
Dua pasang pengantin, kini sedang melakukan makan malam bersama di sebuah restoran mewah di ibukota.
Atas permintaan sang istri, William mengundang adik dan adik iparnya untuk merayakan hari pernikahan mereka secara pribadi. Mumpung kedua pengantin baru itu masih cuti dari pekerjaannya.
Beberapa menu menggugah selera telah tersaji di atas meja. Membuat siapapun yang melihat, ingin cepat menyantapnya.
“Dad. Aku mau steak.” Ucap Regina kepada sang suami. Bukan manja, namun hidangan itu tersaji di samping sang suami. Dan Regina tak mampu menjangkaunya.
William dengan sigap mengambilkan sepotong daging yang telah di masak dengan tingkat kematangan welldone. Mengingat, wanita hamil tidak boleh memakan, makanan mentah.
“Enak, tidak Re?” Tanya Willona yang duduk di seberang meja. Wanita itu menatap penuh tanya pada sang kakak ipar.
“Enak, Na. Coba saja.”
Willona mengangguk. Baru saja ia akan mengambil makanan itu, tangan sang suami lebih dulu terulur meraih piring berisi steak daging yang disodorkan William.
“Thanks, Sayang.” Ucap Willona tulus.
Semenjak Reka melamarnya, bibir wanita itu begitu mahir mengucapkan kata ‘sayang’ untuk memanggil sang suami.
Dokter muda itu mengangguk.
Acara makan malam berjalan dengan tenang. Tidak banyak obrolan. Hanya sesekali membahas rasa, dan memberi nilai pada makanan yang mereka nikmati.
Setelah semua hidangan berpindah ke dalam perut masing-masing, dua pasang suami istri itu tak langsung pulang. Mereka memutuskan mengobrol sebentar. Karena setelah ini, kakak beradik itu tinggal terpisah.
William dan Regina yang tinggal bersama papa dan mama, sementara Reka dan Willona tinggal di apartemen. Menikmati masa pengantin baru.
William dan Reka yang duduk saling berhadapan, sibuk mengobrol masalah pria. Sementara para istri, sibuk membahas masalah perawatan kulit.
“Aku ada sesuatu untuk kalian.” Ucap Regina menyela obrolan kedua pria yang di cintainya itu.
Wanita hamil itu mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dari dalam tas, kemudian menyodorkan kehadapan pasangan pengantin baru itu.
“Apa itu?” Tanya Reka dengan alis bertaut.
“Hadiah pernikahan. Tiket bulan madu dan reservasi hotel di Bali.” Jawab Regina antusias.
Reka dan Willona sejenak saling tatap. Berbicara melalui isyarat mata.
“Terimakasih, Re.” Ucap Willona. Namun, wanita itu kembali mendorong amplop itu kehadapan kakak iparnya.
“Kalian menolaknya?” Ucap Regina dengan tatapan nyalang.
“Bukan begitu, Re. Kami hanya merasa tidak enak hati, William sudah begitu baik padaku. Dia membelikan aku mobil, kemarin juga membantu biaya pernikahan. Aku—.”
“William?” Ulang wanita itu. “Jadi kamu pikir yang punya uang hanya William? Kamu pikir aku tidak sanggup membelikan kalian tiket pesawat pulang pergi, dan membayar hotel untuk tiga hari?” Suara wanita itu tiba-tiba berubah berat. Seperti menahan tangis.
Ketiga orang lainnya pun saling melempar pandang. Sepertinya ada yang salah bicara, atau lupa jika wanita hamil itu sangat sensitif.
“Honey, Hey. Kenapa menangis?” William menggeser sedikit kursinya agar lebih dekat dengan sang istri. Kemudian mendekap tubuhnya dari samping.
“Siapa yang menangis?” Ucap wanita itu ketus.
“Re, bukan begitu maksudku.” Reka mencoba membela diri.
“Lalu apa? Kamu mau mengatakan jika uangku, aku dapatkan dari suamiku?” Suara Regina sedikit meninggi. Untung saja mereka berada di ruangan privat, sehingga tidak ada orang lain disana selain mereka.
“Aku juga bekerja. Aku belanja memang menggunakan uang suamiku. Tetapi, aku membeli hadiah ini dengan gaji ku sendiri.”
“Honey, tenanglah. Tidak ada yang beranggapan seperti itu. Kami semua tau kamu bekerja. Kamu seorang sekretaris direktur. Gajimu per bulan dua digit. Tentu kamu bisa membelikan tiket pulang pergi, serta bayar sewa hotel selama tiga hari.”
William berusaha menenangkan amarah sang istri. Ia memberi kode kepada adik dan adik iparnya dengan tatapan tajam.
“Re.. Terimakasih atas hadiahmu.” Willona kembali menarik amplop itu. Ia pun memeluk di depan dada. “Aku sangat senang sekali. Akhirnya aku bisa berlibur. Ya, walau cuma tiga hari. Pasti sangat menyenangkan karena kita pergi dengan orang tercinta.” Lanjut adik William itu lagi.
“Iya kan, sayang?” Ia pun mencari dukungan dari suaminya.
“Benar.” Reka kemudian bangkit. Dan mendekap sang kakak dari samping.
“Maaf, aku tidak ada maksud apapun. Hanya merasa tidak enak hati saja pada kalian. Tadinya, aku ingin mengajak Na pergi bulan depan. Tetapi, karena kamu sudah memberikan hadiah, maka aku akan memperpanjang cuti ku.” Ucap pria itu sembari mengecup pipi bulat sang kakak.
“Bagaimana jika kita pergi bersama? Kami honeymoon, sementara kalian babymoon.” Tawar dokter muda itu lagi. Harusnya ia tak asal bicara.
Regina menghela nafas panjang. Ia ingin sekali pergi, namun di kantor sedang banyak pekerjaan. Tak mungkin mengambil cuti untuk saat ini.
“Kalian mau pergi atau tidak? Jangan banyak alasan jika tidak ingin pergi.” Regina kembali merajuk. Ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya, karena sang suami pasti akan mengajaknya pergi. Sementara ia tak enak hati dengan papa mertuanya. Jika keseringan cuti.
“Tentu kami akan pergi, Re. Siapa yang tak mau berlibur? Gratis pula.” Jawab Willona sembari mengangkat amplop itu kemudian menyimpannya di dalam tas.
“Nah, kamu dengar. Mereka akan pergi. Sudah jangan marah atau menangis. Kasihan baby di dalam perut mommy. Dia pasti ikut sedih jika kamu sedih.”
Regina pun mengangguk mendengar ucapan sang suami. Setelah perdebatan itu, William mengajak sang istri untuk pulang, untuk menghindari terjadi perdebatan berikutnya. Ia beralasan, ibu hamil tidak boleh bergadang.
.
.