
Willona berdecak kesal, hari liburnya harus terganggu dengan panggilan dadakan dari salah satu klien. Ia yang tadinya ingin melakukan perawatan dengan sang mama, harus mengurungkan niatnya.
Dengan perasaan kesal, adik dari William itu datang ke tempat pemotretan yang telah di tentukan oleh klien.
“Lain kali, tolak. Aku juga butuh liburan.” Ucapnya kepada sang asisten.
Sang asisten yang bernama Kinar, hanya mampu menghela nafasnya pelan. Ia tak mungkin menolak klien, karena mereka sudah terikat kontrak.
“Penaltinya besar, Na.” Ucap sang asisten yang seumuran dengan Willona itu.
“Selalu saja begitu.” Willona mendengus kesal, gadis itu menghempaskan tubuhnya di atas sofa sebuah ruang ganti, dimana ia akan melakukan persiapan sebelum pemotretan di mulai.
Setelah satu setengah jam, Willona kini telah siap dengan tampilan bak seorang pengantin wanita. Ia diminta menjadi model gaun pengantin berpasangan dengan seorang model pria.
“Wah, ternyata aku cantik sekali.” Ucapnya mengagumi penampilan sendiri. Ia menatap pantulan dirinya di dalam cermin.
Gaun putih tanpa lengan, menjuntai indah hingga ke ujung kaki. Rambut gadis itu di sanggul, dan dihiasi dengan sebuah mahkota kecil.
“Kamu sudah pantas untuk menikah, Na.” Celetuk sang asisten. Dan Willona pun mencebikan bibirnya.
“Tunggu Abang dulu lah. Tidak boleh melangkahi.” Ucap Willona sembari menyemprotkan minyak wangi ke seluruh tubuhnya.
“Ih, pahit Na.” Kinar mengibaskan tangan di depan hidungnya. Gadis itu terbatuk mencium aroma parfum yang Willona gunakan. Dan Willona hanya terkekeh melihat tingkah sang asisten.
Setelah siap, Willona dan sang asisten keluar dari ruang ganti, menuju ruangan tempat dimana pemotretan akan berlangsung.
“Bagaimana bisa dia tidak datang? Ini sudah waktunya, dan model wanita juga telah siap.” Pria yang merupakan fotografer pemotretan itu sedang naik darah. Ia juga di panggil secara mendadak oleh pihak perancang busana. Tetapi, hingga dua jam berada di tempat itu, sang model pria tak kunjung datang.
“Ini bagaimana? Mau di lanjutkan atau tidak?”
“Tunggu, apa maksudnya ini?” Willona datang menyela. Ia mendengar tadi, jika model pria tidak datang.
“Model prianya tidak datang, mbak.” Ucap fotografer itu, sontak membuat mata Willona membulat sempurna.
“Jangan bercanda, mas.”
Fotografer itu mengedikan bahunya. “Untuk apa saya bercanda. Waktu saya juga terbuang sia-sia.”
“Mas, tenang dulu. Kami sedang berusaha menghubungi model prianya.” Asisten dari perancang busana itu berpendapat.
“Mbak, saya juga masih ada pekerjaan lain. Saya bahkan meninggalkan pekerjaan saya, untuk datang kesini.”
Willona yang tadinya sudah sangat senang melihat penampilannya, kini kembali di buat kesal. Gadis itu paling tidak suka dengan orang yang tidak profesional.
Baru saja hendak kembali ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya, suara seorang pria yang terdengar akrab di telinganya menghentikan langkahnya.
“Biar aku yang menggantikan model pria itu.” Sontak Willona memutar tubuhnya, mata gadis itu membulat sempurna. Pria itu, pria yang dua kali bertabrakan dengannya di bandara.
“Kamu?” Ucap Willona tak percaya.
“Ga, kamu serius?” Sang fotografer bertanya pada pria yang tak lain adalah temannya sendiri, yang ia ajak untuk menjadi asisten dadakan.
“Ya, aku serius. Biar aku yang menggantikan model pria itu, tetapi, tentu saja tidak gratis.” Pria itu menyeringai.
Perancang busana yang melakukan pemotretan itu, meneliti pria yang tengah menawarkan diri menjadi model pengganti itu.
“Aku setuju. Kamu tenang saja. Aku akan membayarmu.” Perancang busana itu bersuara.
“Tunggu, aku tidak setuju.” Willona menyela.
