
Perasaan Reka menjadi tidak tenang. Apalagi, setelah kepergiannya, hingga sore menjelang, Willona sama sekali belum memberi kabar. Entah gadis itu sudah bertemu dengan kakak dan kakak iparnya atau belum.
Waktu menunjukkan pukul 6 sore. Pria itu juga sudah selesai bekerja. Sekarang ia tengah berada di rumah kontrakannya. Menghela nafas pelan, Reka pun memutuskan untuk datang ke rumah Sanjaya. Ia ingin memastikan keadaan pujaan hatinya.
“Si-al, sepertinya aku kualat, karena telah mengatai William budak cinta.” Pria itu menggerutu. Kemudian mengunci rumah, dan bergegas menuju mobil.
Sementara itu, di rumah Sanjaya, Willona belum berani keluar dari kamar sejak siang. Ia hanya mondar-mandir di dalam kamar. Perasaan gadis itu tak karuan. Apalagi setelah melihat mobil sang kakak memasuki gerbang rumah.
“Ish, kenapa sih Abang dan Regina tidak tinggal terpisah saja.” Gerutunya, bukan ingin menguasai rumah, dan orang tuanya. Namun, ia ingin menghindari ejekan dari sepasang suami istri itu.
Gadis itu kemudian teringat dengan pria yang telah menciumnya tadi siang. Ia pun mengambil ponsel di atas nakas. Kemudian menghubungi nomor pria itu.
“Iya, Na?” Suara Reka terdengar santai. Berbeda dengan Willona yang di serang panik.
“Ka-kamu dimana?” Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Ini untuk pertama kali, ia menghubungi pria itu.
“Aku sedang di jalan menuju rumahmu. Kamu baik-baik saja? Apa Regina dan William mengganggumu?”
Willona menghela nafas pelan. Akhirnya ada orang yang akan ia ajak menghadapi William dan Regina.
“A-aku belum bertemu dengan mereka.” Ia kembali menghela nafas. “Aku belum keluar kamar sejak siang.”
“Apa kamu setakut itu?”
Kepala gadis itu mengangguk. Namun Reka tak melihatnya.
“Ti-tidak. Hanya saja, aku belum siap menjawab pertanyaan mereka.”
“Kamu tenang dulu. Tunggu, sebentar lagi aku sampai.”
“Iya, hati-hati di jalan.”
Panggilan pun di akhir. Gadis itu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Bayangan tentang ciuman tadi siang, kembali terlintas di benak Willona. Tanpa sadar, ia pub meraba bibirnya sendiri.
“Dia bahkan mengambil ciuman pertama, kedua, dan ketiga ku. Dasar pria menyebalkan. Suka sekali mengambil kesempatan dalam kesempitan.” Gadis itu bermonolog. Ia pun memukul sisi ranjang kosong dengan kedua tangannya.
“Reka Prayoga.. kamu sudah mengacaukan hidupku. Kamu harus bertanggung jawab untuk itu.” Tanpa sadar, senyuman terbit di bibir Willona. Ia merasakan hatinya berdebar, saat mengingat adik dari kakak iparnya itu.
“Astaga, apa aku memiliki kelainan jantung? Kenapa tiba-tiba berdetak lebih cepat begini?” Willon bangkit. Kemudian menarik nafas dengan dalam, lalu menghembuskan perlahan. Berulang kali ia lakukan hal itu. Berharap bisa menetralkan detak jantungnya.
****
“Apa daddy akan menanyakan tentang berita itu kepada Willona nanti?” Tanya Regina kepada sang suami yang sedang melepas pakaian kerjanya. Sementara, ia baru keluar dari kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk mandi. Kini, Mereka tengah berada di ruang ganti, di dalam kamar.
“Menurut mu?” William berbalik melontarkan pertanyaan.
Regina menggigit bibir bawahnya, kala sang suami begitu saja melepaskan semua kain yang menempel pada tubuh kekarnya, dan membuang pakaian itu ke dalam keranjang cucian.
“Menurutku, bagaimana jika mandi bersama? Untuk menghemat air.” Ucap wanita hamil itu seraya mendekap tubuh polos sang suami dari belakang.
Wanita itu menjawab tidak sesuai topik pembicaraan.
“Ho-Honey.” William menelan ludahnya dengan susah payah. Ia memejamkan mata, kala merasakan sesuatu yang empuk menempel pada punggungnya. Tidak itu saja, tangan sang istri juga sedang memanjakan boy di bawah sana.
“Bagaimana menurut daddy?” Wanita itu kembali berbisik, kemudian menggigit kecil daun telinga sang suami. Hal itu membuat William semakin menggila.
“Te-tentu i-itu ide bagus Honey..sshh Mmhh.. kita harus menghemat air. Agar persediaan air di dalam tanah tidak cepat berkurang.” pria itu tak dapat menahan godaan yang di berikan oleh istrinya. Hanya Regina satu-satunya wanita yang bisa membuat boy berdiri kokoh, meski hanya dengan sentuhan tangan.
Regina menyeringai, mereka kemudian berjalan menuju kamar mandi, dengan Regina yang menempel pada punggung sang suami, dan tangan yang terus memanjakan boy.
***
“Selamat sore, tante?” Reka menyapa nyonya Aurel yang sedang berkutat di balik meja dapur.
