BOSS WITH BENEFIT

BOSS WITH BENEFIT
Bab. 78. Tidak Ada Harapan.



Undangan pernikahan William dan Regina telah sampai kepada dua sahabat William, Romi pemilik showroom mobil dan Alisha pemilik kafe.


William mengundang kedua orang sahabatnya itu untuk menyaksikan prosesi pengucapan janji suci pernikahan.


Romi yang tau jika Alisha mempunyai perasaan terhadap William, segera mendatangi wanita itu ke kafe miliknya.


Pria itu tau, jika Alisha juga sudah pasti tau, karena William mengirim undangan digital, melalui aplikasi berbalas pesan.


Memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, Romi tiba di kafe Alisha pukul 1 siang. Sampai disana, pria itu langsung menghampiri Alisha yang sedang membuat minuman di meja bar.


“Al, bisa kita bicara sebentar?”


Alisha mengangguk. Ia menyerahkan pekerjaannya kepada salah satu karyawannya.


“Ada apa, Rom?” Tanya Alisha saat mereka telah mengambil tempat duduk di kursi, salah satu meja.


Romi menghela nafas pelan. Ia kemudian menunjukkan pesan yang di kirim William padanya.


Sebuah senyum kecut terbit di bibir Alisha.


“Jadi William akan menikah dengan sekretarisnya?” Tanya wanita itu.


“Ya, aku pikir kamu sudah melihatnya.”


“Aku belum sempat membuka ponselku.” Ucap Alisha saat membaca pesan pada ponsel milik sahabatnya itu.


Alisha mengembalikan ponsel milik Romi. Kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


“Jadi aku memang tidak memiliki harapan?” Ucap wanita itu lirih.


“Al, sudahlah. Tuhan sudah menunjukkan padamu dari awal. Jalan kalian berbeda. Dan sekarang, Tuhan semakin menperjelas, jika kalian memang tidak akan bisa bersama.”


Alisha menarik nafasnya dengan dalam. Kemudian menghembuskan dengan kasar.


“Jadi wanita itu sudah menerima William?”


“Tadi saat dia mengirim undangan ini. Aku sempat menghubunginya, William bilang, jika ia dan sekretarisnya itu di jodohkan, karena ternyata orang tua mereka bersahabat.”


Alisha mencebikan bibirnya. Menurut wanita itu. Alasan yang di katakan Romi tidak masuk akal.


“Apa kamu percaya?”


“Memangnya kenapa?” Romi melontarkan pertanyaan balik.


“Entahlah, aku merasa itu hanya alasan yang di buat-buat oleh William. Kamu ingat, bukannya dia pernah tidur dengan wanita itu, sampai tidak bisa berkumpul dengan kita?”


Romi menganggukkan kepalanya. “Jangan katakan, jika kamu menebak mereka menikah karena hamil duluan?”


Alisha mengedikan bahunya.


“Siapa yang tau, bahkan kita tau bagaimana William sebelumnya. Pemilik klub malam, dan sering berganti wanita.”


Deg!!


Alvino yang makan siang di kafe itu, tanpa sengaja mendengar percakapan Romi dan Alisha. Sedari tadi mendengarkan, ia menepis dugaan jika mereka membicarakan William, bos dari Regina. Namun, ternyata ia benar setelah salah satu dari mereka menyebut William pemilik klub malam.


“Jadi, kamu akan menikah dengan atasanmu, Re? Cepat sekali?” Gumam Alvino.


Alvino pun kembali menajamkan pendengarannya. Menguping pembicaraan dua orang itu.


“Aku yakin, mereka tidak hanya tidur bersama sekali, atau mungkin mereka menjalin hubungan yang saling menguntungkan Boss with benefit, mungkin saja.”


Tangan Alvino mengepal mendengar ucapan wanita itu. Apa iya, Regina melakukan seperti yang mereka bicarakan?


Pria itu kemudian bangkit, jarak meja yang ia tempati dengan meja yang di tempati Romi dan Alisha sangat dekat.


