BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 75. Mungkin Anakmu Perempuan.



Keesokan harinya.


Regina dengan berat hati melepas kepergian William ke kantor. Ia ingin ikut, namun pria itu melarangnya. Terlebih lagi, siang ini para orang tua akan kembali dari liburannya. William tak ingin kena marah.


Namun, hampir saja pertahanan William runtuh kala melihat mata sang pujaan hati berkaca-kaca. Tetapi, pria itu tak kehabisan akal, dia mengatakan akan mengijinkan Regina kembali bekerja setelah hari pernikahan mereka. William juga berjanji akan pulang untuk makan siang.


Jika tau akan begini, William rasanya ingin mengurungkan niatnya menghamili Regina. Wanita itu bertambah manja, mudah sekali menangis, dan tak mau jauh dari dirinya.


Kemarin-kemarin, mungkin William yang ingin selalu dekat dengan Regina, tetapi sekarang justru kebalikannya.


“Dia baru hamil satu bulan saja sudah begini. Bagaimana delapan bulan kedepan?” William berbicara sendiri di dalam mobil.


Waktu sudah menunjukan pukul 9 pagi. Ia sudah terlambat satu jam. Untung saja, William sudah menghubungi sang asisten untuk datang ke kantor.


Ya, selama Regina cuti, William meminta Jimmy bekerja di kantor Sanjaya. Pria berusia 35 tahun itu serba bisa, dan sangat bisa di handalkan.


Setelah tiga puluh menit berkendara, putra sulung pak Antony itu tiba di pelataran parkir gedung perkantoran Sanjaya Group.


“Sepertinya ada yang berjanji akan mentransfer ke rekening ku, jika benar nona Regina bersama tuan dan nyonya liburan.”


Suara Jimmy mengagetkan William yang baru saja keluar dari dalam lift. Asistennya itu, sedang duduk menopang kaki, di atas sofa yang berada di sisi kiri lift.


“Astaga. Tidak sabaran sekali Hanoman satu ini.”


Meski menggerutu, William tetap merogoh ponsel didalam saku jas, kemudian mentransfer sejumlah uang, ke rekening Jimmy.


“Nah, kalau begini kan keren. Ingat bos, sang Rama tidak pernah ingkar janji.” Ucap Jimmy sembari menaik turunkan alisnya.


William berdecak kesal, ia pun berlalu menuju ruangannya.


“Kamu bisa menggunakan meja kerja Regina sementara waktu.” Ucap William sembari membuka kunci pintu ruang kerjanya.


Jimmy mengangguk tanda paham.


“Jadi kalian akan menikah minggu depan? Cepat sekali. Nona ketemu, dan kalian langsung menikah. Apa masalah ingus sedang selesai?”


“Dia hamil.” Ucap William sembari menghempaskan bokong di atas kursi kebesarannya.


“Wow… ternyata sang Rama tokcer juga.” Ucap Jimmy sembari mengacungkan dua jempol tangannya.


William pun menghela nafasnya kasar.


“Ada apa? Apa bos tidak menginginkan bayi itu? Atau bayi itu bukan anakmu?”


Mata William membulat sempurna. Ia mengambil pajangan keramik berbentuk guci kecil di atas meja, dan siap melempar ke arah Jimmy.


“Jangan asal bicara kamu. Hanya aku yang menidurinya.” Tangan William menggantung di udara. Ia urungkan melempar asistennya itu. Dan meletakkan kembali pajangan itu.


“Lalu?”


“Hanya saja, dia banyak berubah setelah dinyatakan hamil.”


Alis Jimmy berkerut mendengar ucapan atasannya itu. Drama apalagi kiranya yang sedang terjadi di antara William dan Regina?


“Apa dia mual saat berdekatan dengan mu?”


“Apa ada yang seperti itu?” William melontarkan pertanyaan balik.


“Hmm, Jenny saat mengandung Kenzo, aku bahkan harus mandi dulu sebelum berdekatan dengannya.” Ucap Jimmy mengenang kehamilan sang istri saat mengandung anak pertama mereka.


“Untung Gina tidak begitu, justru dia sebaliknya. Tidak mau jauh dariku.” Jelas William sembari menyandarkan punggung pada sandaran kursi.


“Bukannya itu bagus? Selama ini, bukannya itu yang bos inginkan? Dia menjadi milikmu seutuhnya.”


“Ya, tetapi aneh juga rasanya. Dia tidak pernah manja, tidak pernah merengek. Sekarang aku tinggal selangkah, dia pasti bertanya mau kemana? Boleh aku ikut? Atau bisakah disini menemani hingga aku tidur.”


Jimmy terkekeh. Ia memang menjadi tempat sang atasan menumpahkan segela keluh kesah, dan mencurahkan isi hati.


