BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 79. Tidak Pernah Merebutnya.



Di malam hari, setelah Regina tertidur, William memutuskan untuk singgah ke klub sebelum kembali ke apartemen. Ia ingin mengecek keadaan tempat hiburan malam itu, sebelum nanti mengambil cuti menjelang hari pernikahan yang tinggal tiga hari lagi.


Seperti biasa, sebelum meninggalkan Regina sendirian di kamar pria itu, William akan mengecup kening dan perut wanita itu. Kemudian pergi meninggalkan rumah Sanjaya.


Sesuai syarat yang di ajukan oleh calon istrinya, William selalu pulang ke rumah Sanjaya, setelah seharian bekerja di kantor. Dan baru akan kembali ke apartemen, setelah Regina terlelap.


“Bos.” Sapa menejer klub. Mereka melakukan tos, kemudian saling memeluk.


“Selamat atas pernikahannya. Aku kira, bos tidak akan menikah secepat ini.” Ucap pria yang seumuran dengan William itu. Ia dan Jimmy tau betul bagaimana kelakuan atasannya selama ini. Tidak memiliki kekasih. Namun sering berganti teman kencan.


Tetapi, ada satu hal yang pria itu tidak ketahui, tentang rahasia William, yang hanya di ketahui oleh Jimmy dan Regina saja.


“Kamu pikir, hanya kamu yang boleh memiliki istri? Aku juga ingin, setiap malam ada yang mengeloni.”


“Meski tidak mempunyai istri, bukannya setiap malam, sudah ada yang mengeloni, bos?” Menejer itu terkekeh.


“Kurang ajar, kamu.” William memukul bahu bawahannya itu. Mereka kemudian tergelak bersama.


Seorang Waitress datang membawakan minuman untuk mereka berdua. Sembari menikmati alunan musik, William dan menejer klub itu kembali mengobrol.


Tak jauh dari sana, seseorang mengamati William dengan tatapan penuh kebencian. Siapa lagi jika bukan mantan kekasih, dari calon istrinya, Alvino.


Ya, setelah pulang dari kantor, Alvino kembali ke apartemen untuk menganti pakaian dan makan malam. Dan tiba-tiba saja terlintas di benak pria itu untuk mengunjungi klub malam milik William. Siapa tau, ia akan bertemu pemilik tempat itu. Benar saja, baru setengah jam ia berada di tempat itu, pria yang sedari tadi di nanti, datang dengan sendirinya.


“Sekarang kamu bisa tertawa lepas, William Sanjaya. Tetapi setelah ini, aku pastikan, kamu bahkan tidak akan bisa menghadiri pesta pernikahan mu.” Alvino bermonolog sembari menenggak minumannya.


Mata pria itu terus mengamati pergerakan William. Ia ingin membuat perhitungan dengan pria itu.


Pukul 11.30 malam, William memutuskan pulang. Ia tidak mau tidur terlalu larut malam, takut besok pagi calon istrinya memarahi, karena tidak mengangkat telpon tepat waktu. Semenjak mereka terpisah, Regina menjadi sering menghubungi pria itu di pagi hari, melakukan panggilan video, melihat aktivitas apa saja yang William lakukan di apartemen.


Sungguh putra pak Antony itu merasa aneh, melihat Regina menjadi budak cintanya. Ia pun kembali teringat akan gadis kecil di masalalunya.


Saat hendak membuka pintu mobil, sebuah tangan menarik bahunya. Dan ketika William menoleh kebelakang, kepalan tangan menghantam pipinya. Membuat tubuh pria itu terhuyung.


Mata William membulat sempurna, ia meraba pipi yang terasa panas.


“Kurang ajar.” Calon suami Regina itu mengeram, kala mendapati Alvino berdiri menantang, di hadapannya.


Senyum mengejek pun terbit di wajah William.


“Apa maksudmu, bung?” Tak membalas pukulan pria itu, William justru melontarkan pertanyaan.


“Itu balasan karena kamu telah mengambil Regina dariku. Dan itu belum seberapa.” Kepalan tangan siap Alvino layangkan lagi, namun dengan sigap William menangkapnya.


“Apa maksudmu?”


“Apa maksudku? Kamu sudah tau bukan, Regina melihat mu bermain bersama simpananmu, di hari jadi kalian. Dan sejak saat itu lah, Regina telah menjadi milikku.”


Mata Alvino membulat mendengar ucapan William. Jadi benar jika selama ini Regina memiliki hubungan dengan atasannya?


“Kurang ajar.”


Alvino meraih leher kemeja yang William gunakan, dan kembali melayangkan kepalan tangannya, hampir terkena pukulan kembali, William membalas, dan memukul Alvino hingga tersungkur.


Untung saja, William memarkirkan mobilnya di parkiran khusus pemilik klub. Jadi tidak ada orang yang melihat perkelahian mereka.


“Jangan pernah kamu menyalahkan Regina, dia melakukan semua itu, karena kamu sendiri yang memulai lebih dulu. Kamu bahkan mengkhianati Regina selama dua tahun.”


Alvino tersentak mendengar ucapan William.


“Kenapa? Kamu pikir aku tidak tau?” William mencebik. Ia kemudian berjongkok di hadapan Alvino.


“Jangan menjadi pecundang, sadarlah. Kamu yang memulai bermain api, jika sekarang kamu terbakar, itu sudah menjadi resiko mu. Aku sudah mengatakan waktu itu, aku pasti akan merebut Regina darimu. Dan sekarang, dia hanya akan menjadi milikku satu-satunya”


William kemudian bangkit, lalu berjalan ke arah mobilnya. Namun, sebelum membuka pintu, pria itu kembali berucap.


“Kami akan menikah, aku harap kamu juga segera menikahi simpananmu itu, sebelum perutnya semakin membesar.”


Ya, William tau jika Tamara kini tengah hamil. Tanpa ia minta, orang suruhannya, yang sekaligus teman sekolah Regina, memberikan informasi tentang hubungan Alvino dan Tamara saat ini. Namun William tidak menceritakan hal itu kepada Regina, ia tidak mau calon istrinya itu banyak pikiran, sehingga berdampak pada kehamilan wanita itu.


Mata Alvino membulat mendengar ucapan William. Pria itu bangkit hendak meminta penjelasan, namun mobil mewah William telah berlalu keluar dari tempat parkir itu.


“Si-al, dia memata-matai ku.” Alvino pun meninju udara di sekitarnya.


Sementara itu, Sesampainya di apartemen, William langsung mengambil es batu untuk mengompres sudut bibirnya yang sedikit memerah. Ia tidak mau besok pagi Regina melihat saat mereka melakukan panggilan video.


“Dasar si rahwana durjana, Regina bisa menangis jika melihat wajah tampan ku cacat begini.”


.


.


.


Bersambung.