
William mengejar Regina ke parkiran apartemen itu. Ia takut Regina pergi begitu saja, apalagi sampai pergi ke klub malam sendirian. Terbayang di benak pria itu, saat pertama kali mereka bertemu. Dan William tidak mau itu terjadi lagi. Regina miliknya. Selamanya akan tetap menjadi milik William seorang.
“Hon— ucapan pria itu terhenti, alisnya hampir menyatu, kala mendapati Regina sedang tertawa bersama seorang pria. Dan yang lebih membuat William tercengang, pria itu adalah orang suruhannya.
William mendekat dengan cepat. Ia kemudian merangkul bahu Regina. Membuat wanita itu terlonjak kaget.
“Will?”
“Bos?”
Ucap Regina dan orang suruhan William secara bersamaan.
“Kalian saling kenal?” Selidik William. Pria itu bahkan menatap tak suka kedua orang itu.
“Ya. Dia teman SMA ku dulu.” Ucap Regina yang kembali terkekeh.
“Aku benar-benar tidak tau. Seandainya aku tau, pria yang aku buntuti itu kekasihmu yang berkhianat, sudah aku hajar dia.” Orang suruhan William ikut berucap.
Mendengar hal itu, membuat William tak suka. Ia kemudian menggeser tubuh Regina ke samping kirinya.
“Jangan macam-macam, atau aku tidak memberikan bonus tambahan yang aku janjikan.” Ucap William dengan sorot mata tajam.
“Will, jangan begitu. Dia bekerja untuk anak dan istrinya. Kamu menjanjikan dia upah dua kali lipat kan? Aku minta berikan tiga kali lipat. Dia bekerja siang malam, hanya untuk membuntuti Alvino.” Regina tau William mulai cemburu.
William memicingkan matanya ke arah sang sekretaris. Gampang sekali wanita cantik itu berucap, berikan tiga kali lipat. Ya, walau bagi William itu tidak seberapa.
Meski mengumpat dalam hati, namun William tetap menurut. Ia merogoh ponsel di saku celananya, kemudian mengetikan beberapa huruf dan angka di layar benda pintar itu.
Tak berapa lama, ponsel orang suruhannya berdenting, tanda ada sebuah pesan masuk. Pria itu memeriksa, sebuah pesan pemberitahuan jika seseorang telah mengirimnya sejumlah uang.
“Terima kasih, bos. Terima kasih, Re.” Ucap pria itu. “Lain kali, hubungi aku lagi, jika kalian membutuhkan bantuan.”
‘Cih bantuan? Hei, aku memberimu upah seharga mobil sejuta umat. Bantuan hidungmu?!!’
“Ya sudah. Ayo Honey kita pulang. Ini sudah malam.”
Regina mengangguk. Mereka pun berpisah di parkir bawah tanah gedung apartemen itu.
“Will, kita ke klub ya? Aku ingin minum sedikit.” Regina berucap sembari memasang sabuk pengaman pada tubuhnya.
William menatap wanita itu sejenak, ia kemudian melakukan hal yang sama. Lalu menyalakan mesin mobil, dan pergi dari basemen itu.
“Minum di apartemen saja. Koleksiku juga tidak kalah dengan yang di klub.” Pria itu berucap tegas.
“Dan lagi, nanti kita tidak perlu repot pulang dalam keadaan mabuk. Kalau di apartemen kita bisa bebas.” Imbuhnya lagi.
Regina menurut, ia setuju dengan apa yang William ucapkan. Wanita itu ingin minum hingga puas. Bila perlu sampai ia mabuk.
Dua puluh menit berkendara, mereka kembali tiba di parkir bawah tanah gedung apartemen yang dihuni oleh William.
Waktu menunjukkan pukul 9.30 malam. William membuang nafasnya pelan. Andai tak ke tempat Alvino mungkin ia dan Regina kini tengah di puncak nirwana.
Namun ia senang, akhirnya hubungan Regina dan Alvino berakhir. Tak ada lagi penghalang diantara hubungannya den wanita itu.
“Mau minum dimana? Disini atau di kamar?” Tanya William setelah ia mengunci pintu utama hunian mewah itu.
“Di kamar saja.” Ucap Regina sembari melangkah menaiki tangga. William menyeringai, ia mengambil es batu di lemari pendingin yang ada di dapur. Kemudian mengikuti sang sekretaris menuju kamar.
“Akan aku buat kamu menjadi milikku setelah malam ini, Regina.” Senyum licik terbit di bibir pria tampan itu. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Malam ini, rencananya harus terlaksana. Dan Regina akan menjadi miliknya.
****
Sementara itu, di apartemen Alvino. Pria itu kini tengah mengamuk, membanting sesuatu yang biasa ia banting. Hingga ruang tamu apartemen itu bagaikan kapal pecah.
Tamara hanya mampu diam, sembari menutup telinganya. Ia tidak mampu menghentikan amarah Alvino.
‘Kenapa Regina bisa datang kemari sekarang? Aku bahkan tidak membawa ponsel yang aku gunakan untuk meneror dia.’
