
Hari yang dinantikan tiba. Sejak pagi, rumah keluarga Sanjaya telah riuh dengan persiapan pernikahan yang akan di gelar beberapa jam lagi.
Para undangan yang merupakan orang terdekat, seperti keluarga, tetangga, sahabat dan para petinggi Sanjaya Group pun mulai berdatangan.
Calon pengantin wanita, sibuk mematut diri di kamarnya. Sementara, calon mempelai pria, bersiap di kamar tamu.
Willona terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin berwarna putih, berlengan panjang. Gadis itu sengaja memilih gaun tertutup. Ia sudah sering menggunakan pakaian kekurangan bahan saat pemotretan. Jadi, di hari yang sakral ini, Willona ingin terlihat sempurna, dan tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya.
“Cantik sekali.” Puji Regina dengan tulus. Ia bahkan merasa, kalah cantik saat acara pernikahannya dulu.
“Terimakasih, Re. Kamu juga cantik.” Balas Willona, pengantin wanita itu juga mengusap lembut perut kakak iparnya.
“Dia tidak rewel, kan?” Tanyanya lagi, mengingat di pagi hari, wanita hamil itu sering sekali muntah.
“Kali ini tidak. Mungkin dia tau, jika hari ini, hari penting om dan tantenya. Jadi, tidak mau membuat ulah.” Jawab Regina terkekeh.
“Kalian sudah siap?” Tanya nyonya Aurel yang juga terlihat cantik menggunakan gaun berwarna merah muda, senada dengan Regina.
“Cantik sekali anak mama.” Ucap wanita paruh baya itu lagi. Haru tiba-tiba menyelimuti hatinya. Ia merasa, baru kemarin menimang gadis kecilnya, tetapi sekarang sudah akan menjadi seorang istri.
“Kemarilah, nak.” Nyonya Aurel meraih pundak sang putri. Kemudian mendekap sejenak.
“Jadilah istri yang baik, dan berbakti pada suamimu. Jangan melawan perintah suami. Karena mulai hari ini, dia lah yang harus kamu patuhi.” Suara ibu dua anak itu sedikit berat, menandakan ia sedang menahan tangisnya.
“Iya, ma. Terimakasih telah merawatku selama ini, ma. Maafkan aku, belum bisa membahagiakan mama.” Jawab Willona yang juga ikut terharu.
“Sudah. Nanti riasan mu rusak.” Ucap sang mama terkekeh. Ia kemudian meminta selembar tissue pada sang menantu, lalu mengusap air mata sang putri.
“Aku sudah mencari perias paling handal. Riasannya tak mungkin luntur, tahan badai dua puluh empat jam.” Jawab Willona sembari mengusap sudut matanya.
“Au, sudah? Antony sudah ada di depan.” Nyonya Karin datang menginterupsi.
“Ah, cantik sekali menantu ibu.” Pujinya pada sang calon menantu.
“Terimakasih, bu. Ibu juga cantik.”
“Sudah, ayo kita keluar. Jangan sampai si dokter posesif itu yang datang kemari memanggil pengantinnya.” Regina berucap. Ia tak mau suasana kembali mengharu biru.
“Ah, ya. Benar yang Gina ucapkan. Reka kalau sudah tidak sabaran, suka nekat.” Imbuh nyonya Karin.
Mereka kemudian keluar dari kamar gadis itu.
“Wah, putri papa cantik sekali.” Pak Antony berdecak kagum melihat penampilan putri.
“Ah papa orang kesekian yang mengatakan aku cantik. Aku memang sudah cantik dari lahir, pa.” Tukas Willona sembari merangkul lengan cinta pertamanya itu.
Mereka pun berjalan an beriringan, dengan para wanita di belakangnya.
‘Mama, papa, Regina, ibu. Aku tau kalian semua menghiburku. Apa kalian mengira aku terpaksa menikah karena sudah berbuat lebih dengan Reka? Kalian salah, aku sangat bahagia hari ini.’
Sementara itu, di pelaminan Reka menunggu calon istrinya di temani sang kakak ipar. Pria yang lima tahun lebih tua darinya itu, tak henti-henti menggodanya.