“Mungkin anakmu perempuan. Makanya dia tidak mau jauh dari mu. Bukankah orang mengatakan jika seorang ayah adalah cinta pertama anak perempuannya?”


“Apa benar begitu? Ah, Jimmy Morgan, dia baru berusia satu bulan. Mungkin masih sebesar butiran beras. Bagaimana bisa kamu mengatakan dia perempuan?” William memicingkan mata pada asistennya itu.


*“Tentu bisa, bos. Itu semua di tentukan oleh kromosom yang terkadung di dalam muntahan si boy. *Dia hanya bisa membawa satu kromosom. Jika si boy membawa kromosom X, dapat di pastikan, jika anakmu nanti perempuan.”


Jimmy berdecak kesal. Ingin sekali ia melempar sang atasan dengan bolpoin. Sudah di beritahu, justru menanggapi lain.


“Aku sudah memberitahumu, jika tebakanku benar. Bos harus memberiku hadiah.”


“Ingatkan delapan bulan lagi, kalau sekarang, aku takut nanti lupa.”


“Akan aku ingatkan setiap bulannya.”


Mereka pun mulai bekerja. William memberitahu, apa saja pekerjaan yang biasa Regina lakukan. Dan Jimmy pun menyimak dengan baik.


****


Alvino mencari Tamara ke beberapa tempat, namun tak menemukan jejak wanita itu. Ia juga sudah berusaha menghubungi nomor ponselnya, namun tidak aktif hingga hari ini.


Mantan kekasih Regina itu, bahkan meminta bantuan salah satu temannya yang bekerja di bandara, untuk mengecek nama Tamara Pradipta, yang mungkin menjadi salah satu penumpang pesawat. Namun, hingga pagi ini, tak ada satu pun penumpang pesawat domestik maupun internasional yang bernama Tamara Pradipta.


Alvino pun mulai frustrasi. Apakah ini karma dari perbuatannya menyakiti Regina? Sehingga sekarang Tamara pergi membawa calon anaknya.


Pria itu menghela nafas pelan. Ia teringat kembali dengan mantan kekasihnya Regina. Wanita yang ia cintai, namun dengan sadar telah ia sakiti.


“Maafkan aku, Re. Tak seharusnya aku mengkhianati mu. Andai waktu dapat aku putar kembali, aku tidak akan melakukan ini dengan Tamara atau wanita lain.”


Pria itu menelungkupkan kepalanya di atas meja kerja. Terlalu memikirkan masalah dengan Tamara, membuat kepala Alvino berdenyut.


“Al, kamu kenapa?” Suara sang mama tiba-tiba terdengar di dalam ruangannya.


“Ma?”


“Kamu kenapa, Al?” Tanya sang mama sembari mendekat, dan mengusap kepala sang putra.


“Tamara pergi, ma?”


“Baguslah, jadi tidak ada lagi penganggu dalam hubunganmu dan Regina.”


“Ma, Tamara tidak pernah menganggu hubunganku dengan Regina, ma. Aku yang salah disini.”


Nyonya Mahendra berdecak kesal.


“Jadi kamu membelanya?”


“Aku tidak membelanya, ma. Tetapi itulah kenyataannya. Tamara datang meminjam uang padaku, dan aku meminta tubuhnya sebagai pengganti uang itu. Dia menolakku, ma. Tetapi keadaan neneknya yang sekarat waktu itu, mengharuskan dia menerima tawaran ku.”


“Sama saja, dia juga salah. Sudah tau kamu sudah punya pacar, kenapa dia mau?”


“Dia terpaksa, ma.”


“Lalu sekarang? Bagus dong kalau dia pergi, itu artinya dia sudah tidak membutuhkan kamu lagi. Bukannya nenek dia sudah meninggal? Jadi tidak ada alasan untuk dia tetap bertahan disini.”


“Dia hamil anakku, ma.”


Ucapan Alvino membuat bola mata nyonya Mahendra membulat sempurna.


“Jangan bercanda kamu, Al. Ini tidak lucu.”


“Aku serius, ma.” Ucap Alvino pelan. Meski dirinya tidak mau berbicara dengan Tamara beberapa hari lalu, tetapi ia tak memungkiri jika wanita itu memang mengandung anaknya.


“Kamu yakin dia mengandung anakmu?”


“Dia hanya tidur denganku, ma. Bahkan aku pria pertama untuknya.”


“Lalu bagaimana dengan Regina? Mama sangat berharap kalian kembali bersama.”


“Kami sudah berakhir, ma. Meski Tamara tidak hamil, Regina tidak mungkin kembali padaku.”


Alvino pun membuang nafasnya kasar.


.


.


. Bersambung.