BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 74. Seperti Tom dan Jerry.



“Boleh aku bertanya sesuatu?” Regina belum bisa memejamkan matanya. Ia sibuk mengendus aroma maskulin yang menguar dari kulit William.


“Apa, Hon?” William sejatinya sangat lelah. Ia ingin sekali tidur. Tetapi, tak tega membiarkan Regina terjaga sendirian.


“Jadi, waktu kecil aku memanggilmu kak Iam?”


“Hmm..”


Regina mendongak. “Kamu tidak mau membahas masa lalu kita?”


William menghela nafasnya pelan. Sebenarnya ia enggan. Karena akan membuatnya merasa mual, tetapi jika ia katakan hal itu pada Regina, wanita itu pasti akan tersinggung.


Wanita hamil itu sensitif, mood nya akan mudah sekali berubah. Begitu pesan dokter yang terngiang di kepala William. Maka William berupaya agar tidak menyinggung perasaan Regina.


“Iya.. kamu tau, bahkan saat itu, kamu sudah menjadi budak cintaku.” Jawab William terkekeh. Ia berusaha mengalihkan pikiran agar tidak mengingat tampilan Regina di masa kecil.


“Mana ada?” Gumam wanita itu.


“Jelaslah.. setiap aku pulang kampung, kamu pasti akan mengejarku. Kak Iam, kak Iam. Tunggu aku.” William menirukan suara anak kecil di akhir kalimatnya, seolah itu suara Regina saat masih kecil.


“Apa benar aku membuatmu jatuh ke dalam selokan?”


“Hmm, kamu mengejarku terus menerus. Maafkan aku, karena kamu dulu begitu, jadi aku menghindari mu. Maka dari itu, aku terus berlari, sambil melihat kebelakang, takut kamu menangkap aku. Tak taunya, di depanku ada selokan yang sangat kumuh.”


“Memangnya aku bagaimana?” Regina sengaja memancing, apa William mau mengatakan tentang Regina di masa kecil.


“Ya, begitu Honey. Jangan di ingat lagi.” Rasa mual tiba-tiba menjalar di kerongkongan William. Dengan cepat pria itu melepas dekapan pada tubuh Regina, kemudian berlari ke kamar mandi.


Regina menganga di tempat tidur, alisnya berkerut, melihat kepergian William. Sedetik kemudian, mata wanita itu membulat, kala mendengar suara orang sedang muntah di kamar mandi.


Dengan cepat Regina menghampiri William ke dalam kamar mandi.


“Astaga. Kamu kenapa?” Tanya wanita hamil itu, saat melihat William bersimpuh di depan kloset.


William bangkit kemudian membasuh wajah di depan wastafel.


“Aku tidak apa-apa, Hon. Mungkin masuk angin. Aku juga kurang tidur.” Berdusta demi kebaikan tidak masalah menurut William.


“Ya sudah, ayo kita tidur. Aku juga lelah.”


Regina merentangkan kedua tangan, meminta William memeluknya, mereka pun berjalan ke arah ranjang.


Mereka akhirnya tidur. Tanpa menganggu satu sama lain.


Menjelang petang, Willona memutuskan ikut membuat makan malam di dapur. Ia ingin memastikan langsung, bahan yang di gunakan untuk membuat makan malam, aman dan sehat untuk Regina.


“Bu, mulai sekarang kurangi penggunaan bahan instan. Kurangi micin, ah tidak. Jangan menggunakan micin. Tidak baik untuk kesehatan.” Nona muda keluarga Sanjaya itu memberi perintah.


“Satu lagi, jika Regina minta makan dan minum. Jangan menggunakan nanas, apalagi nanas muda.”


Asisten rumah tangga berusia 50 tahunan itu, mengangguk paham. Ia tak berani banyak bertanya. Karena beberapa hari lalu, rumah Sanjaya sudah gempar dengan kejadian William yang memperdaya Regina.


“Maaf, non. Ada tamu.” Seorang asisten rumah tangga yang lebih muda, datang menghampiri Willona yang sedang mengaduk ayam kuah bumbu kuning di dalam panci, di atas kompor.


“Siapa, mbak?” Tanya gadis itu.


“Adiknya nona Regina, yang kemarin datang bersama tuan William.”


Willona membuang nafas kasar. Ia pun menyerahkan makanannya pada para asisten rumah.


“Ada apa datang kemari?” Tanya Willona sedikit ketus.


