
“Jangan menatapnya terus, nanti dia grogi.” Bisik pak Antony kepada sang menantu yang tengah fokus mengamati suaminya yang sedang memimpin rapat bulanan di kantor Sanjaya Group.
Pipi Regina memanas, di pergoki sang mertua membuatnya malu. Wanita itu memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Aku menyimak apa yang dia ucapkan, pa.” Jawab Regina sembari memperlihatkan catatannya. Pak Antony memicingkan mata, melihat lembaran kertas yang masih putih bersih itu.
“Apa kamu mempunyai ilmu kebatinan? Tidak ada apapun yang tercatat disana.” Pria paruh baya itu kembali berbisik.
“Papa..” Regina semakin malu. Ia benar-benar ketahuan, jika sedang menatap sang suami.
Bagaimana sang suami terlihat sangat berwibawa saat memimpin rapat. Tidak ada William yang konyol, hanya ada aura keseriusan dan ketegasan yang terpancar dari pria yang kini berusia 32 tahun itu.
“Apa papa waktu muda, juga setampan suamiku?” Regina melontarkan pertanyaan kepada papa mertuanya. Jujur, ia merasa bosan mengikuti rapat ini, namun, tugasnya menjadi sekretaris direktur, membuat wanita yang tengah hamil muda itu, mau tak mau harus berada di ruangan itu.
“Kamu pikir, ketampanan suamimu itu datang darimana? Jelas dia mewarisi ketampanan papanya.” Pak Antony berucap jumawa.
Regina mencebikan bibirnya. Sepertinya ia salah melontarkan pertanyaan.
‘Tidak hanya ketampanan, ternyata papa juga mewariskan sifat sombongnya kepada suamiku.’
Wanita itu menggeleng kecil. Ia teringat sifat suami yang sangat mirib dengan papa mertuanya itu. Suka sekali menyombongkan diri.
‘Semoga anakku tidak mewarisi sifat kalian yang satu itu.’ Lanjut batin Regina, tangannya dengan refleks mengusap perut sendiri, dari luar kemeja yang ia gunakan.
“Apa perutmu sakit?” Tanya sang papa mertua khawatir.
Regina tersenyum ke arah mertua. Ia pun menjawab dengan gelengan kepala.
William yang sedari tadi berdiri gagah di depan, sesekali mencuri pandang ke arah sang istri dan papanya.
Pria itu menarik dan membuang nafasnya kasar, kala mendapati istri dan papanya seperti sedang berbisik. William mencoba menepis rasa cemburu yang tiba-tiba mengusik hatinya. Ia belum pernah seperti ini, bahkan sebelumnya biasa saja jika melihat sang istri berpelukan dengan sang papa.
Entah kenapa, sekarang melihat wanita yang di cintainya duduk berdekatan bahkan sedang bisik-bisik dengan pak Antony, yang notabene adalah ayah kandungnya sendiri, membuat William cemburu.
Pria itu menggelengkan kepalanya, agar pikiran buruk tentang perselingkuhan mertua dan menantu pergi dari otaknya.
‘Mereka tidak mungkin begitu, Will. Ingat, Gina sedang mengandung anak dari benih yang setiap hari kamu siram di dalam rahimnya.’
Membuang nafas dengan kasar, William pun kembali melanjutkan pembahasan.
“Suamimu kenapa? Apa dia kemasukan penunggu gedung ini? Kenapa dia menggeleng-geleng begitu?” Pak Antony kembali berbisik kepada sang menantu sembari mengamati sang putra di depan sana.
“Aku tidak tau, pa. Mungkin dia rindu pergi ke klub.” Jawab Regina asal dengan mengedikan kedua bahunya.
***
“Mau makan siang dimana, dad?” Tanya Regina setelah di ruang rapat itu hanya tinggal mereka berdua. Pak Antony juga sudah pamit pulang, karena ada janji makan siang dengan salah satu koleganya.
“Terserah kamu saja.” Ucap William yang masih fokus membaca laporan dari menejer keuangan.