“Maaf, apa yang kalian maksud itu William Sanjaya?” Tanya Alvino menyela.


“Aku tanpa sengaja mendengar kalian menyebut nama William yang akan menikah.” Ucap Alvino meyakinkan.


“Apa anda mengenalnya?” Tanya Alisha.


“Ya, kebetulan aku pernah bekerja sama dengan perusahaannya. Kenapa dia tidak mengundangku, ya?” Alvino berpura-pura penasaran.


“Katanya, mereka hanya mengundang kerabat dan karyawan Sanjaya Group.” Jawab Romi.


“Ah. Sayang sekali.“


Setelah mendapatkan sedikit informasi. Alvino pun meninggalkan kedua orang itu.


“Apa kamu akan datang, Al?” Tanya Romi kemudian.


“Apa ada alasan untuk aku tidak hadir, Rom?”


Dan Romi pun mengedikan bahunya sebagai jawaban. Meski tau Alisha memendam rasa kepada William sejak lama. Namun Romi tak bisa berbuat apa-apa. Karena sedari awal, Takdir William dan Alisha memang berbeda.


*****


Sementara itu. Masih di parkiran kafe Alisha, Alvino kembali mengamuk di dalam mobilnya. Pria itu kembali memukuli kemudi. Hingga tangannya memerah.


Ia tak terima dengan apa yang di dengarnya tadi. Regina akan menikah dengan William. Ucapan pria itu benar terbukti, jika ia akan merebut Regina dari Alvino.


“Si-al.” Entah berapa kali kemudi mobil itu di pukulinya.


“Kenapa semuanya jadi begini. Tamara pergi, Regina akan menikah. Sementara aku? Aku sendirian disini. William Sanjaya, si-alan. Apa yang sudah kamu lakukan sehingga Regina memilihmu? Dasar Pria br*ngs*k, dia telah mengacaukan hidupku.”


Alvino menyandarkan punggung pada sandaran kursi, ia memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut. Ia yakin, kedatangan Regina waktu itu ke apartemen dan melihatnya sedang berbagi peluh dengan Tamara, adalah campur tangan William.


“Jika benar apa yang wanita itu katakan tadi, lalu apa bedanya kamu dengan Tamara, Regina? Kamu juga bermain dengan atasanmu. Dasar wanita munafik kamu.”


“Arghhh.” Ia kembali memukul setir mobilnya.


Alvino pun memutuskan pergi meninggalkan kafe itu. Namun ia tak kembali ke kantor, Alvino memacu mobilnya ke rumah kontrakan milik Regina.


Tetapi kedatangannya percuma, rumah itu sepi tak berpenghuni. Kata salah satu tetangga, rumah itu kini di tempati oleh adik Regina.


Ia mencoba menghubungi nomor ponsel Regina. Terhubung, namun tak ada yang menjawabnya.


“Baiklah, Re. Jadi kamu sudah tidak ingin lagi berbicara dengan ku? Jangan menyesal, jika suatu saat keburukan pria itu terungkap.”


Pria itu tidak tau, jika Regina telah mengetahui keburukan William. Bahkan tak ada yang wanita itu, tak ketahui tentang calon suaminya.


Alvino pun pergi, dan memutuskan kembali ke kantor.


“Apa sudah ada kabar?” Ucap Alvino sembari menempelkan ponsel di telinganya. Ia kini sudah berada di ruang kerjanya.


“Belum, bos. Aku bahkan sudah mencari hingga ke kota kelahiran neneknya, tetapi nihil.” Ucap seseorang dari seberang panggilan.


Alvino kini sedang menghubungi orang yang ia bayar untuk mencari Tamara.


“Ya sudah. Aku harap kamu cepat memberiku kabar baik.”


Panggilan pun di akhiri. Alvino kembali memijat keningnya yang berdenyut. Entah kemana perginya Tamara, wanita itu bagaikan hilang di telan bumi.


.


.


.


Bersambung.