
“Apa kalian tinggal disini?” Reka mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau kakaknya bertanya lebih banyak soal pesta, yang nantinya akan membuka rahasianya dengan Willona.
“Tidak. Hanya untuk menghabiskan waktu cuti saja.” Jawab wanita hamil itu. Bubur ayamnya telah habis. Namun, perutnya masih terasa lapar. Mungkin karena ia memuntahkan semua isi perutnya saat bangun tidur.
“Daddy, apa kamu sudah selesai?” Tanyanya pada sang suami. Ia menatap mangkok sang suami penuh harap.
William menatap mangkok itu, ia baru makan setengah isinya. Perutnya pun juga belum kenyang. Namun melihat tatapan sang istri yang penuh harap pada sisa makan itu, membuatnya tak tega.
“Kamu mau lagi?” Wanita itu menganggukkan kepalanya.
“Ya sudah. Ini untukmu. Mungkin baby masih menginginkannya.” William menyodorkan mangkok bubur itu kehadapan sang istri.
Reka terkekeh. Dalam hatinya bersorak. Ia melihat sang kakak ipar begitu menurut kepada kakaknya.
‘Dasar budak cinta.’
“Jangan mengatai ku.” Bisik William kepada adik iparnya. Reka pun hanya mencebik.
Di tengah bisik-bisik kedua pria itu, bel apartemen kembali berbunyi. William pun segera bangkit untuk membuka pintu.
“Daddy, pakai baju dulu.” Ucap sang istri.
“Nanti saja, lihat yang datang dulu.” William kemudian berlalu menuju pintu.
“Abang..!!” Suara cempreng Willona menggema kala pintu telah terbuka lebar.
William mencebik. “Tumben pencet bel. Biasanya juga nyelonong.”
“Itu kan saat Abang belum punya istri. Kalau sekarang, Abang kan sudah ada istri. Pas aku nyelonong, siapa tau kalian lagi— Ucapan Willona terjeda, kala ia mendapati pria yang berciuman dengannya semalam.
‘Astaga, maksud hati ingin melupakan pria menyebalkan ini. Kenapa dia justru ada disini?’
“Sepertinya aku datang di waktu yang salah.” Gumam gadis itu.
“Na, kamu datang?” Regina bangkit dan menghampiri adik iparnya. Gadis itu mengangguk lemah. Tiba-tiba mood nya berubah, saat melihat Reka disana.
“Mama meminta aku membawakan sarapan untuk kalian.” Willona menyerahkan papper bag berisi kotak makanan di dalamnya kepada kakak iparnya.
“Wah, kebetulan kami juga sedang sarapan.” Regina berbinar. Ia kemudian mengajak adik iparnya ke meja makan, dan membuka kotak makanan yang di berikan oleh mama mertuanya.
“Dad, kamu pasti masih lapar kan? Ini makan lagi. Mama membuatkan nasi bakar.” Wanita itu menyiapkan untuk sang suami.
“Na, kamu sudah sarapan?” Dan Willona menjawab dengan anggukan kepala.
Reka hanya diam dan memperhatikan.
“Jangan di perhatikan saja, katakan jika kamu suka.” William kembali berbisik kepada adik iparnya.
Dan dokter itu hanya mencebikan bibirnya.
“Kamu tidak bekerja, Na?” Tanya Regina yang juga ikut menikmati sarapan buatan mama mertuanya.
‘Astaga, dia sudah makan satu setengah porsi bubur ayam, dan sekarang nambah nasi bakar lagi? Nak, berat badan mommy mu bisa bertambah dengan cepat.’ Batin William terheran-heran.
“Nanti siang, Re.” Jawab Willona.
“Dia kakak iparmu, kenapa tidak sopan?” Reka tiba-tiba membuka suara.
“Memangnya kenapa? Apa kamu memanggil Abang ku dengan sebutan kakak ipar? Tidak ‘kan?”
“Memangnya—
“Sudah.. apa-apaan kalian? Ini meja makan. Bukan tempat untuk bertengkar.” William angkat bicara. “Kalau ingin bertengkar, pindah sana.”
“Ka, tidak apa-apa. Aku sendiri yang meminta Willona untuk memanggil nama saja. Supaya kita lebih akrab.” Regina menengahi.
“Tapi Re—
“Nah, kamu sendiri? Dia kakakmu ‘kan? Kenapa tidak memanggilnya kakak? Apa itu sopan? Bisanya cuma melihat kesalahan orang lain. Merasa diri paling benar saja.”