“Apa hak mu nona? Model pria sebelumnya juga tidak meminta persetujuan darimu.” Perancang busana menjawab dengan sedikit ketus.
Hal itu membuat Willona mendengus kesal. Ia terpaksa menurut. Berpasangan dengan pria menyebalkan yang pernah ia temui sebelumnya.
Pria muda itu mencebik, ia kemudian di ajak berganti pakaian oleh asisten perancang busana itu.
“Sial.. kenapa aku harus bertemu dengan dia lagi.” Willona menggerutu, kala pria itu menghilang dari pandangannya.
“Kata orang, tanpa sengaja bertemu tiga kali itu jodoh, Na.” Kinar berceletuk. Kinar tau, pria tadi adalah pria yang pernah di ceritakan Willona padanya.
Sang asisten pun terkekeh.
Setelah menunggu beberapa menit, pria itu keluar dari ruang ganti dengan setelan pengantin pria.
Willona hanya mampu menganga. Pria menyebalkan itu terlihat sangat tampan kala menggunakan setelan pengantin pria.
‘Dia memang tampan, tetapi sangat menyebalkan.’
“Ayo kita mulai.”
Pemotretan pun di mulai. Willona hanya mampu menahan nafas, kala sang fotografer mengarahkan mereka untuk bergaya mesra, layaknya sepasang pengantin yang tengah berbahagia.
Pria itu, hanya menyeringai. Kala mendapati pasangannya berulang kali menghela nafas.
‘Kamu ternyata cantik juga.’
Hampir dua jam berlalu, berbagai gaya telah Willona dan pria itu lakukan. Sang perancang busana pun sangat senang dengan hasil dari pemotretan itu.
“Kamu sangat berbakat menjadi model. Apa kamu memang seorang model?” Tanya perancang busana kepada pria yang menjadi model pengganti.
“Aku hanya iseng saja.”
“Ga, kenapa kamu tidak mencoba peruntungan di dunia model saja? Lihat, hasilnya sangat memuaskan.” Sang fotografer menunjukkan gambar yang ia ambil kepada temannya yang ia panggil dengan “Ga” itu.
“Pekerjaan ku lebih penting, Ar.” Jawab pria itu. Ia menatap sejenak ke arah ruang ganti Willona.
‘Kita pasti akan bertemu lagi, nona cantik.’
****
Sementara itu, Tamara kini tengah mengurus pemakaman sang nenek. Setelah pengurusan administrasi selesai, jenazah sang nenek bisa di bawa pulang.
Tamara membawa sang nenek ke rumah yang dulu mereka tempati. Setelah melakukan beberapa prosesi, akhirnya sang nenek di makamkan di salah satu pemakaman umum, di dekat tempat tinggal mereka.
Wajah Tamara yang biasanya terlihat cantik dengan riasan tipis, kini terlihat sangat sembab. Mata yang hampir menyipit, serta hidung yang memerah.
Sesekali wanita itu mengusap wajahnya. Meski air mata itu terus mengalir, namun Tamara tidak sehisteris tadi pagi di rumah sakit.
Dengan setia, Alvino berada di sisi sekretarisnya itu. Alvino merasa iba, melihat Tamara yang begitu terpuruk kehilangan neneknya.
Mantan kekasih dari Regina itu, tidak mau di anggap hanya menginginkan tubuh Tamara saja. Di saat wanita itu berduka, ia ingin tetap mendampingi.
“Nek.. maafkan aku. Aku belum bisa membahagiakan nenek. Aku terlalu sibuk, sampai-sampai aku tidak bisa menemani nenek di sisa hidup nenek.”
Tamara menghela nafasnya pelan. Ia usap papan kayu yang bertuliskan nama sang nenek.
“Nenek boleh menghukum aku. Aku cucu yang tidak berguna untuk nenek.”
“Ta, sudah. Jangan begini.” Alvino ikut berjongkok di samping wanita itu.
“Nenek pasti tidak suka melihat mu begini.”
“Benarkah? Apa menurutmu begitu? Nenek pasti marah padaku, Al. Aku harusnya berada di rumah sakit menemani nenek, ini akhir pekan.” Tamara menundukkan kepalanya. Rasa sesal yang teramat besar menghantam tepat di dadanya.
Setiap akhir pekan, biasanya ia habiskan dengan menemani sang nenek. Namun pagi ini, ia bangun terlambat, sehingga tak dapat melihat sang nenek di akhir hidupnya.
“Maafkan aku, nek.”
.
.
.
Bersambung