BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 85. Saatnya Kamu Bahagia.



Acara terus berlanjut, para tamu yang di undang untuk menghadiri jamuan makan siang pun sudah mulai berdatangan.


Regina dan William juga sudah berganti pakaian dengan yang lebih santai. Namun tetap terlihat, jika merekalah pasangan pengantin hari ini.


Sebelum di jamu dengan makan siang, para tamu terlebih dahulu menyalami dan memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai yang duduk di sebuah bangku panjang, yang sudah di hias, sehingga terlihat cantik. Saat para tamu datang, kedua mempelai akan berdiri, dan menyambut mereka yang memberikan selamat.


Sebenarnya, Regina ingin ia dan William yang menyapa para tamu satu persatu ke tempat mereka duduk. Namun, para orang tua dan juga Reka melarang, mengingat dirinya sedang hamil muda. Tidak boleh terlalu lelah. Maka di putuskan untuk meletakan sebuah bangku panjang di tengah halaman, bukan di atas pelaminan. Agar tinggi pengantin dan para tamu, sejajar.


“Apa kamu lelah?” Tanya William, kini mereka tengah duduk, karena belum ada tamu yang datang lagi.


“Tidak.” Jawab Regina dengan tersenyum. Jujur, wanita itu merasa sangat bahagia.


Segerombolan orang mendekat, tentu William dan Regina mengenali orang-orang itu, mereka adalah para karyawan Sanjaya Group.


“Wah, pak bos dan ibu sekretaris, serasi sekali. Selamat ya.” Ucap orang yang paling depan. Alis William berkerut, ia belum begitu hafal wajah-wajah di karyawan kantor Sanjaya. Yang ia hafal hanya para menejer dan kepala devisi. Karena mereka sering bertemu saat rapat.


“Mereka dari tim kebersihan.” Bisik Regina karena merasa sang suami kebingungan.


William mengangguk. Ia kemudian membalas jabatan tangan mereka satu persatu.


Pesta berjalan dengan lancar dan sesuai rencana. Willona selaku sang perancang pesta, sangat berbangga diri. Semua terjadi sesuai yang ia rencanakan.


“Jangan berbangga diri dulu, acara belum selesai.” Ucap Reka yang tiba-tiba datang, dan berdiri di samping Willona yang sedang menikmati segelas jus buah.


Gadis itu membuang nafasnya kasar. Sedari tadi pagi, pria ini selalu saja menyempatkan diri untuk mengganggunya.


“Reka, bisakah sebentar saja kamu tidak menganggu aku?” Tanya Willona mulai lelah meladeni adik dari kakak iparnya.


“Bisa. Bukannya aku baru saja datang? Sejak tadi aku tidak menganggu mu kan?”


Astaga, ingin rasanya Willona memukul pria itu. Namun ia tidak mau terjadi keributan, di hari yang berbahagia ini.


“Reka aku serius. Tidak adakah hal yang lebih penting, yang bisa kamu lakukan selain menganggu aku?”


“Tidak ada. Aku merasa ada yang kurang, jika tidak mengganggumu.” Ucap pria itu dengan enteng.


Willona kembali menghela nafasnya pelan. Ia meletakan gelas yang di pegangnya, di atas meja.


“Aku mohon. Sehari saja, aku ingin tenang tanpa gangguan darimu.” Gadis itu mengatupkan kedua tangan di depan dada. Kemudian berlalu meninggalkan Reka.


Pria itu mematung. Baru kali ini, Willona tak meladeninya. Adik Regina itu merasa ada yang kurang.


“Kalau suka, katakan saja. Adikku masih single dan available.” Suara William tiba-tiba terdengar di samping Reka, membuat dokter muda itu tersentak.


“Apa maksudmu?”


“Cih, pura-pura. Aku tau, kamu menyukai adikku. Silahkan saja dekati dia, tetapi dengan cara yang lebih lembut. Adikku suka kelembutan. Bukan seperti caramu ini.” Ucap William santai.


“Sok tau.” Ucap Reka salah tingkah, sembari mengusap tengkuknya.


William mencebik. Tangannya terulur meraih segelas jus buah yang akan di berikan kepada sang istri.


“Baiklah, jika aku sok tau. Itu artinya kamu tidak menyukai adikku. Dan itu artinya juga, aku akan membiarkan temanku mendekati Willona.”


Setelah mengucapkan hal itu, William berlalu begitu saja. Meninggalkan Reka yang mematung di tempatnya.


“Minum lah, Hon.” William menyodorkan gelas itu kepada Regina. “Aku sudah mengatakan apa yang kamu mau pada Reka.” Sambungnya sembari menghempaskan bokong di samping sang istri.


“Benarkah?” Tanya wanita itu berbinar.


“Benar.”


