria itu, Regina akui ia sudah mencintai sang suami, namun untuk mengucapkan secara langsung, entah kenapa sangat susah ia lakukan.
“Ada apa?” Tanya William saat melihat sang istri yang sedang menatapnya.
“Kamu tampan sekali, dad.” Jawab sang istri.
William mencebik. Ia tak menjawab ucapan sang istri, dan melanjutkan makannya.
“Wah, lihat. Ada pengantin baru rupanya.” Suara seorang wanita paruh baya menginterupsi pasangan suami istri yang tengah menikmati makan siang itu.
William tak menanggapi, namun berbeda dengan sang istri. Regina tersentak mendengar suara itu. Seketika ia menoleh ke arah sumber suara.
“Mama?” Ucapnya saat mendapati nyonya Mahendra sedang berdiri tak jauh dari mereka.
“Mama?” Alis William hampir menyatu mendengar kata yang terucap dari bibir sang istri.
“Apa ayah punya dua istri, hon?” Tanyanya kepada sang istri. Sebab, ia tak tau siapa wanita paruh baya yang di panggil mama oleh Regina itu.
Kepala wanita hamil itu menggeleng. “Dia mamanya Alvino.”
Seketika itu pula William berdecak kesal. Ia lepaskan begitu saja alat makannya. Sehingga menimbulkan suara nyaring saat benda itu berbenturan dengan piring.
“Apa kabar kamu, Regina?” Tanya mama Alvino itu sembari mendekat.
“Aku baik, ma. Mama apa kabar?” Regina bangkit, dan menyalami wanita paruh baya itu.
“Aku baik.” Nyonya Mahendra memindai Regina dari ujung kepala hingga kaki. “Ya, sepertinya kamu memang baik-baik saja.”
“Apa mama datang sendiri?” Tanya Regina lagi. Meski ia melihat raut wajah sang suami yang telah berubah, wanita itu tidak mungkin mengabaikan nyonya Mahendra begitu saja.
“Mm, mama ada janji dengan teman.”
Regina menganggukkan kepalanya.
“Re, mama meminta maaf atas apa yang di lakukan Alvino padamu. Sungguh mama sangat marah pada anak itu, dia lebih memilih wanita murah-an itu daripada kamu.” Nyonya Mahendra berucap. Dalam hati kecilnya masih sangat berharap jika Regina yang menjadi menantunya, bukan wanita lain. Apalagi itu Tamara.
“Ma, aku sudah memaafkan Alvino. Aku bahkan sudah melupakan semuanya. Kami memang tidak di takdirkan bersama, ma.”
“Ya, kalau sudah berbicara takdir, siapa yang bisa melawannya?” Wanita paruh baya itu mengedikan bahunya. “Tetapi, bagaimana pun hubungan mu dengan Alvino, kedepannya mama harap kamu tetap menganggap mama seperti ibu kamu sendiri. Sapa mama saat kita bertemu. Jangan menganggap orang asing.”
Regina menatap ke arah sang suami. Namun, pria itu seolah acuh tak acuh. Ia pun mengiyakan ucapan nyonya Mahendra, agar wanita paruh baya itu segera pergi.
***
Sepanjang perjalanan kembali ke kantor, William hanya diam. Pria itu bahkan mengabaikan sapaan dari karyawan yang berpapasan dengannya di lobby kantor. Tak seperti sebelumnya, ia akan menjawab dengan ramah, dan terkadang menyapa lebih dulu.
“Bu, si bapak kenapa? Pasti tidak ibu kasih jatah, ya? Mukanya tegang begitu?” Salah satu karyawan berbisik pada Regina yang tertinggal di lobby, sementara sang suami sudah masuk kedalam lift.
Memang sejak dulu, tidak ada batasan antara karyawan dan atasan di Sanjaya Group, semasih itu di batas normal dan tidak keterlaluan.
“Semalam sudah aku kasih. Mungkin kurang.” Jawab Regina terkekeh. Ia pun buru-buru memasuki lift.
