
Willona terkekeh geli, apalagi mendengar kakaknya memanggil Regina dengan sebutan ‘Honey’. Menurut gadis itu, terlalu berlebihan. Apalagi, selama ini ia tau kakaknya tidak pernah dekat dengan seorang wanita. Yang ia tau, pria yang di panggilnya ‘abang’ itu hanya mencari kesenangan dengan para wanita bayarannya.
“Apa Regina tau, jika Abang itu sudah bekas banyak wanita?” Gadis itu berceletuk. Membuat Regina tersedak ludahnya sendiri.
“Minum dulu, Honey.” William menyodorkan air putih ke hadapan sang sekretaris. Dan Willona pun tak kuasa menahan tawanya.
“Apanya yang lucu, Na?” Tanya William memicing kepada sang adik.
“Aku geli mendengar panggilan Abang pada Regina.” Gadis itu kembali terbahak.
“Memangnya kenapa? Bilang saja kamu iri.”
Kepala Willona menggeleng. Ia mengusap sudut matanya yang basah karena tertawa terbahak.
“Aku tidak iri. Untuk apa aku iri, cinta itu hanya akan membuat sakit hati.”
Gadis itu menyadarkan punggungnya pada sandaran kursi.
“Bukankah begitu, Re? Cinta hanya akan membuat sakit hati saja.”
Regina menganggukkan kepalanya. Ia setuju dengan ucapan adik dari atasannya itu.
“Tidak semua cinta membuat sakit hati. Contohnya cintaku. Cintaku tulus hanya untuk Regina seorang.” William berkata dengan tegas.
Willona mencebikan bibirnya. Ia tidak menyangka jika kakaknya selebay itu.
“Jangan berlebihan, bang. Awas nanti kalau sakit hati, aku orang pertama yang akan menertawakan mu.”
“Kamu tidak tau saja. Sekarang saja aku sedang menahan sakit hati karena cintaku belum diterima olehnya.”
Mata Willona membulat. Ia menatap bergantian kedua orang itu tak percaya.
“Jadi, hubungan apa yang sedang kalian jalani selama ini? Tinggal berdua tetapi tidak berpacaran? Astaga..” Willona menggelengkan kepalanya tak percaya.
Sementara, Regina hanya mampu menundukkan kepalanya. Ia tak bisa membayangkan, apa yang kini Willona pikirkan tentang dirinya.
“Jadi Abang mohon, jangan katakan apapun kepada mama dan papa. Sebelum Regina menerima cinta Abang.” William berbicara kepada sang adik, namun pandangan pria itu jatuh pada sekretarisnya.
“Ya, asal Abang ingat transfer, aku juga ingat menjaga rahasia.”
William merogoh ponsel di saku jasnya. Ia kemudian mentransfer sejumlah uang kepada rekening sang adik.
Ponsel Willona berdeting, gadis itu tersenyum penuh kemenangan.
“Terimakasih, Abang sayang. I love you so much.” Gadis itu berdiri, kemudian mengecup pipi sang kakak.
“Jangan cemburu ya, Re. Aku dan Abang memang begini.” Gadis itu terkekeh, kemudian kembali mendudukkan bokongnya.
Dan Regina pun menggelengkan kepalanya.
“Ngomong-ngomong, kapan mama dan papa kembali?” William mengalihkan pertanyaan. Ia tau, Regina pasti sedang menahan malu saat ini.
“Aku tidak tau, katanya mereka disana 3 hari. Ini sudah hari kedua. Mungkin lusa mereka pulang.” Jawab Willona sembari mengedikan bahunya.
William menganggukkan kepalanya.
“Apa kamu sedang tidak ada jadwal? Kenapa punya waktu datang kemari?” Tanya William kembali.
“Aku libur hari ini. Aku bosan dirumah.”
“Pergilah jalan-jalan. Bukannya uangmu banyak.”
Willona mencebik. “Bagaimana jika aku pinjam Regina untuk ku ajak jalan-jalan?”
“Big No.” William bangkit, kemudian membetulkan kancing jasnya.
“Honey, ayo kita berangkat. Pekerjaan kita sedang banyak-banyaknya di kantor.”
Willona menganga. Ia melihat sisi lain dari kakaknya.
“Posesif sekali Abang ini.” Ia ikut bangkit, karena Regina juga sudah mengambil ancang-ancang untuk berdiri.
“Willona, maafkan aku.” Ucap Regina merasa tidak enak hati.
“Tidak apa-apa, Re. Sudah jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku tidak akan mengatakan apapun pada mama dan papa. Bukan urusanku juga. Itu urusan pribadi Abang.” Willona menghela nafasnya pelan.
“Titip Abang ku, Re. Tolong jangan sakiti dia.” Lanjutnya kemudian.
“Aku tau bagaimana rasanya disakiti, Na. Sebisa ku, aku akan berusaha untuk tidak menyakiti orang lain.” Jawab Regina kemudian.
Mereka berdua saling memeluk. Kemudian sama-sama pergi ke parkiran apartemen.
