
Alvino merenungi apa yang William ucapkan. Ia merasa tertampar dengan kalimat yang pria itu lontarkan.
‘Menjaga apa yang telah menjadi milik kita.’
Dan Alvino tidak melakukan hal itu. Ia kurang bersyukur atas apa yang telah dimiliki, dan hanya menuruti keinginan biologis saja.
“Ya, aku memang tidak bisa menjaga apa yang telah menjadi milikku. Aku menyia-nyiakan wanita sebaik Regina, demi menuruti kebutuhan bawah perut.”
Pria itu kembali menenggak minumannya, sembari menyandarkan punggung pada sandaran sofa.
“Dia sok bijak menasehati ku, apa dia tidak merasa sudah merebut milik orang lain?” Alvino tersenyum getir.
Ia merogoh ponsel di dalam saku jasnya, kemudian mencoba menghubungi nomor ponsel milik Tamara, namun seperti sebelumnya, nomor itu masih tidak aktif.
“Jangan membuatku takut, Ta. Semoga kamu baik-baik saja. Aku janji, akan menebus semua kesalahan yang telah aku lakukan saat kita bertemu nanti.”
Alvino kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang, dan di letakkan di atas meja. Pria itu lalu beranjak meninggalkan klub malam milik William.
***
Sementara itu, William sampai di rumah saat para penghuni bangunan megah itu telah terlelap. Pria itu dapat bernafas lega, setelah mendapati sang istri yang telah terlelap di atas peraduan.
Ia pun memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dulu, sebelum bergabung dengan sang istri di atas ranjang.
Setengah jam William habiskan waktunya di kamar mandi. Ia kembali ke dalam kamar hanya menggunakan celana pendek tanpa atasan.
Senyum tipis tersungging di wajah tampannya, kala mendapati sang istri masih dalam posisi yang sama, tidur miring ke kiri, dengan memeluk guling. William kemudian mematikan lampu utama, dan hanya menyalakan lampu kecil atas nakas.
Dengan perlahan, ia menarik guling yang di peluk oleh sang istri, kemudian menggantikan dengan tubuhnya.
Namun, alis William berkerut, kala mendapati jejak air di sudut mata sang istri. Tanya pun muncul di benak pria berusia 32 tahun itu, apakah istrinya habis menangis?
William sedikit bangkit, dan mengecek guling yang ia letakkan di belakang punggung sang istri. Jejak basah yang tertinggal pada sarung bantal panjang itu, membuat William tersentak.
“Honey? Apa kamu menangis setelah aku pergi?” Bisik William di atas kepala sang istri.
“Maafkan aku, sayang. Sikapku mungkin menyakitimu.” Ia kemudian melabuhkan sebuah kecupan dalam di atas kening sang istri. Rasa bersalah kini menghinggapi hati William.
Ia pun menarik tubuh sang istri, agar menempel padanya. William pun ikut memejamkan matanya.
“Aku mencintaimu, Will. Jangan pergi.”
Deg..
Manik mata William kembali terbuka. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat, setelah mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Regina.
“Honey?”
Namun mata wanita itu masih terpejam. Dengan nafas yang teratur. Membuat alis William berkerut sempurna.
“Dia mengigau?”
William kembali mengamati wajah sang istri. Cairan bening kembali terlihat menggenang di sudut mata sang istri.
“Apa kamu begitu memikirkannya, hingga terbawa ke alam bawah sadarmu? Maafkan aku. Aku tidak akan menuntut lagi. Aku tau kamu juga mencintai aku.” William pun ikut mendekap tubuh sang istri dengan erat. Membuat wanita itu menggeliat.
“Dad?” Suara serak sang istri mengagetkan William yang baru saja memejamkan mata.
“Hmm, kenapa bangun?”
“Kamu memelukku terlalu erat.”
William terkekeh mendengar ucapan sang istri, ia kemudian melonggarkan pelukannya.
“Sudah. Ayo kita tidur.”
Namun sang istri justru sedikit bangkit, kemudian menatap wajah sang suami.
“Ada apa?”
“Kamu tidak banyak minum, kan?” Sebenarnya bukan itu yang ingin Regina ucapkan. Ia ingin sekali mengatakan jika dirinya sangat mencintai William. Namun, entah kenapa lidahnya terasa kaku.