“Judes sekali.” Jawab Reka singkat. Dokter muda itu justru berjalan memasuki rumah mewah itu. Membuat Willona menganga di tempatnya.


“Hey, masuk rumah orang sembarangan.” Gadis itu mengikuti Reka.


“Aku mau bertemu kakakku. Dia sendiri yang meminta aku datang.” Tanpa di persilahkan, adik Regina itu duduk di atas sofa ruang tamu.


Willona kembali menganga.


“Astaga. Menyebalkan sekali orang ini.” Gerutu Willona.


“Dimana kakakku?” Tanya Reka sembari menyandarkan punggung pada sandaran sofa. Kemudian menumpangkan kaki kanan, di atas lutut kaki kiri.


‘Pria ini benar-benar menyebalkan.’


Jika bukan adik Regina, ingin sekali Willona menghajar Reka saat ini.


“Kakakmu sedang tidur.” Willona mengambil tempat di seberang Reka.


“Ini masih sore. Kenapa dia tidur jam segini? Apa dia sudah makan malam?”


“Kenapa?” Reka menatap heran gadis di hadapannya.


“Tidak, tunggu sebentar biar aku panggilkan.” Willona bangkit, kemudian menapaki tangga menuju kamar William.


“Tunggu sebentar mereka sedang mandi.” Gadis itu datang lagi setelah beberapa menit.


“Mereka?”


“Ya, kakakku dan kakakmu. Siapa lagi.” Willona kemudian meninggalkan Reka sendiri. Ia pergi ke ruang makan untuk menyiapkan makan malam.


“Wah, ternyata gadis seperti dirimu bisa melakukan pekerjaan seperti ini, ya?”


Willona berdecak kesal. Adik Regina begitu menyebalkan baginya.


“Siapa yang menyuruhmu ikut kemari?”


“Siapa yang menyuruhmu meninggalkan tamu sendirian?” Reka melempar pertanyaan balik.


Willona pun memutar bola matanya malas. Hal itu membuat Reka semakin gemas. Ia tanpa henti menggoda Willona.


‘Menyenangkan sekali menggoda gadis ini.’


Plak!!


Willona menampar tangan Reka yang terulur meraih potongan buah segar di atas meja.


“Jangan sembarangan. Itu aku siapkan untuk Regina.” Gadis itu mengambil piring berisi potongan buah itu, kemudian menyimpan di lemari pendingin di dekat ruang makan.


“Pelit sekali.” Ucap Reka dengan nada mengejek. Sebuah senyum tipis pun terbit di wajah tampannya.


“Mereka cocok ya, Will.” Ucap Regina kepada William. Mereka berada di ujung tangga, mengamati interaksi kedua adik-adik mereka.


William menatap tak percaya ke arah Regina. Jangan katakan jika wanita itu, ingin adiknya menjalin hubungan dengan adik wanita itu.


“Apa maksudmu, Honey?”


“Mereka berdua cocok. Seperti Tom dan Jerry.” Regina menyebut dua tokoh kartun yang sangat terkenal pada masa kecilnya.


William menghela nafasnya. “Aku kira kamu ingin menjodohkan mereka.”


Regina nampak berpikir sejenak. Ia kemudian menganggukkan kepalanya. “Ide mu boleh juga, daddy.”


William menganga. Ide? Astaga. Pria itu hanya menerka, kenapa Regina menangkap lain.


“Aku akan bicarakan nanti dengan papa dan ayah.” Regina kemudian berjalan menuju ruang makan.


“Astaga. Semenjak hamil, kenapa dia banyak berubah begini?” William menggerutu, sembari mengikuti langkah wanita itu.


Regina dan Reka saling memeluk sebentar, mereka kemudian mengambil tempat masing-masing.


“Enak sekali ayam kuah kuning ini.” Ucap Regina memuji, sembari menyuapkan makanan ke dalam bibirnya.


“Ya kan, Will.” Ia meminta pendapat calon suaminya.


“Hmm, si bawel memang pintar membuat ini.” Ucap William kemudian.


“Si bawel?” Tanya Regina bingung.


“Dia.” Tunjuk William dengan dagunya.


“Wah, jadi kamu yang membuat ini, Na.”


Willona mengangguk. Sementara Reka terbatuk karena kaget.


‘Gadis ini ternyata pintar memasak juga.’


“Ka, pelan-pelan.” Regina menyodorkan air kepada sang adik.


“Kamu pasti kaget karena tau aku yang memasaknya, kan?” Terka Willona.


“Gede Rasa sekali kamu.”


.


.


.


Bersambung.