
Keesokan harinya. Nyonya Aurel dan pak Antony telah kembali dari kampung halamannya.
Willona menyambut kedatangan sang mama dengan penuh kerinduan, bagaimanapun juga, mereka hampir sepekan berpisah.
“Aku merindukan mama.” Adu gadis itu dengan manja. Ia bergelayut pada lengan sang mama. Sementara pak Antony berlalu pergi ke kamar, setelah bertegur sapa dengan sang putri.
“Mama juga merindukanmu.” Mereka berjalan beriringan menuju ruang keluarga. Seorang asisten rumah datang membawakan jus buah, karena sang nyonya tiba di siang hari.
“Buatkan juga untuk bapak, dia ada di kamar.” Titah dari mama William dan Willona itu kepada asisten rumah tangganya.
“Ada kabar apa dari kampung halaman mama? Apa mama sudah bertemu dengan sahabat mama itu?” Tanya Willona kepada sang mama, sembari meminum jus buah yang telah tersaji di hadapannya.
“Sudah.” Jawaban sang mama dengan sumringah. Wanita paruh baya itu meletakan gelas yang setengah isinya telah berpindah ke dalam perut.
“Mama bahkan mendapatkan calon mantu disana.”
Alis Willona berkerut. Mendapat calon mantu?
“Maksud mama?”
Nyonya Aurel menghela nafasnya pelan. Ia kemudian mulai bercerita.
“Mama mendapatkan jodoh untuk Abang mu.”
Seketika sang putri tersedak mendengar ucapan nyonya Aurel.
“Aduh, Na. Minum jus saja kamu tersedak.” Nyonya Aurel mengusap punggung sang putri “Mbak.. ambilkan air putih.” Teriaknya kepada asisten rumah.
“Minum dulu, Na.” Ia menyodorkan gelas air putih kepada sang putri. Willona lalu meneguk isinya hingga tandas.
‘Astaga, mama. Papa dan Abang sudah mempunyai pilihan yang sama. Ini mama ikut-ikutan juga.’
“Ma, kenapa tidak mencarikan jodoh untukku saja? Bukannya papa ingin menjodohkan Abang dengan Regina?”
Nyonya Aurel mencebik.
“Kamu tau kan, mama tidak pernah salah pilih. Mama tau yang terbaik untuk anak-anak mama.” Tangan wanita paruh baya itu kembali meraih gelas jus yang ia letakkan di atas meja.
“Kalau kamu mau, mama juga akan menjodohkan kamu dengan anak Regan yang satunya. Ah, tapi mama lupa minta foto pemuda itu.”
“Tunggu, apa maksud mama, mama mau menjodohkan Abang dengan anak om Regan?” Willona tau tentang cerita William yang tidak menyukai anak dari pak Regan, karena sering mengejar-ngejar nya dulu, hingga pria itu jatuh terjungkal ke dalam selokan.
Kepala nyonya Aurel mengangguk sebagai jawaban.
“Apa papa tau?”
“Tau lah, tetapi papa mu belum melihat wajah gadis itu. Dia tidak mau melihat, karena mengira gadis itu masih ingusan.”
“Ma.”
“Sini, mama beritahu.” Nyonya Aurel menatap ke arah lantai dua, memastikan sang suami tidak keluar dari dalam kamar. Ia kemudian menceritakan tentang putri sahabatnya, dan rencana perjodohan anak-anak mereka.
Mata Willona membulat sempurna. Ia tidak menyangka, jika sang mama memiliki ide yang sangat licik.
“Tapi, ma. Papa sudah terlebih dulu memiliki rencana menjodohkan Abang dengan Regina.”
“Ah, biarkan saja papamu itu. Pria tua mata keranjang, dia bahkan tau Regina memiliki bentuk tubuh yang sangat bagus.” Nyonya Aurel mendengus kesal.
“Kamu harus dukung mama. Mama ingin rencana mama berhasil.”
“Tapi, ma. Papa memberiku uang jajan tambahan, jika aku mendukung rencana papa.”
Nyonya Aurel memicing. “Kamu tenang saja. Tetap terima uang dari papamu. Nanti mama tambahkan lagi. Asal kamu mau membantu mama.”
‘Wah.. ini yang namanya sekali merengkuh dayung, tiga pulau terlampaui. Bukan dua lagi. Pertama uang dari papa, kedua dari Abang, sekarang dari mama. Wah.. Na.. keinginan mu membeli tas kulit buaya keluaran terbaru akan segera terwujud.’ Batin gadis itu bersorak gembira.
“Willona..” nyonya Aurel menggoyangkan tubuh sang putri yang sedang melamun.
“Ah, ya ma?”
“Bagaimana? Kamu setuju tidak membantu mama?”
Willona berpura-pura berpikir. Sedetik kemudian kepala gadis itu mengangguk.