Jika bukan kakak ipar, mungkin Reka akan membungkam bibir pria itu.
“Aku titip adikku padamu. Tolong cintai dan sayangi dia seperti aku dan papa menyayanginya. Ah tidak, aku harap, kamu bisa mencintai dia lebih dari cinta yang kami berikan.” Kini suami Regina itu berucap serius.
“Ya, aku akan berusaha sebisaku. Semoga aku tidak mengecewakan kalian.” Jawab calon pengantin pria itu.
“Hmm, jika suatu saat kamu bosan dengannya, tolong jangan usir adikku, tetapi kembalikan dia secara baik-baik, seperti kamu memintanya kepada kami.”
Reka menatap tak percaya ke arah kakak iparnya. Pria yang selama ini ia kira hanya bisa bercanda, ternyata bisa serius juga.
“Kemarilah.” William menarik bahu adik iparnya. Mereka kemudian saling memeluk.
Kemudian, terlihat Willona yang memasuki tempat acara. Dari kejauhan gadis itu terlihat sangat cantik. Membuat para undangan yang hadir terpana melihatnya.
“Lihat, dia begitu cantik.” Ucap William. Namun pandangan pria itu bukan mengarah pada sang adik, tetapi pada sang istri yang sedang berjalan bersama sang mama.
“Ya, calon istriku memang cantik.” Ucap Reka dengan suara berat.
“Aih, bukan dia. Aku mengatakan istriku.” Tukas William kemudian.
Reka pun hanya mencebikan bibirnya. Iringan pengantin wanita itu semakin dekat.
Reka tak dapat melukiskan perasaannya. Bahagia bercampur haru. Tentu saja. Karena ia menikah dengan wanita yang sangat di cintainya. Meski mereka mengenal baru dalam hitungan bulan, namun cinta itu sudah sangat besar ia rasakan.
“Putra Reka Prayoga, mulai hari ini, aku serahkan tanggung jawab putriku di tanganmu. Semoga, kamu bisa menyayangi, mencintai, menghargai putriku, seperti kamu memperlakukan ibumu.” Pesan pak Antony ketika menyerahkan tangan sang putri kepada pria yang di cintainya.
“Terimakasih, pa. Terimakasih telah mengijinkan putrimu hidup bersamaku. Aku tidak bisa berjanji, namun aku akan selalu berusaha, untuk selalu membahagiakan putri papa.” Ucap Reka kemudian.
“Ah, pasti ada drama nangis-nangis lagi.” Gumam William.
“Namanya juga suasana haru.” Celetuk ayah mertuanya.
“Eh, kapan datang? Perasaan tadi ayah tidak disini.”
“Sekarang kan sudah disini.” Jawab pria paruh baya itu acuh.
Sebelum mengucapkan janji suci pernikahan, Reka masih sempat berbisik pada calon istrinya.
“Kamu cantik sekali, sayang. Aku tak sabar membawa mu ke kamar.”
Mata Willona membulat sempurna. Ia tak menanggapi. Membuat calon suaminya terkekeh kecil.
Beberapa saat kemudian, acara pun dimulai. Kedua mempelai bergantian mengucapkan janji suci pernikahan. Tepuk tangan bergemuruh, saat kedua mempelai mengakhiri acara itu dengan sebuah kecupan singkat.
Setelah menandatangani dokumen pernikahan, kedua mempelai itu pun menghampiri keluarga mereka untuk melakukan foto bersama.
“Selamat untuk kalian berdua.” Regina menghambur memeluk kedua adiknya bersamaan.
Willona merasa terharu mendengar ucapan ayah mertuanya.
“Iya, ayah. Terimakasih telah menerima aku menjadi menantumu.”
Dari jarak yang tak begitu jauh, Pak Antony memicingkan matanya. “Ternyata si bulat itu bisa bijaksana juga.” Celetuknya pelan, agar tak ada yang mendengar.
“Apa papa masih menyimpan perasaan kepada ibu mertuaku?” Bisik William yang berdiri di sampingnya.
