
Pagi menjelang. Burung-burung terdengar sudah ramai bernyanyi. Bias-bias cahaya pun telah menyelinap masuk di sela-sela jendela. Namun, Sepasang calon orang tua itu, masih asyik bergelung di bawah hangatnya selimut. Mengingat cuaca di tempat itu lebih dingin daripada di ibukota.
Semalam, setelah mengobrol, mereka langsung tidur, dan tidak melakukan aktivitas yang menguras keringat.
William berusaha menahan dirinya. Walau di internet mengatakan, aman melakukan hal itu saat hamil muda. Namun, ia tidak mau gegabah. Apalagi, mengingat Regina sempat pingsan. William tidak mau hal buruk terjadi pada Regina dan juga calon anak mereka.
“Mommy, bangun.” Ucap William serak. Ia mengusap lembut punggung sang pujaan hati. Sesekali mencium pucuk kepala wanita itu.
Regina melenguh kecil. Bukannya bangun, wanita itu justru mengeratkan pelukannya pada tubuh William.
“Honey, bangun. Aku bisa di makan hidup-hidup oleh ayahmu, jika kita bangun kesiangan.”
Bukannya William tak memiliki rasa kasihan, namun ia melihat jam yang menggantung di dinding kamar, sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Seandainya mereka hanya berdua di tempat itu, William akan membiarkan Regina tidur lebih lama.
“Jam berapa?” Tanya wanita itu, namun matanya masih terpejam.
“Jam 7, Hon. Para lansia itu mungkin sudah di meja makan. Kita bangun ya. Kita pulang hari ini. Kamu bisa tidur lebih lama di apartemen setelah itu.”
Regina menggeliat. Ia kemudian meregangkan otot-ototnya. Lalu bangkit dengan malas.
“Gendong.” Ucapnya manja sembari merentangkan kedua tangan.
William mencebik. Untuk pertama kalinya, Regina manja seperti ini.
“Dengan senang hati, nyonya.” Pria itu pun meraup tubuh Regina. Kemudian membawa ke kamar mandi.
Di kamar mandi. William tak dapat lagi menahan keinginannya. Namun, ia juga tak tega jika harus meminta pada Regina. William berencana mengajak wanita itu periksa ke dokter kandungan sekali lagi. Memastikan jika calon anak mereka benar-benar sehat, dan aman untuk William melakukannya.
“Honey, kamu mandi di sini. Aku mau mandi di sana.” Tunjuk pria itu ke arah shower. Sementara, Regina berada di dalam bathtub.
“Kenapa tidak ikut disini? Aku bisa menggosok punggung mu?” Tawar Regina.
“Tidak, Hon. Sesuatu bisa saja terjadi, dan aku tidak mau itu. Jangan sampai aku di black list, menjadi calon mantu om Regan.” William kemudian menjauh dari bak mandi itu. Semakin lama melihat tubuh Regina, semakin berbahaya untuk mereka.
Hampir lima menit mengguyur tubuhnya dengan kucuran air, tiba-tiba sepasang tangan merayap di pinggangnya.
“Biar aku bantu.” Suara Regina terdengar sangat mendayu di telinga William. Membuat pria itu susah untuk menelan ludahnya.
“Hon-Honey, jangan.” William memejamkan mata saat merasakan tangan Regina mendekap si boy. Kemudian memberikan pijatan lembut. Boy, yang tadi sudah hampir tertidur terkena air dingin, kini kembali bangun.
“Jangan sungkan meminta bantuan, tuan. Aku masih bisa memanjakan si boy, meski bukan dengan yang itu.”
William semakin menggila. Beberapa saat kemudian, Regina berjongkok di hadapan William. Seketika mata pria itu terbelalak saat merasakan boy, masuk kedalam rongga mulut wanita itu.
“Hon-Honey, jangan lakukan itu.sshh.” William berusaha mengangkat tubuh Regina. Namun wanita itu menolak. Dan tetap melakukannya.
“Honey… sshh.. tidak…” William tak mampu menahan godaan Regina. Ia pun pasrah menikmati apa yang sekretarisnya lakukan.
“Reginaaa…” William mengeram saat boy menumpahkan semuanya. Nafas pria itu pun memburu. Dadanya naik turun. Saat sedang menikmati sisa-sisa pelayanan yang Regina berikan, ia teringat akan wanita itu.
“Honey?”
Dengan cepat William mengangkat tubuh Regina, membuatnya berdiri.
“Kamu menelannya?” Wanita itu mengangguk.
“Astaga.”
Mereka kemudian melanjutkan acara mandi. Dapat di pastikan, para orang tua pasti sudah meradang menunggu mereka keluar dari kamar.
****
Dan benar saja, saat keluar dari kamar, suasana villa terasa horor. Para orang tua menatap mereka bersamaan.
“Apa kalian sudah, pu-as?” Tanya pak Regan dengan tatapan setajam silet.
“Ayah!!” Nyonya Karin mendelik ke arah sang suami.
“Jika saja putriku tidak hamil, aku tidak akan membiarkan dia menikah dengan pria ini.”