“Terima kasih. Ayo kita lawan papa kamu.”
Mereka berdua pun tertawa bersama.
****
“Honey, papa dan mama ku baru pulang dari kampungnya, apa kamu mau ikut aku datang ke rumah menemui mereka?” William bertanya pada sang sekretaris yang sedang duduk di atas sofa. Sementara dirinya duduk di kursi kebesarannya.
“Hmm..” Regina berpikir sejenak. Datang ke rumah keluarga Sanjaya? Rasanya tidak enak, karena ia bukanlah bagian dari keluarga itu.
“Aku di apartemen saja, Will.” Putusnya kemudian.
William menghentikan pekerjaannya, ia kemudian bangkit, dan ikut bergabung dengan sang sekretaris duduk di atas sofa.
“Kenapa?”
“Aku tidak enak saja. Takut nanti pak Antony dan nyonya Aurel mempertanyakan kehadiranku. Kita akan sulit menjelaskan. Aku tidak mau, orang tuamu berpikiran buruk tentang mu, hubungan kita masih sulit untuk di jelaskan.” Willona menghembuskan nafasnya pelan.
William meraih tangan sang sekretaris. Menggenggam dengan lembut.
“Terima kasih karena telah memikirkan tentang aku, Honey. Aku sangat mencintaimu.” William pun mengecup punggung tangan Regina.
“Aku yang harusnya berterima kasih, aku beruntung mengenalmu.”
William menganggukkan kepalanya. “Kita sama-sama beruntung, Honey.”
“Tunggu aku di apartemen. Tidak apa-apa kan kamu makan malam sendiri?”
Regina menggeleng. “Tidak apa-apa. Sebelumnya juga aku sering makan malam sendiri di kontrakan.” Wanita itu kemudian terkekeh.
“Aku akan segera pulang. Kamu tenang saja, Honey. Kamu tidak akan sendirian lagi.”
William kembali mengecupi punggung tangan sang sekretaris.
Waktu berlalu. Jam pulang kantor pun tiba. William dan Regina yang tadi pagi datang bersama, kini harus terpisah. Karena, apartemen dan rumah keluarga Sanjaya berlawanan arah.
William membawa mobil yang tadi pagi mereka tumpangi, sementara Regina pulang dengan menaiki taxi. William hendak menghubungi Jimmy untuk menjemput sang pujaan hati, namun wanita itu menolak. Dan William pun mengalah. Setelah taxi yang di tumpangi Regina menjauh dari gedung Sanjaya, barulah William melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya.
William tiba saat langit masih menguning. Seperti biasa ia akan menyapa para pekerja di rumahnya. Hingga ia memasuki kediaman mewah keluarga Sanjaya.
“Dimana para penghuni istana ini? Apa sedang bersemedi di dalam Goa?” Tanya William kepada asisten rumah yang tadi membukakan pintu untuknya.
“Tuan dan nyonya masih di atas, tuan muda. Nona Willona masih belum kembali.”
William berdecak kesal. Ia melihat arloji di pergelangan tangannya. Waktu masih menunjukkan pukul 6 sore.
“Ya sudah, aku akan mandi dulu. Nanti jika para lansia itu turun, katakan jika aku sudah datang.”
Asisten rumah tangga itu mengangguk patuh. William pun melangkahkan kaki menapaki anak tangga menuju lantai dua, dimana semua kamar tuan rumah berada.
Tangan William yang hendak memutar gagang pintu terhenti, kala indera pendengarnya tanpa sengaja mendengar percakapan kedua orang tuanya. Pria itu pun mendekat ke arah pintu kamar mereka, untuk menguping pembicaraan orang tuanya, karena membawa-bawa namanya.
“Ma, William tidak mungkin cocok dengan putrinya Regan. Mama ingat dulu, William bahkan mendorong gadis kecil itu saat hendak mendekatinya.”
“Iya, mama tau. Tetapi itu dulu, pa. Sudah 20 tahun berlalu. Sekarang gadis itu sudah berubah menjadi cantik. Mama yakin, William pasti menyukai gadis itu. Pokoknya, mama ingin gadis itu yang menjadi menantu kita.”
Mata William membulat sempurna mendengar percakapan kedua orang taunya.
‘Tunggu, apa maksudnya ini? Apa mama ingin aku menikah dengan anak om Regan? Tidak. Aku tidak mau. Meski gadis itu berubah menjadi miss universe sekalipun, aku tidak mau.’
Saat hendak kembali menguping, William mendengar suara langkah kaki menapaki tangga. Pria itu dengan cepat kembali ke kamarnya.
“Apa-apaan mama itu? Dia ingin aku menikah dengan gadis kecil ingusan itu? Big No!!”
.
.
.
Bersambung.