BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
ExtraPart. Honeymoon, Babymoon.



“Ayo bereskan barang-barangmu.” Ucap Alvino sembari memeluk tubuh Tamara dari belakang.


Pagi ini begitu cerah. Secerah hati Alvino, karena semalam bisa menyalurkan dahaganya bersama sang istri, setelah sekian lama berpuasa.


“Apa kamu mengusirku?” Tanya Tamara yang sedang menyisir rambut. Mereka baru saja selesai mandi pagi.


Alvino terkekeh. Ia menjadi gemas dengan mantan sekretarisnya itu. Pria itu akui, jika kehadiran Tamara kini sangat berarti dalam hidupnya.


“Kita pergi honeymoon. Ah bukan, maksudku kita pergi babymoon.” Jelas Alvino sembari mengecupi pipi wanita dalam dekapannya.


Alis Tamara berkerut. “Babymoon? Lalu bagaimana pekerjaan mu?”


“Papa memberikan aku libur seminggu ini.”


“Benarkah?”


“Hmm. Aku sudah memesan tiket dan hotel. Kita berangkat nanti sore.”


Alvino mengurai dekapannya, kemudian mengambil dua buah koper berukuran sedang.


Mata Tamara membola, kala sang suami membuka lemari tempat pakaiannya disimpan.


“Biar aku saja, Al.” Wanita itu mengambil alih baju di tangan Alvino.


“Kamu tidak bertanya kemana dan berapa lama kita pergi?” Tanya Alvino sembari bersedekap dada.


Kesabaran pria itu benar-benar di uji oleh sang istri. Semenjak menikah, Tamara tak banyak bicara. Entah harus bagaimana lagi Alvino meyakinkan wanita itu, agar kembali lagi seperti dulu.


“Bukannya kamu bilang dapat cuti seminggu?” Ucap wanita itu yang masih fokus memilih pakaian mana yang akan di bawanya.


Alvino membuang nafar kasar. Ingin sekali ia menumpahkan rasa kesalnya. Namun tak bisa, pria itu takut menyinggung perasaan sang istri.


“Aku memang cuti seminggu. Tetapi kita pergi selama lima hari.” Pria itu pun melempar tubuhnya di atas ranjang, memilih tidur tengkurap, untuk menghilangkan rasa kesalnya.


“Kita akan kemana?”


Saat kedua matanya terpejam, sang istri baru melempar tanya. Astaga, ingin sekali Alvino berteriak, namun ia urungkan.


“Kita akan ke Bali. Jadi, bawalah pakaian santai juga. Kita akan ke pantai, melihat sawah, pegunungan, kesenian, budaya, makan malam romantis, berbelanja oleh-oleh khas Bali.” Pria itu menyebutkan semua kegiatan yang berhubungan dengan pulau dewata itu.


“Benarkah? Aku jadi tidak sabar.”


Mendengar ucapan sang istri, senyum terbit di wajah tampan Alvino.


“Tentu. Besok kamu bisa melakukan semuanya, sepuasmu.” Ucap Alvino yang kembali memejamkan mata.


*****


Sementara itu, pasangan yang semalam mendapat tiket bulan madu gratis dari Regina, kini tengah bersiap pergi ke bandara.


Mereka hanya membawa dua buah koper berukuran sedang. Membawa barang secukupnya, karena pergi dadakan, dan tak sempat berkemas lebih banyak.


“Semua sudah cukup?” Tanya Reka kepada sang istri, sembari ia menutup koper yang berisi barang-barang keperluan dirinya.


“Sudah.” Willona mendorong koper miliknya kehadapan sang suami. Meminta pria itu menutupnya.


“Kakak iparmu itu memang ajaib.” Ucap Reka mendengus.


“Dia kakak kandungmu, sayang.” Ucap Willona tergelak.


Wanita itu kemudian bangkit, mengemasi tas tangan yang akan ia bawa.


“Kan aku mengambil cuti sampai akhir bulan.” Jawab Willona santai.


“Maksudmu, kamu mengambil cuti selama dua minggu?” Tanya Reka dengan mata memicing.


Willona tak menjawab, ia hanya menyengir seperti kuda.


Reka menjadi gemas, kemudian mendekap tubuh sang istri dari belakang.


“Nakal ya. Kenapa tidak bilang jika mengambil cuti selama itu? Hmm.” Pria itu menyerukan wajahnya pada lekukan leher sang istri.


“Sayang, geli.” Willona menggelinjang karena sang suami mengecup basah leher terbukanya.


“Sayang, Aw.. jangan mengisap. Kamu Reka, bukan Edward Cullen.” Wanita itu berusaha melepaskan diri dari jerat suaminya.


“Hukuman karena kamu tidak mengatakan jika cuti selama itu.”


Bukannya melepaskan sang istri, Reka justru membanting tubuh mereka berdua ke atas ranjang.


“Sayang, mmhhh.” Bibir Willona pun kini menjadi sasaran dokter muda itu.


“Sayang, bagaimana kalau kita,—mmmpptt.”


Willona membekap bibir sang suami dengan telapak tangannya.


“Sayang, kita harus berangkat ke bandara sekarang, jika tidak pesawatnya akan terbang dan meninggalkan kita.”


“Sebentar saja.”


Willona menggeleng. Tak akan ada kata sebentar untuk mereka berdua.


“Nanti saja setelah kita sampai di Bali. Aku yakin, kamar yang telah di pesan oleh kakak ipar pasti sudah di hias dengan kelopak bunga. Tidakkah kamu ingin kita berduel di atas hamparan mawar?” Ucap Willona sembari mengedipkan sebelah matanya.


Reka pun menghela nafas pelan. Ia kemudian berguling ke samping sang istri.


“Untuk apa sih jauh-jauh ke Bali? Kalau hanya untuk berpindah tempat tidur. Apa bedanya sih?” Gerutu dokter muda itu.


Sang istri pun tergelak. “Sensasinya yang berbeda, sayang.” Willona kemudian bangkit, lalu mematut diri di depan meja rias.


“Sayaanngg..” wanita itu tiba-tiba menjerit. Membuat Reka dengan cepat bangkit dan menghampiri sang istri.


“Ada apa, sayang?” Pria itu khawatir.


“Kenapa membuat merah?” Tunjuk Willona pada kulit lehernya.


Sang suami pun di buat menganga. “Aku kira ada apa?” Pria itu kembali berbalik.


“Sayang, ih. Lihat dulu ini.” Wanita itu menarik lengan Reka, sembari menghentakkan kakinya.


“Iya, sayang. Mana, aku lihat?” Sang suami pun mendekap tubuh sang istri.


“Aduh kasihan. Sini aku obati. Biar merahnya hilang.” Wajah Reka pun kembali menempel pada lekukan leher sang istri.


“SAYANG!!!


.


.


.