“Reka? Apa kabar kamu? Kenapa tidak pernah berkunjung?” Wanita paruh baya itu meletakan alat masaknya. Kemudian meminta asisten rumah untuk melanjutkan.
“Kita mengobrol di ruang keluarga.” Ia pun mengajak adik dari menantunya ke ruang keluarga.
“Aku baik tante. Maaf, aku baru sempat datang. Di rumah sakit sedang banyak pasien.” Pria itu menjawab pertanyaan yang tadi di lontarkan oleh nyonya Aurel.
“Iya, tante mengerti. Apa kamu mau bertemu Regina? Dia sedang di atas. Baru pulang kantor. Tunggu sebentar ya.” Nyonya Aurel bersikap sangat ramah. Apalagi, mengingat keinginan besannya, untuk menjodohkan anak kedua mereka.
“Aku ingin bertemu Willona, Tan.”
Istri pak Antony itu tertegun. Ia mengerejapkan mata beberapa kali.
“Apa tante tidak salah dengar? Kamu mau bertemu Willona?”
Alis Reka berkerut mendengar pertanyaan wanita paruh baya itu.
“Iya, aku mau bertemu Willona.”
Seketika senyum terkembang di wajah nyonya Aurel.
‘Kar-Kar, apa ini yang dinamakan gayung bersambut?’
“Tunggu sebentar— belum selesai ibu dua anak itu berbicara, suara Willona sudah terdengar menyela.
“Tidak, aku baru sampai.”
Alis nyonya Aurel terangkat melihat interaksi sang putri, dengan anak kedua sahabatnya.
‘Sepertinya aku melewatkan sesuatu? Bukannya kemarin-kemarin mereka seperti tikus dan kucing? Kenapa sekarang akrab begini?’ Batinnya mulai curiga.
Willona mengambil tempat duduk di samping Reka. Membuat sang mama semakin bertanya-tanya.
‘Ah Karin, sepertinya kita harus merencanakan pesta pernikahan lagi.’
“Om dimana, Tan?” Tanya Reka kepada nyonya Aurel.
“Dia masih di kamar. Baru selesai bekerja. Ya, walaupun William yang pergi ke kantor, tetapi papanya masih tetap bekerja dari rumah.” Wanita paruh baya itu menjelaskan.
Dan Reka pun menganggukkan kepalanya. Mereka pun kembali mengobrol.
Regina dan William yang baru turun dari kamar mereka, pun berhenti di ujung tangga. Sejenak sepasang suami istri itu saling pandang.
“Kita tidak udah menanyakan soal berita itu. Biar mereka sendiri yang menjelaskan.” William berbisik pada sang istri. Dan wanita itu menjawab dengan anggukan kepala.
Mereka kemudian berjalan mendekat ke arah ruang keluarga.
“Ka?”
“Re?”
Sepasang kakak beradik itu saling memeluk satu sama lain.
“Kenapa baru datang? Apa tidak rindu dengan ku?” Tanya Regina saat pelukan mereka terurai.
“Maaf, aku sibuk. Di rumah sakit sedang banyak pasien.” Jelas Reka sembari mengusap lengan sang kakak.
“Will?”
Dokter muda itu juga menyapa kakak iparnya.
“Lalu, hal penting apa yang membuatmu datang kemari?” Tanya William memancing. Ia menuntun sang istri duduk di sofa, yang berseberangan dengan Reka dan Willona. Sementara, nyonya Aurel duduk di sofa single.
“Apa aku tidak boleh mengunjungi kakak ku?”
William mengedikan bahunya.
“Siapa tau, ada hal lain yang ingin kamu katakan.” Sindir William.
Reka menghela nafasnya pelan.
“Ya, aku mau minta ijin mengajak Willona keluar. Aku mau mencari apartemen.”
Alis Regina berkerut mendengar ucapan sang adik. Sementara, Willona dapat bernafas lega, karena Reka tak membahas masalah mereka.
“Kamu mau beli apartemen, Ka?” Tanya sang kakak.
Dokter muda itu menganggukkan kepalanya. Ia memang sudah berencana pindah ke apartemen.
“Dapat uang darimana?” Tanya istri William itu lagi.
“Aku akan menyicilnya.”
“Tinggal di apartemen ku saja.” William memberi usul.
Kepala Reka menggeleng. Ia tidak mau menerima tawaran kakak iparnya.
“Aku masih memiliki hutang mobil, aku tidak mau berhutang terlalu banyak. Malu dengan calon mertua.”
Semua orang di ruang keluarga itu menganga mendengar ucapan terakhir Reka. William dan Regina pun saling memberi kode satu sama lain.
“Kamu punya pacar, Ka?” Tanya nyonya Aurel memastikan.
Willona pun menatap pria itu. Menunggu jawaban apa yang akan keluar dari bibirnya.
“Tidak, Tan.” Reka sengaja menjeda ucapannya. Ia melihat reaksi gadis di sampingnya. Dan gadis itu pun memalingkan wajahnya.
“Aku tidak punya pacar, tetapi aku punya calon istri.” Lanjut Reka sembari menatap lekat ke arah Willona.
“Fixed, Honey. Mereka pasti memiliki hubungan. Kalau kata pepatah, ada udang di balik bakwan.” William berbisik pada sang istri.
“Apa sih.”
.
.
.
Bersambung.