“Sial!!! Teriak Alvino lagi. Entah sudah berapa kali kata itu meluncur dari bibirnya, namun kali ini ia tidak membanting barang. Ia justru menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
“Sayang, maafkan aku.” Pria itu berkata lirih, sambil meremat kepalanya dengan kedua tangan.
“Al? Kenap nona Regina bisa datang kesini? Apa kalian janjian?”
Pertanyaan Tamara membuat Alvino tersentak. Benar juga yang di ucapkan wanita itu, kenapa Regina bisa datang ke apartemennya, padahal mereka tidak janjian?
“Tidak. Kami bahkan tidak berbicara seharian ini, karena kejadian kemarin.”
Alvino menatap sang sekretaris, mata wanita itu bahkan terlihat bengkak karena terus mengeluarkan air mata.
“Al?”
“Kemarilah, Ta.” Alvino mengulurkan tangannya. Tamara kemudian mendekat. Dan menghambur ke dalam pelukan sang atasan.
“Sudah jangan menangis lagi.” Alvino mengusap lembut punggung Tamara.
“Lalu bagaimana hubungan mu dengan nona Regina?”
Alvino membuang nafasnya kasar. Ia sendiri tidak yakin jika hubungan mereka masih bisa di selamatkan.
“Entahlah, Ta. Mungkin semuanya memang harus berakhir.” Alvino berucap lirih. Bayangan kebersamaannya dengan Regina terlintas. Mereka sangat jarang sekali bertemu, namun Alvino sangat mencintai wanita itu.
‘Sayang, maafkan aku. Andai aku tidak menuruti naf-su ku, semua ini pasti tidak akan terjadi.’
“Al, tidakkah kamu curiga, ada orang yang membuntuti kita?”
“Siapa?”
Tamara melepaskan diri dari dekapan Alvino. Dan duduk tegak di samping pria itu.
“Aku tidak tau, ini tidak mungkin sesuatu kebetulan, bukan?”
Alvino menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Pandangannya menerawang jauh.
“Entahlah, Ta. Aku pusing, aku sendiri tidak mengerti.”
****
“Honey, sudah.. kamu jangan minum terlalu banyak.” William meraih gelas di tangan Regina. Wanita itu sudah menghabiskan satu botol anggur sendirian. Sementara, William baru meminum satu gelas.
“Aku ingin minum sampai mabuk.” Wanita itu bangkit, berjalan sedikit sempoyongan, kemudian mengambil minuman yang William simpan di sebuah lemari, di dalam kamarnya.
William memang suka mengoleksi berbagai minuman keras. Setiap pergi ke luar negeri, pria itu pasti menyempatkan untuk membeli minimal dua botol.
“Honey, jangan ambil sembarangan. Nanti kamu mabuk.” William bangkit. Ia dengan cepat menarik tangan Regina yang terulur hendak meraih sebuah botol berwarna hitam.
Bibir wanita itu seketika mengerucut. Membuat William gemas. Dengan cepat, pria itu menyambar bibir yang sedang maju kedepan itu.
Masih dapat ia rasakan sisa rasa manis bercampur pahit saat pertukaran saliva itu terjadi.
“Jangan marah. Aku ijinkan satu lagi. Biar aku yang pilihkan.”
Dan Regina hanya menganggukkan kepalanya. Ia kembali ke atas sofa, di dekat pintu kaca. Menatap indahnya gemerlap lampu kota di malam hari.
William memilihkan minuman berkadar alkohol rendah. Meski ia ingin melancarkan rencananya, namun ia tidak ingin Regina terlalu mabuk.
“Apa begitu menyakitkan? Hingga kamu ingin minum hingga mabuk?” Tanya William sembari menuangkan isi botol ke dalam gelas bertangkai di hadapan Regina.
“Tidak.. aku akui, rasa sakit karena dikhianati itu ada, tetapi tidak sesakit saat pertama kali melihat mereka berdua.” Regina meraih gelas yang telah terisi, kemudian menyesap isinya.
“Dan sekarang, aku merasa hatiku sangat ringan. Tanpa beban.” Lanjut wanita itu lagi.
William mendekat, ia kemudian merangkul bahu sekretarisnya.
“Apa kamu ingin menangis? Jika iya, menangis lah.. pundakku selalu ada untukmu bersandar.”
Regina menatap pria di sampingnya. Ia kemudian tersenyum barengi dengan gelengan kepala.
“Untuk apa menangisi pria yang sudah dengan sadar mengkhianati ku? Air mataku terlalu berharga untuk itu.” Regina menghela nafasnya pelan. “Terima kasih. Karena kamu, aku bisa terlepas dari hubungan yang tidak sehat ini.”
William melepas rangkulannya, ia kemudian menangkup kedua pipi Regina dengan kedua tangannya.
“Honey… justru aku yang berterima kasih, karena kamu telah menghampiri aku waktu itu. Andai kamu menghampiri pria lain, kita tidak mungkin seperti ini sekarang.”
Regina menganggukkan kepalanya. Sejenak mereka saling tatap, sedetik kemudian entah siapa yang memulai, kedua bibir mereka pun menyatu.
.
.
.
Bersambung.