“Dad?” Ucap Regina memasuki ruangan sang suami. Namun, pria itu tak menjawab. Ia sibuk memandangi kota dari jendela ruang kerjanya.
“Ada apa?” Tanya Regina sembari mendekap tubuh sang suami dari belakang.
“Dad. Katakan, ada apa?” tanyanya lagi.
Terdengar helaan nafas panjang dari bibir pria itu. Regina bahkan dapat merasakan nafas William yang memburu, dari punggung yang ikut naik turun.
“Kamu tanya ada apa, setelah kamu memanggil ibu dari mantan kekasihmu dengan sebutan mama?” Pria itu membalik badan, dan menatap nyalang sang istri.
Deg..
Regina tersentak. Baru kali ini is mendengar nada suara William yang tak bersahabat.
“Katakan Regina Sanjaya?” Desaknya sembari mencengkeram kedua lengan wanita itu.
“Dad, maafkan aku. Aku tidak tau jika itu menganggu mu.”
William tertawa ironis. Sang istri memanggil ibu dari mantan kekasihnya, dengan sebutan mama. Dan istrinya tidak peka akan hal itu.
“Kamu pikir? Pria mana yang tidak terganggu? Aku pria normal yang memiliki rasa cemburu. Kamu itu milik aku Regina. Apapun tentang kamu, segalanya.”
Pria itu melepaskan cengkeram pada lengan sang istri. Ia membalik badan kemudian memukul dinding. Terserah sang istri atau orang lain menganggapnya egois, namun itulah William. Pria yang mudah sekali cemburu bahkan dengan hal sepele sekalipun.
Mata Regina membulat, dengan cepat ia meraih tangan sang suami.
“Dad, jangan begini. Lihat tangan mu memerah.”
“Jangan perduli kan aku.” William berusaha melepaskan tangannya. Nafas pria itu semakin memburu. Ia perlu sesuatu untuk melampiaskan amarahnya saat ini.
“Cukup, William.” Suara Regina meninggi. Ia kemudian menarik sang suami dan membawanya duduk di atas sofa.
“Tunggu disini.” Wanita itu kemudian mengambil kotak obat.
Dengan telaten Regina mengobati tangan sang suami yang memerah akibat meninju dinding.
“Apa dengan begini, amarahmu akan reda?” Tanya Regina sembari mengolesi salep pada kulit tangan William yang memerah.
“Tidak. Bahkan aku rasanya ingin menghabisi seseorang.”
Mata Regina kembali membulat mendengar ucapan sang suami. Apa sebegitu marahnya pria itu, hanya karena mendengar Regina masih memanggil mama pada ibu dari mantan kekasihnya?
Wanita itu pun menghela nafasnya pelan. Amarah sang suami tidak akan reda, jika ia juga ikut marah. Salah satu dari mereka harus ada yang mengalah.
“Maafkan aku.” Ucapnya lirih. Ia kemudian mengecup tangan yang baru saja di beri nya obat.
“Jangan begini. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini.” Suara wanita itu bergetar, ia berusaha menahan tangisnya, namun tak mampu. Setetes air mata pun menuruni pipinya.
Mendengar istrinya menangis, William pun merengkuh bahu wanita itu, dan membawa ke dalam dekapannya.
“Maafkan aku. Mungkin bagimu aku kekanakan, atau egois. Tetapi, inilah aku. Apapun yang sudah menjadi milikku, aku tak ingin membaginya dengan orang lain. Mereka masalalu mu, tempatkan mereka dimana sepantasnya berada. Kamu boleh menghormati orang tua mantan mu, karena mereka lebih tua. Tetapi, aku minta, mulai sekarang berhenti memanggil mama atau papa. Orang tuamu, cukup ayah, ibu, papa dan mama. Tidak ada yang lain lagi.”
“Iya, maafkan aku, dad.”
William melepaskan pelukannya. Kemudian menangkup kedua pipi sang istri. Pandangan mereka saling beradu. Dan entah siapa yang memulai, bibir keduanya telah menyatu dengan sempurna.
.
.
.
Bersambung.