Ya, yang di ucapkan William kepada Reka tadi adalah atas perintah sang istri. Jika boleh jujur, sebenarnya William tidak ingin jika Reka dan Willona bersama. Jika itu benar terjadi, maka William akan semakin sering bertemu dan beradu argumen dengan adik iparnya itu.


****


Petang menjelang, pesta pernikahan William dan Regina pun telah usai. Para tamu juga telah habis meninggalkan halaman rumah keluarga Sanjaya.


Kini, hanya tinggal keluarga Sanjaya dan keluarga Prayoga di rumah itu.


“Apa kalian ada rencana bulan madu?” Pak Antony membuka pembicaraan. Para pria kini tengah bersantai di ruang keluarga. Sementara, para wanita tengah membantu Regina melepaskan gaun dan riasannya.


“Tumben kamu berpikir sebelum bertindak.” Celetuk sang adik ipar. Membuat mata William membulat sempurna.


“Aku selalu berpikir sebelum bertindak.” Jawab William tak terima.


“Benarkah? Lalu, kenapa kakakku bisa hamil duluan?”


William menghela nafasnya pelan. Di ruangan itu tidak hanya ada dirinya dan Reka. Tetapi, ada papa dan juga ayah mertuanya.


“Jawablah, Will.” Pak Antony ikut bersuara.


“Aku sengaja. Bukannya sudah aku katakan sebelumnya. Aku sengaja menghamilinya agar dia menjadi milikku seutuhnya. Dan tidak lagi di ganggu si rahwana itu.”


“Rahwana?” Alis pak Regan berkerut. “Siapa rahwana?” Tanyanya lagi.


William dan Reka beradu pandang. Mereka lupa, jika orang tua Regina belum tau tentang kisah cinta wanita itu sebelumnya.


William memberi kode kepada adik iparnya, agar pria itu yang bercerita. Namun, dokter muda itu menggelengkan kepalanya.


Suami Regina itu menghela nafas sebelum memulai bercerita.


“Ayah, sebenarnya, sebelum bersama aku, Gina menjalin hubungan dengan seorang pria, yang dua tahun lebih tua darinya. Mereka berpacaran hampir tiga tahun. Tetapi, selama dua tahun ini, pria itu mengkhianati Gina, dan menjalin hubungan dengan sekretarisnya.”


Mata pak Regan membulat sempurna. Tangan pria paruh baya itu terkepal sempurna.


“Dan beberapa bulan yang lalu, Regina mendapati pria itu sedang bersama skeretarisnya, Gina sakit hati, dia pergi ke klub milkku, dan— William menjeda ucapannya, ia menarik nafas dalam, perlahan menghembuskannya. Kalimat yang ia ucapkan, mungkin akan memancing emosi ayah mertuanya.


“Dan, dari sanalah awal hubungan kami.” Ucap William dengan menundukkan kepalanya. Ia siap, jika ayah mertua atau adik iparnya melayangkan pukulan pada dirinya.


“Apa kamu tau tentang ini, ka?” Tanya pak Regan kepada sang putra.


“Maafkan aku, Yah. Aku juga baru tau, saat mengurus kepindahan ku kemari.”


“Lalu kenapa kamu tidak mengatakan pada ayah? Kenapa tidak ada yang mengatakan jika Regina memiliki kekasih? Apa yang dia takutkan? Dia sudah dewasa, ayah tidak akan melarangnya jika ingin memiliki kekasih.”


“Yah— ucapan Reka terjeda. Di sela dengan suara Regina.


“Maafkan aku, ayah.”


Keempat pria itu menoleh ke arah sumber suara. Regina berdiri di ujung tangga, dengan tiga orang wanita lainnya.


William dengan cepat berdiri, dan menghampiri sang istri.


“Kenapa keluar kamar lagi? Bukannya sudah aku katakan untuk beristirahat?”


Kepala Regina menggeleng, ia pun berjalan ke arah sang ayah berada. Kemudian bersimpuh dihadapan pria paruh baya itu.


“Maafkan aku, ayah. Aku tidak bermaksud menyembunyikan hubungan asmaraku. Hanya saja, aku merasa hubungan kami belum serius waktu itu. Dan saat aku yakin dengan hubungan itu, pria itu justru mengkhianati ku.”


William tak tega melihat sang istri, ia ikut menekuk satu lututnya di samping wanita itu.


“Tidak apa-apa. Pria itu memang bukan jodohmu. Karena itu, Tuhan pun tak mengijinkan ayah bertemu dengannya.” Pak Regan meraih jemari sang putri. Kemudian mengecupnya dengan lembut.


“Sekarang saatnya kamu berbahagia bersama suamimu.”


“Ayah tidak marah padaku?” Tanya Regina meyakinkan.


“Tidak. Justru ayah akan marah, jika kamu tetap menjalin hubungan dengan pria seperti itu.”


“Terima kasih, Yah.”


.


.


.


Bersambung.