“Apa kalian mau aku nikahkan? Agar kalian berhenti berdebat?” Pria itu kemudian bangkit dan meninggalkan meja makan. Ketiga orang yang tersisa, menganga mendengar ucapan William.
“Daddy, tunggu aku.” Regina meninggalkan adik dan adik iparnya. Ia terlampau senang mendengar ucapan sang suami.
“Semua ini karena kamu.” Willona berbicara setelah mereka hanya tinggal berdua di meja makan.
“Sayang, Apa kamu tidak bisa sedikit saja bersikap manis padaku?”
“Tutup mulutmu. Aku bukan sayang mu.”
“Bukannya kamu yang memanggilku sayang terlebih dulu? Aku hanya mengikuti mu.”
Willona menggeram kesal. Ia kemudian melayangkan pukulan bertubi-tubi pada lengan pria itu. Gadis itu menumpahkan segala kekesalan yang selama ini dia pendam dalam hati.
*****
Di kampung orang tua Regina, nyonya Karin sedang berada di toko mebelnya, mengecek pembukuan yang selama dua minggu ia tinggalkan. Sementara sang suami, sedang mengecek ketersediaan stock barang di gudang. Sembari meminta pekerja di gudang untuk membuat pesanan pembeli.
“Bu, apa ada minyak angin?” Seorang karyawan wanita, masuk begitu saja ke ruangan ibu dua orang anak itu, karena pintunya yang terbuka lebar.
Nyonya Karin yang sedari tadi sibuk dengan buku catatannya, seketika menoleh. Ia lepas kacamata yang di gunakan untuk bisa melihat angka dan huruf lebih jelas.
“Untuk apa?” Tanyanya kemudian.
“Itu, di depan ada yang pingsan, Bu. Ada minyak angin atau apa gitu?”
“Pingsan?” Nyonya Karin kemudian membuka laci meja kerjanya.
“Ini, ada minyak kayu putih. Siapa yang pingsan?” Tanyanya sembari menyerahkan botol berwarna hijau itu kepada karyawannya itu.
“Tidak tau, Bu. Itu perempuan muda. Tadinya mencari pekerjaan, tiba-tiba pingsan.”
“Oalah. Aku ikut lihat.” Istri pak Regan itu pun mengikuti karyawannya ke luar ruangan.
Di salah satu sofa yang masih berlapis plastik, seorang perempuan tergeletak tak berdaya. Di temani dua karyawan wanita.
Karyawan yang tadi menyerahkan minyak kayu putih itu kepada temannya. Yang kemudian menggosok ke beberapa bagian tubuh wanita yang pingsan itu.
“Kasian dia, apa mungkin belum makan?” Tanya salah seorang karyawan.
Nyonya Karin terus mengamati. Ia teringat dengan kejadian pingsannya Regina beberapa waktu lalu.
“Apa kalian ada yang mengenal dia?” Tanya wanita paruh baya itu kemudian.
Para karyawan itu saling melempar pandangan. Mereka kemudian menggelengkan kepalanya.
“Tidak ada, Bu. Tadi dia cuma menanyakan pekerjaan, katanya lagi butuh pekerjaan. Dia baru disini. Tinggalnya juga tidak jauh. Belum sempat ngobrol banyak. Tiba-tiba saja dia jatuh pingsan.” Tutur salah satu karyawan.
Nyonya Karin merasa iba. Ia teringat dengan putri satu-satunya. Bagaimana jika Regina mengalami hal yang sama di luar sana? Adakah orang baik yang menolong?
Rasa syukur pun ia ucapkan dalam hati, karena sang putri berada di sekitar orang baik, berada di antara para sahabat mereka dan bersama pria yang sangat mencintai gadis itu.
“Ya sudah, tunggu dia bangun dulu. Nanti kita tanyakan. Jangan asal terima, siapa tau dia ada maksud lain.” Sang nyonya memberikan keputusan. Meski rasa kasihan itu ada, namun ia tak serta merta menerima orang yang belum di kenalnya. Siapa tau, orang itu hanya berpura-pura dan melakukan penipuan?
“Jika dia memang orang baik, kita terima dia kerja disini. Buat bantu bersih-bersih.” Ucapnya lagi.
“Iya, Bu.” Jawab ketiga karyawan wanita itu serempak. Mereka pun ada yang mengipasi wanita pingsan itu. Berharap supaya cepat siuman.
.
.
.
Bersambung.