
Waktu sudah menunjukan pukul 6 sore. Regina yang sudah selesai mandi sore, memutuskan untuk membuat makan malam.
Regina yang seharian ini menghabiskan waktu di apartemen, merasa badannya sedikit lelah.
Setelah sarapan tadi pag , Regina memutuskan untuk membersihkan tempat tinggal William itu. Setelah apartemen mewah itu bersih, Regina lantas mengerjakan pekerjaan yang ia bawa dari kantor. Sementara, William pergi keluar untuk bertemu dengan teman-temannya, baru pulang beberapa saat lalu dan kini ia sedang membersihkan diri.
Regina memasak dengan sesekali bersenandung ria. Saat tengah menunggu nasi matang, bel apartemen berbunyi.
Alis Regina berkerut. Ia kemudian berjalan menuju pintu, namun sebelum mebuka, wanita itu memeriksa dari lubang kecil pada pintu, untuk memastikan siapa yang datang.
Mata Regina membulat sempurna, kala ia melihat sang adik berdiri di depan pintu. Dengan cepat wanita itu membuka pintu.
“Reka?”
“Hai, kak.” Pria yang lebih muda dua tahun dari Regina itu tersenyum manis.
“Ayo masuk.”
Regina mengajak sang adik duduk di ruang tamu.
“Bagaimana kamu bisa tau kakak ada disini?”
“Aku mencari kakak ke kontrakan, tetapi kosong. Aku juga sudah menghubungi nomor kakak, tetapi tidak ada yang mengangkat. Untung saja, waktu itu aku mencatat alamat gedung dan unit ini.”
Regina membuang nafasnya kasar.
“Untuk apa kamu disini? Tidak bekerja?”
Reka menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
“Aku di pindah tugaskan, mulai besok aku bekerja di rumah sakit pusat.” Jawaban sang adik membuat Regina menganga. Hal penting seperti ini tidak ada yang memberitahunya?
“Kenapa tidak ada yang memberitahu ku? Padahal, tadi pagi aku berbicara dengan ibu.”
Reka terkekeh, “kejutan. Aku yang meminta ayah dan ibu merahasiakannya.”
“Kamu—
“Honey. Dimana boxer hitam ku? Apa kamu melihatnya?” Suara William menggema di lantai dua. Sontak membuat Regina menundukkan pandangannya. Pipi wanita itu pun terasa panas.
Reka yang mendengar itu hanya mencebikan bibirnya. Dugaannya semakin kuat, jika hubungan sang kakak dengan atasannya sudah terlalu jauh.
“Hon—Reka?” William mematung di ujung tangga. Seketika tangan pria itu mengeratkan handuk yang melingkar pada pinggangnya. Pria itu baru selesai mandi, dan kehilangan benda berharganya, hendak bertanya dengan Regina, William justru mendapat kejutan.
“Tunggu sebentar.” Pria itu memutar badan, kembali lagi menaiki tangga dengan cepat.
Tak berselang lama, William telah kembali dengan menggunakan pakaian santai. Celana pendek dan baju kaos putih.
Ia pun menghampiri Regina dan adiknya.
“Apa dalamaan mu sudah ketemu?” Reka bertanya saat William telah duduk di atas sofa. Pria itu pun berdecak kesal.
“Ka.” Regina memperingati sang adik.
“Sepertinya kamu sangat bergantung dengan kakakku? Apa benar kamu mencintainya? Atau hanya ingin menjadikan dia asisten mu?”
“Reka.” Regina tak percaya mendengar ucapan sang adik.
“Kenapa? Aku hanya memastikan. Apa kakak benar-benar mendapatkan pria yang benar tulus mencintai kakak. Aku tidak ingin kakak kecewa untuk yang kedua kalinya.” Reka menghela nafas sejenak. Ia kemudian melanjutkan ucapannya.
“Kakak tau apa alasanku menerima tawaran pindah tugas? Itu karena aku ingin berada di dekat kakak dan melindungi kakak, tetapi sayangnya aku terlambat.” Di akhir kalimatnya, Reka menatap William dengan lekat.
“Aku bukannya tidak menyukai mu, bro. Aku hanya ingin yang terbaik untuk kakakku.”
