BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 61. Tidak Mungkin.



‘Tidak, ini tidak mungkin. Regina tidak mungkin gadis ingusan itu. Mereka berbeda. Regina cantik dan se*si, sementara gadis itu kumal dan ingusan.’


Kepala William menggeleng dengan cepat.


“Gi, kamu, kamu putri om Regan yang ke berapa?” Sebuah pertanyaan William lontarkan ke arah Regina.


“Apa maksudmu anak muda, aku hanya mempunyai satu orang putri.” Pak Regan menjawab sembari menunjuk Regina.


“Tunggu. Kenapa Putri ada disini? Dan datang bersama William? Antony? Aurel? Jangan katakan jika gadis yang di perdaya putra kalian itu Putri ku?” Nyonya Karin menatap nyalang para sahabatnya.


Pak Regan seketika terkesiap.


“Antony!! Jawab istriku.”


Kepala pak Antony dan nyonya Aurel mengangguk bersamaan.


Membuat pak Regan bangkit dan menerjang William.


“Kurang ajar. Beraninya kamu.”


“Ayah, jangan.” Regina mencoba melepaskan cekalan tangan pak Regan pada kerah kemeja yang William gunakan.


“Regan, tunggu. Aku belum mengerti semua ini. Jadi Regina putrimu? Putri yang dulu suka mengejar William?” Pak Antony berbicara sembari mendekat.


Tangan pak Regan perlahan turun, dahinya berkerut menatap pak Antony.


“Apa maksudmu, An? Apa kamu tidak tau jika gadis ini putriku?” Dan kepala pak Antony menggeleng.


“Padahal putriku membawa namaku di belakang namanya.”


“Aku pikir, Prayoga yang lain. Tanyakan putrimu, di kantor bahkan ada seorang menejer yang bernama Prayoga. Jadi, aku mengira dia bukan putrimu.”


Pak Antony menghela nafasnya pelan.


“Lalu kamu? Apa kamu tidak tau jika putrimu bekerja di kantor ku? Dia sudah 5 tahun bekerja di sana, pasti sudah pernah bercerita masalah pekerjaannya bukan?”


“Itu, itu aku pikir Sanjaya bukan kamu. Di kampung saja, ada dua orang bernama Sanjaya. Jadi aku pikir, Sanjaya tempat putri bekerja itu Sanjaya yang lain, apalagi ini kota besar. Pasti ada puluhan Sanjaya disini.”


“Sudah cukup!! Apa yang kalian perdebatkan itu? Ada hal yang lebih penting yang harusnya kalian bahas. Bukan masalah nama.” Nyonya Karin naik pitam. Ia mendekat ke arah sang putri, kemudian menarik tangannya.


“Antony, kamu harus mengambil keputusan. Nikahkan mereka berdua secepatnya.” Wanita paruh baya itu kembali bersuara.


“Aku setuju dengan mu, Kar.” Nyonya Aurel memberi pendapat.


“Tunggu, jadi mama sudah tau jika Regina putri mereka berdua?”


Nyonya Aurel mengangguk menjawab pertanyaan sang suami.


“Lalu kenapa mama berbelit-belit? Mama bahkan seolah tidak setuju jika William dengan Regina.”


“Ya, itu karena mama ingin mengerjai papa. Bukannya papa ingin mengerjai William? Jadi, kita impas.”


“Ma—.”


“Cukup!!” William yang sedari tadi hanya diam mendengar perdebatan para orang tua itu, kini bersuara. Kepalanya sungguh pusing sekarang.


Bagaimana bisa, wanita yang ia cintai saat ini, adalah gadis yang ia benci di masa kecil, bahkan membuatnya trauma pulang ke kampung halaman sang mama.


“Will—.”


“Cukup, ma. Aku mohon. Apa kalian puas mempermainkan aku sekarang? Apa kalian bahagia sekarang?”


“Tidak sayang, mama tidak bermaksud mempermainkan kamu. Mama dan papa melihat kamu dan Regina sangat cocok. Jadi kami berniat menjodohkan kalian. Tetapi—


“Tetapi cara mama yang salah. Kalian bahkan tau, aku ketakutan setiap mendengar nama putri om Regan di sebut, dan kalian berencana menjodohkan kami. Jika mama tau Regina putri om Regan, kenapa mama tidak mengatakan dari awal? Bukan begini caranya, ma.”


William merasa frustrasi, ia meremat rambut dengan kedua tangan.