Regina membulatkan matanya. Ia kemudian memukul dada bidang sang suami yang tanpa penghalang itu.
“Aw, sakit, Honey. Kenapa memukulku? Lebih baik kamu cium. Apa kamu tidak merindukan si boy?”
“Daddy..” wanita itu pun menyembunyikan wajah pada dada suaminya.
William pun tergelak karena merasa geli.
“Sudah, kita tidur sekarang. Ini sudah larut malam. Jangan bergadang. Tidak baik untuk kesehatanmu.”
Regina mengangguk dalam dekapan sang suami. Sepertinya, pria itu sudah tidak marah lagi. Sebelum kembali memejamkan mata, wanita itu pun mengecup rahang sang suami. Tak lupa ia menyesapnya sedikit, sehingga membuat permukaan kulitnya memerah.
“Honey, astaga. Malu jika besok di lihat oleh karyawan kantor.” Protes William sembari terkekeh.
“Tidak apa-apa. Biar mereka tau, seberapa garang aku di ranjang.”
William mencebik mendengar ucapan sang istri. Ia kemudian merubah posisi, membuat sang istri berada di bawahnya.
“Dad, mau apa? Ini sudah malam.” Regina mulai waspada, karena di kukung oleh suaminya.
“Tentu saja membuktikan ucapan mu itu. Seberapa garang kamu di ranjang.” Ucap William yang kemudian membenamkan kepalanya pada cerukan leher sang istri.
“Dad..ssshhh.”
****
“Yakin tidak mau menginap di apartemen ku?” Tanya Reka kepada penumpang cantik yang duduk di sebelahnya. Siapa lagi jika bukan Willona.
Saat hendak pulang dari klinik tempat praktek pribadinya, tiba-tiba ponsel dokter muda itu berdering. Willona menghubunginya, dan meminta untuk di jemput di tempat gadis itu bekerja.
“Ya, di tempat itu hanya ada satu tempat tidur. Jangan mencoba mencari kesempatan dan kesempitan.” Jawab Willona.
Reka terkekeh mendengar ucapan gadis itu.
“Memangnya kenapa? Bukannya ini kesempatan bagus? Kita bisa mencicil cucu kedua keluarga Sanjaya dan Prayoga, kan?”
Mata Willona membulat, dengan refleks ia melayangkan pukulan pada lengan Reka yang sedang memegang kemudi.
“Sudah aku katakan, no s*x before married.” Ucapnya sembari meyilangkan kedua tangan membentuk tanda x, yang berarti tidak.
“Sedikit saja. Kan mencicil.” Goda pria itu lagi.
“Tidak ada sedikit, sedikit. Semua itu terjadi karena awalnya hanya coba-coba, yang kemudian membuat ketagihan. Dan aku tidak mau itu terjadi.”
Reka semakin di buat kagum oleh Willona. Gadis itu, begitu kuat membentengi dirinya. Meski mereka sering saling memeluk, dan juga berciuman.
“Kalau begitu, ayo kita menikah.” Ucap dokter muda itu kemudian.
“Memang kamu sudah punya cukup uang untuk biaya menikah? Aku tidak mau, menikah dengan uang pinjaman.”
Bukan bermaksud sombong, namun Willona memiliki alasan mengapa ia berbicara seperti itu. Gadis itu, belum yakin dengan perasaannya sendiri terhadap Reka. Adik William itu, ingin meyakinkan hatinya dulu, jika sudah yakin, tanpa diminta dua kali pun ia akan langsung menerima dokter muda itu.
“Aku seperti melamar seorang putri dari kerajaan di masa lampau, banyak sekali syarat yang harus aku penuhi.” Terdengar helaan nafas berat di akhir kalimat yang Reka ucapkan.
“Bukankah sudah aku katakan sebelumnya. Cinta itu perlu perjuangan.” Tukas Willona sembari menepuk lengan kiri Reka yang terlepas dari kemudi.
“Kita lihat saja, aku pasti akan memenuhi semua syaratmu, sayang.”
“Aku tunggu.” Gadis itu pun mengedipkan satu matanya ke arah Reka.
.
.
.
Bersambung.