“Ya sudah, nanti di lanjutkan lagi.” Ucap Regina sembari merapikan beberapa berkas.
Regina mengamati pergerakan sang suami, ia melihat pria itu seperti sedang malas.
“Ada apa, dad?” Tanya Regina mendekat ke arah sang suami yang sedang menyandarkan punggung pada sandaran kursi pemimpin rapat.
Namun suaminya tak menjawab, pria itu hanya menggelengkan kepala. Membuat Regina berdecak kesal, kemudian berdiri di samping William.
William membuang nafasnya kasar, pria itu kemudian menarik pinggang sang istri dan membenamkan wajahnya pada perut yang sudah mulai membuncit. Dan wanita itu pun mengusap lembut kepala sang suami.
“Aku cemburu melihatmu bisik-bisik dengan papa.” Ucap William lirih, namun masih bisa di dengar oleh sang istri.
Mata Regina membulat sempurna mendengar ucapan suaminya.
“Dad, dia papa mu. Bagaimana kamu bisa cemburu? Astaga.” Regina menggeleng tak percaya.
“Honey, jaman sekarang apapun bisa. Banyak wanita muda yang mau dengan pria yang jauh lebih tua.” William mengeratkan pelukan pada pinggang sang istri. Ia belum pernah secemburu ini melihat sang istri berdekatan dengan sang papa.
“Itu wanita lain, dad. Aku bukan salah satu dari mereka. Dari dulu sampai sekarang, aku menganggap papa seperti ayahku sendiri. Tidak ada terbersit di benakku untuk menjalin hubungan dengan pria paruh baya.”
Wanita itu melepaskan belitan tangan sang suami. Ia kemudian mengangkup kedua pipi pria itu. Pandangan mereka beradu dan saling terkunci.
“Jangan berpikir yang aneh-aneh. Dia papamu, papaku juga. Kakek dari bayi yang aku kandung.”
“Bagaimana aku tidak berpikir yang aneh-aneh, jika selama ini, aku belum pernah mendengar kamu mengucapkan kata cinta padaku.”
Ya, meski William pernah mendengar sang istri mengucapkan kata cinta untuknya, namun saat wanita itu sedang tidak sadar.
“Apa kamu ragu padaku hanya karena aku belum pernah mengucapkan kata cinta?”
Kepala William mengangguk.
“Apa itu penting?”
“Ya, karena aku ingin tau apa pasangan ku juga mencintaiku atau tidak. Aku tidak mau hanya merasakan cinta sendiri dan bertepuk sebelah tangan.” Jawab William.
Regina melepaskan pipi sang suami. Wanita itu kemudian mencarik sebuah kursi dan duduk di hadapan sang suami.
“Kamu tau, aku belajar banyak dari hubungan ku terdahulu. Kata cinta yang setiap hari di ucapkan, ternyata mengandung pengkhianatan.” Regina menghela nafasnya pelan.
“Untuk saat ini, bukannya aku tak mencintaimu. Tetapi aku ingin membuktikan dengan perbuatan, bukan hanya sekedar kata-kata. Karena, orang yang setiap saat mengucapkan kata cinta, belum tentu tulus, bisa saja itu hanya untuk menyenangkan hati pasangannya.”
Kepala William menggeleng, ia kemudian merengkuh tubuh sang istri.
“Maafkan aku. Aku tidak tau kenapa bisa seperti ini. Bahkan sebelumnya aku biasa saja melihatmu dekat dengan papa.” Suara pria itu terdengar berat. Mungkin ia berusaha menahan tangis.
Regina tersenyum, di usapnya dengan lembut punggung sang suami.
“Sudah, malu dengan orang-orang di ruang kontrol.” Ucapnya kemudian.
William seketika melepas pelukan. “Astaga, kenapa kamu baru bilang, Honey. Mereka pasti sedang menonton kita sekarang.”
Pria itu kemudian bangkit, dan menuntun sang istri untuk keluar dari ruang rapat. Bisa jatuh reputasinya sebagai direktur, jika sampai ada yang melihat ia hampir menangis di pelukan sang istri.
.
.
.
Bersambung.