****
Pagi ini, nyonya Mahendra memutuskan untuk pergi ke kantor sang putra. Jika suaminya tidak mau memecat Tamara, maka ia sendiri yang akan turun tangan.
“Ma, jangan gegabah. Yang mama dengar itu, baru dari sebelah pihak. Kita belum mendengar dari pihak Alvino.” Pak Mahendra mencoba mencegah sang istri untuk pergi. Ia tidak mau jika sampai terjadi keributan di kantornya.
“Papa ikut.” Pak Mahendra pun mengejar sang istri.
Sementara di kantor Mahendra, Alvino dan Tamara baru saja tiba. Seperti biasa, Tamara akan membuatkan kopi untuk sang atasan. Sedangkan, Alvino kini tengah berdiri di dekat jendela kaca.
“Kopi anda, pak.” Tamara meletakan secangkir kopi di atas meja, di belakang Alvino. Pria itu menoleh, kemudian menarik lengan sang sekretaris, membuat wanita itu menempel padanya.
“Ada apa, pak?” Tanya Tamara waspada. Semalam ia sudah di buat habis oleh pria ini.
“Maafkan aku, Ta. Aku tidak bermaksud menyakitimu.”
Alis Tamara berkerut, ada angin apa? sehingga pria ini meminta maaf padanya.
“Tidak apa-apa, Al.” Tamara berusaha untuk lepas dari sang atasan.
Alvino pun semakin mengikis jarak di antara mereka. Namun, Tamara memalingkan wajahnya, sehingga bibir Alvino mendarat di pipi wanita itu.
“Kamu menolakku? Itu artinya kamu marah dengan ku, Ta.”
Tamara menggeleng. Ia kemudian menghela nafasnya pelan.
“Ini di kantor, bagaimana jika ada yang melihat kita?”
“Siapa yang berani masuk kesini tanpa perintah dariku?”
“Mama yang berani masuk tanpa perintah siapapun.”
Deg!!!
Alvino dan Tamara saling tatap. Ada suara yang tak asing tiba-tiba menggema di ruangan itu.
“Mama?” Ucap Alvino melihat ke arah sumber suara. Dengan cepat ia melepaskan belitan tangannya pada pinggang Tamara.
Dengan tatapan penuh amarah, nyonya Mahendra mendekat ke arah dua orang itu, ia kemudian melayangkan sebuah tamparan pada pipi Tamara.
“Ma!!” Pak Mahendra mendekat, ia meraih lengan sang istri.
“Jangan membelanya, pa. Lepaskan aku.” Wanita paruh baya itu menghempas tangan sang suami.
“Dasar wanita mu*rahan. Beraninya kamu merusak hubungan Alvino dan Regina.” Ibu dari Alvino itu hendak meraih kerah kemeja Tamara, namun dengan sigap Alvino berdiri menghalangi.
“Kamu!!” Geram nyonya Mahendra. Ia kemudian melayangkan tamparan pada pipi sang putra.
“Jangan menghalangi mama. Mama mau memberi pelajaran pada wanita ini.”
“Tamara tidak salah, ma. Ini semua salahku. Aku yang memulai lebih dulu.” Bela Alvino.
Nyonya Mahendra mencebik. “Semua itu tidak akan terjadi jika wanita ini tidak setuju. Tetapi, dia justru setuju, dan merusak hubunganmu dengan Regina.”
Pak Mahendra kembali mendekat. “Sudah, ma. Kita bicarakan baik-baik.”
“Tidak ada pembicaraan baik-baik, sekarang mama minta papa pecat dia. Bukannya papa meminta bukti? Papa sudah melihat dan mendengarnya sendiri kan?”
Tamara hanya mampu menundukkan kepalanya. Akhir hubungannya dengan Alvino kini semakin dekat.
“Ma, ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.” Alvino menyela. Ia tidak mau Tamara sampai di pecat dari kantor.
Sang mama kembali mencebikan bibirnya.
“Tidak ada kamu bilang? Ini memang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, tetapi keberadaan wanita ini satu atap dengan mu, akan menganggu pekerjaanmu.”
“Sudah, ma. Cukup!!” Pak Mahendra menarik lengan sang istri.
“Ini di kantor. Mama jangan membuat keributan.”
“Lalu bagaimana dengan putramu? Apa dia ingat ini kantor? Kenapa berbuat seenaknya disini?”
“Ma, maafkan aku, ma.” Alvino mendekat, meraih tangan sang mama. Namun, wanita itu menghempaskannya.
“Jangan pernah temui mama, sebelum kamu memecat wanita ini.”
Setelah mengucapkan hal itu, nyonya Mahendra pergi meninggalkan ruangan sang putra.
“Pa?”
“Jujur, papa kecewa padamu, Al. Kamu merusak impian kami. Kamu menyakiti perasaan seorang wanita yang begitu baik. Entah apa kekurangan Regina, hingga kamu menyakitinya seperti ini?”
Pak Mahendra pun ikut menyusul sang istri, meninggalkan Alvino dan Tamara yang masih mematung di tempatnya.
.
.
.
Bersambung