BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 58. Bersiap Memberi Kejutan.



Akhir pekan tiba.


Pasangan William dan Regina seperti bisa mereka tidak pergi ke kantor. Regina berenca mengunjungi sang adik. Namun pria muda itu sedang bekerja. Dan Regina pun memutuskan untuk membersihkan apartemen William.


Seperti biasa, di akhir pekan William akan pergi bertemu dengan teman-teman komunitasnya. Menjelang sore, pria berusia 32 tahun itu baru akan pulang. Sehingga Regina punya banyak waktu untuk membersihkan hunian mewah itu.


Kamar tidur telah bersih dan rapi, kini Regina melanjutkan membersihkan ruang tamu dan dapur. Alat yang di gunakan bersih-bersih bisa di katakan sudah canggih. Tinggal menekan tombol, maka alat itu akan bekerja sendiri.


Setelah semua bersih, Regina ingin membuat makan siang untuk dirinya. Namun, rasa lelah memaksa wanita berusia 28 tahun itu untuk beristirahat sejenak.


Bel apartemen berbunyi, dengan cepat Regina bangkit dan membukanya. Ia mendapati adik dari William sedang berdiri di depan pintu, dengan menenteng dua buah kantong plastik.


“Masuk, Na.” Regina mempersilahkan.


“Ini, Re. Aku membawa makan siang.” Adik William itu menyerahkan kedua kantong itu kepada Regina.


“Wah, apa kamu paranormal? kebetulan sekali aku belum masak.” Ucap Regina menerima kantong itu sembari terkekeh.


“Bukan aku. Tetapi kekasihmu. Pria bucin itu, tadi aku menghubunginya karena aku ingin main kesini. Dia meminta ku membawa makanan.”


Regina menganga. William pasti melihatnya dari rekaman CCTV, karena itu William meminta Willona membawa makanan.


“Ucapkan terima kasih pada kakakmu.”


“Ucapkan sendiri lah. Kalian tinggal bersama ini.” Gadis itu menghempaskan bokongannya pada salah satu kursi.


“Kamu tidak bekerja?” Tanya Regina sembari menata makanan di atas piring.


“Hari libur, Re. Aku memang tidak menerima pekerjaan di akhir pekan. Itu hari khusus untuk keluarga. Tetapi, hari ini mama dan papa ada acara. Jadi di rumah sepi. Makanya aku datang kemari.


Regina menganggukkan kepalanya. Mereka kemudian makan dengan santai.


“Re, setelah ini, bagaimana jika kamu ikut aku ke rumah?”


“Memangnya, pak Antony dan nyonya Aurel pulang jam berapa, Na?” Tanya Regina.


“Aku tidak tau. Mungkin malam. Mereka sedang ada acara para lansia. Setelah itu, akan menjemput sahabatnya yang dari kampung.” Willona mengedikan bahunya. Ia pun tak tau jam berapa orang tuanya akan pulang.


“Ikut ya. Biar aku mintakan ijin pada Abang.” Willona kemudian merogoh ponsel di dalam tasnya. Untuk menghubungi sang kakak.


“Bang, Regina aku ajak pulang ke rumah, ya?”


“Memangnya mama dan papa tidak di rumah?” Tanya William dari seberang panggilan.


“Tidak. Mereka sedang ada acara lansia. Setelah itu, akan menjemput sahabatnya yang datang dari kampung. Mungkin malam baru pulang.”


Tak terdengar jawaban dari sang kakak, membuat Willona tak sabaran.


Sementara itu, di tempatnya William sedang berpikir. Kedua orang tuanya sedang menjemput om Regan? Bukannya ini kesempatan bagus untuk memberi mereka kejutan sekaligus menolak perjodohan?


William pun menyeringai.


“Ya sudah, bawalah Gina bersamamu. Aku akan menyusul kesana.” Ucap pria itu menjawab sang adik. Panggilan pun di akhiri.


William kemudian bersiap meninggalkan teman-temannya, untuk melancarkan rencana liciknya. Membatalkan perjodohan dengan putri om Regan.


***


“Ayo, Abang sudah mengijinkan mu ikut bersamaku. Nanti dia akan menyusul ke rumah.”


Regina pun mengangguk. Mereka kemudian membereskan meja makan. Setelah itu, Regina bersiap. Dan ikut Willona ke rumah keluarga Sanjaya.


“Will.. aku ikut Willona ke rumah kalian.”


Sebuah pesan Regina kirimkan kepada sang atasan. Meski Willona sudah memintakan ijin, namun ia merasa perlu berpamitan lagi kepada pria itu.


Mobil yang Regina dan Willona tumpangi melaju dengan kecepatan sedang. Dan terkena macet di beberapa titik. Hampir tiga puluh menit di jalanan, mereka pun tiba di rumah keluarga Sanjaya.


“Mbak, bawakan minum dan camilan ke atas ya.” Willona memberi perintah kepada salah satu asisten rumah tangganya. Di rumah besar itu, ada tiga orang asisten rumah tangga perempuan. Dua penjaga keamanan, dua sopir, serta dua orang tukang kebun.


“Apa kamu suka menonton drama Korea, Re?” Tanya Willona, sembari menyalakan televisi yang ada di ruang bersantai lantai dua rumah itu.


“Suka, tetapi tidak terlalu mengikuti.” Jawab Regina sembari menghempaskan bokongnya di atas sofa.


Willona mengangguk. Ia kemudian mencari saluran yang juga menayangkan siaran luar negeri.


“Bagaimana kalau yang ini? Kedua pemeran utamanya memiliki lesung pipi.”


“Aku juga suka mereka berdua, Na. Tapi sayang, yang wanita sudah punya pacar.”


Willona pun memutar drama Korea itu. Tak berselang lama, asisten rumah datang membawa camilan dan juga minuman yang Willona minta.


Mereka asyik menonton, hingga tak menyadari William datang.


“Kalian begitu sibuk, hingga tak menyadari aku datang.” Ucapan William membuat kedua wanita yang ia sayangi itu menoleh.


“Abang”


“Will”


Ucap mereka bersamaan. William mengambil tempat di samping Regina.


“Aku haus, Hon.”


Ia meraih gelas di tangan Regina. Kemudian meneguk isinya. Wanita itu hanya mampu menganga. Ada Willona diantara mereka. Bagaimana William bisa sesantai itu.


“Kamu tenang saja, Re. Abang memang biasa seperti itu.” Jelas Willona tanpa di minta.


Mereka pun kembali menonton, sementara William memikirkan bagaimana caranya melancarkan aksi, jika Willona ada diantara mereka.


Saat sedang sibuk berkutat dengan pikirannya. Ponsel Willona tiba-tiba berdering.


“Apa? Kamu dimana, Kin?” Ucap Willona saat ponsel metempel di telinganya.


“Ya sudah, aku kesana sekarang.” Lanjutnya kemudian.


“Ada apa, Na?” Tanya Regina, sementara William hanya memperhatikan sang adik.


“Ini, asisten ku. Dia ada sedikit masalah. Aku harus datang menemuinya.” Gadis itu bergegas.


“Apa perlu Abang ikut?” Tanya William.


“Tidak perlu, bang. Ini urusan wanita.”


Willona pun berdiri. “Aku titip Regina, bang.” Ucapnya sembari berlalu.


William menyeringai. Sepertinya semesta memang menyetujui dirinya untuk bersama Regina. Tuhan seolah memberinya jalan untuk melancarkan rencana busuknya.


‘Papa, mama, om Regan. Bersiaplah. Aku akan memberikan kalian kejutan.’


.


.


.


Bersambung.