Sementara Regina semakin tak bisa berbicara. Ia hanya mampu diam menundukkan kepalanya.


‘Apa yang telah aku lakukan di masa lalu padamu, will?’


“Cukup, pa. Aku pusing.” Pria itu berlalu meninggalkan ruang keluarga. Ia pun tak menoleh pada Regina.


Dan wanita itu, ia hanya mampu menatap nanar kepergian William.


‘Apa rasa cinta yang sering kamu katakan padaku menghilang begitu saja, setelah kamu tau siapa aku, Will?’


*****


“Minum dulu, Re.” Nyonya Aurel memberikan segelas air pada Regina yang duduk termenung di atas kursi taman. Sementara, ayah dan ibunya duduk di sofa ruang keluarga bersama pak Antony.


“Maafkan mama, Re. Mama tidak bermaksud mempermainkan kalian.” Nyonya Aurel duduk di sisi Regina.


“Anda tidak salah nyonya.”


“Tidak, Re. Mulai hari ini, panggil aku mama. Bukannya sejak kecil kamu memanggilku begitu?”


Regina menoleh ke arah wanita paruh baya itu. Seketika nyonya Aurel merengkuh tubuh wanita muda itu.


“Ma, apa yang telah aku lakukan dulu? Kenapa William begitu membenciku?” Regina tidak ingat di masa kecil pernah bertemu William. Mungkin karena saat itu, ia masih berusia 6 tahun. Sehingga memori di otaknya tak tersimpan hingga sekarang.


Nyonya Aurel melepas dekapannya, ia kemudian menangkup kedua pipi Regina.


“Kamu tidak melakukan apapun, nak. Kalian dulu masih anak-anak. Kamu sangat menyukai William. Setiap kami pulang, kamu pasti akan mengejar-ngejar William.” Nyonya Aurel melepaskan tangan dari pipi Regina. Ia menatap lurus kedepan.


“Kamu dulu memanggilnya dengan nama Kak Iam, karena kamu masih berusia 6 tahun waktu itu.”


Nyonya Aurel bercerita. Ia berusaha mengingatkan masa lalu kepada Regina.


“Jadi, karena aku dulu ingusan. William tidak suka berdekatan dengan ku?”


“Dulu, jaman belum secanggih sekarang. Wajar kan, jika anak-anak ingusan.”


“Ma, titip ayah dan ibu. Aku harus mencari William.” Regina bangkit. Ia mencium punggung tangan nyonya Aurel, kemudian meninggalkan kediaman Sanjaya.


“Ma, kenapa kamu sendiri? Dimana Regina?” Pak Antony celingukan mencari keberadaan Regina di belakang sang istri. Namun, wanita itu hanya datang sendiri.


“Regina sudah pergi.”


Nyonya Aurel mengambil tempat di sebarang sofa yang di duduki oleh para sahabatnya.


“Pergi? Maksudmu dia pergi dari rumah ini?” Nyonya Karin ikut bertanya.


“Iya. Dia mau cari William. Kalian di titipkan disini.” Jawabnya santai.


“Lah, anak itu. Orang tuanya datang, dia malah mengurusi William.” Pak Regan mendengus kesal.


“Sudah, kalian tenang saja. Semuanya pasti baik-baik saja. Mereka sudah sama-sama dewasa. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri.” Pak Antony menengahi.


“Lalu? Jika masalah mereka tak selesai? Siapa yang akan bertanggung jawab terhadap putriku? Siapa yang mau dengan wanita yang sudah tidak gadis lagi?” Nyonya Karin kembali meradang.


“Kar? Jangan bicara seperti itu. Percaya padaku, mereka pasti akan menikah. Mungkin William perlu waktu untuk menerima semua ini.” Jawab nyonya Aurel.


“Sudah, ini sudah malam. Kita makan malam dulu. Kalian tinggal disini sesuai rencana awal.”


Pak Antony bersuara. Pria paruh baya itu bersiap menuju ruang makan.


“Tapi, An? Bagaimana dengan putriku?” Pak Regan merasa cemas dengan kepergian sang putri.


“Kamu tenang saja, Gan. Tidak akan terjadi sesuatu pada putrimu. Percaya padaku. Aku mengenalnya dengan baik selama lima tahun ini.”


Pak Antony menepuk bahu sang sahabat. Mereka kemudian menuju ruang makan, untuk makan malam.


.


.


.


Bersambung.