Deg!!
Mata pak Antony membulat. Bagaimana bisa William bertanya seperti itu.
“Apa yang kamu katakan?” Ucap pak Antony dengan nada yang sangat rendah.
“Aku sudah tau semuanya. Aku harap, papa tak menyakiti mama dan ayah mertuaku.” Ucap William yang tak kalah rendahnya.
Ya, kemarin tanpa sengaja ia mendengar perbincangan sang papa dengan ibu mertuanya. Tentu William tak menyangka, jika dulu ada kisah cinta segitiga diantara papa, ayah dan ibu mertuanya.
“Kamu tenang saja, semenjak dia menolak papa. Rasa itu sudah mengilang. Dan hanya ada cinta untuk mamamu. Kamu dan Willona adalah bukti, jika papa sangat mencintai mamamu.”
William mengangguk tanda paham. Mereka kemudian bergabung bersama keluarga yang lain untuk berfoto.
“Kamu cantik sekali, mommy. Bagaimana jika setelah berfoto, kita permisi sebentar?” Bisik William kepada sang istri.
“Kemana?” Wanita itu juga berbisik, karena lensa kamera sedang membidik mereka.
“Memanjakan si boy.”
Regina pun mencebik, kemudian mencubit pinggang pria itu.
“Dasar pria nakal.”
Setelah bersua foto, dan menyapa para tamu. Kini kedua insan yang telah resmi menjadi suami istri itu sedang duduk berdua menikmati makan siangnya, sepiring berdua. Dengan Reka yang begitu telaten menyuapi istrinya.
“Sudah, giliran ku yang menyuapimu. Malu sama para tamu. Nanti di kira kamu budak istri.” Willona merebut alat makan dari tangan sang suami. Ia pun menyuapi pria itu.
“Aku tidak perduli omongan orang. Aku mencintai istriku. Di perbudak sekalipun aku tidak masalah.” Ucap Reka menanggapi.
“Dasar dokter gombal.”
Willona mengedarkan pandangannya. Alis pengantin wanita itu bertaut, kala mendapati beberapa bingkai foto pre-Wedding mereka.
Darimana datangnya foto-foto itu? Bukannya mereka tak sempat membuatnya?
“Sayang?”
“Ya, apa kamu sudah tidak sabar berada di bawahku?” Gurau sang suami.
“Ih, apaan sih, bukan itu.”
“Lalu?” Tanya Reka dengan bibir terkulum.
“Itu. Darimana datangnya gambar-gambar itu?” Tunjuk sang istri pada bingkai bertangkai di sela-sela dekorasi.
“Oh, itu aku meminta pada temanku, yang menjadi fotografer saat kita tak sengaja bertemu. Kamu ingat? Saat model pria tidak datang.”
Willona pun menganggukkan kepalanya. Tentu saja ia ingat.
“Aku mencintaimu, Willona.” Ucap Reka sembari menggenggam tangan sang istri. Lalu mengecupnya.
“Aku juga mencintaimu, Reka.”
“Ah, manis sekali.” Celetuk Regina yang melihat tingkah pengantin baru itu.
“Aku juga bisa lebih manis dari itu.” Tukas sang suami tak mau kalah.
“Yang benar? Masa sih?” Goda wanita hamil itu.
Tangannya pun di tarik oleh William.
“Eh, mau kemana?” Regina gelagapan.
“Tentu saja menunjukkan kemanisanku.”
Tak jauh dari mereka, para orang tua melihat tingkah laku putra dan putri mereka. Banyak harapan pun terlontar, agar hubungan rumah tangga anak-anaknya selamanya bisa seperti itu.
“Semoga mereka selalu bahagia.”
“Amiin.”
.
.
.
TAMAT
Coretan Authir, a.k.a Author amatir
Terimakasih untuk para Readers yang masih setia membaca dan mendukung novel ini. Cerita ini aku sudahi sampai disini.
Untuk kelanjutan kisah Alvino & Tamara, Reka & Willona dan kelahiran anak William, mungkin nanti di extra part.
Sekali lagi, Terimakasih banyak ❤️