“Gan?” Kali ini nyonya Aurel yang bersuara.
“Maafkan kami, ayah. Aku sengaja membiarkan Gina tidur lebih lama. Mengingat, kemarin dia pingsan. Apalagi, sekarang dia sedang mengandung, dia butuh istirahat lebih lama.” William bersuara. Ia ingin membuat kesan baik di mata calon mertuanya itu.
“Cihh, ayah.” Gumam pak Regan.
“Kamu tidak membuatnya kelelahan kan? Pria sepertimu, mana mungkin tahan godaan?”
“Tanyakan pada putrimu, kami semalam hanya mengobrol setelah itu tidur. Aku juga tidak ingin menyakiti anak kami, sebelum memeriksakan langsung ke dokter kandungan.” Jelas William.
Mereka kemudian sarapan bersama. Sesekali William terlihat menyuapi, bahkan mengusap bibir Regina.
“Kami sudah memutuskan, minggu depan kalian menikah. Sebelum perut Regina membesar.” Pak Antony memulai pembicaraan saat acara makan pagi itu selesai, namun mereka masih duduk di kursi meja makan.
“Aku siap, pa. Lebih cepat lebih baik.” William menjawab.
“Cih, kemarin saja kamu meninggalkan putriku.” Sela pak Regan.
“Ayah, jangan mulai lagi. Tolong maafkan kesalahan William yang itu, Yah. William sudah menjelaskan semua padaku.” Ucap Regina kepada sang ayah.
“Ayah hanya ingin kamu bahagia, nak.”
“Maka biarkan aku menikah dengan William. Jangan mengungkit hal itu lagi.”
Pak Regan menghela nafasnya pelan.
William kemudian bangkit dari tempat duduknya. Pria itu lalu bersimpuh di samping kursi yang di tempati oleh pak Regan.
“Will.” Regina terkejut melihat apa yang William lakukan.
“Ayah, aku mohon maafkan kesalahan ku. Aku tau, aku salah. Maka aku akan berusaha untuk memperbaiki diri kedepannya. Dan pagi ini, di hadapan kedua orang tua ku, dan juga ibu Karin, aku meminta restu Ayah, untuk menikahi putri ayah. Yang akan aku jadikan teman hidupku, dan menemani aku hingga akhir usiaku.” William berucap panjang lebar, Dengan kepala menunduk. Ia kini harap-harap cemas. Sangat sulit meluluhkan hati calon ayah mertuanya.
Terdengar helaan nafas dari pria paruh baya di hadapannya.
“Berjanjilah padaku, William. Kamu akan selalu menjaga dan mencintai putriku, seperti aku menjaga dan mencintainya selama ini.”
William pun mengangkat kepalanya. Dengan mantap putra pak Antony itu mengangguk.
“Aku akan menjadikan putrimu ratu di hidupku, ayah. Aku tidak bisa berjanji, tetapi aku akan berusaha untuk membuktikan, jika aku layak menjadi suami yang baik untuk Regina.”
“Bangunlah.”
Pak Regan menarik bahu William, mereka kemudian saling memeluk satu sama lain.
“Terima kasih, ayah.”
Rasa haru tiba-tiba menyelimuti ruang makan villa mewah itu.
“Kemarilah.” Pak Regan mengulurkan tangan ke arah sang putri. Dan Regina pun bangkit menghampiri kedua pria yang ia cintai itu.
“Ayah serahkan kamu, kepada pria yang mengaku sangat mencintaimu. Ayah berharap, kalian bisa hidup saling melengkapi satu sama lain. Saling mencintai hingga akhir usia kalian.”
William dan Regina mengangguk bersamaan. Mereka kemudian memeluk pak Regan.
“Terima kasih, ayah.”
Setelah drama yang mengharu biru usai, mereka pun duduk bersama di ruang tamu.
“Pa, ma, Yah, bu. Aku meminta ijin kalian untuk membawa Regina pulang hari ini.” Ucap William di sela obrolan membahas masalah pernikahan mereka. Telah di sepakati, pernikahan akan di gelar minggu depan, dengan hanya mengundang anggota keluarga dan karyawan Sanjaya Group.
“Kenapa cepat sekali?” Tanya nyonya Aurel.
“Aku ingin membawa Regina ke dokter kandungan, memastikan langsung keadaan anak kami.”
“Tapi setelah itu, bawa Regina ke rumah. Mulai hari ini, hingga hari pernikahan kalian, Regina akan tinggal di rumah Sanjaya.” Pak Antony memberi perintah.
Keputusan pak Antony membuat mata William membulat sempurna.
“Pa, tidak bisa begitu.” William tak terima.
“Tinggal di rumah Sanjaya, atau tinggal di rumah Prayoga? Kamu tinggal pilih.” Pak Regan ikut berbicara.
William pun dengan susah payah menelan ludahnya. Tidak satupun yang ingin ia pilih.
Rumah Prayoga? Itu artinya pak Regan akan membawa Regina pulang kampung? Dan William tidak akan membiarkan itu terjadi.
“Ru-rumah Sanjaya.” Jawabnya pasrah.
.
.
.
Bersambung.