William mencebik. Ternyata, tak semudah itu untuk menarik hati Reka.
“Kamu tenang saja. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk Regina.” Jawab William dengan mantap.
“Buktikan ucapanmu. Jika kamu berani menyakiti kakakku, aku tidak akan segan menghajar mu.”
“Reka.”
Reka mencebik. “Sepertinya kakak sudah jatuh cinta padanya.”
Regina membuang pandangan ke arah lain.
“Tetapi rumah itu hanya ada satu kamar, Ka.”
“Lalu?” Ucap Reka sembari mengedikan bahunya.
“Bukannya kakak tinggal disini? Apa masalahnya jika hanya satu kamar? Aku juga tinggal sendiri.”
Ucapan Reka membungkam Regina.
“Nanti kakak ambilkan, bagaimana jika kita makan malam dulu? Kakak masak banyak.” Regina kemudian menatap William.
“Boleh ya Will?”
“Kenapa tidak? Kamu tidak perlu meminta ijinku, Honey.”
“Cih…Honey.” Reka mendadak mual mendengar panggilan William kepada kakaknya itu.
“Tidak boleh iri, bro.” Tukas William.
****
Regina mengambilkan makanan untuk kedua pria itu secara bergantian. Karena William yang lebih tua, maka Regina memberikan kepada William terlebih dulu. Reka tidak protes, karena itu sudah tradisi di keluarga mereka. Dahulukan yang lebih tua.
William mengucapkan terima kasih, sembari mengedipkan salah satu matanya.
“Apa kamu sakit mata? Aku punya teman dokter mata. Jika kamu mau—
“Tidak” jawab William dengan cepat. “Mataku masih bagus.” Ucapnya dengan kesal.
Reka terkekeh. Entah kenapa ia begitu senang menggoda William.
‘Aku akan terus menggoda mu, sampai aku merasa, kamu benar-benar pantas untuk kakakku.’
“Sudah, kita makan.” Regina menengahi. Ia tau karakter kedua pria ini. Adiknya yang suka sekali menjahili orang, sementara William yang mudah sekali terbawa perasaan. Regina tidak mau sampai terjadi kesalahpahaman diantara mereka.
“Oh ya kak, tadi pagi aku bertemu dengan mantan kekasihmu dan selingkuhannya di rumah sakit.” Ucap Reka di sela acara makannya.
“Hukk-hukk.” Bukan Regina yang tersedak tetapi malah William.
“Minum dulu, Will.” Regina menyodorkan gelas kehadapan sang atasan. William kemudian meneguk air itu hingga tandas.
“Kamu yakin?” Tanya William kemudian.
“Yakin lah, aku paling pintar dalam menghafal sesuatu, apalagi menghafal wajah seseorang.”
William mengangguk. “Apa yang mereka lakukan? Apa memeriksa kandungan?”
Reka mencebik. “Apa kamu berharap begitu?” Adik Regina itu kemudian meminum sedikit air putih. “Nenek dari wanita itu sudah lama di rawat di rumah sakit karena stroke dan koma, tadi pagi meninggal dunia.”
Regina tersentak mendengar penuturan sang adik. Ia ikut menghentikan aktivitas menyantap makanannya.
“Apa maksud mu, Ka?”
“Kata dokter yang menangani, nenek itu sudah lama di rawat, karena stroke kemudian koma. Dan sekretaris mantan mu itu, akan selalu menemani sang nenek di akhir pekan. Tapi, tadi pagi dia datang terlambat. Sehingga tak sempat melihat neneknya menghembuskan nafas terakhir.” Reka menghela nafasnya pelan.
“Aku rasa wanita itu terlalu sibuk dengan mantanmu itu, sampai-sampai ia terlambat menjenguk neneknya.”
“Apa maksudmu menceritakan ini padaku, Ka?”
“Aku hanya tidak mau kakak berhubungan lagi dengan pria itu. Pria yang katanya mencintai kakak. Tetapi bisa dengan mudah bersama wanita lain.”
William hanya diam tak memberikan komentar apapun.
‘Sepertinya si Rahwana memanfaatkan keadaan nenek sekretarisnya, untuk mendapatkan tubuh wanita itu.’
.
.
.
Bersambung